
Begitu sampai di rumah Gio, kita disambut mama dan papanya.
"Malam ma, pa... ", sapaku.
"Malam, nak... ", sahut papa Gio.
"Halo sayang...., mama seneng kamu bermalam di sini", sapa mama Gio sambil memberiku peluk cium.
Aku hanya tersenyum menanggapinya.
"Ini sudah malam, buruan kalian tidur! Besok kita harus bangun subuh soalnya."
"Ya, ma"
Di rumah ini ada 4 kamar yang masing-masing kamar ditempati oleh Gio, orangtuanya, Nia dan Gita. Malam ini kamar Gita dipakai sama Sean. Aku dan Gita tidur bareng Nia.
Setelah bersih-bersih, seka, gosok gigi, dan pakai piyama, aku segera naik ke ranjang dan tidur di samping Nia. Karena sudah ngantuk dan berasa capek, nggak perlu waktu lama aku langsung terlelap.
Jam 03.30, alaramku berbunyi, segera kuambil ponselku dan kumatikan alaram. Saat ini aku baru sadar, kalau posisi tidur Nia sekarang menghadap ke arahku, kepalanya menyusup di dadaku, tangan kecilnya memeluk pinggangku. So sweet banget sih.... Cup, kucium pipi Nia, lalu pelan-pelan kulepas pelukannya dan aku segera bangun.
Hari masih gelap, saat aku keluar dari kamar, bersamaan dengan mama yang juga baru keluar dari kamarnya.
"Pagi, ma" sapaku.
"Hai... Pagi sayang. Kok kamu sudah bangun? Nggak bisa tidur, ya?" tanya mama
"Bisa, mama. Vania bangun karena memang pasang alaram. Mama sendiri mau ngapain?"
"Mama mau bikin garlic bread buat ngeganjel perut sebelum kita sarapan di luar", jawab mama.
"Barang yang mau dibawa apa sudah dipacking semua, ma?"
"Sudah, sayang. Tuh dari semalem sudah mama siapkan di ruang tamu, nanti tinggal dimasukkan ke mobil aja," jawab mama.
Aku dan mama menuju ruang makan, menyiapkan bahan untuk olesan roti.
Bibik sudah bangun, bibik membuat kopi untuk mama dan susu coklat untukku.
"Silahkan diminum nyonya, non mommy".
"Makasih, bik. Kok bibik bisa buatin saya susu coklat", tanyaku
"Kemaren saya sudah dikasih tau tuan daddy kalau non mommy itu nggak suka kopi, sukanya susu coklat", cerita bibik.
Aku tersenyum mendengarnya. Kamu perhatian sekali sih 'sayang'..... Eh, apa itu? Ngomong apa aku barusan?
"Denger itu, Van! Gio selalu perhatian sama kamu.....", kata mama Gio.
Aku tanggapi omongan mami dengan senyum manisku.
"Selamat pagi.... ", sapa Gio yang mendadak muncul di dapur.
"Pagi...., " sahutku dan mama bareng.
"Kok sudah bangun, nak? "
"Iya, ma sudah nggak sabar, pengen cepet ketemu seseorang", jawab Gio sambil menatapku.
Aku pura-pura nggak ngerti omongan Gio. Padahal jantungku kembali berdetak lebih keras deg deg deg.... Kusibukan diriku mengoles roti yang akan dibakar.
"Hahaha.... Kamu Ini ! Barang-barang kamu sudah kamu packing, nak? "
"Sudah, ma"
"Kalau gitu kamu taruh di ruang tamu gih! Punya mama sama papa sudah di sana. Gio, kamu buruan mandi dan bersiap, ya... " suruh mama.
"Oke, ma"
"Gio...." , panggilku
"Apa sayang?", sahut Gio sambil tersenyum.
"Ih! apaan sih!", protesku.
"Sori... Ada apa ?", tanya Gio
"Aku mau minta tolong bawain ke sini barang belanjaan yang kemaren. Mau aku pilah, soalnya nggak semua untuk dibawa", kataku.
"With pleasure my sweet heart. Nanti aku bawain ke sini semua", jawab Gio dan segera berlalu.
Kulihat mama tersenyum senang. "Vania, terimakasih ya sayang, sejak kembali bertemu kamu, Gio jadi lebih ceria dan bersemangat." Mama berterimakasih padaku dengan tulus.
"Mama berlebihan deh.... Gio bisa seperti sekarang ini, karena Gio memang punya pribadi yang kuat, yang tidak mudah patah semangat. Jadi bukan karena Vania, ma", kataku.
