
Hari berlalu tanpa terasa, sudah satu setengah bulan aku tinggal di Jogja. Aku sudah mulai terbiasa dengan rutinitas pekerjaan di kantor. Aku merasa nyaman dengan lingkungan baruku., baik lingkungan kerja maupun lingkungan kos.
Di tempat kos, kususnya yang di lantai 2, kami berasal dari daerah yang berlainan semua, tapi kami sudah seperti keluarga. Tinggal di rantau, berjuang untuk kehidupan yang lebih baik, itu yang membuat kami bisa bersatu, saling membantu dan saling peduli.
Setiap hari, Gio selalu rajin chat. Awalnya aku merasa agak aneh, tapi lama-lama aku terbiasa juga, bahkan kalau Gio nggak chat aku justru nanya-nanya dalam hati kenapa kok nggak chat.... Haha
Aneh tapi nyata... Semakin hari kami semakin dekat.
Gio dan aku masih rutin belanja seminggu sekali, dan selalu dia yang bayar. Aku maunya bayar belanjaannya itu gantian, tapi Gio selalu menolak, kata dia karena aku sudah masak, jadi belanjaan harus dia yang bayar. Akhirnya aku ikuti aja kemauannya....capek juga kalo tiap belanja selalu ribut masalah yang sama.
Aku belum tentu masak setiap hari. Kadang kalau aku lagi malas, kecapean atau lembur... ya aku nggak masak, tapi Gio juga nggak pernah mempermasalahkan.
Pagi ini, karena aku lagi males, jadi untuk sarapan aku cuma bikin sandwich aja, tapi rotinya aku taruh di teflon dengan sedikit mentega, jadi warna rotinya bagus, kuning kecoklatan. Sandwichnya aku isi telur mata sapi, ham, mayonnaise, sambal botol dan keju. Aku bikin 6 potong. Aku juga bikin susu coklat hangat untukku.
Seperti biasa, setelah beres, aku langsung balik ke kamar, untuk mandi dan persiapan untuk ngantor.
"Tok tok... Vania..., Van.... ", Gio memanggilku.
Kubuka pintu kamarku, "Ada apa Gio? "
"Sandwich di meja makan apa kamu yang buat? "
"Iya. Sori ya, aku lagi malas masak, jadi aku cuma bikin sandwich untuk sarapan".
__ADS_1
"It's ok..., lain kali kalo lagi males nggak usah dipaksain, bilang aja... nanti aku keluar untuk beli, atau order via online'.
"Ya", jawabku singkat.
"Kamu sudah selesai? Sarapan yuk..... ", ajak Gio
"Ok", aku mengikuti Gio ke ruang makan.
Gio sarapan dua potong sandwich dan secangkir kopi, aku sarapan sepotong sandwich dan segelas susu coklat.
"Emang, kalau lagi rejeki itu nggak akan ke mana, kok....", tiba-tiba terdengar suara Randy nyeletuk sambil nyomot sandwich, "boleh kan, Van... "
Aku mengangguk.
Aku seperti biasa, cuma senyum aja.
Randynya cengar-cengir....terus bilang, "Aku mau satu lagi, ya, Van ?",
"Ya..., ambil aja !" , kataku. " Ini sisa sepotong.... mau dibawa ke kantor, Gio? ", tanyaku
"Boleh", jawabnya
Aku langsung menyiapkan sandwich itu supaya bisa di bawa Gio.
__ADS_1
"Makasih, Van. Kamu baik banget... Pacaran yuk....", kata Gio sambil mengedipkan matanya.
"Gio... Mulai ! " kataku dengan nada tinggi, Gio malah senyum-senyum.
"Gue nyingkir aja, ah... sebel gue pagi-pagi gini ngeliat orang modus !" ledek Randy sambil lari dan ngakak.
"Van, aku berangkat kerja dulu, ya..., nanti malam nggak usah masak, tapi kalo kamu mau masak, cuma untuk kamu aja. Aku ada meeting, pulangnya agak malam. Jadi aku nggak makan di rumah. Aku jalan dulu, bye....
Ini orang cara pamitnya kok gitu-gitu amat sih...kayak pamit sama istri atau sama pembantu?? Tahu deh.... ! Tapi mulutku cuma ngomong, "Ya. Bye..."
**********
Terimakasih sudah baca novel aku yang berjudul RASA ITU ADA.....🙏🙏🙏
Semoga kalian suka., ya... ❤❤❤
Jangan lupa ikuti terus kelanjutan
ceritanya....😄😊😍
Aku selalu menunggu komen dan like
kalian 👍👍👍
__ADS_1
Salam.... 🙋