RASA ITU ADA

RASA ITU ADA
EPISODE 53 TERUNGKAP


__ADS_3

Sudah tiga hari sejak kami bicara, aku tidak bertemu Gio. Dia tidak pulang ke kos dan selama tiga hari ini juga Gio tidak menghubungi ku sama sekali. Yang aku tau, Gio pergi untuk mencari informasi. Aku menunggu kabar dari Gio dengan harapan apa yang kukuatirkan itu tidak benar.


Sekarang pukul 20.05. Mungkin karena beberapa hari ini aku kurang tidur, capek mikir dan banyak nangis, jadinya saat masih jam delapan begini aku sudah mengantuk, akhirnya aku pun tertidur.


Aku tidur sudah cukup lama saat aku mendengar pintu kamarku diketuk. Kutoleh jam di dinding, 23.05.


Kubuka pintu kamarku, ada Gio berdiri di hadapanku dengan tampang kucel, rambut awut-awutan, pakaiannya agak lusuh, wajahnya tampak suram dan lelah, "Kamu sudah tidur? Sori aku ganggu,. Apa kita bisa bicara, Van? ", tanya Gio.


Aku langsung mengangguk dan mengikuti langkah Gio. Dia menuju ke balkon. Aku tau maksudnya supaya tidak ada penghuni lain yang tau. Padahal hari sudah malam seperti ini para penghuni kos sudah istirahat di kamarnya masing-masing. Gio menutup rapat pintu balkon.


Aku duduk diam, kutangkupkan kedua telapak tanganku yang dingin, jantung mulai berdebar kencang...., aku sangat kuatir kalau apa yang aku takutkan selama ini terjadi. Aku pasang tampang tenang meskipun saat ini hatiku bergejolak tak karuan.


Gio menatapku dengan mata sayu... "Aku sudah bertanya pada Dani apa yang dia tahu tentang kejadian malam itu, aku pun sudah melihat kamera cctv di hotel tempat kami menginap, aku juga sudah bertemu Putri dan dia sudah menceritakan semuanya".


Deg ! Sebentar lagi aku akan tahu kebenarannya, tapi mengapa detak jantungku makin tidak beraturan? Aku mulai berkeringat dingin karena tegang.


Gio menarik nafas panjang sebelum melanjutkan, "Putri bilang, ini semua terjadi karena dia sangat mencintai aku, dia ingin mendapatkan aku. Dia sengaja memasukkan obat di minumanku. Obat itu membuat tenggorokanku kering, menimbulkan efek kehausan, jadinya aku mau minum terus-terusan yang akibatnya aku mabuk".


Deg deg deg... Detak jantungku semakin kencang mendengar penuturan Gio, pikiranku makin kacau. Mataku mulai terasa panas, tapi aku nggak boleh nangis, pikirku.


Wajah Gio tampak pucat, tatapan mata coklat itu tidak lagi teduh tapi penuh dengan pancaran penyesalan dan rasa bersalah. Perlahan mata Gio tampak mulai berkaca-kaca.


"Lanjutkan ceritanya ! ", sahutku sok kuat, dan dengan susah payah menahan agar airmataku tidak menetes.


"Saat kesadaranku hilang, Putri mengambil kesempatan, hingga kami melakukan hal yang terlarang dan sekarang....", Gio tidak melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


"Sekarang apa? ", tanyaku dengan suara yang bergetar karena jujur aku belum siap untuk mendengar kabar buruk dari Gio.


Gio menundukkan kepalanya. Aku bisa melihat ada aliran air yang keluar dari matanya. Baru kali ini aku melihat Gio menangis. Aku masih berusaha tenang sebelum aku mendengar....


"Maafkan aku, Van.... karena kejadian malam itu, Putri hamil".


Duaarrr!!! Mendengar omongan Gio, aku merasa seperti ada puluhan petasan dilemparkan ke arahku. Hatiku hancur sehancur-hancurnya. Rasa sakit hati, marah, kesel, kecewa, tidak terima.... semua campur aduk jadi satu. Tanpa bisa kutahan, airmataku mengucur deras. Tak lama kemudian segera kuhapus airmataku dengan cepat. Aku harus bisa menahan ! Aku harus terlihat kuat ! Aku nggak mau orang kasihan padaku karena melihat aku terluka. Sekalipun orang itu Gio.


"Apa kamu yakin itu anakmu?", tanyaku dengan suara yang masih gemetar serta hati yang terasa sangat sakit .


