RASA ITU ADA

RASA ITU ADA
EPISODE 56 AMARAH


__ADS_3

Setelah aku dan Gio sepakat putus, kini saatnya kami harus memberitahu orang tua kami. Kami juga harus memberitahu wo, mengenai pembatalan acara pernikahan kami.


Hari Senin kami sepakat putus, Kamis malam Gio pulang ke Jakarta, rencananya hari Sabtu Gio dan keluarganya akan ke rumah papi Ricky.


Sedangkan aku hari Jumat sore baru pulang ke Surabaya. Kujalankan plan b. Jadi setelah ini aku nggak balik ke Jogja lagi karena permohonanku untuk pindah ke kantor Surabaya sudah disetujui.


Saat aku sampai di rumah papi, aku bersikap biasa aja, aku belum cerita masalah aku dan Gio. Jadi mereka masih berpikir kami baik-baik saja.


"Van kamu pulang kok sendiri? Kenapa nggak sama Gio? ", tanya mami.


Kebetulan pas itu ada bapak bakso lewat, aku pura-pura ngidam bakso. Aku jadi punya alasan untuk menghindar.


"Mi, itu ada bakso lewat, kebetulan Vania lagi


pengen makan bakso, mi. Vania keluar beli bakso dulu ya, mi.... ", pamitku dan langsung berlari ke depan tanpa menunggu jawaban mami. Kulihat mami ikutan ke depan dan beli bakso juga.


Hegh... Aman... Setidaknya saat ini lolos dari pertanyaan mami. Bukan aku mau main rahasia sama mami, aku cuma nggak tega ngeliat mami papi sedih. Biarlah besok Gio dan keluarganya saja yang menjelaskan ke papi mami.


Hari Sabtu Gio dan keluarganya datang ke rumah. Awalnya mami papi senang karena calon mantu dan besannya datang.


Melihat tampang Gio dan keluarganya yang nampak tegang, papi pun langsung serius menanyakan tujuan mereka bertamu.


"Mohon maaf sebelumnya, pak Ricky dan ibu, kami datang ke mari untuk membatalkan rencana pernikahan Gio dan Vania. Sekali lagi kami minta maaf yang sebesar-besarnya. Untuk alasan pembatalannya biar Gio yang menjelaskan sendiri", kata papa Gio.


Seketika papi dan mami nampak kaget, tapi nggak lama ekspresi mereka langsung berubah, wajah papi jadi merah padam. Aku bisa melihat papi yang mulai tersulut emosinya saat mendengar perkataan papanya Gio. Tangan papi mengepal, tatapan matanya tajam. Apalagi setelah Gio menceritakan sebabnya....Papi langsung berdiri menghampiri Gio dan....


"Plaakk....plaakk..... " , suara tamparan yang keras yang papi daratkan di pipi kiri dan kanan Gio..


Aku menjerit melihat itu, mataku langsung terasa panas, tapi tidak ada seorangpun yang menahan papi maupun menolong Gio. Bahkan orangtua Gio hanya diam saja, membiarkan papi meluapkan amarahnya.


Gio memang salah, tapi aku tetap tidak tega melihat dia dalam keadaan seperti itu. Meskipun aku tersakiti dengan apa yang telah terjadi pada hubungan kami, namun rasa sayang dan cintaku untuk Gio masih ada.


Saat papi mengangkat tangannya bersiap untuk memukul Gio lagi, aku langsung berlari dan berdiri di hadapan papi, sebagai tameng untuk Gio. Kulihat mami pun berdiri memegangi papi.


"Minggir, Vania ! Papi harus beri pelajaran anak kurang ajar ini ! Dia berani mempermainkan dan menyakiti anak gadis papi. Dia sungguh pantas menerima pukulan dari papi!! ", papi terlihat sangat marah. Sedari kecil aku kenal papi, baru kali ini aku ngeliat papi sangat amat marah seperti ini.

__ADS_1


"Sudah, pi... sudah...Vania nggak apa-apa. Papi tenang ya, pi....", aku berusaha menenangkan papi dengan memeluknya. Aku berusaha menahan tangisku.


"Papi jangan emosi kayak gini, pi. Vania nggak mau tensi papi naik. Sabar, pi... sabar....", kataku sambil memapah papi untuk duduk kembali. Mami duduk disamping papi sambil mengelus punggung papi.


Saat papi mulai tenang, aku melanjutkan, "Boleh Vania ikut bicara? "


Papi mami dan kedua orangtua Gio serempak menganggukan kepala dan mengiyakan permintaanku.


"Vania dan Gio minta maaf sama papi mami dan juga papa mama karena kami tidak bisa mempertahankan hubungan kami seperti apa yang kalian harapkan. Vania mau memberi sedikit penjelasan... Sebenarnya dalam masalah ini tidak sepenuhnya kesalahan Gio, malah bisa dikatakan Gio juga korban sebab gadis itu, Putri memang punya niat untuk menjebak Gio. Vania yakin, kalo Gio dalam keadaan sadar Gio tidak akan pernah melakukan hal itu", aku berharap orangtuaku mau pun orangtua Gio bisa memahami omonganku serta bisa menerima kenyataan ini.


