RASA ITU ADA

RASA ITU ADA
EPISODE 91 PENGUNTIT


__ADS_3

"Ting", suara notif wa. Segera kubuka chat wa ku saat aku tau siapa yang mengirimi aku pesan.


From Vino 16.10


Hai... Selamat sore kekasih terangku


To Vino 16.11


Hai... Apa kabar? Kok lama nggak pernah chat? Lagi sibuk ya?


From Vino 16.12


Kabar aku..... kurang baik, yang.


Iya, aku lagi sibuk merenovasi hatiku.


To Vino 16.13


Maksudnya apa?


From Vino 16.14


Aku denger kabar baik tentang kamu, tapi berimbas buruk pada hatiku


To Vino 16.15


Maksudnya apalagi ini? Tolong dong jelasin, Vin!


From Vino 16.16


Aku denger kabar kamu balikan sama mantan kamu. Itu kabar baik, kan?! Tapi karena kabar itu, imbasnya tidak baik untukku, terutama untuk keadaan hatiku


From Vino 16.17


Iya, Van.. sejak denger kabar itu aku jadi lesu. Aku sengaja tidak contact kamu, karena aku perlu waktu untuk membenahi hatiku.


To Vino 16.18


Maafin aku, Vin


From Vino 16.19


Hei... Jangan minta maaf, sayang. Kamu nggak salah. Kita memang cuma sekedar pacar online, yang nggak boleh pake hati dalam berhubungan. Jadi di sini yang salah aku sendiri, karena aku pacaran online menggunakan hati.


To Vino 16.20


Vin, aku minta maaf, aku salah tidak membuat ketegasan waktu itu, malah aku menyetujui menjadi kekasih online mu, sehingga membuat kamu sakit hati seperti ini


From Vino 16.21


Sudah Van, nggak usah merasa bersalah ! Aku nggak apa-apa kok. Beberapa lama aku nggak chat sama kamu, karena aku sengaja menghindar. Tapi semalam aku memutuskan aku tidak akan menghindar lagi, aku akan tetap kontak denganmu sebagai kekasih online mu. Aku akan terus memperjuangkan cintaku, di sisa waktu sebelum kamu menikah dengan pria itu.


Siapa tau keberuntungan ada padaku ? Akulah yang memenangkan hatimu...


To Vino 16.23


Vin, sebaiknya jangan, Vin! Sudahi aja semuanya sampai di sini. Aku nggak mau kamu tersakiti dan terluka lebih dalam lagi.


From Vino 16.24


Aku tidak takut terluka, Van. Sebagai pria aku nggak boleh menyerah, aku harus berjuang, meskipun aku tau peluangku sangat kecil, tapi kalau kamu memang jodohku, peluang kecil itu bukanlah penghalang.


To Vino 16.25


Vin, meskipun kita tidak menjadi pasangan, tapi kita tetap bisa berteman.


From Vino 16.25


Nanti, saat kamu telah menikah, artinya usahaku gagal untuk menjadi pasanganmu, maka saat itu aku akan menerima uluran tanganmu sebagai teman. Tapi selama kamu belum menikah, beri aku kesempatan untuk berjuang


To Vino 16.26


Vin, dengarkan aku, jangan berharap lebih padaku, karena aku tau itu akan memyakitimu;


From Vino 16.27


Sayang, please beri aku kesempatan dari sedikit waktu yang ada


To Vino 16.28


Terserah kamu, Vin. Aku nggak tau harus bilang apa lagi.


From Vino 16.29


Makasih, yang


Yang, sudah dulu ya, aku harus terima telpon dari klien. Bye sayangku...


To Vino 16.30


Bye...


Aku menarik nafas panjang. Kenapa kamu ngotot sih, Vin... Bukan aku nggak mau memberi kesempatan, tapi aku nggak mau lukamu semakin besar dan dalam.


Aku harus segera mandi dan bersiap sebab hari ini, sore nanti jam 18.00, ada yang booking Mini Cafe untuk acara ultah sweet seventeen. Oleh sebab itu aku nggak bisa nuruti kemauan Gio, pulang sore seperti akhir-akhir ini. Malam ini aku harus di cafe, memantau. Gio bilang nanti dia mau ke cafe nemenin aku.

__ADS_1


Kebetulan hari ini yang tugas manggung DOUBLE LEO, personilnya adalah Leon dan Leony, karena yang ultah remaja 17 tahun, jadi lagu yang dibawakan ya lagu-lagu yang lagi hits sekarang ini.


Lagi asik ngeliatin penampilan Doble Leo, tiba-tiba ada yang memelukku dari belakang. Nggak usah ditengok, dari bau parfumnya aku sudah tau siapa orangnya.


