
Tiga bulan pertama kehamilan adalah saat yang lumayan berat, dimana tiap bangun pagi aku selalu mual, muntah dan pusing. Untung aku punya suami yang sangat perhatian. Setiap aku bangun pagi, Gio selalu ikut bangun dan Gio dengan telaten mengoles minyak kayu putih untuk menghalau rasa mualku, memijat tengkukku saat aku muntah, juga menyiapkan teh manis hangat untuk kuminum setelah ritual muntah-muntah.
Selama kehamilan, aku jadi manja dan pengen nempel terus sama Gio. Aku juga jadi cengeng, gampang sekali nangis, tapi anehnya apa pun masalahnya, aku akan tenang dan berhenti menangis saat Gio memelukku. Sebenernya ini bawaan baby atau memang akunya yang caper, ya??
Aku sering kali ngidam yang aneh-aneh dan mintanya di saat yang nggak lazim. Di sini, aku kembali merasakan cinta Gio yang besar untukku. Gio tidak pernah menolak apa pun keinginanku. Gio akan melakukan semua yang aku minta, meski kadang mencoba memberi aku pengertian untuk menunda keinginanku karena permintaanku di saat yang kurang tepat.
Suatu hari aku pernah bangunin Gio jam 00.30, karena aku pengen susu cereal buatan papi.
"Love, ini sudah larut malam, lo! Sebaiknya ditunda besok aja, ya ! Kan jam segini papi pasti sudah tidur, nggak enak kan kalau kita gangguin?!" Gio berusaha membujukku dengan lembut.
Seketika itu aku terdiam dan mataku berkaca-kaca. Melihatku dalam keadaan yang seperti itu, mungkin Gio merasa nggak tega, Gio langsung memelukku dan menuruti keinginanku.
"Sori love. Jangan nangis, ya ! Aku telpon papi sekarang", kata Gio sambil sambil mengambil ponselnya dan menelpon papi, minta ijin untuk ke rumah papi.
Sampai di rumah papi, aku Gio dan mami duduk di ruang makan menunggu papi yang lagi bikin cereal. Tidak perlu waktu lama, papi sudah keluar dari dapur dan menyuguhkan cereal itu di depanku.
Aku tidak menyentuh cereal itu sama sekali, tapi aku malah menyodorkan cereal itu ke hadapan Gio.
"Makan, yang ! Aku pengen ngeliat kamu makan cereal buatan papi", kataku tanpa dosa.
"Ya ampun, love... Kalau kamu pengen ngeliat aku makan cereal, nggak usah ngerepotin papi, love. Aku bisa bikin cereal sendiri!" tegur Gio yang merasa nggak enak pada mami papi.
"Nggak apa, Gio. Nggak usah sungkan ! Ini semua kan untuk anak cucu papi sendiri", sahut papi yang paham alasan Gio menegurku.
"Maaf ya, pi. Papi bela-belain bikin cereal buat Vania tapi malah Gio yang makan", kata Gio yang ngerasa nggak enak.
"Sudah, nak....nggak usah dipikirin ! Orang hamil memang gitu", jawab papi.
Gio mulai makan cereal buatan papi. Beberapa kali Gio menawarkan cereal itu padaku, tapi kujawab dengan gelengan kepala. Aku perhatikan terus saat Gio makan cereal itu, sampai sisa satu sendok terakhir aku minta Gio menyuapkan cereal itu ke mulutku.
"Hmmm yummy !!" kataku sambil mengacungkan jempol.
"Kalau kamu pengen, kenapa tadi aku tawarin nggak mau?", tanya Gio.
"Aku cuma pengen sesendok terakhir aja", sahutku dengan enteng.
Setelah ngobrol sebentar, akhirnya kami pamit pulang. "Pi, mi, kami pamit dulu, maaf sudah mengganggu waktu istirahatnya," kata Gio.
"Nggak apa-apa. Sudah santai aja, nggak usah dipikirin !" jawab papi sambil menepuk-nepuk bahu Gio.
Aku juga pernah jam 02.00 dini hari terbangun dan pengen makan rujak buatan Gio. Kalau masalah buahnya, kebetulan di kulkas ada nanas dan mangga. Tinggal bumbunya, Gio harus bikin.
