
"Mommy..... ", Nia berteriak memanggilku sambil membuka pintu ruanganku, dia berlari menghampiriku.
"Hai sayang.... ", sahutku sambil memeluk Nia dan mencium pipi chubby-nya.
"Mommy besok kan di sekolah Nia ada acara, mommy pakai kaos ini, ya....! Kembaran sama Nia dan daddy. Kata bibik kaosnya mommy sudah dicuci, tinggal pakai aja."
"Oke, makasih sayang..."
"Mom, di acara itu nanti akan ada banyak lomba, kita harus menang, ya...., " kata Nia.
"Kita berusaha semampu kita, sayang.... Kalau bisa menang, ya bersyukur, tapi kalau kalah ya harus diterima," jawabku.
"Daddy sama mommy pasti bisa bikin Nia menang, " kata Nia optimis.
"Semoga ya, sayang...", sahutku.
"Mommy, Nia hari ini bobok siang di sini, nanti Nia pulangnya bareng sama daddy. Sekarang Nia mau seka dulu," kata Nia sambil mulai membuka sepatu dan seragamnya.
"Mau mommy bantu?" tanyaku
"Nia bisa sendiri, mommy. Nia sudah gede...", sahut Nia merajuk.
"Iya, Nia sudah gede, sudah pinter. Anaknya siapa coba..?"
"Anaknya daddy Gio sama mommy Vania", jawab Nia dengan cepat.
Aku tersenyum, kuacak-acak rambut Nia dengan gemas.
"Anaknya mommy memang bikin gemes ! Buruan seka sana gih!"
"Iya, mommy ku sayang.... ", sahut Nia sambil berlari masuk toilet.
Aku tersenyum melihat tingkah Nia. Meskipun aku nggak suka sama sikap dan perbuatan ibunya Nia, tapi aku sangat menyayangi anaknya. Sejak pertama kali bertemu di Bali waktu itu, aku langsung suka sama Nia.
"Sudah selesai, mommy.... Nia sudah harum, kan?!" Nia keluar dari toilet sudah pakai baju santai dan sudah pakai bedak. Nia mendekatkan pipinya ke hidungku.
"Iya sudah wangi, tapi mommy nggak mau cium, " kataku.
"Kenapa mommy nggak mau cium Nia?" tanya Nia bingung.
"Nanti Nia marah-marah seperti waktu itu, takut bedaknya hilang," kataku sambil acting sedih.
"Mommy boleh kok cium Nia... Nia nggak bakalan marah ! Ayo... Cium mom ! Cium Nia banyak-banyak nggak apa, kok! " kata Nia sambil memajukan wajahnya.
"Bener nih mommy boleh cium?" tanyaku masih dengan tampang sedih.
"Iya beneran boleh, mommy..." kata Nia menegaskan dan dia sekarang sudah menempelkan pipinya di bibirku.
Langsung aja kupeluk tubuh Nia dan kuciumi pipi chubby nya berkali-kali. Gemes aku sama nih anak!!
Saat aku masih menciumi Nia dengan gemes, Gio masuk ke ruanganku.
"Daddy.... ", panggil Nia. Aku berhenti mencium Nia dan ikut menoleh ke arah pandangan Nia.
"Halo sayang... ",. balas Gio sambil memeluk Nia, yang sudah menghambur ke pelukan Gio.
"Love...."
"Hm... "
"Aku mau dicium dan digemesin kayak Nia tadi....", bisik Gio di telingaku.
"Nggak usah ngarep, ya... !!"
"Kamu nggak mau bikin aku seneng, love?"
"Mau ! Tapi nggak pake cara itu!" sahutku.
"Terus pake cara apa, yang?"
Aku keluarkan satu susun rantang, yang aku bawa dari rumah. Kutata tiga buah rantang di atas meja. Ya, tadi pagi aku bangun lebih pagi dan memasak dori telor asin, tumis kangkung sama ayam geprek + lalapan.
"Pake cara ini... Semoga kamu suka", kataku sambil menghidangkan masakan rumahan yang sederhana di atas meja.