Mama kembali tersenyum. "Vania, kamu adalah orang yang berarti dalam hidup Gio."
"Mama bisa aja, ah... ", elakku.
"Suatu hari nanti kamu pasti akan tau dan menyadari semua ini, Van", tutur mama dengan lembut.
Gio sudah kembali, dia membawa empat kantong plastik. Setelah kupilah, kuberikan lagi pada Gio. "Yang satu kantong ini barang-barang kamu, yang dua ini untuk dibawa liburan, sedangkan yang satu kantong ini barang keperluanku dan nggak aku bawa"
"Kalau gitu barang kamu ini aku taruh di mobilku lagi aja, ya? kan nanti aku yang nganter kamu pulang"
"Terserah kamu aja. Makasih, ya... "
"Sama-dama sayang.... " balas Gio sambil tersenyum.
__ADS_1
Aku pura-pura nggak dengar, sok sibuk mengolesi roti. Setelah semua roti masuk di oven, mama menyuruhku mandi dan bersiap sekalian bangunin Gita.
Aku masuk ke kamar, kulihat Gita masih nyaman bergelung di bawah selimut. Kubangunkan Gita, kugoyang-goyang bahunya, Gita langsung terbangun.
"Buruan bangun, Git ! Bangunin Sean gih! Supaya kita jam berangkatnya nggak molor."
"Oke kakak ipar... ", sahut Gita sambil berjalan keluar kamar.
Tuh anak ya.... Baru juga bangun tidur, sudah iseng aja!!
Aku segera mandi dan bersiap-siap. Kumasukkan semua peralatan yang baru aku pakai ke dalam tas. Setelah itu traveling bag ku segera aku bawa dan kuletakkan di ruang tamu.
Kulihat mama dan Gio sudah rapi, sedang duduk minum kopi di ruang makan. Gio memakai kaos polo shirt warna putih dan celana jeans selutut. Meskipun berpakaian sederhana tapi wajah cakep dan penampilan kerennya tetap enak dipandang mata.
"Ma, Nia dibangunkan atau dibawa dalam keadaan tidur?" tanyaku.
"Bangunin aja sayang, nanti kan tidurnya bisa dilanjut lagi di mobil." sahut mama.
"Kalau gitu Vania bangunin Nia sekarang," kataku.
Aku kembali masuk ke kamar. Nia tampak masih menikmati tidurnya. Wajah imutnya tampak sangat polos. Gadis kecil yang cantik dan lucu yang sudah sukses mencuri hati serta perhatianku.
Kuelus wajah dan rambutnya. Aku cium pipi dan keningnya juga. Nia masih enak tidur. Aku ciumi pipinya dengan cepat dan sedikit kasar, untuk membangunkan Nia. Bener aja, Nia langsung terbangun, dia membuka matanya.
"Tante mommy.... ", panggil Nia
" Ya sayang... "
Nia langsung bangun dan memelukku. "Nia seneng tante mommy yang bangunin Nia. Semalem Nia bangun pipis, Nia liat tante mommy bobok di ranjang Nia. Nia seneng banget bobok ditemeni tante mommy. Terus Nia bobok deket-deket tante mommy, Nia peluk tante mommy kenceng-kenceng, jadinya Nia enak tidur nggak bangun-bangun", aku senang mendengarkan cerita Nia dengan gayanya yang polos khas anak kecil.
Aku tersenyum, kucium lagi pipi chubby-nya.
"Sekarang Nia bangun, yuk... Nia harus siap-siap, kan kita mau liburan.... ", ajakku.
"Yes... Yes... Yes... Nia mau liburan... Nia mau liburan... ", sahut Nia dengan senang dan penuh semangat.
Aku mandikan Nia dengan air hangat. Sekarang Nia sudah selesai bersiap, sudah wangi dan rapi. Nia memilih hoodie lengan panjang warna pink dan celana panjang jeans. Nia memilih baju itu karena pengen kembaran denganku. Aku memang memakai hoodie warna pink lengan pendek dan celana jeans robek. Jadi Nia ikutan.
Setelah beres, kami pun keluar kamar sambil bergandengan. Rupanya semua orang sedang berkumpul di ruang makan menikmati kopi dan roti bakar. Sekarang semua mata di sana tertuju ke arah kami.
"Hai... gadis cantiknya daddy sudah rapi, pakai baju kembaran sama mommy lagi...Sini cium daddy dulu", panggil Gio.