Dengan terpaksa Gio membangunkan bibik. Jadilah bibik mementori Gio membuat bumbunya rujak.
Setelah jadi, aku cuma mencocol sepotong mangga pada bumbu buatan Gio. Sudah, cuma satu kali cocol aja, aku sudah nggak pengen lagi.
"Ya ampun love...., dini hari bangunin bibik, mana bikinnya susah sampe aku keringetan kayak gini, eh kamunya cuma makan sepotong doang...", gerutu Gio.
Aku segera berbalik dan menatap Gio, sudah siap nangis karena merasa dimarahi. Untung Gio tanggap, dia segera memelukku dan berkata, "Nggak apa kok meski cuma makan sepotong.. Ayo sekarang kita bobok lagi", kata Gio dengan sabar. Gio menggandengku untuk balik ke kamar lagi.
Sejak kehamilanku masuk bulan yang ke tujuh, mami dan mertuaku mulai rajin belanja bareng untuk keperluan bayiku. Akhirnya semua keperluan dan perlengkapan untuk bayi kami, merekalah yang menyiapkan.
Waktu berjalan sangat cepat, saat ini kehamilanku sudah masuk bulan ke sembilan, cuma tinggal tunggu hari saja, aku akan melahirkan. Aku memilih melahirkan secara normal.
Sejak semalam aku mulai merasakan kontraksi, tapi cuma sebentar terus hilang, selang satu jaman kontraksi lagi dan hilang lagi. Berkali-kali terjadi seperti itu.
Pagi ini saat bangun tidur, aku merasakan kontraksinya lebih sakit dan lebih lama dari kemaren, sedangkan jarak waktu kontraksinya semakin pendek. Aku segera membangunkan Gio.
"Yang, bangun, yang !! Perutku sakit", panggilku.
"Ada apa, love?", tanya Gio begitu terbangun.
"Perutku sakit, yang... kontraksinya lebih keras dari semalam", sahutku.
"Ya sudah, kamu siap-siap dulu ! Setelah itu kita ke rumah sakit", kata Gio, dia segera turun dari tempat tidur dan membantuku menuju ke kamar mandi.
Setelah aku beres, Gio segera bersiap-siap. Saat kami keluar dari kamar, mama Gio juga sudah siap mau ikut nemeni aku.
O ya, seminggu sebelum tanggal yang diperkirakan aku melahirkan, mama Gio sudah di Surabaya, tujuannya untuk menemani aku saat ditinggal Gio kerja.
Sebenarnya menurut perkiraan dokter, baru tiga hari lagi aku melahirkan.
Waktu di perjalanan ke rumah sakit, kudengar mama Gio menelpon mami memberi kabar tentang aku.
"Mami sama papi kamu akan langsung ke rumah sakit, Van", jelas mama.
"Makasih, ma sudah ngabari keluarga Vania", kataku.
"Sama-sama, nak" sahut mama.
Sesampainya di rumah sakit, aku langsung diperiksa, masih bukaan empat. Aku disuruh jalan-jalan dulu. Dengan ditemani Gio aku berjalan-jalan di taman rumah sakit. Sesekali aku meringis, menahan sakit di perutku, yang membuat Gio kawatir.
"Sakit, love? Istirahat aja dulu, kita duduk", ajak Gio.
__ADS_1
"Kan tadi kata dokter suruh banyak jalan, biar cepat lahiran", sahutku.
"Iya, tapi kalo kamunya kesakitan gini lebih baik istirahat dulu. Aku nggak tega ngeliatnya, love", kata Gio.
"Aku nggak akan apa-apa selama ada kamu yang jagain aku." Aku mengeratkan gandenganku pada lengan Gio.
Gio tersenyum menatapku dielusnya pipiku dengan sayang. "I really love you."
"Me too," sahutku sambil tersenyum.
Setelah sekian lama jalan-jalan kontraksi yang aku rasakan semakin sering dan sakitnya semakin parah, Gio memapahku kembali ke ruang bersalin.
