RASA ITU ADA

RASA ITU ADA
EPISODE 92 TEMAN LAMA


__ADS_3

Aku baru selesai sarapan, sekarang aku lagi di kamar, berdandan sedikit dan bersiap untuk berangkat ke kantor.


Hari ini aku bawa mobil sendiri. Dibilang seneng....ya, seneng karena aku bisa bawa mobilku lagi. Sedihnya? Kalo dibilang sedih sih nggak, cuman terasa ada yang sedikit beda aja, secara biasanya kan ada Gio yang jemput, jadi di mobil ada yang diajak ngobrol dan bercanda.


Aku masuk mobil, mesinnya kunyalakan. Aku sengaja tidak langsung jalan, kutunggu beberapa saat, supaya mesinnya panas.


Saat menunggu aku menerima pesan chat


From Vino 08.25


Selamat pagi sayang


Mau berangkat kerja?


To Vino 08.26


Iya, ini aku sudah di mobil, sudah siap berangkat


From Vino 08.27


Mau aku temani? Atau mau aku jemput ?


To Vino 08.28


Nggak usah, Vin. Makasih. Aku bisa berangkat sendiri.


From Vino 08.29


Memang nasibku selalu menerima penolakan dari kamu, Van.


To Vino 08.30


Bukan gitu, Vin. Ini kan aku memang bawa mobil sendiri, jadi nggak perlu kamu jemput.


From Vino 08.31


Sayang... kapan kita bisa ketemu?


To Vino 08.32


Vin, kan dari awal kita sudah sepakat menjalin hubungan sebatas online, tanpa pertemuan.


From Vino 08.33


Please Van, kasih aku kesempatan untuk ketemu kamu sekali aja. Aku cuma pengen kamu tau siapa aku.


To Vino 08.34


Kamu kan bilang kalau sesebenarnya kita itu saling kenal, jadi kamu bisa info aku siapa nama kamu yang aku tau


From Vino 08.35


Nggak apa Van kalo kamu nggak mau ketemu aku, yang penting aku masih bisa menenui atau melihat kamu tanpa kamu tau siapa aku. Memang begini resikonya mencintai seseorang yang tidak mencintai kita.


To Vino 08.36


Sori, Vin...


From Vino 08.37


Bukan salah kamu Van, yang salah adalah perasaanku. Ah sudahlah! Kamu mau betangkat kerja kan? Ati-ati di jalan, ya... Bye....


To Vino 08.38


Tg, Vin. Bye...


Selesai chat dengan Vino aku segera melajukan mobil ke cafe tempatku bekerja.


Saat aku sampai di parkiran cafe, kulihat mobil Gio memasuki halaman parkir juga. Ngapain nih orang pagi-pagi ke sini?


Aku keluar mobil, bersamaan dengan Gio. Gio menghampiriku, tersenyum manis dan menyapaku, "Good morning my lovely... "


"Morning. Ngapain kamu pagi-pagi sudah ke sini? Lagian ini Sabtu, hari libur buat kamu"


"Kamu ini yang...., calon suaminya nyamperin pagi-pagi bukannya disambut dengan morning kiss, dengan wajah yang ceria, eh, ini malah diomeli. Kamu nggak pengen ketemu aku? Nggak kangen gitu sama aku? " tanya Gio.


Aku menghela nafas panjang, aku diam, sengaja nggak ngejawab pertanyaan Gio.


"Kok diem? Jadi bener nggak pengen ngeliat aku pagi ini di sini? Nyesel aku sudah datang ke sini." Kata Gio dengan wajah yang tampak kesal dan kecewa, Gio segera berbalik meninggalkan aku dan menuju mobilnya.


Saat Gio membuka pintu mobilnya, aku baru tersadar, kalau nggak kuhentikan artinya genderang perang dibunyikan.


Dan kalau Gio marah besar urusannya tambah panjang karena akan susah ngebujuknya.


Aku segera berlari, menyusul Gio. Aku langsung masuk ke dalam mobilnya.


"Ngapain ikutan naik mobil aku? Turun sana.! Aku mau pulang, toh kehadiranku di sini juga nggak diharapkan." Gio mengeluarkan kekesalannya. Gio memasang wajah datar yang dingin. Gio tidak menatapku, pandangannya lurus ke depan.


