RASA ITU ADA

RASA ITU ADA
EPISODE 61 PELANGGAN GANTENG


__ADS_3

Sejak pertama kali ke cafe untuk beli kue ulang tahun seminggu yang lalu itu, hampir setiap hari Nia selalu mampir ke cafe sepulang sekolah, kecuali sabtu dan minggu, soalnya libur dia.


Katena seringnya Nia mampir ke cafe, kalo dia nggak dateng, pasti ada aja yang nanyain dia. Nia kan anaknya lucu, kalo ditanya apa pun selalu jawab, meski kadang jawabannya ngeselin, kadang nggak nyambung, tapi karyawan aku semua pada suka sama Nia


"Bu, si Nia hari ini nggak datang, ya? ", tanya Rina padaku, saat aku sedang memperhatikan dia menata cake yang baru jadi di etalase.


"Kayaknya nggak, Rin. Sudah jam segini... kalo ke sini kan biasanya jam 11-an. Kemaren kata si bibik hari ini omanya datang, mungkin Nia diajak jalan sama omanya", jawabku.


"Hampir tiap hari Nia ke sini, sehari aja dia nggak datang, seperti hari ini, rasanya sepi ya, bu.. ", kata Rina.


"Iya, Rin....kamu bener. Anak itu bikin kangen....", sahutku.


"Nia itu tiap ke sini selalu sama bibik, apa Nia nggak punya orang tua, bu? ", tanya Rina.


"Nia kalo ke sini kan siang, nggak mungkin dong papanya nganter...., kan papanya harus kerja. Yang saya tau, dari Nia...mamanya nggak tinggal bareng dia".


"Maksudnya cerai, bu? ", tanya Rina memastikan


"Cerai atau nggak saya nggak tau, Rin. Saya cuma denger seperti itu dari Nia. Saya juga nggak berani banyak nanya, takut Nia tambah sedih".


"Kasihan ya, bu si Nia itu..."


"Iya, Rin... makanya kita mesti sayang sama Nia".


"Iya, bu. Tanpa ibu minta pun kita semua sayang kok sama Nia. La anaknya lucu dan ngegemesin gitu.... siapa coba yang nggak suka", jawab Rina.


Aku tersenyum senang mendengar jawaban Rina.


"Rin, pelanggan ganteng itu kemaren datang lagi. Kebetulan aku yang handle meja dia", tiba-tiba Ani datang, dia ngomong sambil berbisik, tapi aku masih bisa mendengarnya.


"Bener, An? Wah untung besar kamu, ya...", sahut Rina sedikit iri.


"Pas aku nganter pesanannya, dia ngeliatin aku terus bilang terimakasih sambil senyum lo, Rin.... Aduh guantenge puoll, Rin.... Nyesel aku pas itu nggak bawa hp...., kalo bawa sudah tak foto itu PG" , Ani bercerita dengan logat jawanya yang medok.


"Berani bawa hp di jam kerja? ", tegasku. Aku memang membuat peraturan nggak boleh pegang hp selama jam kerja, tapi kalo giliran istirahat mau pegang hp boleh-boleh aja.


"Nggak, bu. Kan saya cuma membayangkan saja... seandainya saya bawa hp...", jawab Ani sedikit keder.


"Rasain kamu diomeli ibu", sahut Rina.


"Kalo si PG datang lagi kasih aku kesempatan handle meja dia, ya.... ", minta si Fitri.


"Eh ya nggak bisa gitu... siapa cepat dia yang dapat", sela Rina.


"Kalian ngomongin apa, sih? ", tanyaku


"Itu lo bu ... Ada pengunjung setia cafe kita yang guantengnya ampun-ampun bu.."


"Pengunjung setia? Dia tiap hari ke sini? ", tanyaku


"Sebulan terakhir ini dia rutin ke cafe kita, bu. Seminggu bisa dua sampai tiga kali ke sini", jelas Rina.


"Oh... ", aku cuma manggut-manggut


"Orangnya ganteng, gagah, cool, keren abis pokoknya, bu", tambah Ani.


"Kalo masalah ganteng... Si Kenzo kan juga ganteng, kenapa kaluan nggak ngomongin Kenzo?", tanyaku lagi.


"Mas Kenzo memang ganteng, tapi sudah punyanya mbak Kayla, bu. Kalo PG ini masih single, bu", sahut Rina.


