
Ponselku berbunyi, ada panggilan masuk, segera kuterima panggilan tersebut
"Halo", sapaku
"Halo, selamat pagi, ini dengan bu Vania? "
"Selamat pagi, bu Julia, iya saya Vania, bu. Ada yang bisa saya bantu? ", jawabku
"Begini bu Vania, pada dasarnya bos saya sudah setuju untuk mengadakan acara ulang tahun perusahaan di Mini Cafe. Hanya untuk makanan penutupnya minta ditambah es krim, apa bisa bu? Es krim yang cup aja biar nggak repot."
"Tentu bisa, bu", aku memastikan.
"Oke, kalau begitu tolong email yang bu Vania kirim waktu lalu itu direvisi, ditambahkan biaya untuk es krimnya ya, bu. "
"Baik bu Julia, akan segera saya kerjakan"
"Segera setelah saya terima email yang baru, uang mukanya akan saya transfer." jelas bu Julia.
"Baik, bu. Terimakasih sudah memilih cafe kami."
"Sama-sama."
Puji Tuhan, GAB Advertising akhirnya jadi booking cafe ini. Indahnya hari ini, pagi-pagi aku sudah dapet kabar happy....
Segera kutambahkan permintaan dari GAB Advertising ke proposal yang sudah aku buat. Setelah selesai dan sudah kucek ulang beberapa kali, langsung kukirim proposal itu ke alamat email bu Julia. Satu pekerjaan sudah beres sebelum jam makan siang.
Sehabis istirahat, aku kembali bekerja. Masih ada dua file lagi yang harus aku periksa. Aku harus bekerja cepat, karena hari ini aku berencana sebelum jam 17.30 mau pulang.
Aku pulang cepat karena mau mampir ke supermarket untuk belanja beberapa keperluan terus pulang, istirahat. Mengingat besok aku akan pergi berlibur dengan keluarga Gio, biar nggak terlalu capek.
Jam 17.20, pekerjaanku sudah selesai. Aku segera beberes dan bersiap meninggalkan ruanganku, tapi ponselku berbunyi, ada panggilan masuk dari Gita.
"Ya, Git... ", sahutku
"Kak Vania di mana? "
"Sekarang masih di Cafe, tapi ini sudah mau balik. Ada apa ya, Git? "
"Kakak apa ada acara? "
"Nggak, cuma mau mampir ke supermarket aja, kok"
"Kalau gitu kakak tunggu di sana aja, ya... aku samperi kakak, terus kita ke supermarket bareng", ajak Gita.
"Apa nggak ketemuan di supermarket aja, Git? Kakak bawa mobil, kok. Lagi pula biar nggak ngerepoti kamu"
"Nggak apa, kak. Ini Gita sudah di jalan, kok. Sepuluh menit lagi aku sampai tempat kak Vania "
"Ok, aku tunggu ya.... Bye"
"Bye kak... "
Sepuluh menit kemudian, Gita menelponku lagi, dia sudah di depan. Aku segera keluar dari cafe.
Pintu mobil di sebelah pengemudi terbuka, saat aku akan masuk, aku tertegun... yang di belakang kemudi itu Gio. Sedangkan Gita duduk di belakang dengan seorang cowok.
Melihat keraguanku, Gita langsung respon, " Ayo masuk kak Vania. Kakak duduk di depan aja, ya..... Aku pengen berduaan sama cowok aku di belakang".
Hegh! Ini pasti akal-akalan Gita. Dia sengaja, supaya aku duduk di depan berdua sama Gio.
"Kak Vania..., kenalin ini Sean, yang waktu itu aku ceritakan ke kakak. Sean, ini kak Vania, calonnya kak Gio", Gita memperkenalkan aku pada pacarnya. Apa tadi Gita bilang? Calonnya Gio?
"Sembarangan ! Jangan didengerin omongan Gita, ya! " protesku.
"Harus aku dengerin, kak. Kalau aku nggak mau dengerin dia, entar dia marah, aku juga yang repot", sahut Sean dengan cepat dan enteng.
Gita dan Gio tertawa mendengar jawaban Sean. Ini anak baru pertama kali ketemu sudah kayak gini.....
Wah.... Kok perasaanku nggak enak, ya... Kayaknya aku bakal dikerjai lagi nih...