"Sayang.... Maafin aku sudah bikin kamu kesel. Aku itu nggak bermaksud apa-apa. Hari ini kan Sabtu, hari libur buat kamu, harusnya kamu bisa molor. Aku nggak mau gara-gara aku kamu kehilangan waktu istirahatmu". Aku berusaha membuat Gio mengerti maksudku dengan memberi penjelasan. Kuambil tangan Gio yang memegang kemudi, kugenggam erat tangannya.


Gio masih nggak bergeming. Dia masih cuekin aku.


"Sayang..., jangan marah ! Aku minta maaf kalau reaksi aku bikin kamu salah paham. Kalau mau jujur sebenernya aku itu seneng banget kamu kasih kejutan seperti ini, aku ngerasa diperhatiin, diistimewakan. Beneran, yang... aku nggak boong", kataku, kuelus lembut punggung tangan Gio.

__ADS_1


Gio masih tidak bereaksi. Gio itu jarang marah beneran, tapi kalo sudah marah, sikap acuh dan dinginnya bikin merinding.


"Sayang, please maafin aku...", kataku dengan tulus


"Nggak usah minta maaf. Aku sadar kok, kamu nggak butuh aku. Kamu itu mandiri, kamu bisa melakukan apa pun tanpa aku. Akunya aja yang sok dibutuhkan. Mulai sekarang kamu mau bawa mobil sendiri tiap hari pun terserah kamu. Aku tidak akan mengantar jemput kamu lagi. Kamu bebas mau melakukan apa pun sendiri. Tolong segera turun dari mobilku. Aku sudah nggak nyaman di sini." Gio mengusirku dari mobilnya. Nada suara Gio yang kaku dan dingin menusuk hatiku.


Seketika itu aku merasa sangat takut kehilangan Gio. Aku nggak mau kehilangan perhatian Gio. Aku nggak bisa membayangkan kalau Gio nggak peduli lagi padaku. Aku langsung memeluk Gio dari samping. Kupeluk erat pinggangnya, tanpa terasa air mataku menetes.


"Maafkan aku, sayang.... Tolong maafkan aku"


Aku menangis tanpa bersuara, airmataku terus mengalir, hingga membasahi tangan Gio. Merasa tangannya basah, Gio baru sadar kalau aku menangis.


"Sudah jangan menangis ! Kamu tau kan aku paling nggak bisa ngeliat kamu mengeluarkan airmata gara-gara aku", kata Gio. Nada suaranya sudah tidak kaku dan dingin seperti tadi.


"Tolong maafkan aku... Aku sangat suka kamu perhatian dan manjain aku. Aku nggak siap kehilangan perhatian kamu. Aku nggak mau kehilangan kamu. Aku memerlukan kamu karena aku mencintaimu...". Takut kehilangan, membuatku mengungkapkan cintaku, hal yang jarang kulakukan.


Aku merasakan reaksi Gio, sepasang tangan Gio sekarang balas memelukku. Gio mengelus punggungku. Nggak lama kemudian Gio merenggangkan pelukanku. Saat ini sepasang mata coklat itu menatap mataku tajam, seolah mencari kejujuran dari ucapkanku di sana. Lima menit kami dalam keadaan seperti itu sebelum akhirnya Gio tersenyum, dibelainya rambutku dengan sayang.


"Aku maafin kamu, aku percaya sama omongan kamu. Aku tadi cuma kesel aja, aku bela-belain bangun pagi, mau kasih surprise buat kamu, eh respon kamu kayak gitu..... ", ungkap Gio.


"Makasih sayang, mau maafin aku. Saat kamu marah seperti tadi aku sangat takut. Aku nggak mau kamu pergi dari sisiku lagi. Cukup sekali aku merasakan itu. Kemarahanmu barusan membuat aku sadar, aku sangat mencintai kamu dan aku tidak bisa hidup tanpa cinta dan perhatian darimu."


"Kamu bisa pegang omonganku, aku janji aku nggak akan pernah meninggalkan kamu, walau apa pun yang terjadi. Aku mencintaimu lebih daripada aku mencintai diriku sendiri. Aku nggak akan sanggup kalau harus kehilangan kamu lagi." Omongan Gio menghangatkan dan menenangkan hatiku.


"I love you... ", kataku


"I love you more, sweet heart", balas Gio dan dikecupnya bibirku sekilas


Cukup lama kami berpelukan dalam diam. Aku menikmati kehangatan pelukan Gio yang memberiku ketenangan dan kenyamanan.


Akhirnya, aku memecah kebisuan. " Sayang, turun yuk... ", ajakku.


