RASA ITU ADA

RASA ITU ADA
EPISODE 87 BALIKAN


__ADS_3

"Love, kita ngobrol di apartemen aku aja, ya... soalnya kalo di rumah kan ada banyak orang, nggak enak ngomongnya," ajak Gio.


"Terserah kamu ! Tapi kamu kasih kabar mama ya, nanti mama nungguin soalnya kan tadi kamu bilang kita nyusul pulang ke rumah."


"Kamu yang chat mama aja, ya..", minta Gio.


"Aku yang chat tapi pakai hp kamu, ya.... ," negoku. Soalnya kalo pake ponsel aku nanti dikira aku yang nggak mau mampir, jadinya aku minta pakai ponsel Gio aja.


"Ya. Nih pakai aja ponsel aku.!" kata Gio sambil menyodorkan ponselnya padaku.


"Pin nya? "


"Tanggal lahir kamu", sahut Gio


Deg! Kaget aku denger jawaban Gio. Dia makai tanggal lahir aku untuk pin ponselnya? Nggak salah? Kok masih inget ya?


Melihat aku terdiam, Gio menoleh ke arahku.


"Kenapa, yang? Kamu nggak inget tanggal lahir kamu sendiri?" canda Gio.


"Apaan sih ! Sembarangan ! Aku belum pikun, ya...! " omelku.


"Hahaha.... Habisnya setelah aku bilang pin nya tanggal lahir kamu, kamunya diam aja. Wajar dong kalo aku mikir kamu lupa", sahut Gio sambil ngakak.


"Memang kamu masih inget tanggalnya?" tanyaku untuk mengetes.


"Jelas ingetlah...18 juni 92 kan?! Itu hari penting buat aku. Meskipun kita sudah pisah dan aku belum berhasil menemukanmu, tapi setiap tahun di tanggal itu aku selalu mengucapkan selamat dan berdoa untukmu dari jauh, love."


Hatiku berdesir mendengar itu. Aku merasa tersanjung, merasa diperhatikan dan dcintai sebegitunya. Gio sayang, kamu berhasil menyentuh hatiku yang beku... Aku merasa mataku berkaca-kaca, karena itu kupalingkan wajahku menatap jendela, dan mengeringkan mataku, supaya airmataku tidak terlihat oleh Gio.


Aku kembali terkejut saat melihat wall paper yang dipasang di ponsel Gio... Foto kita berdua yang terakhir difotoin sama Gita, itu lo yang nggak sengaja kissing.


"Gio.... Kok kamu pake foto ini untuk wall paper sih? Kalo dilihat orang gimana!" tanyaku sedikit panik.


"Ya nggak gimana-gimana. Itu kan ponselku, terserah aku dong mau pakai gambar apa... Kalo ada yang ngeliat ya biar aja, tapi kalo ada yang nanya, aku bakal jawab itu foto prewed aku sama calon istriku", jawab Gio dengan entengnya.


"Calon istri.... Siapa juga yang mau nikah? ", gerutuku.


"Kenapa sih yang kamu kok nggak pernah kasih jawaban yang bikin aku seneng sekali aja... Kamu tuh ya kalo nyahutin aku selalu bikin aku down lo, love. Memang kamu beneran nggak ada rasa sayang sama aku, ya? "


"Ih.... Apaan sih? Lagi nyetir, konsen liat jalan ! Kalau mau ngomong masalah gituan nanti, setelah sampai di apartemen", sahutku untuk ngeles.


Aku buru-buru menulis chat untuk mama Gio, sebelum aku kelupaan.


Nggak lama kemudian, mobil Gio sudah parkir di basement apartemen. Kami segera turun. Masuk ke dalam lift, hanya kita berdua, Gio memeluk bahuku sampai lift berhenti di lantai 21, apartemen Gio berada.


Masuk ke dalam apartemen, aku langsung duduk di sofa ruang tamu, Gio masuk ke kamar katanya mau ganti baju, dia gerah pakai jas dari pagi.


Hari ini menurutku Gio agak plin plan, sebentar manggil aku love, sebentar sayang. Kenapa ya? Biasanya nyebut aku sayang terus, ada angin apa kok pake manggil love.


Gio sudah memakai baju santai saat kembali menemuiku di ruang tamu. Di tangannya ada juice jeruk dalam kemasan dan sebuah handycam.