"Ini semua kamu yang masak, love?" tanya Gio
"Iyalah.... Aku masak ini tuh kusus buat my beloved future hubby". Aku menoleh ke arah Gio, kukedipkan mataku sambil tersenyum usil.
"Idih... bisa genit juga sayangnya aku... By the way, thank you so much, love. Aku seneng banget bisa makan masakan kamu lagi. Inget waktu jaman di kos dulu. Kamu kalo sweet kayak gini bikin makin aku padamu, love... kata Gio sambil mengedipkan sebelah matanya, tersenyum manis dan mengelus pipiku.
"Permisi,, bu....", Ani masuk dengan membawa tiga piring nasi putih, sama tiga gelas orange juice.
"Makasih, ya... ", kataku.
"Sama-sama, bu," sahut Ani, lalu berjalan keluar.
"Ayo kita, makan, yuk.... mumpung nasinya masih hangat", ajakku.
Aku segera mengambilkan makan untuk Nia dulu. Nia sudah pinter makan sendiri, nggak usah disuapi.
Aku makan nggak pakai sendok, langsung makanku pakai tangan.
Gio ngelihati cara makanku yang seperti itu.
"Yang, suapi aku.... Ngeliat kamu makan pakai tangan gitu kok kayaknya lebih nikmat, " Gio minta disuapi pakai tangan.
"Nih, buka mulutnya ," aku menyuruh Gio membuka mulut dan menyuapkan nasi dan ayam geprek ke mulut Gio, langsung dengan tanganku.
"Hm... lebih enak rasanya kalo disuapi gini, love. Kita makan bareng gini aja, tapi kamu suapi aku."
"Ih...apaan sih? Makan sendiri aja, yang !" Aku menolak keinginan Gio.
"Ya sudah... Kalo nggak mau suapi, ya aku" nggak jadi makan," kata Gio sambil menjauh dari meja dan duduk bersandar di sofa. Mukanya ditekuk, nampak lagi merajuk.
Hadeh... My big baby lagi kumat manjanya.
"Sayang, bukannya aku nggak mau suapi kamu, tapi Nia aja makan sendiri, masak daddy-nya disuapi? Kan jadi contoh yang kurang baik." Aku mengemukakan alasanku, tapi no respon dari Gio.
"Next, if only both of us, I will do it, " aku mencoba membujuk Gio dengan berjanji.
"Bener? Janji, ya!! " Rupanya pancinganku berhasil.
Aku mengangguk dan tersenyum, " Iya, beneran. Ayo sekarang makan dulu. Nggak kasihan apa sama calon istrinya yang udah bela-belain bangun pagi untuk masak..., eh malah nggak dimakan"
__ADS_1
"Aku mau makan kok, yang... Akan aku habisin nanti," kata Gio sambil mulai makan.
Heran aku sama Gio, makin ke sini kok makin manja...
"Daddy, mommy, besok jangan telat ya ke sekolah Nia! " tiba-tiba Nia mengingatkan kami.
"Siyap tuan putri. Love, besok aku jemput di rumah, ya... jam 06.30 an, acaranya mulai jam 07.00." kata Gio.
"Oke," sahutku.
Akhirnya semua makanan di meja habis semua. Nggak sia-sia aku masak. Setelah meja aku bereskan, aku panggil anak buahku untuk membawa rantang dan peralatan makan yang kotor, untuk dicuci.
Nia baru aja masuk ke kamar untuk tidur siang. Aku dan Gio lagi ngobrol saat ponselku berbunyi, ada notifikasi wa. Kulihat sepintas, langsung kubuka isi chatnya.
From Siska 12.27
Wooiiii...... Lagi pada istirahat, kan....? Ngobrol yuk....
From me 12.27
Apaan sih? Berisik !! Ganggu tau!!
From Fani 12.27
Iya, si Siska ini memang gangguin orang aja kerjaannya.
From Siska 12.28
Memang kalian lagi ngapain kok bilang aku ganggu kalian?