__ADS_1
Akhirnya kami sampai di mall, aku dan Gio masuk supermarket, Gita sama cowoknya nggak tau ke mana....
Aku segera mengambil trolly dan mendorongnya, tapi diambil alih oleh Gio. Gio memilih makanan sambil dorong trolly, aku jalan santai memilih barang belanjaan.
"Gita sama cowoknya ke mana?" tanyaku.
"Nggak tau, tadi cuma pamit mau ke atas sebentar", sahut Gio.
Setelah berjalan melewati blok ikan segar....
"Van... ", Gio memanggil sambil menyentuh tanganku.
"Ya? " jawabku kaget, karena aku barusan melamun.
"De javu, Van.... Inget pas di Jogja kan kita sering belanja di supermarket kayak gini", kata Gio.
"Barusan aku juga baru mikir gitu", jawabku dengan jujur. Ya ampun mulutku kenapa bocor.... Ngapain aku jawab kayak gitu sih??
Kulihat Gio tersenyum senang. Wajahku terasa panas.
"Mau beli apa, Van? " tanya Gio
"Makanan ringan sama makanan instant, aku juga mau beli barang keperluanku", jawabku.
Setelah membeli semua keperluan, kami segera ke kasir. Aku pisahkan belanjaanku dan belanjaan Gio. Maksudku supaya nggak kecampur dan aku bisa bayar sendiri barang yang aku beli. Tapi seperti dulu, Gio yang bayar semua, termasuk belanjaanku. Aku sudah menolak tapi Gio memaksa, daripada ribut, malu diliatin orang, akhirnya aku mengalah.
Selesai belanja, Gio menelpon Gita. Sambil menunggu Gita datang, kami duduk di kursi yang tersedia. Aku nanya pada Gio tentang liburan besok.
"Gio, besok itu kita liburan ke mana?"
"Ke Batu, Van"
"Tidurnya di hotel atau Vila?"
"Di villa, aku sewa, Van"
"Tidur di vila Apa perlu beli bahan mentah ya?" tanyaku.
Deg deg deg....tadi kok rasanya kedengeran ada kata 'yang', ya? Apa Gio manggil aku sayang?
Tak lama kemudian Gita dan Sean balik. "Kak Gio belanjaannya taruh di mobil dulu aja", kata Gita.
"Buat apa, Git? Kita bareng aja sekalian jalan" kataku
"Kita nonton dulu, kakak cantik... Nih lihat! Gita sudah beli empat tiket", jawab Gita sambil menunjukkan empat lembar tiket di tangannya.
"Ya ampun Gita ! Bikin acara kok nggak rundingan dulu!" protesku.
"Kalo pake rundingan, pasti kak Vania nggak mau", sahut Gita dengan enteng.
"Dasar kamu ini! ", kujentik dahi Gita pelan.
"Ya sudah kakak ke mobil dulu, naruh barang belanjaan", pamit Gio.
"Aku temani, kak", kata Sean sambil langsung berjalan di samping Gio.
"Aku sama kak Vania nunggu di food court, ya.... Nanti langsung nyusul ke sana, ya! Kalian mau makan apa? Nanti aku pesan sekalian", tanya Gita
Setelah menyebut menu yang diinginkan, Sean dan Gio pergi. Aku dan Gita langsung ke food court, kita, mau makan dulu sebelum nonton.
Sambil menunggu makanan yang kami pesan disajikan, aku dan Gita duduk santai sambil ngobrol.
"Kak Vania... "
"Hm? "
"Kak, aku kasih tau, ya.... Sejak kak Gio putus dari kak Vania lima tahun lalu sampai sekarang ini, kak Gio nggak pernah pdkt maupun pacaran sama cewek lain. Kayaknya hati kak Gio sudah dikunci stang sama kak Vania, sampai nggak bisa berpaling", cerita Gita.
"Sok tau kamu ah...! ", elakku
__ADS_1
"Bukan sok tau! Tapi Gita memang tau beneran, kak. Kak Gio itu cinta mati dan setia banget sama kak Vania"
"Waduh... Kamu sudah cocok jadi marketing manager, Git.... Kemampuan jual kamu hebat", ledekku.