Aku tidak bertanya dan tidak curiga dengan handycam itu. Aku pikir mungkin Gio akan membawa pulang handycam itu, supaya nanti nggak ketinggalan maka ditaruh di meja.


"Sori, love.. cuma ada ini di sini." kata Gio sambil meletakkan orange juice kemasan itu di depanku.


"Ya nggak apa-apa. Ayo cepet duduk sini dan cerita !" kataku sambil menarik tangan Gio untuk segera duduk.


Gio duduk di sampingku. "Oke, aku mulai dari awal, ya.... "


"Ya," jawabku sambil mengangguk.


"Dua minggu setelah Kenzo bekerja di tempatmu, dia mengundangku untuk menyaksikan dia manggung. Saat aku duduk di pojok, dan melihat Kenzo menyanyi, secara nggak sengaja aku melihatmu sedang berdiri di cake counter. Awalnya aku masih nggak percaya dengan penglihatanku, aku kembali mengamatimu dengan diam-diam untuk memastikan bahwa aku tidak salah lihat."


"Terus..? "


"Saat Kenzo break setelah manggung sesi satu, dia menghampiriku. Aku bertanya pada Kenzo tentang pemilik Mini Cafe, saat Kenzo menyebut namamu, aku sudah 100% yakin bahwa yang aku lihat tadi adalah benar kekasihku yang telah lima tahun ini menghilang tanpa jejak," cerita Gio.


"Kekasih? Pada saat itu kan kita sudah sepakat putus", kataku.


"Memang, tapi sejak aku mendengar cerita dari Putri, aku kembali menganggapmu sebagai kekasihku dan menganggap hubungan kita tidak pernah berakhir", tegas Gio.


Ada rasa hangat menjalar di dada saat mendengar Gio mengatakan itu. Percayalah, ruang hatiku makin terbuka untukmu, Gio sayang...


"Meski sudah yakin bahwa itu kamu, tapi aku masih belum berani menemuimu. Aku takut kamu masih marah, aku juga takut kamu tidak mau menemuiku dan yang paling aku kuatirkan kamu akan menghilang lagi dari jangkauanku. Karenanya aku menahan diri tidak menemuimu," jelas Gio.


"Mulai saat itu aku sering datang ke Mini Cafe, bukan karena mau dengerin musik atau mau ngopi, tapi tujuanku ingin melihatmu meski hanya dari jauh dan secara sembunyi-sembunyi. Aku iseng bertanya pada Kenzo, apa kau sudah punya kekasih, jawaban Kenzo sangat melegakanku saat dia bilang kau adalah seorang high quality jomblo. Sungguh saat itu aku teramat sangat bahagia mengetahui kamu masih belum ada yang punya. Aku kembali membangun mimpiku untuk bisa kembali bersamu, love". Gio menggenggam tanganku dan menatapku.


Gio tersenyum dan berkata, "Dengan demikian cerita Gio sesi satu telah selesai."


Aku pun ikut tersenyum. "Oke cerita Gio sesi dua segera dimulai", kataku ikutan gaya Gio.


"Di rumah, Nia selalu bercerita tentang tante monmy, sosok ini sangat populer di keluargaku karena hampir tiap hari ada saja hal yang diceritakan oleh Nia tentang tante mommy nya. Sampai saat keluargaku memutuskan untuk merayakan ulang tahun Nia, Nia heboh mau mengundang sang tante mommy di ulang tahunnya. Keluargaku tentu saja mengijinkan, karena kami semua pengen tahu siapa dan seperti apa tante mommy itu."


"Tante mommy itu cantik, keren, baik hati dan tidak sombong," candaku.


"Bener, makanya aku cinta mati sama tante mommy", sahut Gio sambil tersenyum manis.


Aku abaikan omongan Gio. "Ayo lanjut lagi ceritanya... "kataku


"Puncak bahagiaku adalah saat ulang tahun Nia. Aku mendapat surprise yang luar biasa. Aku dipertemukan kembali denganmu, Vania. Dan yang bikin aku tambah seneng, sosok tante mommy nya Nia itu adalah kamu. Ditambah lagi malam itu aku bisa menjelaskan tentang kesalah pahaman di masa lalu. Aku sangat bahagia dan lega sekali malam itu."