"Lihat itu Gio ! Gadis yang sudah kamu hancurkan hatinya, sudah kanu sakiti seperti ini, dia masih berdiri tegak membelamu!! Apa kamu nggak malu?!", bentak papa Gio.


Gio hanya diam tertunduk. Aku sungguh nggak tega ngeliatnya. Gio harus menerima kata-kata kasar, umpatan dan caci maki dari papi, mami maupun orang tua Gio sendiri.


Aku berusaha menghentikan... "Papi, mami, papa, mama sudah !! Nggak ada gunanya marahin Gio terus. Semuanya sudah terjadi !! Stop memarahi dan menyalahkan Gio. Saat ini sebaiknya kita semua menenangkan diri. Kita semua harus bisa terima kenyataan ini. Vania dan Gio tidak ada yang ingin berakhir seperti ini. Vania tau kalian merasa kecewa dan marah tapi rasa sakit yang kalian rasa tidaklah sedalam rasa sakit yang harus kami terima".


Kutarik nafas panjang sebelum berbicara lagi, "Sebenernya Gio tidak ingin mengakhiri hubungan kami, tapi Vania yang minta putus. Vania sudah bisa terima semua ini. Jadi Vania harap papi, mami, papa dan mama juga bisa terima", kataku dengan suara sedikit serak menahan tangis.


Mama Gio menghampiriku, memelukku erat, diciumnya pipi dan keningku, "Mama sangat menyayangimu, nak.... Sampai kapan pun kamu tetap anak gadis mama. Kamu boleh marah sama Gio tapi jangan benci mama. Mama harap kamu tetap mau memanggil kami dengan sebutan papa mama", kata mama Gio sambil mengelus pipiku.


"Kamu gadis baik, Vania. Papa sangat malu dengan kelakuan Gio. Papa akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu, nak", papa Gio juga memelukku sambil menepuk bahuku beberapa kali seakan memberi aku kekuatan.


"Makasih, pa", sahutku.


Sekali lagi Gio dan orangtuanya meminta maaf padaku dan pada kedua orangtuaku.


Aku minta, waktu sebentar pada mereka supaya bisa bicara betdua dengan Gio dan mereka mengijinkan. Kami bicara di ruang makan.


"Ada apa, Van? ", tanya Gio memulai pembicaraan


"Aku mau mengembalikan ini... ", kukeluarkan kotak kecil dari saku bajuku.


"Apa itu, Van", tanya Gio lagi


"Aku kembalikan cincin tunangan dan kalung bandul hati yang kamu kasih waktu itu".

__ADS_1


"Nggak usah kamu kembalikan, Van. Kamu simpan aja meski kamu sudah nggak mau pakai lagi".


"Maaf Gio. Aku nggak mungkin memakainya dan aku juga nggak mau menyimpannya. Sebaiknya kamu terima balik", kusodorkan kotak itu ke dekat tangan Gio.


Akhirnya Gio mau menerima. Gio menarik nafas panjang, "Semuanya sudah berakhir sampai di sini, Van. Inilah akhir dari hubungan kita. Jaga diri kamu baik-baik. Aku akan sangat kehilangan kamu, Van".


Aku hanya tersenyum, "Kamu juga Gio.... selalu waspada terhadap siapa saja, jangan sampai terpedaya lagi dalam hal apa pun", aku tulus mengingatkan.


"Iya Van, makasih sudah diingatkan. Sekali lagi aku minta maaf atas semua yang telah terjadi".


"Sudah Gio ! Sudah cukup minta maafnya. Aku sudah maafkan kamu. Aku tau, di sini bukan cuma aku yang terluka tapi kita sama-sama terluka".


"Iya, Van rasanya sakit sekali".


"Kita harus tetap semangat Gio! Kita harus bisa menyembuhkan luka ini dengan cara kita masing-masing".


"Iya, Van. Meski aku juga tau melakukan itu itu tidak mudah bagi kita, terutama bagiku".


Kami kembali ke ruang tamu, tak lama setelah itu Gio dan orangtuanya pamit.


Setelah keluarga Gio pergi, aku segera masuk ke kamar, kututup rapat-rapat dan kukunci pintunya. Kubanting badanku di tempat tidur dan.... ambrol lah pertahanan airmataku.


Berakhir sudah semuanya!!! Aku menangis habis-habisan. Sungguh tak pernah aku bayangkan bakal sesakit ini rasanya menghadapi perpisahan. Sekarang tidak ada lagi Vania yang tegap berdiri, tidak ada lagi Vania yang tenang, tidak ada lagi Vania yang tegar.....Saat ini yang ada hanyalah Vania yang frustasi, rapuh dan terluka karena terpaksa harus berpisah dengan orang yang dicinta.....


**********


Hii readers..... orang tua Gio dan Vania semua lagi marahin Gio, kalian ikutan marah nggak??


Ikuti terus kelanjutan cerita RASA ITU ADA.


semoga kalian makin suka. Jangan lupa like, vote dan komennya, ya....


Thank You. 🙏😍


************

__ADS_1


__ADS_2