"Hai sayang.... " bisik Gio.


"Sayang... jangan peluk gini, nggak enak diliat orang", kataku sambil melepas kedua tangan Gio. dari perutku.


"Apaan sih? Ya udah aku peluk pinggang kamu aja. Kalau kayak gini nggak malu kan?!" Gio tersenyum sambil mengedipkan matanya.


"Genit ! Sudah kepala tiga masih juga genit!" Aku mengolok Gio.


"Ya nggak masalah ! Kan aku genitnya sama calon istri aku sendiri. Memang kamu nggak mau aku genit sama kamu? Atau aku harus genit sama cewek lain?" canda Gio


Kutoyor bahu Gio. "Mau genit sama cewek lain? Silahkan genit-genitan sana!", kataku sambil kulepas pelukannya dari pinggangku, lalu aku bergegas melangkah menuju ruanganku.


"Yang..., sayang.... tunggu, yang!" panggil Gio sambil berusaha menyusul aku.


Nggak aku pedulikan panggilan Gio, aku segera masuk ke ruanganku. Gio ikutan masuk juga.


"Ngapain ikutan masuk ? Di depan aja sana ! banyak abg cakep tuh di luar ! kamu bisa genit-genitan ! ", bentakku.


"Eit... Kok jadi marah beneran sih, yang? Aku kan cuma bercanda. Lagian selama kita jalan dulu, sampai sekarang ini, apa kamu pernah ngeliat aku genit sama perempuan lain? Yang ada merekanya aja yang keganjenan," kata Gio sambil duduk di sebelahku.


"Kepedean! Sok cakep! " gerutuku.


"Kan lebih baik pede daripada minder, yang.... Aku sih nggak sok cakep, sayang.... tapi mau gimana lagi ? cakepku kan memang sudah bawaan sejak lahir", sahut Gio. Dalam hati aku tersenyum mendengar omongan Gio.


"Yang, sori ya kalo candaanku bikin kamu marah. Aku janji deh nggak akan ngomong sembarangan lagi. Sayang... udahan dong ngambeknya.! Kan tadi aku genitnya juga sama kamu... ." Gio meminta maaf, digenggamnya tanganku erat.


"Aku maafin, tapi ada syaratnya", kataku sambil tersenyum iseng


"Ngeliat senyum kamu, perasaanku sedikit nggak enak nih... Memang syaratnya apaan?" kata Gio.


"Mulai besok, aku bawa mobil sendiri lagi", kataku.


"Nggak.! Nggak boleh ! Selama ada aku, kamu nggak boleh bawa mobil sendiri", tolak Gio.


"Ya udah, nggak jadi aku maafin", kataku lagi.


"Loh, kok gitu sih? Oke boleh bawa mobil sendiri tapi sehari aja," Gio merubah keputusannya.


"Satu minggu deh... ", tawarku.


"Fix, nggak bisa dinego lagi, boleh bawa mobil sendiri selama tiga hari ! Deal?" Gio memutuskan.


"Oke deal", sahutku cepat dan langsung kujabat tangan Gio yang terulur. Aku tersenyum senang.


"Ingat ya..., bawa mobil sendiri, nyetirnya harus konsen, jangan telponan saat nyetir! Terus begitu sampai tujuan harus kabari aku", pesan Gio.


"Yang, hari Sabtu minggu depan, sekolahnya Nia ngadain acara. Temanya Keluarga Sehat Keluarga Bahagia. Semua orangtua, ayah dan ibu diwajibkan hadir. Kamu bisa kan datang ke acara itu?" tanya Gio.


"Aku nggak mau ikutan", kataku.


"Kok nggak mau? Kan kamu calon mommy nya Nia", kata Gio


"Justru itu..., sebelum aku nikah, aku mau menikmati masa-masa single aku.... "


"Maksudnya? Mau tebar pesona ? Awas aja ya kalo macem-macem! Aku kurung kamu nanti! Nggak aku bolehin ketemu siapa pun, juga nggak boleh kemana pun", ancam Gio dengan wajah kesalnya.


"Serem amat ya....", sahutku sambil bergidik.


"Makanya...Jangan mikir mau macem-macem! Nanti aku jadi kelewat posesif. Aku akan melakukan apa pun supaya kamu nggak akan bisa ninggalin aku lagi", kata Gio sambil memelukku.


Aku tersenyum dalam pelukan Gio. Aku jelas senanglah, ada orang yang mau melakukan apa pun hanya supaya bisa selalu bersamaku...., bangga dong akunya...