Gio menarik nafas lega. Aku tau


sesi dua versinya selesai sudah. Diteguknya orange juice di meja.


"Iih... Pelit ah ! Minum sendiri!" gerutuku.


"Haha....yang cerita kan aku, otomatis yang haus juga aku dong... ", sahut Gio sambil ketawa.


"Aku juga pengen minum", kataku sambil mengambil satu kotak orange juice yang tersedia.


"Kenapa nggak minum sekotak berdua seperti dulu?", tanya Gio.


"Nanti kamu habisin semua, aku nggak kebagian", jawabku asal.


"Sembarangan!! " kata Gio sambil menjentik dahiku pelan.


"Ayo ditunggu sesi tiganya, sa..." kuhentikan omonganku yang belum selesai, saat aku sadar kata apa yang akan aku ucapkan


"Kok nggak diterusin? Sa... apa? Ayo dong lanjutin! Nanggung lo aku dengernya", ledek Gio


"Sa... Sangat aku tunggu ceritanya", itu yang mau aku omongkan tadi", aku berusaha ngeles.


"Hegh! Boong! Aku tau kamu tadi mau bilang apa, cuman kamunya nggak mau ngaku aja," kata Gio.

__ADS_1


"Ayo buruan cerita, keburu aku laper... ", aku sengaja mengalihkan topik pembicaraan ini.


"Oke aku lanjut. Sekarang sesi tiga, masalah ultah perusahaan. Aku menyuruh managerku, bu Julia untuk mencari beberapa tempat yang cocok untuk perayaan ultah GAB ke tiga. Sudah ada tiga pilihan tempat di tangan bu Julia, dari tiga pilihan hingga menjadi pilihan tunggal, yang menentukan juga Bu Julia. Aku hanya memberi persetujuan atas pilihan bu Julia dan menanda tangani proposal yang kamu ajukan. Aku nggak cerita kalau booking cafe untuk acara perusahaanku karena aku mau kasih surprise ke kamu. Masalah aku sebagai pemilik GAB, aku nggak cerita ke kamu karena kamu nggak pernah nanya tentang kerjaanku. Tamat." kata Gio.


"Sudah selesai? Nggak ada lagi yang mau ditambahkan?" tanyaku.


"Nggak, tapi aku membuka sesi tanya jawab. Jadi kamu boleh nanya apa pun yang kamu pengen tau."


"Kenapa setelah kita ttm an sampai sekarang kamu nggak pernah menemui aku di cafe", tanyaku


"Ya kan aku mau bikin surprise untuk acara ultah perusahaan," jawab Gio.


"Aku nanya lagi, ya? " tanyaki


"Boleh. Mau manya apa? "


"Aku punya dua pertanyaan, yang pertama kenapa kamu pilih nama Giovania? Yang kedua kenapa kamu bilang sama Nia kalau ibunya pergi jauh gara-gara marah sama kamu dan setelah ibunya nggak marah lagi, akan kamu jemput dan bawa pulang? Itu kan kebohongan?" Aku menanyakan sesuatu yang selama ini mengganjal di pikiranku.


"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu itu aku juga punya pertanyaan untuk kamu"


"Pertanyaan apa?", tanyaku


"Vania, aku serius dengan perasaanku. Aku sungguh mencintai kamu. Aku tidak pernah bisa melupakan kamu. Kamu selalu ada di hati dan pikiranku. Sudah lima tahun aku menyimpan rasa ini untukmu. Vania, kembali padaku. Aku memintamu bukan hanya sebagai kekasihku, aku ingin kamu menjadi istriku". Gio menatapku dalam, pancaran cinta terlihat jelas dari sorot mata coklatnya.


"Gio... aku... "


"Hm... apa, sayang? Mau ngomong apa? Aku dengerin, kok", kata Gio dengan lembut sambil mengelus rambutku.


"Sejak kita ttm an aku merasakan ada semangat baru dalam hidupku. Pelan-pelan kamu mulai mengisi kekosongan hatiku. Kadang memang aku cuek dan ketus, tapi itu semua kulakukan untuk menutupi rasa takut terluka-ku." kataku sendu.


"Sayang, aku sudah banyak belajar dari masa lalu yang menyakitkan itu. Percayalah, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Cukup satu kali saja aku merasakan luka. Aku tidak main-main dengan janjiku sayang, karena aku tidak mau kehilangan kamu untuk kedua kalinya. I love you Vania," ucap Gio dengan mesra.