From Fani 12.29
Mau tau? Ayo kita video call aja!
Setuju, Van?
From me 12.29
Oke...
Aku yang memang lagi duduk di sebelah Gio, langsung lebih merapat, tangan Gio aku taruh di bahuku.
'Tumben minta dipeluk?" komen Gio.
"Sstt.. Ngikut aja! Yang mesra, ya....kita lagi mau ngerjain Siska", bisikku.
"Kamu ini usil, ya...!! Tapi nggak apa, aku malah seneng kamu minta dipeluk gini... ", kata Gio sambil tersenyum.
Sekarang kami nggak lagi chat, tapi dalam posisi video call.
'Nih lihat aku lagi ngapain !" kata Fani.
Terlihat Fani lagi di ranjang sama kak Bram dengan posisi kak bram nyandar di kepala tempat tidur, sementara Fani nyandar di dada kak Bram, tangan kak Bram memeluk pinggang Fani dari belakang. Mereka lagi baca buku di tempat tidur.
Karena Gio duduknya mepet sama aku, otomatis Gio ikut ngeliat layar ponselku.
"Wuih.... Fani sama Bram bikin aku ngiri, pengen cepet-cepet nikah, love," kata Gio sambil mengelus bahuku.
"Sabar.... Kan cuma kurang dua minggu lagi", sahutku sambil tersenyum, Gio pun ikut tersenyum
"Halo Gio.... Makanpya buruan nikahnya! Nikah itu enak, lo.... Mau apa aja berdua... bebas !!" Fani menyapa Gio, dan terus nyerocos sambil ketawa.
"Iya, mentang-mentang sudah sah, posenya di ranjang... ", kataku sambil ketawa. Saat aku lagi ngomong, tiba-tiba Gio mencium pipi aku.
"Wooiii..... Bisa nggak kalian biasa aja!! Nggak usah pamer kemesraan !! Bikin illfeel aja!! Mentang-mentang cowok aku nggak ada di sini....
"Cowok aku?? Kamu sudah punya cowok? Siapa? Jasson?" tanya Fani heran
'Kamu sudah jadian sama kak Jasson, Sis?", aku ikuran kepo.
"Kita balik ke chat dulu aja, ya.... Sebel aku ngeliat kalian pada, berduaan dengan pose mesra gitu di depanku." Siska kesal sama kami berdua. Haha...
"Haha.... Okok...", sahut Fani sambil ngakak.
"Haha...Ya, aku ikuti aja deh kemauannya kak Siska...", jawabku.
Akhirnya kami kembali ngobrol via pesan wa.
From Fani 12.37
Ayo buruan cerita!! Gimana kamu sama Jasson??
From Siska 12.38
Aku sama Jasson makin sering contact, terutama via chat wa. Kami saling memberi perhatian, saling mengingatkan dan selalu berbagi cerita meski hal kecil pun kami ceritakan. Intinya kami makin dekat, terutama sejak aku balik dari Surabaya waktu ultahnya Vania. Tapi sampai saat ini Jasson belum nembak aku.
From me 12.48
Jadi pengen ditembak, nih...?
From Siska 12.49
Iyalah !! Kan aku juga pengen dipeluk kayak kalian...
From me 12.50
Ok, fix!! Aku sudah screen shoot chat ini dan bentar lagi aku kirim ke kak Jasson.
From Siska 12.52
Eh, Vania... Jangan macem-macem ya kamu !! Jangan bikin aku malu !!
From me 12.52
Lo, katanya pengen ditembak, pengen dipeluk, mau dibantuin kok malah marah...
From Siska 12.53
Tapi bantuinnya nggak gitu juga kale......😡
From me 12.54
Ok, screen shootnya aku hapus, bentar lagi aku telpon kak Jasson, aku bakal bilangin dia kamu sudah nggak sabar, pengen buruan ditembak.