"Yang, aku serius nih..., Sabtu depan ikut sama aku dan Nia ke acara sekolahnya Nia, ya... ", Gio mengulangi ajakannya.


"Iya, sayang", sahutku.


"Kan di acara itu tiap keluarga harus memakai kostum yang sama. Tadi sudah aku suruh anak buah aku design kan kaosnya. Hasil design nya bagus, gambarnya lucu, ada tulisannya we are happy family. Sudah dipesenin sama anak kantor, dipilihkan warna pink," cerita Gio.


"Cepet juga respon kamu..., memang Nia cerita sama kamu kapan? " tanyaku.


"Hari Rabo", sahut Gio.


"O pantesan..., hari Rabo itu Nia nggak ke sini, dia ada eskul renang soalnya," kataku.


"Iya, mungkin Nia lupa mau cerita sama mommy-nya", sahut Gio.


"Sayang, aku panggil kamu momny aja, ya... "


"Big no ! Aku nggak mau, ya!! Meskipun besok sudah punya anak aku nggak mau kamu panggil aku mommy", tolakku.


"Lo memangnya kenapa?" tanya Gio dengan bingung


"Soalnya kamu bukan anak aku. Menurut aku, panggilan mommy daddy itu bukan panggilan mesra. Panggilan itu hanya untuk mengingatkan bahwa kita sudah menjadi orangtua," jelasku


"Terus maunya dipanggil apa?" tanya Gio


"Aku mau kita tetap punya panggilan kusus yang mesra seperti sekarang. Besok, meskipun kita sudah menikah, bahkan sampai kita tua, panggilan mesra di antara kita itu harus tetap ada," kataku


"Oke, aku setuju. Kamu mau aku panggil apa?" tanya Gio.


"Terserah kamu, panggilan untuk aku ya harus kamu yang nentuin, kalau panggilan untuk kamu ya terserah aku," kataku lagi.

__ADS_1


"Kamu mau panggil aku apa?" tanya Gio padaku


"Yang pasti aku panggil kamu sayang, kadang mungkin berubah, tapi akan balik manggilnya sayang lagi. Soalnya memang aku suka manggil kamu sayang, "jelasku.


"Sekarang bilang suka manggil aku sayang, kemaren-kemaren disuruh panggil sayang susahnya minta ampun...", gerutu Gio.


"Kan waktu itu kita belum jadian", aku beralasan.


"Tapi kan sudah ttm-an", sahut Gio.


"Ttm itu kan status nggak resmi, ya aku nggak maulah manggil kamu sayang", aku langsung nyeplos.


"Jadi minta status resmi nih ceritanya ?, oke kita besok langsung ke catatan sipil, ya.... ", kata Gio sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.


"Dasar genit ! " olokku.


"Haha.... "


"Sudah ah ! Aku mau keluar dulu, mau mantau kerjanya anak buahku. Kamu tunggu sini aja, ya? ", kataku pada Gio.


"Aku ikut kamu dong.... Ngapain juga aku di sini sendirian," sahut Gio sambil mengikuti langkahku keluar ruangan


Acara pesta anak muda, rame dan meriah banyak acara permainan yang lucu dan mengundang tawa.


Waktu berjalan tanpa terasa, acara pesta itu usai sudah. Saat jam menunjukan pukul 22.30, kami semua bersiap untuk pulang.


Saat di parkiran, aku tidak melihat mobil Gio, yang aku lihat justru mobil yang nggak asing bagiku, mobil yang selalu menguntit perjalananku saat pulang malam dari cafe.


Lo..., lo..., kok Gio malah masuk ke mobil itu sih? Apa, Gio nggak salah, pikirku.


Masih dengan bingung, aku melangkah menuju mobil itu, Gio membukakan pintu untukku. Aku segera maduk ke dalam mobil.


"Benar ini mobil kamu?" tanyaku


"Iya, bener", sahut Gio enteng.


"Jadi selama ini, saat aku pulang malam dari cafe, kamu yang selalu mengikuti mobilku?" Aku bertanya dengan nada kesal.


"Kanu tau? ", Gio malah balik nanya


"Jadi kamu adalah si penguntit itu?? Kamu terlalu Gio ! Kamu bikin aku takut ! Bikin aku kuatir! Aku kira kamu orang yang punya maksud jahat sama aku !", aku mengomel dengan suara sedikit keras, aku cubiti dan aku pukuli Gio, kulampuaskan kekesalanku.


"Eh.. Eh.. Kok aku dianiaya, sih? Salah aku apa coba?? " tanya Gio tanpa rasa bersalah.