"PG itu apa sih ? Dari tadi kalian nyebut PG PG..... "


"PG itu singkatan dari Pelanggan Ganteng, bu", jelas Fitri.


" Kita ngefans soalnya si PG ini single, bu", jawab Rina.


"Kamu bilang dia masih single? Dari mana kamu tau? Dia bilang sama kamu?", tanyaku lagi.


"Ya nggak mugkinlah dia ngomong langsung. ke kita, bu....., memangnya kita ini siapa....


Kita menyimpulkan dia masih single soalnya tiap ke sini itu keseringan dia sendiri, kadang berdua sama temen cowoknya, tapi nggak pernah bawa cewek", jelas Ani


"Itu bukan jaminan dia single, lo! Bisa aja dia sudah punya pacar atau istri tapi sengaja nggak diajak", kataku.


"Iya juga, sih.....tapi aku doain semoga PG ku beneran single, bu", sahut Ani.


"Nggak pernah bawa cewek katamu, An? Jangan-jangan dia itu penyuka sesama jenis", celetuk Dina, bagian kasir.


"Mbak Dina....!! ", serempak Rina, Ani dan Fitri teriak protes ke Dina.


"Bisa jadi, lo ! coba aja kamu liat orang ganteng, keren, macho kan banyak juga yang homo, kan?! ", tambah Dina.


"Ih mbak Dina ini ya...., jarang-jarang ikutan ngomong, tapi sekali ngomong puedesnya amit-amit", sahut Rina.


Aku dan Dina ketawa aja ngeliat mereka bertiga sewot. Dina memang nggak ikutan ngomongin PG, soalnya dia sudah punya suami, beda dengan Fitri, Ani dan Rina, mereka bertiga memang masih single semua. Jadinya tiap ada pengunjung yang oke, pasti pada ribut. Meski begitu di depan pelanggan mereka tetap sopan, tidak bersikap berlebihan dan yang penting nggak ganjen sama pengunjung. Mereka masih patuh pada peraturan yang aku buat.


"Apa sih yang bikin kalian pada suka sama tuh cowok? ", tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Ganteng, keren, cool itu sudah pasti. PG ini kelihatan dewasa, bu. Orangnya kalem, berkarisma. Pake kemeja, pake kaos, selalu keliatan rapi, apa aja yang dipake itu keliatan pantes di badan P.G ini, bu... ", ganti Fitri yang menjelaskan dengan lebay.


"Setiap kali ke sini pasti duduk di pojok kiri sana, bu.", kata Rina sambil menunjuk ke suatu arah.


" Yang paling aku suka itu tatapan matanya, bu... Ngeliat mata dia itu rasanya hati ini jadi adem, bu... ", kata Ani.


"Memang seganteng apa sih kok sampe kalian bertiga blingsatan kayak gini? "


"Gantengnya sudah lebih tinggi dari puncak jaya, wijaya, bu. Nggak cuma kita bertiga yang suka sama dia, semua waiter cewek di sini pada kesengsem sama si PG. Pengunjung cewek aja banyak yang suka caper sama ini PG", Fitri ikutan semangat bercerita.


"Bu Vania belum ngeliat sih...., kalo ibu sudah ketemu itu PG, aku yakin bu Vania bakalan klepek-klepek juga kayak kita", sahut Ani.


"Sebenernya si PG memang cocoknya sama bu Vania.. Sama-sama cakep, sama-sama putih, yang situ dewasa, yang sini kalem, yang situ keren, yang sini anggun. Pokoknya cucok deh.... ", kata Rina.


"Iya, bu....kalo bu Vania suka sama tuh PG, kita dukung 3000%, bu", sahut Fitri.


"Kalian ini apaan sih?? Tadi pada rebutan PG, sekarang malah dilempar ke saya.... "


"Ampun bu istilahnya jahat banget ya....dilempar....", celetuk Ani.


"Sudah sudah! Sudah cukup kalian ngomongin si PG ! Ayo sekarang balik kerja lagi ! Tuh ada pelanggan, buruan samperin !", kububarkan mereka yang asik mgerumpi. Padahal tadi aku juga ikutan, tapi yang namanya bos kan mau apa aja boleh..... Hehe...


"Nanti kalo PG datang, bu Vania aku panggil, ya... ", bisik Ani, lalu melangkah pergi untuk melayani pengunjung yang baru duduk.


Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Ampun..... anak buahku kok gini amat, ya.....


Baru aku mau berjalan ke kantorku, tiba-tiba ada yang memanggilku. Aku pun berbalik ke arah suara itu.