Mama, mami dan papi menunggu di kursi panjang di ruang tunggu. Gio menemaniku.
Perawat segera memeriksaku lagi. Sudah buka tujuh. Menurut perawat itu untuk kelahiran pertama proses bukaan yang aku alami ini termasuk cepat. Aku disuruh tiduran.
Gio berada di dalam ruangan bersalin bersamaku. Suhu di ruangan yang ber ac ini terasa panas, peluhku bercucuran akibat sakit karena kontraksi yang kurasakan. Aku memang tidak berteriak, aku hanya mengaduh lirih, mendesis serta menggigit bibirku untuk menahan sakit.
Berkali-kali Gio menghapus keringatku, mengelus rambutku juga mencium kening mau pun puncak kepalaku. Gio menatapku dengan kasihan, dia nggak tega ngeliat aku kesakitan. Gio mengeratkan genggaman tangannya, memberiku kekuatan dan seakan memberitahuku keberadaannya.
Dokter masuk ke ruang bersalin, memeriksaku. "Santai aja pak, bu, jangan tegang. Kan hari ini hari bahagia menjadi orangtua baru. Saya periksa sebentar, ya," kata dokter yang langsung memeriksaku. "Ini sudah saatnya melahirkan. Ayo ibu bersiap-siap. Bapak kasih semangat ya buat istrinya...," kata dokter lagi.
Dua orang perawat membantu sang dokter. "Ibu tarik nafas yang panjang dulu, lalu mulai mengejan ya, bu", perawat itu mengajariku.
"Ambil nsfas panjang, bu ! Satu, dua, tiga...mulai mengejan, bu !", perawat itu memberi aba-aba.
Aku pun menuruti perintah perawat itu. Aduh aku sudah mengejan tapi bayiku masih belum lahir. Setelah istirahat sebentar, dokter meminta ku untuk mengejan lagi.
"Bagus, bu sudah kelihatan kepalanya, ibu mengejan satu kali lagi, bayinya pasti lahir", kata dokter.
Aku terengah-engah, badanku mulai lemas, tenagaku terkuras setelah mengejan yang kedua.
"Yang kuat ya, love...semangat !! Ayo sebentar lagi anak kita lahir. Our baby wants to meet us, love." Gio memberiku semangat saat dia melihatku mulai melemah.
Gio mengelus-elus kepalaku, mencium tanganku yang digenggamnya.
"Siap, ya bu....tarik nafas yang panjang, satu, dua, tiga, mengejan yang kuat, bu !", dokter mengarahkanku.
Aku kumpulkan sisa tenagaku, aku tatap Gio yang menatapku dalam, aku mengejan sekuat yang aku bisa sambil berteriak....
Dan terdengarlah suara, " Oek... oek... oeeekk....."
"Selamat bapak, ibu, jagoannya sudah lahir," kata dokter yang sudah membantu persalinanku.
"Terimakasih, dokter," sahut Gio.
"Thank you, love. Makasih sudah melahirkan anak kita. Kamu hebat, love." Gio pun menitikkan airmata, dikecupnya kening, pipi serta bibirku. Gio menghapus airmataku dengan lembut.
"Keadaan kamu tadi bikin aku kuatir dan takut, love, tapi perjuanganmu untuk melahirkan buah hati kita bikin aku makin cinta sama kamu", bisik Gio di telingaku.
Setelah itu aku sudah nggak sadar, pengaruh obat bius, karena dokter akan melakukan tindakan menjahit.
Saat tersadar, aku sudah di ruangan rawat inap. Sudah berganti baju.
"Mana anak kita?", tanyaku pada Gio begitu aku sadar.
"Di ruang baby, sebentar lagi akan dibawa ke sini," jawab Gio.
"Kamu istirahat dulu, ya ! Syukurlah kamu sudah sadar, love. Minum teh manis hangat, mau?" Kulihat Gio duduk di samping tempat tidurku, tangannya masih menggenggam tanganku erat. Senyum manis yang tulus menghias bibirnya, tatapan matanya yang penuh cinta membuatku melayang. Syukur terimakasih, Tuhan, untuk suami yang Kau berikan untukku ini.