__ADS_1
From Siska 12.55
Vania.!! Ini anak kecil bener- bener minta 👊👊👊
From me 12.56
😀😂
From Fani 12.57
Kamu itu, Sis... Orang adeknya baik, mau bantuin kamu, kok malah dibogem....😜😀
From Siska 12.58
Tau ah!! Suka-suka kalian deh!! Heran aku, kok bisa-bisanya aku sahabatan sama kalian....
Udahan dulu chatnya, waktu istirahat sudah habis, aku mesti balik kerja. Bye sis...
From me 12.58
Haha... Itu namanya takdir, bu 😄 Ok, bye all...
From Fani 12.59
@Siska haha.... Nggak usah heran! Memang jalan hidup kamu sudah digariskan bakal seperti ini ! Bye bye.....😊😀😜
Selesai chat, kuletakan ponselku di meja. Diambil sama Gio, diotak-atik sebentar terus dikembalikan di atas meja lagi. Gio bisa otak-atik ponselku karena dia tau pin aku.
"Kamu apain ponselku, yang?" tanyaku
"Aku sebel liat kamu nyimpen kontakku pake nama Gio aja, jadi aku ganti," kata Gio
"Kamu ganti jadi apa?" tanyaku.
"Ada deh....liat aja sendiri !" sahut Gio.
Segera aku buka ponselku, aku cari nama Gio, sudah nggak ada. Aku coba cari lagi.., ternyata dikasih nama my lovely hubby'.
"Kok ditulis my lovely hubby? Kan belom jadi hubby??" protesku.
"Kan nggak lama lagi, yang! Cuman kurang dua minggu aja, kok... ", kata Gio.
"Ya udah deh biarin aja..., yang penting pacar aku seneng", sahutku.
"Apa pacar ??!! Tunangan ! Calon suami ! Itu yang betul !" protes Gio.
"Hehe... Beda dikit aja protes..! "
"Nggak beda dikit, yang ! Beda banyak itu ! Kalo pacar itu kan belum resmi, kalo tunangan itu sudah resmi".
"Iya, sayang.... Sori akunya salah. Aku nurut deh..., yang penting calon suami aku seneng", kataku sambil nyengir dan mengedipkan mata.
"Ih.. pake ngeledek lagi !", kata Gio sambil menggelitik pinggangku.
"Eh... Sudah! Sudah ah! Stop!", teriakku sambil berusaha menghindar. Aku paling nggak tahan digelitik soalnya.
"Makanya jangan suka ngeledek aku !", kata Gio.
"Haha... Sori, sayang...." kataku
"Sini peluk dulu !" Gio melambaikan tangannya, memanggilku untuk mendekat. Daripada digelitik lagi, mending langsung aku turuti aja.
"Memang Siska pacaran sama Jasson, yang?" tanya Gio
"Masih otw, kita doain semoga segera jadian", sahutku.
"Semoga mereka segera pacaran, biar aku tenang."
"Apa hubungannya mereka pacaran sama kamu tenang, yang?", tanyaku bingung.
"Pastilah ada hubungannya. Aku sebagai cowok, aku tau kalo si Jasson itu suka sama tunangan aku, dari gesturenya, dari cara menatapnya, juga dari cara bicaranya, aku bisa ngerasain kalo dia punya rasa sama kamu."
"Kak Jasson itu cuma menganggap aku sebagai adiknya, kok." Aku ngomong seperti ini supaya Gio nggak berpikir yang macam-macam.
"Menganggap kamu sebagai adik itu cuma di mulutnya aja, tapi dalam hatinya pasti berkata lain", Gio teguh pada pemikirannya.
"Ya biarin aja dia mau menganggap aku sebagai apa, yang penting aku menganggap dia cuma sebagai teman lama atau sebagai kakak aja, nggak lebih."
"Aku cuma takut kamu milih dia dan ninggalin aku, love", kata Gio
"Dua minggu lagi kita nikah..., kamu nggak percaya sama aku? Apa menurut kamu aku tukang selingkuh? Hubungan kita dulu pernah berakhir apa karena kesalahanku? Hei...perlu kamu catat : aku bukan tipe cewek yang sana sini oke, ya..!!" Tersulut emosiku, mendengar omongan Gio yang seakan meragukan aku.