"Aku nggak tau, Van... ", jawab Gio sambil menggeleng nggak jelas.


"Kamu ingat... saat temen kos tau kita sudah tunangan? Kita makan di cafe. Waktu aku ke toilet, aku ngeliat Putri juga ada di sana, dia sedang bermesraan dengan pria bule", akhirnya aku mengungkap hal yang selama ini tidak pernah aku ceritakan pada siapa pun.


"Sebenernya aku juga nggak yakin, kalau itu anakku, Van. Aku nggak punya rasa sama Putri. Aku juga nggak tertarik sama dia. Jadi aku nggak yakin kalo aku sudah ngelakuin itu!", Gio ngomong dengan tatapan kosong ke arah tembok.


"Putri bersumpah kalo dia mengandung anakku. Dia juga siap untuk tes dna. Dia tidak menuntut aku untuk menikahinya. Dan dia juga tidak akan menggugurkan janinnya meskipun aku tidak mau bertanggung jawab, sebab dia sadar ini semua terjadi karena kesalahan dia sendiri. Dia sudah mengaku kalo dia memang sengaja menjebak aku".


Gio mengusap wajahnya dengan kedua tangannya beberapa kali sebelum menghela nafas panjang dan membuangnya dengan kasar.


"Aku ini memang bodoh ! Tidak bisa menjaga diri! Tidak terkontrol ! Hanya demi minum beberapa gelas bir, demi kenikmatan sesaat, tragedi ini menimpa hubungan kita. Aku sungguh teramat sangat menyesal, Van", Gio menyalahkan dirinya sendiri.


Gio terlihat frustasi, dipukulinya kepalanya beberapa kali sebelum tangannya mengepal dan dipukulkan ke tembok dengan keras berulang-ulang.


"Sudah Gio! Sudah! ". Aku tidak tahan melihat keadaan Gio. Kugenggam kedua tangannya agar tidak melanjutkan perbuatan bodohnya. Hatiku perih melihat pria yang aku cinta dalam keadaan seperti ini.

__ADS_1


'Kamu nggak perlu menyakiti dirimu sendiri. Semua sudah terjadi! Meski kamu pukul tembok itu sampai tanganmu hancur sekali pun, tidak akan bisa mengubah keadaan! ", aku kembali menghapus airmata yang yang meluncur di pipiku.


"Aku tau, aku salah, Van. Aku sangat menyesal. Aku sangat sayang dan cinta sama kamu, Van. Aku nggak pengen hubungan kita berakhir. Aku nggak sanggup pisah darimu, Van". Terlihat airmata Gio menetes lagi.


Kulepas genggamanku, "Aku nggak tau harus jawab apa, Gio. Meskipun dari awal aku sudah menduga akan hal ini, tapi aku sungguh nggak siap menerima kenyataan kalo hal ini bener terjadi". Aku bicara tanpa menatap Gio.


"Aku sudah menceritakan semuanya, Van. Jujur dari dalam hatiku aku masih mengharap kamu mau memaafkan aku dan kita bisa tetap bersama. Tapi semua keputusan ada di tanganmu, Van. Apa pun keputusanmu aku akan terima". Gio menatapku sendu.


"Saat ini otakku kosong... aku nggak bisa berpikir jernih. Aku perlu waktu untuk membuat keputusan. Aku akan memberi jawaban dalam beberapa hari ini. Dan selama beberapa hari ini sebaiknya kita nggak ketemu dulu. Aku mau menenangkan diri. Kejadian ini membuat aku shock".


Selesai berkata seperti itu, langsung kutinggalkan Gio. Aku segera berlari ke kamar. Aku sudah tidak kuat lagi untuk menahan tangis.


Di dalam kamar aku tumpahkan airmataku, aku nangis sejadi-jadinya. Aku yang awalnya ingin tau kebenarannya, tapi saat semua terungkap dan jelas, aku sendiri yang tidak kuat menerimanya. Kurasakan sakit yang teramat sangat di dalam dada. Rasa sakit luar biasa yang tidak pernah kurasa......


Tuhan..... kenapa harus begini akhirnya??


*************


Di episode ini udah ada kejelasan, gimana menurut kalian? Rasa apa yang kalian rasa? Jengkel? bete? nggak suka? marah? sedih? atau kasihan? Komen dong.... Ikuti terus kelanjutan cerita RASA ITU ADA, ya.....


Jangan lupa like, vote & komen ya friend...


Thanks 😍🙏


Salam..... 🙋

__ADS_1


**************


__ADS_2