Saat melihat aku mengangguk, Gio segera membantuku untuk meminum teh hangat yang telah disediakan.
"Selamat ya, sayang....cucu mama ganteng banget, persis bayinya Gio", kata mama Gio sambil mencium keningku.
"Makasih, ma."
"Sayang, selamat ya, sudah jadi mommy", mami memeluk dan menciumku
"Makasih, mi"
"Makasih sayang, sudah kasih papi cucu yang ganteng. Papi seneng banget, nak. Selat ya untuk kalian berdua," papi memeluk dan menciumku juga.
"Makasih ma, makasih pi, mi, sudah temani Vania dari pagi. Mending kalian pulang dulu, istirahat supaya nggak kecapekan", kataku.
"Bener kata Vania, mama, mami sama papi pulang aja dulu, biar Gio yang temani Vania di sini," kata Gio.
"Ok, mama bentar lagi pulang, nanti sore mama bakal balik bareng Nia," kata mama.
"Iya, ma. Mama sudah ngabarin papa?" tanya Gio.
"Sudah. Nanti sore papa sama Gita terbang ke Surabaya", jawab mama.
Akhirnya mama, mami dan papi pulang untuk beristirahat. Tinggal kita berdua di ruangan ini.
__ADS_1
"Apa yang kamu rasakan, love? Masih sakit?" tanya Gio penuh perhatian
"Masih sedikit sakit. Badanku masih terasa lemas juga. Aku laper, yang....", kataku.
"Ada banyak roti, dibawain mami tadi", kata Gio. " Mau yang mana?", Gio menyodorkan sekotak roti padaku.
Kupilih satu. Gio membuka bungkus roti dan menyuapiku. "Aku bisa makan roti sendiri, yang", kataku.
"Aku pengen menyuapi istriku," sahut Gio dan aku pun tak membantah lagi, kuturuti apa kata suami tersayangku.
Setelah dua malam di rumah sakit, aku diijinkan pulang. Lega rasanya sudah balik ke rumah. Di kamar tidur kami sekarang ada box bayi, tempat tidur jagoan kami, Giovano Putra Bramasta, panggilannya Vano. Nama itu Gio yang kasih. Lagi-lagi gabungan nama kami yang dipakai Gio untuk nama putra kami.
Gio sengaja memberi nama anak-anak dengan menggabungkan nama kami, katanya supaya anak-anak kami selalu ingat dengan kedua oramgtuanya, dan juga supaya mereka selalu berpikir sebelum bertindak bahwa baik atau buruk apa pun yang akan mereka perbuat, nama orang tuanya pasti akan terseret.
Nia sangat senang punya adik. Setiap hari Nia selalu menemani Vano, mengajak ngobrol, bercerita dan bercanda meskipun adeknya belum ngerti.
Sekarang ini rumah jadi ramai, selain keluarga Gio, mami dan papi pun hampir tiap hari datang untuk menjenguk cucunya. Belum lagi kenalanku dan kenalan Gio yang datang menjenguk baby kami, setiap hari ada saja tamu yang datang.
Kak Rey & kak Diana, Siska & kak Jasson, Fani & kak Bram datang bersamaan. Bikin suasana makin rame. Fani, Siska dan kak Diana menyalami ku dan cipika cipiki. Kak Rey memeluk dan menciumku. Kak Bram dan kak Jasson menyalamiku. Mereka semua juga memberi selamat pada Gio.
Kak Diana, Fani dan Siska berebut mau gendong Vano. Aku tersenyum melihatnya.
"Selamat ya, sekarang sudah jadi mommy nya jagoan kecil. Eh, anak lo ganteng lo, dek", puji kak Rey.
"Iya, tampan luar biasa, besok-besok pasti banyak cewek yang naksir Vano," kata Siska.
"Vano foto copy nya Gio. Cuma mata dan bulu mata lentiknya aja yang sama kayak Vania", komen kak Diana.
"Tapi nih anak gantengnya laki banget. Nggak kecewek-cewekan. Coba anak aku cewek, pasti sudah aku jodohin sama Vano," kata Fani
"Ya jelas dong anak gua ganteng... Kalian nggak liat mommy sama daddy nya??", sahut Gio sambil tertawa.