"Tante mommy, daddy ! Nanti kalau dipanggil mommy aja tante mommy marah" Nia mengingatkan daddy nya.
Omongan Nia disambut senyuman oleh anggota keluarga ini.
Nia segera menghampiri Gio. Gio memberikan pelukan dan ciuman sayang pada Nia. "Dad, Nia dan tante mommy sudah sama nggak cantiknya? tadi Nia yang minta pakai baju samaan" tanya Nia dengan memeluk Gio.
"Hahaha.... Sudah. Sudah sama kok, cantiknya.", sahut Gio.
"Nia cuma peluk daddy aja? Lihat tuh opa, oma sama aunty Gita iri, pengen dipeluk dan dicium Nia juga", kataku.
"Nia minum susu dulu, sayang...", mama Gio memberikan segelas susu rasa vanila pada Nia.
"Makasih oma"
"Sama-sama, sayang... "
Setelah semua selesai sarapan ringan, kami pun bersiap untuk berangkat, menggunakan minibus sewaan dengan kapasitas sepuluh orang, termasuk sopir.
Pak Min yang menyetir, bibik duduk di sampingnya. Ya, pak Min dan bibik juga diajak berlibur. Baris pertama papa sama mama, baris kedua aku Nia dan Gio, baris terakhir Gita dan Sean.
Di perjalanan kami mampir untuk sarapan. Karena kami semua hari ini bangun pagi, jadinya setelah kenyang, kami pada tidur saat perjalanan dilanjutkan lagi.
Aku terbangun saat aku merasa ada yang membenarkan posisi kepalaku. Saat aku membuka mata, kulihat wajah Gio dengan jarak yang sangat dekat dengan wajahku. Deg deg deg... ah! kenapa detak jantungku selalu abnormal tiap kali berdekatan dengan Gio?
"Sori, membangunkan kamu. Aku cuma benerin posisi kepala kamu. Tadi kepala kamu berulang kali hampir membentur kaca", jelas Gio.
"Ya, nggak apa. Makasih."
Saat ini kami sedang berhenti di lampu merah. Aku melihat ada penjual tahu goreng, kubuka kaca mobil, aku membeli sepuluh bungkus tahu. Saat aku akan membayar, Gio sudah duluan mengulurkan uang pada penjualnya. Gio ini memang kebiasaan bikin aku nggak modal.
Kuminta Gio untuk memberikan dua bungkus tahu pada bibik dan pak Min. Aku bersihkan tanganku dengan hand sanitizer, lalu mengambil tahu yang tadi aku beli dengan tissue.
"Mau? ", aku menawarkan pada Gio.
Gio langsung memajukan badannya lalu membuka mulutnya, minta disuapi.
Kuberikan tahu yang kupegang padanya "Makan sendiri aja!" kataku.
"Nggak jadi kalau gitu", jawab Gio sambil kembali ke posisi duduknya yang semula.
Gio kan minta disuapi, akunya nggak mau, tapi masak iya aku makan sendiri tahu ini? Aku jadi nggak enak juga, secara tahu yang akan aku makan ini kan Gio yang bayar....
Akhirnya aku mengalah, aku putuskan untuk menuruti kemauan Gio. "Ayo sini buka mulut kamu ! " kataku dengan terpaksa.
Aku bisa melihat senyum Gio sebelum dia mendekat dan membuka mulutnya.
Baru juga dua suapan tahu masuk ke mulut Gio, sudah terdengar Gita berkomentar...
"Mumpung semua lagi tidur, makan sendiri.... Pake suap-suapan lagi... "
"Apaan sih?", sahutku dan Gio barengan.
"Tuh lihat ! Sampe ngatain orang pun sehati!" ledek Gita.
"Nggak usah ribut kalau mau tahu, nih ambil!" kata Gio sambil memberikan beberapa bungkus tahu pada Gita.
__ADS_1
Setelah itu Gio kembali mendekat ke arahku lagi. Ya ampun..!! Ini orang gimana sih? Sudah tau adeknya itu jahil dan suka iseng, kok masih minta disuapi lagi ??
Gio sudah mendekat dan membuka mulutnya, terpaksa aku suapkan sepotong tahu ke mulutnya.
"Enak, yang ! Kamu suapi gini, aku jadi keinget waktu aku sakit di Jogja dulu, yang.. " Kata Gio sambil mengenang masa lalu. Deg deg deg... 'yang' kata itu bikin jantungku kembali berdetak kencang.