"Bukan gitu, yang! Ini lebih karena rasa takutku, takut kehilangan kamu. Aku nggak mau ngerasain kehilangan kamu lagi seperti yang aku alami lima tahun terakhir ini, yang. Aku nggak akan kuat nahan sakitnya." Gio menatap mataku dalam, digenggamnya tanganku erat.
"Sayang..., orang menjalin hubungan itu yang terpenting adalah kepercayaan. Kalau kamu memang sayang dan cinta sama aku, kamu harus percaya sama aku, tapi kalau kamu nggak bisa percaya sama aku, ya kita harus berpikir ulang untuk kelanjutan hubungan ini..." Aku mengeluarkan kekesalanku.
"Kok kamu gitu sih ngomongnya! Apanya yang dipikir ulang? Nggak ada ya yang namanya mikir ulang ! Dua minggu lagi kita pasti nikah, titik!", kata Gio tegas.
"Kan kamu yang mulai, kamu nggak percaya sama aku", aku masih ngelanjut perdebatan ini.
"Sori, aku yang salah. Aku minta maaf, yang. Aku percaya sama kamu, tapi aku manusia biasa yang tentu saja punya rasa takut dan kuatir kehilangan. Apa itu salah?" Gio menatapku dalam, sepasang mata coklat itu nampak sedikit terluka dan berkabut.
"Nggak salah, tapi harus ada alasan yang bener, nggak asal aja!! Bukannya aku mau mengungkit kejadian di masa lalu, tapi aku mau kamu membuka pikiran kamu. Di masa lalu, kamu pergi keluar kota, sampai akhirnya ada hal yang buruk terjadi. Barusan ini kita balikan, terus kamu ke luar kota bahkan ke luar negeri, apa aku melarang? Nggak, kan? Kenapa? Karena aku percaya sama kamu. Kalo aku nggak percaya sama kamu aku nggak akan ijinin kamu pergi. Mengingat pengalaman di masa lalu, harusnya aku yang curiga, takut dan kuatir melepas kamu. Tapi karena aku percaya sama kamu, aku nggak mikir macem-macem." Aku keluarkan semua uneg-unegku, supaya Gio paham, yang harusnya curiga itu aku, bukan dia.
"Iya yang, aku sadar aku salah. Aku tanpa, sengaja sudah nyakiti kamu. .Jangan marah, yang... Maafin aku yang sudah cemburu buta dan kuarir nggak jelas," Gio kembali minta maaf.
Sengaja aku diemin Gio. Biar dia lain kali nggak asal nuduh, supaya mikir dulu kalo mau curiga. Sikap Gio yang seperti ini yang bikin aku kesel. Gio takut kehilangan aku? boleh, bahkan aku seneng dia punya rasa seperti itu yang artinya dia cinta sama aku, tapi kalo tanpa alasan yang jelas kayak gini kan malah bikin ill feel.
"Yang, sudah dong ngambeknya ! Jangan diemin aku, love...! Love....", Gio menggenggam tanganku dan kembali meminta maaf.
"Oke, aku maafin, tapi janji ya... Jangan sampai ada kejadian seperti ini lagi. Nggak dipercaya sama orang yang kita cinta itu sangat menyakitkan, yang," kataku.
"Iya love, aku janji. Maafin aku. I love you...." Gio memelukku erat, kubalas pelukannya, lalu Gio mencium kening dan pipiku.
****************************
Hai semua
Sori baru up lagi, soalnya author stress ngeliat ranking yang drop terus, dari seratus lebih, sekarang jadi 500 lebih. Haduh.... author jadi nggak ada semangat nulis, karena nggak ada dukungan vote dari readers..😕😥
Ayo dong vote Rasa Itu Ada, supaya rankingnya naik dan supaya author semangat lagi nerusin cerita ini. Author tunggu ya dukungan dari kalian.
Makasih, bye....
__ADS_1
🙏🙋😘😊😇😀😍🙋🙏
******************************