Mata kami bertatapan cukup lama. Ketenangan dan kenyamanan dari tatapan mata teduh itu begitu terasa, hingga aku enggan untuk berpaling.


"Jawab aku, sayang.... Jangan cuma diam. Aku mau kejelasan, yang... ", minta Gio.


Kutarik nafas panjang, kukumpulkan keberanianku untuk bicara.


"Rasa itu ada di sini, hanya untukmu.... ", kataku sambil menunjuk hatiku.


"Rasa yang gimana ?", kejar Gio.


"I love you... ", bisikku pelan, kutundukan kepalaku karena aku maluuuu....


"Apa sayang? Ulangi dong! Terlalu pelan aku nggak denger", kata Gio sambil mengangkat daguku agar menatap ke arahnya.


Aku melihat Gio tersenyum menggodaku. "Kalau nggak mau ngulang sekarang nggak apa, tapi kalau memang tadi yang aku denger itu bener kamu bilang 'I love you', peluk aku sekarang", minta Gio.


Aku segera menuruti kemauannya. Aku peluk Gio. Gio pun balas memelukku, dikecupnya keningku.


"I love you so much, my love...", kata Gio, dielusnya bahuku. Aku merasa nyaman dalam pelukan Gio.


"Kenapa nggak mau ngulangi omongan kamu? " tanya Gio


"Malu", sahutku


"Kalo pelukan gini nggak malu?" Gio kembali menggodaku.


Segera kulepaskan pelulanku, kucubit lengannya.


"Habisnya kamu sih gitu... ", sahutku merajuk.


"Maafin aku, sayang.....aku seneng banget kamu mau terima aku lagi." Gio kenbali memeluk dan mencium kening serta pipiku.


"I love you....", bisik Gio di telingaku, dieratkannya pelukannya.


"I love you, too" sahutku.


Aku melihat senyum di mata dan di bibir Gio saat mendengar ucapanku.


"Love, mulai saat ini aku nggak mau denger kamu panggil nama aku. Aku mau kamu panggil aku sayang seperti dulu. Atau kamu punya panggilan sayang yang lain untuk aku? "


"Apa ya? babe?" tanyaku


"Nggak mau sudah dipake Gita", sahut Gio


"Honey? " tanyaku lagi


"Geli di telingaku, love" kata Gio


"Sudah biar gampang kamu panggil aku sayang aja, ya.... ," Gio memutuskan.


"Terserah kamulah", sahutku.


"Apa aku panggil kamu pacar aja ya seperti pas awal kita jadian dulu" usulku.


"Nggak ah!! Kita kan nggak lagi pacaran", tolak Gio


"Terus kita lagi apa? Ttm an?" tanyaku bingung.


"Love, dengerin aku ya.... Kita ini nggak lagi ttm, juga nggak lagi pacaran tapi sudah tunangan", jawab Gio.


"Hah!? Kapan? " tanyaku bingung.


"Lima tahun lalu dan aku ulangi sekarang", jawab Gio sambil mengeluarkan sepasang cincin pertunangan kami waktu itu.


"Aku akan melamarmu lagi, Van.


Vania Putri Rajasa, aku melamarmu untuk menjadi pendamping hidupku, yang akan menemaniku dalam suka dan duka, saat sehat maupun sakit, menua bersama hingga maut memisahkan kita. Apa kamu mau, sayang? " tanya Gio.


Dasar aku nya cengeng, denger apa yang Gio katakan barusan aku sangat tersentuh, mataku langsung terasa panas dan airmataku langsung menetes. Aku merasa Gio serius dan yakin dengan apa yang diucapkannya.


Aku menjawab sambil terisak, "Ya, aku mau..., "


"Papi Ricky dan mami, Gio kembali melamar Vania. Tolong restuilah kami. Gio sangat mencintai Vania, Gio tidak akan melukai Vania lagi. Gio akan menyematkan cicin pertunangan ini di jari manis Vania" kata Gio.


Jujur aku bingung dengan sikap Gio. Kan papi sama mami nggak ada di sini, tapi kok tadi Gio minta ijin sama mami papi, ya? Apa mungkin Gio meminta ijin pada mereka secara simbolik ya?