"Temeni aku sarapan mau? Aku pengen makan nasi pecel. Kamu sudah sarapan? "


"Boleh. Aku pagi tadi lagi males makan, aku cuma minum segelas susu coklat"


"Kalo gitu kita makan nasi pecel bareng, ya ! Kita berangkat sekarang, yuk... ", ajak Gio sambil menjalankan mobilnya.


"Oke.....", sahutku cepat.


Dari cafe ke tenpat penjual nasi pecel itu kira-kira makan waktu duapuluh menit.


Sambil menunggu pesanan kami yang belum datang, aku pamit ke toilet. "Yang, aku mau ke toilet bentar"


"Mau aku temeni? " tanya Gio


"Nggak usah, aku sendiri aja"


Aku mengangguk dan langsung menuju ke toilet yang tersedia di bagian belakang.


Keluar dari toilet aku sibuk mengelap atasanku yang sedikit basah akibat kena percikan air wastafel.


Aku tidak memperhatikan jalan dan... "Bruukk... " aku bertabrakan dengan seseorang. Untung aku nggak jatuh, karena cowok yang bertabrakan denganku ini sempat menarik lenganku, tapi akibatnya kita seperti orang yang berpelukan. Setelah sadar, aku langsung bergerak sedikit menjauh dari cowok itu, begitupun cowok itu dia, langsung melepaskan lenganku yang tadi dipegangnya.


"Maaf... ", kata maaf terlontar dari mulutku dan cowok itu secara bersamaan, sehingga membuat kami saling tatap.


Wajah cowok ini tampak nggak asing, tapi siapa ya..? Saat aku masih berpikir, malah terdengar suara cowok itu menyebut namaku "Vania? Kamu Vania kan? Adiknya Reyhan? " tanyanya


"Iya, kakak siapa?", aku mengangguk sambil bertanya.


"Kamu melupakan aku, Van?" tanya cowok itu lagi.


"Maaf, aku nggak inget kakak siapa, ya?" tanyaku lagi.


"Vania... Vania.... aku ini Jasson, sahabatnya Rey, apa kamu sudah ingat sekarang?"


"Ya ampun..., jadi ini kak Jasson? Kakak sekarang berubah banyak, aku beneran pangling ngeliatnya.'


Aku tersenyum senang, karena dulu hubunganku dengan kak Jasson cukup dekat, kak Jasson sangat baik padaku. Aku senang sekali ketemu sama kak Jasson lagi. Tanpa sadar, aku memeluk kak Jasson, kak Jasson pun membalas pelukanku dan mencium keningku.


"hahaha... kamu apa kabar ? Sekarang sudah dewasa, tambah cantik. Sudah bisa dijadiin pacar kakak," kata Jasson sambil tertawa.


"Kabar aku baik, kak. Ih pacar... Kak Jasson ngaco deh ! Kakak sekarang lain, banyak perubahan"


"Lain apanya ?" tanya kak Jasson.


"Dulu kakak berkacamata, badan kakak subur, sampe dijuluki sama kak Rey Jasson Galon"


"Haha.... Kamu tuh ya... yang diinget kok yang jelek-jeleknya. Kalo sekarang penampilan kakak gimana?" kak Jasson tertawa lagi, dicubitnya pipiku.


Aku pun ikut tertawa, "Kakak sekarang keren, bodi atlit", sahutku sambil tertawa.


Tapi tawaku langsung terhenti saat kulihat Gio yang cemas tengok kiri kanan mencariku. ****** aku....gimana aku bisa melupakan Gio ? Kok aku sampai nggak inget Gio menungguku.


"Kak Jasson, aku ke depan dulu, ya... sepertinya pesanan aku sudah datang. Lagian kasihan temenku nungguin," aku segera pamit begitu teringat Gio.


"Iya, silahkan. Kapan-kapan kita kumpul berempat kayak dulu lagi, ya ! See you.., bye cantik..." kata Jasson sambil melambai.


" Iya, kak. See you.., bye kak.... ", sahutku


Kak Jasson ini sahabatnya kak Rey, sekaligus kakak dari kak Diana, pacar kak Rey. Dulu waktu masih sma, tiap kali kak Rey dan kak Diana jalan, pasti kak Jasson disuruh ikut sama orangtuanya untuk mengawasi, karena kak Jasson nggak mau jadi obat nyamuk sendirian, kak Jasson minta kak Rey untuk mengajakku. Jadi seakan-akan kita double date, bahkan kak Jasson sering memanggil aku dengan sebutan 'pacar kecilku''. Maklum, waktu itu mereka kelas 2 sma, sedangkan aku masih kelas 1 smp. Kak Jasson sama kak Rey seumuran, empat tahun di atasku. Saat kuliah aku sempat sekampus sama kak Jasson, kita cukup dekat, tapi kita cuma ketemu satu semester aja. Setelah kak Jasson lulus kita nggak pernah kontak lagi.


