
Seusai liburan selama tiga hari di Batu, sejak itu juga Gio kembali mengisi kekosongan hatiku. Gio masih seperti dulu, malah Gio yang sekarang lebih baik, lebih perhatian dan leboh syayaang sama aku. Bukannya aku geer, tapi aku ngerasa Gio pengen menebus lima tahun yang terbuang itu..
Aku dan Gio mulai pergi berdua, jalan bareng untuk makan, nonton, maupun jalan-jalan di mall. Ada yang sedikit menggangguku, selama kami bersama ini Gio nggak pernah main di cafeku....
Meskipun kami tidak setiap hari bertemu, tapi setiap hari kami selalu berkomunikasi, baik lewat telpon, chat atau pun video call.
Biasanya Gio yang kontak aku duluan, aku cuma rajin nunggu Gio menghubungi aku soalnya aku terlalu gengsi untuk menghubungi Gio dulu, padahal sebenernya aku juga rindu...
Makin hari hubunganku dan Gio makin dekat dan baik. Sudah berkali-kali Gio main ke rumah, sambutan papi dan mami pun baik-baik saja. Mereka bisa menerima kehadiran Gio dan yang penting mereka tidak keberatan jika kami kembali menjalin kasih.
Kembali dekat dengan Gio, membuat aku seperti memasang puzzle masa laluku satu demi satu.
Aahh......stop melamun, Vania!! Ayo kerja !! Suara hatiku memperingatkan aku.
Pagi ini aku sudah duduk di meja kerjaku, planning aku hari ini harus mengecek semua hal yang diperlukan untuk acara anniversary GAB Advertising besok.
Ini pertama kalinya perusahaan itu memakai jasa Mini Cafe, jadi aku harus memastikan semuanya berjalan dengan baik dan sesuai rencana. Tidak boleh sampai ada kesalahan sedikit pun, karena itu hari ini aku harus turun tangan sendiri untuk memeriksa semua kesiapan dan kelengkapan untuk acara besok.
"Ting", ada suara notif wa, segera kulihat ponselku
From Gio 10.12
Pagi, sayangku....
To Gio 10.13
Pagi juga.
From Gio 10.14
Lagi apa, yang?
To Gio 10.15
Lagi ngecek keperluan untuk besok. Soalnya besok itu ada perusahaan yang booking cafe ini.
From Gio 10.16
O gitu.... Ya udah kamu lanjutin aja kerjanya. Nanti aku kontak lagi, ya....
To Gio 10.17
Ok. Bye...
From Gio 10.18
Bye sayang.... π
Aku tersenyum melihat emoticon yang dikirim Gio.
Mungkin karena hari ini aku sibuk, jadinya jam berjalan dengan cepat. Tau-tau sekarang sudah jam 20.55.
Aku sudah bersiap untuk pulang, saat Gio menelpon.
"Halo", sapaku
"Yang, pulang jam berapa?" tanya Gio.
"Ini sudah mau jalan", jawabku
"Ya sudah buruan pulang, biar nggak kemaleman. Ati-ati, ya...
Bye sayangku...." pesan Gio.
"Oke, bye.... ", sahutku.
Aku lagi berhenti di lampu merah saat aku melihat ada mobil yang sama, yang selama ini, hampir setiap malam selalu mengikuti aku. Apa maksud dan tujuan orang itu ya? Kalau kebetulan, nggak mungkin mengikutiku hampir tiap malam, kan?!
Yang aku takutkan kalau pengemudi mobil itu punya maksud jahat padaku. Aku jadi parno sendiri. Aku usahakan nggak lewat jalan yang sepi.
Aku baru melihat ke kaca spion lagi, saat mobilku berbelok ke komplek perumahan, tapi mobil penguntit itu sudah tidak ada.
Aku menarik nafas lega dan segera masuk ke dalam rumah. Aku harus cepat istirahat, sebab besok aku harus datang lebih awal, untuk mengecek ulang semua persiapan team mini cafe.
Paginya jam 08.20 aku sudah nyampai cafe, semua karyawanku sudah datang. Kemaren aku memang berpesan pada mereka agar hari ini datang lebih awal, agar persiapan kami lebih matang.