"Kak Vania ini... Aku serius, kak! Kalau kakak memang masih ada sedikit aja rasa sama kak Gio, tolong kakak pertimbangkan untuk balik sama kak Gio lagi. Jaman sekarang cari cowok baik yang setia dan cinta sama kita itu nggak gampang, kak.... ", tutur Gita.
"Widih.... abis pacaran jadi pinter kamu, Git! Sekarang sudah jadi pakar cinta nih ceritanya", ledekku.
"Iih... Kak Vania ini!! ", Gita kesel, dia cemberut dan tangannya mencubit pinggangku.
"Auw.... Sakit Git! ", teriakku tertahan.
"Gita.... Kamu apain kak Vania? "
Tiba-tiba Gio sudah berdiri di belakangku.
Tanpa sadar aku mengadu
"Ini pinggangku dicubit sama Gita..."
"Ngadu sana! Ngadu sana! Mumpung body guard nya ada di sini", Gita kembali cemberut.
Aku dan Gio tertawa ngeliat Gita cemberut, tapi Sean dia tidak tertawa, dia sibuk membujuk Gita. So sweet..... Aku dan Gio saling senyum ngeliat tingkah Sean.
Tak lama kemudian makanan yang kami pesan datang, setelah makanan kami habis, kami langsung ke bioskop.
Lagi-lagi Gita berulah. Kita memang nonton dalam satu gedung tapi tempat duduk kami terpisah, Gita bersama Sean di sebelah pojok paling kiri, aku bersebelahan dengan Gio di pojok paling kanan.
Bodohnya aku ! Dari tadi nggak nanya filem apa yang kita tonton. Saat filem diputar aku bener-bener kaget. Yang diputar adalah genre filem yang nggak pernah mau aku tonton. Filem Horor!!
Apa yang harus aku lakukan? Keluar sendiri dari gedung bioskop ini? Aku nggak berani jalan sendiri! Tetap di dalam gedung sambil memejamkan mata? Aku takut denger suara-suaranya ! Atau aku nekad nonton filem ini?? Jelas nggak mungkin ! Aku takut luar biasa !
Kulihat Gio asik menonton filem ini. Aku beneran takut. Terserah Gio mau berpikir apa aku nggak peduli. Kugeser badanku mepet ke kursi yang bersebelahan dengan Gio. Kupejamkan mataku. Telapak tangan dan kakiku sudah dingin.
Tiba-tiba ada adegan yang mengeluarkan suara mengagetkan, semua penonton berteriak. Aku ikut berteriak kencang dan langsung menubruk Gio.. Aku memeluk erat lengan Gio dan tanpa kusadari airmataku mengalir.
"Ada apa, Van? Kamu takut? " tanya Gio lembut.
Aku menatap Gio dan menganggukkan kepalaku, Gio melihat airmataku.
"Hei... Kenapa nangis? " Diusapnya airmataku.
"Aku takut. Aku nggak mau nonton", kataku dengan ketakutan, airmataku kembali mengalir.
"Ya udah, kita keluar aja", ajak Gio. Mungkin dia kasihan ngeliat aku sampai nangis
Kami pun melangkah keluar, aku berjalan dengan kedua tanganku memeluk lengan Gio dengan erat.
Kami duduk di ruang tunggu, menunggu Gita selesai nonton. Kulepaskan pelukanku pada lengan Gio. Badanku masih lemas. Tanganku masih dingin. Aku masih ketakutan.
Aku tidak menolak saat Gio merengkuh bahuku dan menyandarkan kepalaku di dadanya. Jujur rasa takutku sedikit berkurang.
"Jadi ini alasan kamu nggak pernah mau aku ajak nonton filem horor? " tanya Gio.
Dulu aku malu mengakui kalau aku takut nonton filem horor, aku selalu beralasan nggak suka filem horor. Kali ini aku pasrah. Toh Gio sudah ngeliat aku dalam keadaan seperti ini. Jadi ya aku jawab pertanyaan Gio dengan anggukan kepalaku.
********************************
🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬
Hai.....
Nih author tepati janji, malam ini author up dua episode. Gimana suka nggak sama episode ini?
Author tunggu dukungan vote, like dan komen kalian. Buat yang sudah dukung, author ucapkan terimakasih.
Salam 🙋😀😘😇😍😊🙋
🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬
__ADS_1
*********************************