Aku bergegas kembali ke depan, ke meja tempat kami duduk tadi. Aku nggak mau cari masalah, aku nggak mau Gio marah lagi.

__ADS_1


Belum sampai ke tempat duduk, aku berpapasan dengan Gio yang mencariku.


"Dari mana aja kamu, yang? Ke toilet kok nggak balik-balik", omel Gio.


"Tadi di toilet antri tiga orang, terus bajuku basah kena percikan air, sudah gitu aku ketemu temen lama, makanya agak lama", jelasku.


"O.. Ya sudah kalau gitu. Ayo buruan kita makan, mumpung nasinya masih anget", ajak Gio.


Untung Gio nggak nanya macem-macem dan nggak memperpanjang urusan. Aku tadi sudah takut aja kalau Gio nanya temen lama kamu cowok apa cewek?? Kalau aku jawab jujur, pasti ada seri marah jilid 2 yang pasti lebih dahsyat dari jilid 1.


Selesai sarapan, Gio mengantarku ke cafe, tapi cuma ngedrop aku aja. Sudah aku tawarin untuk mampir, tapi Gio nggak mau.


Saat ini aku sudah duduk di ruanganku. Aku menyalakan laptop dan mulai bekerja. Aku bekerja dengan serius dan kosentrasi penuh.


Hah... Akhirnya sebelum jam istirahat, selesai juga pekerjaanku.


"Tok Tok...", ada yang mengetuk pintu ruanganku.


"Masuk", sahutku


Rina masuk dengan membawa bungkusan. " Ada kiriman makanan, bu," kata Rina.


"Ya Rin, makasih", sahutku.


Kubuka bungkusan itu, isinya dua kotak sushi. Dalam pikiranku, pengirim makanan ini pasti Gio.


Aku baru memegang ponsel, berencana untuk berterimakasih pada Gio saat notif wa di ponselku berbunyi.


From Vino 11.57


Hai sayang....


Jangan kerja terus, sudah waktunya istirahat


To Vino 11.58


Hai Vin


From Vino 11.59


Makan siang jangan sampai terlambat, yang....supaya sakit maag kamu nggak kambuh


To Vino 12.00


Iya, Vin. Tq perhatiannya


From Vino 12.01


Sushi nya sudah sampai, kan?! Buruan gih dimakan


To Vino 12.02


Jadi kamu yang ngirimi aku sushi, Vin?


From Vino 12.03


Iya. Memang kenapa, yang? Biasanya kan kamu suka sushii. Apa hari ini kamu lagi nggak pengen sushi? Pengen makan apa, yang? Nanti aku kirim


To Vino 12.04


Nggak usah repot, Vin. Tq ya sushi nya. Aku suka sushi, kok.


From Vino 12.05


Syukur deh kalo kamu suka. Okey, aku nggak mau ganggu makan siang kamu. Enjoy your lunch, sweet heart...bye...


To Vino 12.06


Ok, bye...


Vino, maafkan aku. Kamu orang baik, Vin. Kamu pasti bisa mendapatkan kekasih yang jauh lebih baik dari aku.


********************************


🐾🍹🐾🍹🐾🍹🐾🍹🐾🍹🐾


Hai....


Nggak kerasa ya sudah hari Minggu lagi. Sudah ada acara hari ini? Ada acara atau pun nggak, sempetin ya baca kelanjutan cerita Rasa Itu Ada, episode 92.


All readers please bantu author untuk vote novel RASA ITU ADA, supaya rankingbya bisa makin naik. Buat readers yang sudah vote author nggak akan lupa untuk berterimakasih, jangan bosan untuk selalu menambah vote kamu banyak-banyak, ya....


Buat readers yang mau memberi dukungan pada author bisa melalui vote, like dan komen. Author selalu menunggu dukungan dari kalian, karena dukungan dari kalian adalah pemicu semangat author dalam menulis.


Selamat hari Minggu


Enjoy your day


Best regardsπŸ™ πŸ’“πŸ˜πŸ˜‡πŸ˜˜πŸ’“πŸ™


🐾🍹🐾🍹🐾🍹🐾🍹🐾🍹🐾


********************************

__ADS_1


__ADS_2