Ternyata Kenzo. "Ada apa, Ken? ", tanyaku


"Bu, waktu itu saya pernah ibu kasih brownies, kan nggak saya makan, tapi saya bawa pulang. Ternyata mama saya suka, bu. Ini saya disuruh beli".


"O ya? Ya udah kamu pesan aja sana, nanti saya kasih diskon karyawan 25%", sahutku.


"Makasih, bu. Memang itu tujuan saya manggil ibu tadi... hahaha... ", Kenzo ketawa dan nyengir.


"Dasar kamu itu ya... ", sahutku sambil kuacungkan tinju ke arahnya.


"Rin, tolong buatkan nota ya untuk pesanan Kenzo, kasih diskon 25%. Setelah selesai bawa sini, biar saya sign sekalian", kataku pada Rina.


"Baik, bu".


"Bu Vania, ada yang nyari tuh... ", kata Fitri yang baru saja berdiri di depanku.


"Siapa? ", tanyaku.


"Rey? di mana sekarang? ", tanyaku dengan antusias dan senang.


'Tuh...! duduk di meja 3, bu", tunjuk Fitri


Setelah memberi sign pada nota yang dibuat Rina, aku segera berlari menuju meja kak Rey.


Aku yakin Kenzo dan karyawanku yang lain pasti memperhatikan tingkahku yang nggak biasa.... biarin aja!!!


Begitu aku sampai di meja itu..., "Kak Rey... ", panggilku dengan sefikit keras


"Hai cantik.... apa kabar sayang? Kangen gue sama lo", sahut kak Rey sambil berdiri dan merentangkan tangannya, aku langsung menghambur memeluk kak Rey. Kak mencium pipiku.


"Aku juga kangen, kak...! Kok lama sih nggak pulang-pulang? Sudah nggak inget sama aku, ya? ", protesku.


"Inget, dong!! Kalo nggak inget mana mungkin gue ke cafe lo? ", jawab kak Rey.


"Kapan datang, kak?", tanyaku


"'Dua hari yang lalu. Tadi gue ke tempat papi Ricky, kata mereka lo jaga cafe di sini, jadi gue samperin lo di sini", jawab kak Rey.


"Ayo pesan, kak... pesan makanan sama minuman apa aja yang kakak mau.... aku gratisin", kataku sambil menyodorkan menu.


"Wuih.... ini nih enaknya kenal sama boss", sahut kak Rey sambil mengacak rambutku.


"Kebiasaan deh!! Dari dulu nggak pernah berubah!! Nggak seneng apa ngeliat aku cantik... ", aku cemberut, kesel.


"Cup.... ", diciumnya pipiku. "Kalo cemberut gitu bikin gemes, deh.... ".


"Tau ah!! Sudah nggak usah cium-cium!! Sebel aku sama kak Rey! ", sahutku.


"Ya ampun, Van.... baru juga ketemu sudah marah..."


"Kakak sih...nyebelin! "


"Kamu itu sudah makin dewssa lo, Van.... tapi kok masih ngegemesin, ya...", kata kak Rey lagi.


"Sudah buruan pesen sana mumpung gratisan, kalo pake lama nggak janji lo tetep gratis...."


"Okok.... ok bosku", sahut kak Rey.


Setelah kak Rey menentukan pilihan, aku panggil Fitri, aku suruh dia mencatat pesanan Kak Rey dan pesananku juga. Aku ikutan pesan, untuk nemeni kak Rey makan. Masak kak Rey makan sendiri...

__ADS_1


"Van, di sana itu ada stage kecil, apa ada pemusiknya?", tanya kak Rey sambil. menunjuk ke arah stage.


""Ada mulai jam enam sampai jam tutup cafe", jawabku.


"'Jadi inget jaman kuliah dulu, Van... gue kan nyari tambahan uang jajan dengan jadi pemusik dan penyanyi di cafe... ", kak Rey ngomong sambil senyum, mungkin mengingat masa lalunya.


"Mau ngamen lagi? Boleh kok ngamen di sini, sekalian menghibur pengunjung cafe", tantangku.


'Sama kamu, ya.... kamu yang main keyboardnya. Nanti gue yang main gitar", kata kak Rey


"Tapi yang nyanyi kak Rey".


"Yang nyanyi kita berdua, dong.... "


"Aku backing vocal aja", pintaku.