"Iya, daddy nya ganteng, mommy nya cantik, ya nggak usah heran kalo Vano ganteng maksimal", tambahku ikutan ketawa
"Eh lo berdua emang jodoh ya, sama-sama narsis," gerutu kak Rey.
"Kalian tadi kan bilang Vano ganteng, Vano mirip gua, berarti kalian ngakuin gua ganteng, dong...", sahut Gio sambil ngakak.
"Nyesel aku tadi udah ngomong gitu," sahut kak Diana.
"Hahaha... Suami aku memang ganteng kok, kak, kalo kak Rey mah nggak ada apa-apanya", sahutku sambil ketawa diikuti sama yang lain juga.
Mendengar komentarku, Gio langsung tertawa dan mengajak high five , "You are really my lovely wife."
Sedangkan kak Rey terlihat kesel. Hehe... "Dasar adek durhaka!!", omel kak Rey sambil mencubit hidungku.
"Sakit, kak !" teriakku yang dibalas kak Rey dengan suara ketawanya.
"Sstt...jangan ribut.! Vano bobok!" kata Fani yang lagi gendong Vano.
Di kelilingi oleh orang-orang baik yang kita sayang dan yang menyayangi kita, hanya satu rasa yang ada yaitu bahagia.
Hari-hari berlalu, hubunganku dan Gio sebagai suami istri sangat baik, rasa sayang dan cinta yang kami miliki semakin kuat, sehingga membuat hubungan kami semakin hari semakin hangat dan harmonis.
Kedua buah hati kami tumbuh besar dengan curahan kasih sayang kami. Keduanya sangat akur dan saling menyayangi, meski mereka bukan saudara kandung.
Saat ini tiga tahun sudah kami menjalani kehidupan sebagai suami istri. Kehidupan rumah tangga kami tidaklah selalu mulus. Terkadang ada kesalah pahaman, ada masalah yang datang, tapi kami mampu mengatasinya, kami mau menekan ego kami, dengan kepala dingin kami duduk berdua, berbicara dari hati ke hati dengan cinta, sehingga masalah yang ada dapat kami temukan solusinya dan segera terselesaikan dengan baik.
Meskipun sudah lama menikah, jangan sampai cinta yang kita miliki untuk pasangan kita itu sirna. Pupuklah selalu cinta itu! Selama masih ada cinta, aral melintang yang menghadang tidak akan menjadi batu sandungan.
Aku dan Gio selalu menanamkan di benak kami, juga di benak putra putri kami, bahwa keluarga adalah segalanya. Moto keluarga kami my family means everything to me. Jadi keluarga itu harus di nomer satukan. Perhatian, kasih sayang, simpati, empati, kepedulian terhadap sesama anggota keluarga harus selalu dijaga agar hubungan dalam keluarga itu semakin erat dan kuat.
Semoga aku dan Gio dapat selalu menjalankan peran kami sebagai suami istri dan juga sebagai orang tua dengan baik. Kami dapat membimbing kedua buah hati kami menjadi anak-anak yang takut akan Tuhan dan kami juga mampu mengarahkan mereka ke jalan yang benar.
Aku berharap keluargaku bisa menjadi keluarga yang harmonis dan always happy together, because my family means everything to me.
Terimakasih Tuhan untuk semua anugerah yang Kau berikan padaku. Terutama untuk keluarga kecilku ini. Amin.
**END**
********************************
🍹🍬🍹🍬🍹🍬🍹🍬🍹🍬🍹
Hi readers...
Ini adalah episode terakhir dari novel RASA ITU ADA. Terimakasih sudah mengikuti cerita ini sampai tamat. Semoga cerita ini berkenan di hati kalian.
Setelah ini, author punya cerita baru. Nanti kalau sudah terbit, author akan info di sini dan juga di group chat.
Sekian dulu, see you in next novel...
Bye all, thank you...😊😍😘🙋🙏
__ADS_1
🍹🍬🍹🍬🍹🍬🍹🍬🍹🍬🍹
*********************************