Berkali-kali aku mengingatkan semua yang bertugas hari ini bahwa acara ini harus sukses, tidak boleh ada kesalahan sekecil apa pun.
Jam 10.00, bu Julia dan beberapa orang karyawan GAB Advertising yang merupakan panitia acara ini sudah datang duluan, mereka mengecek dan menyiapkan segala sesuatunya.
Saat ini aku sudah kembali ke ruanganku. Nanti saat acara di mulai, aku akan ke depan lagi untuk memantau jalannya acara.
Kuambil ponselku, kubuka app wa, ada nama Vino di sana. Vino apa kabarnya, ya? Sudah lama kami nggak pernah chat lagi. Sepertinya terakhir itu waktu aku lagi ke Batu sama keluarga Gio.
__ADS_1
Apa aku menghubungi Vino aja, ya? Jangan! Vino kan suka sama aku, kalau aku chat dia dulu, kok kayaknya bangunin macan tidur, ya.... Aku juga nggak mau memberi harapan palsu pada Vino. Dia orang baik, semoga Vino mendapatkan jodoh yang baik juga. Amin.
Lagi asik merenung tentang Vino, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruanganku dan saat aku belum menyuruh masuk, pintu itu telah terbuka, seorang gadis kecil berlari masuk sambil verteriak memanggilku...
"Tante mommy..... ", panggil Nia sambil berlari memelukku.
"Hai sayang... ", kataku sambil mencium Nia.
Aku agak kaget ngeliat Nia, soalnya biasanya Nia main ke sini itu sepulang sekolah, sedangkan ini hari Sabtu, Nia kan libur....
Belum sempat aku bertanya pada Nia, terdengar pintu ruanganku kembali di ketuk. Dan kembali terulang, sebelum aku menyuruh masuk, pintu ruanganku sudah terbuka.
"Pagi kakak iparku yang cantik..., apa kabar? " sapa Gita sambil menghampiriku dan cipika cipiki denganku.
Di belakang Gita, ada mama. Aku segera menghampiri mama Gio, peluk cium dengan camer.... Hehe...
"Pagi, ma..... " sapaku
"Mama, Gita sama Nia mau main ke sini kok nggak ngabari Vania dulu? Maaf, ya... hari ini cafe tutup untuk umum, soalnya ada yang booking untuk acara". Aku minta maaf karena ngerasa nggak enak, nggak bisa menjamu mereka.
"Nggak apa, sayang... Kami ke sini memang untuk menghadiri undangan, kok." kata mama.
"O gitu, jadi keluarga mama termasuk tamu undangan dari perusahaan itu." kataku lega.
" Iya, sayang. Keluar yuk ! acaranya sudah mau dimulai", ajak mama.
"Iya, ayo kita keluar sekarang, kak", ajak Gita sambil menarik tanganku.
Kami berempat pun segera keluar dari ruanganku. Saat sampai di area cafe, aku melihat di sana ada papa dan Sean.
"Ayo kita ke sana ! kita gabung sama papa dan Sean aja", kata mama sambil melangkah ke arah papa. Aku menyalami papa plus peluk cium juga.
Semua sudah duduk di satu meja, tapi yang satu lagi mana, ya? Aku menoleh ke sana ke mari, mataku berputar ruangan mencari-cari...
"Kamu cari siapa? Cari Gio? Dia masih dalam perjalanan, bentar lagi nyampai", mama bertanya sekaligus memberi jawaban padaku. Sebenernya malu juga, aku ketauan lagi nyari-nyari Gio.
"Sudah kangen ya, sama kak Gio?" bisik Gita ditelingaku.
Langsung kucubit pinggang Gita.
"Mulai deh.... ", omelku. Gita hanya tersenyum.
"Ma, pa, Vania tinggal, ya... Vania mau ngecek ke belakang dulu", pamitku.
Aku mengangguk, mengiyakan omongan mama.
Setelah mengecek, dan semua nampak ok, aku keluar dari dapur, di dekat kasir, aku berpapasan dengan Ani
"Bu Vania, ada pg, bu ! Ibu belum pernah ketemu si pg, kan? Hari ini ibu harus liat pg itu, bu! Si pg hari ini cakepnya seratus kali lipat. Si pg pake jas, bu. Haduh... keren abis, bu! Pokoknya ibu hari ini harus ketemu si pg, biar nggak nyesel! " kata Ani sambil berlalu mbawa cup cake untuk diletakan di meja.