"Dunia serasa milik berdua deh !! Kalau disuapi gitu, sepotong tahu goreng biasa, jadi berasa sepotong beef steak, ya kak?" celetuk Gita.
Tuh kan !! Apa aku bilang... Si Gita ini pasti akan ribut ngeledekin kita.
"Kalau pengen tau rasanya gimana, kamu bangunin Sean suruh dia nyuapi kamu !" balas Gio.
"Bener tuh, kak ! Babe..., babe... bangun dong ! Bangun babe, ayo suapi aku tahu"
Aku mendengar Gita membangunkan Sean. Kutoleh Gio, dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. Aku pun ikut tersenyum melihat kelakuan Gita.
"Apaan sih kok ribut", terdengar suara mama.
"Mau tahu goreng, ma? ", aku menawarkan tahu pada mama.
"Boleh", sahut mama. Gio mengambil beberapa bungkus tahu dan diberikan pada mama.
"Enak ya tahunya asin", komentar mama.
"Lebih enak lagi kalau makannya disuapi, ma", celetuk Gita dari belakang. "Tanya aja kak Gio kalau mama nggak percaya ! "
Blush... mukaku terasa sangat panas, pasti merah beneran ini! Dasar Gita kampret!! Makiku dalam hati.
Gio malah mendekatiku dan berbisik, "Tenang aja! Nggak usah didengerin ! Ada aku di sini".
Mama menoleh ke belakang, tepatnya ke arahku dan Gio. "Memang kalau makan tahu goreng disuapi rasanya jadi gimana?"
"Tadi kak Gio bilang ke Gita, tahunya berubah rasa jadi beef steak, ma", sahut Gita.
"Beneran Gio? " mama ikutan iseng.
"Bener, ma. Yummy banget banget banget", jawab Gio konyol.
"Mau dong mama disuapi.....", canda mama sambil tertawa kecil.
" Hahaha... Banguni papa, ma !" sahut si Gita.
"Nggak usah dibanguni juga, papa sudah bangun, kok", sahut papa.
"Mau tahu, pa?", tanya mama.
"Boleh" jawab papa.
"Mama suapi papa gih!", suruh Gita
"Ya memang papa minta disuapi, soalnya papa malas megang tuh tahu, berminyak", sahut papa
"Disuapi sama mama rasa tahunya beda kan pa? ", tanya Gita.
"Iya, beda ! berasa makan pizza", jawab papa sambil ketawa.
"Papa ini kok ikutan si Gita", omel mama
"Memang itu efek dari disuapi, ma", jawab Gita pantang menyerah.
"Ya udah, kalian aja yang muda yang suap-suapan, kalau mama sama papa ikutan... malu sama umur," jawab mama.
"Nia nggak malu disuapi..., Nia mau disuapi sama tante mommy", terdengar suara Nia nyeletuk.
"Hahaha.... ", kita semua ketawa denger celoteh Nia..
Kapan dia bangunnya? Perasaan dari tadi Nia duduk diam dengan mata terpejam. Ini kok bisa tiba-tiba bersuara?
"Sudah bangun ya, sayang.... Nia mau tahu? ", tanyaku.
"Mau", Nia menganggukan kepala sambil membuka mulutnya
Aku suapi sepotong. "Enak? ", tanyaku.
"Hem... " Nia mengunyah sambil menganggukan kepalanya.
Sekarang ada dua baby di depanku yang bergantian aku suapi..... Hehehe...
***********************************
🍹🍹🍹🍹🍹🍹🍹🍹🍹🍹🍹🍹
Halo.....
Nggak terasa ya, sekarang sudah diujung minggu lagi. Buat yang sudah berpasangan maupun belum, selamat malam mingguan, ya... meskipun malam minggu ini hanya kita nikmati di rumah saja, akibat virus corona yang merajalela.
Dibawa santai aja, baca cerita RASA ITU ADA, adalah salah satu alternatif untuk mengisi malam minggu kalian. Baca terus ceritanya, ya....
Dukungan kalian adalah mood booster untuk author. Karena itu jangan bosan selalu dukung author dengan vote, like maupun komen. Terimakasih buat yang sudah dukung, tambahan dukungan kalian masih author harapkan. Bagi yang belum, boleh kok ikutan dukung author. Author tunggu, ya....
Sekian dari author
Selamat bermalam minggu
Salam....💕 🙋😜😍😇😄😘🙋💕
🍹🍹🍹🍹🍹🍹🍹🍹🍹🍹🍹
__ADS_1
*********************************