"Oke deh.....", kak Rey menyamggupi.


"Ayo sekarang....kita manggung dulu sambil nunggu makanannya siap", ajakku.


Kami pun langsung menuju ke stage. "Selamat siang bapak ibu, kakak, adik pengunjung cafe..... perkenalkan, saya Rey, dan ini rekan saya, Vania. Siang ini kami akan membawakan sebuah lagu untuk menghibur kalian semua. Sebuah lagu dari Bruno Mars Just The Way You Are... Semoga kalian suka....."


Selesai nyanyi satu lagu, kami mendapat tepukan tangan dari pengunjung, malah mereka minta kami tampil lagi. Tepukan paling meriah dari arah sebelah kiri panggung, saat kutoleh, kulihat Kenzo dan anak buahku pada berdiri di sana menatap ke arah kamii sambil tersenyum, kenzo bahkan mengacungkan dua jempolnya. Aku tersenyum lebar ke arah mereka.


Nggak heran kalo anak buahku pada ngeliat penampilan kami karena selama ini aku nggak pernah naik ke stage. Jadi mereka nggak pernah tau aku bisa main keyboard dan nyanyi.


"Terimakasih untuk atensinya. Selamat siang dan selamat menikmati makan siang.... ", pamit kak Rey setelah kita selesai perform.


"Kak Rey hebat.... suaramya bagus! keren, kak! ", pujiku saat kami sudah kembali duduk di meja.


"Kamu juga ok main keyboardnya..., kapan-kapan kita main lagi, ya.... ", ajak kak Rey.


"Boleh", aku mengangguk menyetujui omongan kak Rey.


Nggak lama kemudian pesanan kami datang. Kami menikmati makan siang sambil ngobtol dan bercanda. Ngomong dan cerita sama kak Rey nggak akan ada habisnya. Dari dulu aku sangat klop kalo ngomong sama kak Rey.


Kak Rey ini anak dari kakaknya papi Ricky. Umurnya lebih tua empat tahun dari aku. Kak Rey juga anak angkat papi mami, tapi kak Rey nggak pernah tinggal bareng dengan mereka. Kayak aku dulu, waktu papa sama mama aku masih ada..... aku cuma manggil papi mami, tapi nggak tinggal sama papi mami.


Sejak lulus sma kak Rey kuliah, ambil s1 dan s2 di amerika. Selama sekolah di sana kak Rey jarang pulang. Soalnya saat liburan, kak Rey justru kerja partime.


"Kakak bakal berapa lama di Indo? ", tanyaku


"Gue nggak balik ke sana lagi, kok. Gue mau nikah 6 bulan lagi", jawab kak Rey


"Nikah? beneran?"


'Beneranlah... umur gue udah kepala tiga juga... "


"Sama siapa, kak? Sama kak Diana? " tanyaku kepo


"Iyalah ... sama siapa lagi coba kalo nggak sama dia?? Gue kan tipe cowok setia... ", sahut kak Rey


"Setia kalo ada kak Diana, kalo nggak ya tetep aja tengok kanan kiri", ledekku.


"Sekedar tengok ya nggak apalah, Van... namanya punya mata, kan gunanya untuk melihat. Kalo kebetulan yang terpampang di depan mata gue sesuatu yang cantik dan indah ya gue liatin dong... ", elak kak Rey sambil tertawa.


"Dasar genit!! Nanti aku aduin ke kak Diana", ancamku.


Aku kok ngerasa ada yang merhatiin aku, ya...., kutoleh ke arah sebelah kiriku.... bener aja Kenzo sedang memperhatikan meja kami. Tapi saat aku melihat ke arahnya, Kenzo pura-pura menatap ke arah lain....


**********


Hai....readers


Meski hari ini hari senin, semoga kalian tetep semangat, ya.... Seperti author tetep semangat up date kelanjutan cerita RASA ITU ADA. Saking semangatnya episode kali ini sampai dua ribu kata lebih.


Di episode ini ada tokoh baru lagi nih....


Terus siapa itu pelanggan setia cafe?


Terus ada apa dengan Kenzo,?


Mau tau nggak kelanjutannya?


Ikuti terus ya kisahnya...


Author sudah rajin up, tolong dong kalian juga rajin ajakin kenalan untuk baca novel aku, juga jangan lupa selalu vote, like dan komen.


Terimakasih semua....


Salam 🙋😊😀😇😍😘🙋


***************


.


************

__ADS_1


__ADS_2