"Masih nanya salah kamu apa?? Ya ampun Gio...., tingkah kamu yang mengikuti aku secara diam-diam itu bikin aku merasa aku ini sedang dalam bahaya, aku juga merasa diikuti sama orang jahat. Dan itu semua bikin aku takut. Paham? "


"Aku mengikuti kamu, sejak pertama aku ngeliat kamu di Mini Cafe. Awalnya aku mengikuti kamu karena aku pengen tau kamu pulang naik apa, dengan siapa, rumah kamu di mana. Tapi saat aku mengikuti kamu pulang pertama kali itu, aku jadi kuatir kalau kamu tiap hari pulang malam sendirian. Akhirnya aku putuskan untuk mengantarmu pulang dengan mengikuti mobil kamu dari belakang", Gio menjelaskan asal mula dia menguntit mobilku.


"Kenapa nggak bilang? ", tanyaku


"Helo.... Gimana caranya bilang? Saat itu kamu belum tau kebenaran cerita kita, aku tidak tau bagaimana perasaanmu terhadapku, mungkin masih marah, benci, kesel, dll. Dan kalau aku mendekatimu dan bilang kalau aku mau menemanimu pulang, apa kamu mau? Aku yakin kamu pasti menolak. Makanya aku melakukannya dengan diam-diam", Gio mengemukakan alasannya.


"Saat itu yang ada dipikiranku, aku cuma mau jagain kamu. Aku kuatir sama kamu. Aku juga nggak tega dan nggak rela wanitaku tiap hari harus pulang malam sendirian. Maka aku ambil keputusan untuk menjagamu dan dengan menguntit mobil kanu"


Aku nggak nyangka, Gio melakukan itu semua untuk menjagaku, untuk memastikan aku aman dan selamat sampai di rumah. Padahal saat itu aku masih belum menerima dia, belum ada hubungan apa-apa di antara kita.


Aku yang tadinya kesel sama Gio, sekarang aku justru merasa bersalah telah memukuli dan mencubiti Gio.


"Sayang, aku minta maaf sudah mukul sama nyubit kamu", sesalku. Kuelus tangannya yang tadi sudah kucubit dan pukul berkali-kali.


"Sudah aku maafin. Aku nggak apa-apa, kok. Kan aku sudah pengalaman kamu aniaya", canda Gio


"Iih !! Iklas nggak sih maafin aku?"


"Iklas dong, sayang....lagian aku rela kok kamu pukul dan cubit seperti tadi, kalau ujung-ujungnya tanganku yang sakit dielus sayang kayak gini," jawab Gio sambil mengedipkan sebelah matanya.


Reflek tanganku mencubit Gio lagi.


"Ya ampun yang.... Kamu ini beneran hobi nyakiti aku, ya... Baru juga aku seneng disayang, sekarang malah sudah dicubit lagi. Mana cubitannya sakit lagi... " keluh Gio sambil mengusap-usap bekas cubitanku di tangannya.


"Sori.. Sori... Aku nggak sengaja. Kamu sih godain aku terus !" Aku memang minta maaf, tapi plus ngomel. Haha...


Aku nggak nyangka, Gio melakukan itu semua untuk menjagaku, untuk memastikan aku aman. Padahal saat itu aku masih belum menerima dia, belum ada hubungan apa-apa di antara kita.


Gio....aku akui kamu memang sosok pria yang luar biasa, yang mau melakukan apa pun juga untuk wanita yang kamu cinta. Aku sungguh wanita yang sangat beruntung, bisa dicintai dan mencintai pria yang istimewa sepertimu. Aku janji aku tidak akan pernah menyia-nyiakan cintamu, sayangku....


********************************


💧🍰💧🍰💧🍰💧🍰💧🍰💧


Halo semua.....


Sudah pada tidur belum? Semoga saat episode 91 tetbit, kalian belum tidur, jadi masih sempat baca. Kalau pun sudah tidur juga nggak masalah, besok kan masih ada waktu untuk baca cerita Rasa Itu Ada.


Author mengucapkan banyak-banyak terimakasih buat readers yang sudah peduli, yang mau memberi vote untuk karya author, hingga ranking RASA ITU ADA bisa naik. Jangan bosen untuk terus beri vote ya, say... supaya rankingnya nggak turun lagi.


All readers, pse dukung author dengan memberi vote, like dan komen. Dukungan kalian adalah pemacu semangat author dalam berkarya.


Terimakasih semuanya....


Salam.... 🙏🙋😊😍😇😘😄🙋🙏


💧🍰💧🍰💧🍰💧🍰💧🍰💧


*********************************

__ADS_1


__ADS_2