"Bu Vania keliatannya sudah akrab ya sama keluarganya Nia", kata mbak Dina, kasirku.
"Iya, mbak. Saya sudah lama kenal sama keluarga itu, cuma saya nggak tau kalau Nia bagian dari mereka", aku menjelaskan pada mbak Dina.
"Pantesan bu Vania nggak canggung sama sekali saat berada di tengah keluarga itu", komentar mbak Dina.
Kulihat para, tamu undangan sudah banyak yang datang, kursi-kursi mulai terisi penuh. Lampu disorotkan ke panggung. Kenzo dan Kayla ada di sana, selain menyanyi juga mereka juga diminta untuk menjadi pembawa acara.
Aku asik memperhatikan gesture Kenzo dan Kayla yang keliatan banget kalau mereka itu memang pasangan. Aku jadi sangat terkejut saat mendengar suara Kenzo....
"Sekarang saatnya bagi bapak Gio Alviano Bramasta, selaku direktur dan pemilik GIO ALVIANO BRAMASTA ADVERTISING untuk memberikan sambutan"
Aku kaget, aku nggak nyangka sama sekali kalau GAB itu adalah kepanjangan dari Gio Alviano Bramasta. Aku lebih kaget lagi saat tau Gio adalah pemilik perusahaan itu. Jadi ini artinya Gio juga yang menyewa cafeku.
Kenapa Gio nggak pernah cerita sama aku?? Lenapa Gio menyembunyikan kni semua dariku? Dan keluarga Gio....kenapa tadi tidak memberitahuku?? Mengapa kok nggak ngomong apa-apa sama aku, ya??
Aku masih berdiri terpaku di dekat meja kasir, saat Rina berdiri di sampingku. "Bu Vania terpesona ya sama ketampanan pg? " ledek Rina.
"Hah apa? Pg? Yang mana?" tanyaku.
"Yang mana lagi, bu? Ya itu yang lagi berdiri di panggung, yang bu Vania pandangi dari tadi tanpa kedip", ledek Rina lagi.
"Jadi yang selama ini kalian jadiin bahan gosip dan yang kalian sebut pg itu dia?" tanyaku kaget.
"Iya, bu..... Memang ganteng, kan?" sahut Rina polos.
Ya ampun Gio..... Jadi selama ini kamu jadi pujaan waiter di sini. ? Kamu kuga sering main ke cafr ini? Kenapa kamu nggak pernah mencariku? Apa itu artinya kamu sudah melihatku sebelum kita bertemu di ulang tahun Nia??
Suara tepuk tangan menyadarkanku. Rupanya Gio sudah selesai memeberilan sambutan. Sekarang tiba saatnya acara makan siang.
Empat meja panjang yang tersedia, sudah penuh terisi makanan. Semua undangan sudah mulai mengantri untuk mengambil makanan.
Aku tidak bergabung lagi di meja keluarga Gio. Aku berdiri sendirian di cake counter, memantau keadaan dari jauh.
__ADS_1
Kulihat Gio berjalan menghampiriku.
"Sayang.... Kok di sini sendiri? Kenapa nggak nyapa aku? Nggak mau ngucapin selamat ke aku?" tanya Gio sambil mendekatiku, Gio mau memelukku, tapi aku sengaja menjauh.
Aku diam aja, aku nggak menghiraukan Gio.
"Sayang...., jangan marah, dong! Aku janji setelah acara ini selesai aku akan menjelaskan semuanya sama kamu".
Aku masih diam, aku cuekin Gio
"Yang... Tolong jangan seperti ini! Aku perlu semangat dari kamu di acara ultah perusahaanku ini. Kalau kamu marah gini, jadi terpecah konsentrasiku. Please maafin aku. Aku janji aku hutang penjelasan sama kamu, sayang..." Gio berusaha membujukku.
Setelah kipikir-pikir akhirnya aku menutuskan untuk menunda marahku, saat ini aku akan baikan dengan Gio.