"Pa, ma hari ini Gio sudah melamar Vania, Gio bertunangan lagi dengan Vania. Tolong restuilah kami. Setelah ini Gio akan menikahi Vania sesegera mungkin" kata Gio dengan mantap.


Aku tidak begitu menghiraukan omongan Gio yang terakhir, itu lo masalah cepet nikah...siapa juga yang mau nikah cepet-cepet.... kataku dalam hati. Tapi aku tetap memakaikan cincin di jari manis Gio.


Tanganku dan tangan Gio yang sudah ada cincinnya, diangkat oleh Gio, di hadapkan di handy cam dan berkata, "Kita sudah tunangan. Papi mami, papa mama, Gio mau cium Vania dan "cup", Gio mengecup bibirku. Meski cuma sekilas tapi berasa sampai di dalam dada...


Saat ini aku baru sadar, kalau dari tadi Gio merekam pembicaraan kami dengan handy cam.

__ADS_1


"Jadi dari tadi kamu rekam?" tanyaku.


"Iya, dan nggak cuma rekam, tapi langsung terhubung ke tempat papi Ricky dan juga ke keluarga aku" hawab Gio dengan santainya.


"Ya ampun Gio...!!! Kalao memang kamu pengen orang sedunia tau, terus ngapain kamu ngajak aku ngomong berdua di sini ?" tanyaku dengan kesal plus malu juga.


"Aku cuma mau kedua orangtua kita tau dan merestui langkah yang kita ambil. Kan ini kabar gembira, jadi nggak ada salahnya kan dibagikan ke orang tua kita.... ". Jawaban Gio memang ada benarnya sih. Jadinya ya aku tidak protes lagi.


Ponsel Gio berbunyi, ada panggilan video call, Gio menerimanya, ditariknya tanganku, Gio mengisyaratkan supaya aku duduknya lebih mendekat. Ternyata yang video call keluarga Gio.


Terlihat Gita dan Sean, "Halo.... Kak Gio dan kakak ipar, congrat ya....senoga dilancarkan semuanya dan cepet nikah" kata Gita


"Selamat kak Gio, kak Vania..", ucap Sean.


"Tq Gita, Tq Sean", ucap kami.


Sekarang di ponsel Gio terlihat mama dan papa yang lagi duduk di sofa.


"Selamat ya buat kalian berdua... Mama seneng banget nak , kamu bisa jadiin Vania mantu mama. I love you both... " kata mama


"Makasih, ma"


"Gio, Vania selamat, ya.... Jadikan masa lalu pengalaman yang memacu kalian untuk bisa menjalani masa sekarang dan menatap masa depan dengan lebih baik." pesan papa.


"Makasih, pa"


Tiba-tiba terlihat gambar Nia yang langsung mengajukan pertanyaan. "Daddy, Tante momny....kata aunty Gita Nia sudah boleh panggil mommy aja sama tante mommy, ya? "


"Belum boleh ! Nia jangan dengerin aunty Gita.", jawabku.


"Kenapa tante mommy? Kata aunty Gita tante mommy akan jadi momny Nia, kok Nia nggak boleh manggil momny ??"


"Nia sayang... dengerin tante, nanti kalau tante sudah nikah sama daddy, Nia boleh panggil mommy, tapi sekarang Nia cuma boleh panggil tante mommy aja", jelasku.


"Tapi Nia maunya manggil mommy dari sekarang", Nia merajuk, matanya mulai berkaca-kaca.


"Sudahlah, yang....bolehin aja Nia manggil kamu momny. Kasihan Nia", bujuk Gio padaku.


"Masalahnya kamu masih hutang dua jawaban", kataku.


"Ya ampun sayang.... Jadi masalah itu, oke selesai video call, aku jawab pertanyaan kamu tadi." janji Gio.


"Vania sayang..., bolehin ya Nia panggil kamu mommy, kan kalian berdua serius menjalin hubungan ini. Jadi mama rada nggak masalah, nak", mama ikutan membujukku.


Aku melihat Nia nampak duduk di ujung sofa sambil tersedu, aku jadi nggak tega juga ngeliatnya.


"Nia...." panggilku. Nia diam aja.


"Nia sayang, marah sama tante?" tanyaku. Nia masih diam


"Ya udah kalo nggak mau ngomong sama tante, berarti kita nggak temenan lagi. Tante mau ngajak temenan anak lain aja yang mau ngomong sama tante", aku membujuk Nia dengan ancaman.