"Happy 3rd anniversary untuk GAB Advertising, semoga usahanya diberi kelancaran dan makin sukses... " ucapku tulus, kuulurkan tanganku memberi Gio selamat.
"Thank you, my love", sahut Gio sambil menjabat tanganku dan memajukan wajahnya mengajak cipika cipiki. Aku nggak nolak, karena aku nggak mau Gio malu, karena semua karyawannya ada di sini.
Sudut mataku melihat Fitri dan Ani yang menatap kami dengan pandangan kaget dan bingung. Entah apa yang ada di pikiran mereka.
"Ayo temani aku makan, yang," ajak Gio sambil menggandeng tanganku.
Aku yakin saat ini mata anak buahku pasti sudah melotot melihat Gio menggandengku.
Saat kami sudah di meja panjang, tempat makanan tetsedia, beberapa karyawan Gio yang ada di sana tersenyum dan mengangguk pada Gio dan padaku.
Setelah mengambil makanan, kami duduk di meja keluarga Gio. Keluarga Gio semua sedduduk manis menikmati makanan yang ada di piring mereka.
"Tante mommy kok lama nggak balik-balik", tanya Nia saat aku baru duduk.
"Iya, tadi tante masih repot," jawabku.
"Lagi repot apa lagi marah sama aku? " bisik Gio di telingaku.
"Dua-duanya", sahutku dengan jujur.
Gio tersenyum, digenggamnya tanganku di bawah meja, lalu berbisik lagi, "Aku akan jelaskan semuanya, please jangan marah dan jangan diemin aku".
Aku pun mengangguk sambil tersenyum. "Aku tunggu", balasku.
"Van, masakannya enak, lo. Mama cocok sama rasanya", kata mama
""Iya, bener, masakannya enak, aku aja sudah nambah tadi, tapi sekarang aku mau nambah lagi, ', kata Gita dengan bangganya.
Sean cuma menggelengkan kepalanya sambil tersenyum meliha Gita. " Ayo aku temeni kamu nambah lagi", ajak Sean
Gita dan Sean sudah pergi lagi ke meja yang dipenuhi makanan.
" Tante mommy, nanti tante mommy ikutan pulang ke rumah kita, ya.... Nia pengen bobok bareng tante mommy sama daddy," minta Nia.
"Lain kali aja, ya.... tante nanti sore ada acara soalnya", tolakku.
"Ada acara apa, yang? Kok aku nggak tau?" tanya Gio.
"Itu lo.... pesta lajang sebelum menikah temen sma aku, Vanessa. Aku memang belum bilang sama kanu soalnya aku masih ragu mau pergi atau nggak. " jelasku.
"Kalau memang kanunya ragu ya nggak usah maksain pergi, yang.... mending kamu kutan main kecrumahku aja, yuk... sekalian kita ngobrol kan aku hutang cerita sama kamu",
"Aku pikirin lagi, ya.. ," kataku
"Sudah nggak usah repot mikir, Van! pastikan aja main ke rumah ya ! Mama masih kangen kamu, nak. Mau, ya...!! "
Entah kenapa kalau mamanya Gio sudah bicara aku banyak nurutnya.....seperti saat ini aku dengan manisnya mengatakan ya.
"Asik asik... tabte momny ikutan pulang... ", sorak Nia senang.
*********************************
ππΊππΊππΊππΊππΊπ
Hai readers
Author yakin saat cerita ini up pasti kalian sudah pada tidur. Maklum author up mya kemalaman, tapi yang penting author tetap up.
Author sedih nih..... masih banyak lo pembaca yang belum berpartisipasi untuk vote cerita RASA ITU ADA. ayo bagi yang belum dukung author, tolong dong bantuin, author membutuhkan bantuan kalian untuk vote, like juga komen. Bagi readers yang sudah baik hati bantuin vote, author ucapkan banyak-banyak terimakasih.
Mumpung sekarang lagi lock down, dari pada bengong, ajakin tuh teman-teman maupun keluarga kamu untuk ikutan baca cerita ini, ya....
Oke, see you in next eps
Regards...πΎππ ππππππΎ
ππΊππΊππΊππΊππΊπ
__ADS_1
*********************************