"Nggak! Nggak! Nia nggak marah, kok. Nia mau ngomong sama tante mommy, tapi tante mommy nggak boleh temenan sama anak lain", jawab Nia dengan polos.


Aku tersenyum menang. "Tante mau nanya, kenapa Nia pengen manggil tante dengan sebutan mommy? " tanyaku


"Nia sayang tante mommy, Nia pengen tante mommy jadi mommy nya Nia. Nia nggak mau mommy yang lain.," jawab Nia.


"Nia tanya daddy aja, biar daddy yang putusin boleh atau nggak nya", aku melempar jawaban pada Gio.


"Daddy..., Nia sayang tante mommy, Nia pengen tante momny jadi mommy nya Nia. Sekarang Nia maunya manggil mommy aja, nggak pake tante, boleh dad? " tanya Nia pada Gio dengan wajah imutnya yang tampak sedih.


"Enaknya dibolehin nggak, ya?"


"Bolehin, dad.. Bolehin ya, dad...!" rengek Nia.


"Ya deh, daddy bolehin", jawab Gio.


"Yes! Yes! Yes! Mommy.... Mommy.... I love you mommy.... I love you daddy.... Yei.....akhirnya Nia punya daddy sama mommy beneran. Daddy Gio sama mommy Vania.....", Nia bersorak senang sambil loncat-loncat.


Aku dan Gio tertawa ngeliat reaksi Nia.


"Sudah dulu, ya.... Bye semua..."


"Oke... Bye..... ", jawab mereka kompak. "Bye daddy... Bye mommy.... " balas Nia.


Gio memutuskan sambungan video call itu. Gio melihat ke arahku yang duduk menunggu penjelasan darinya.


"Nungguin jawaban aku, ya? " tanya Gio sambil senyum iseng.


"Buruan jawabnya !" kataku.


"Panggil sayang dulu ! Kalo nggak mau ya aku nggak jadi jawab", Gio tidak memberi pilihan


"Buruan jawab dong, sayang..." kataku dengan lembut.


"Kalo denger yang kayak gini kan bikin aku semangat jawabnya" sahut Gio. "Apalagi kalo ditambah kiss", lanjut Gio.


"Nggak usah ngelunjak, ya! Ayo buruan jawabnya, yang! "


"Oke. Pertama, aku sudah mengadopsi Nia. Daat itu aku single, aku bertekad aku hanya akan menikah jika kamu yang menjadi istriku, karenanya aku yakin memilih nama GIOVANIA untuk anak angkatku."


"Kedua, aku memang sengaja ngomong seperti itu sama Nia, karena yang aku anggap mommy nya Nia adalah kamu. Aku menggambarkan kamu lagi marah sama aku sehingga kamu menghilang dan aku nggak bisa nemuin kamu. Tapi aku sangat yakin suatu hari aku pasti bisa menemukan kamu, dan kita akan baikan dan akan menjalin hubungan lagi seperti dulu. Aku akan menikahimu dan membawamu pulang ke rumahku," jelas Gio padaku.


"Tapi Nia berhak tau siapa ibunya yang sebenarnya. ", kataku.


"Ya, memang bener ! tapi nanti setelah dia dewasa", jawab Gio.


***********************************


🌽🌿🌻🌿🌽🌿🌻🌿🌽🌿🌻🌿


Halo semua....


Sudah tidur belum? Hari ini author kembali up, memang cuma satu episode, tapi episode kali ini sangat panjang, hampir 3000 kata. Senoga kalian suka dan menikmati jalan ceritanya RASA ITU ADA.


Lagi ya author ingatkan readers untuk selalu mendukung author dengan vote, like dan komen. Terimakasih banyak buat readers yang sudah vote karya author, jangan lupa tambahin terus ya votenya supaya rankingnya bisa naik. Buat readers yang belum dukung, author tunggu dukungannya baik vote, like maupun komen. Jangan lupa votecyang banyak.


Oke selamat beristirahat


Salam...... πŸŽ€πŸ™πŸ˜˜πŸ˜ŠπŸ˜œπŸ˜€πŸ˜πŸ™πŸŽ€


🌽🌿🌻🌿🌽🌿🌻🌿🌽🌿🌻🌿


************************************

__ADS_1


__ADS_2