
Entah sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri. Badanku terasa lemas, mataku terasa perih dan panas, kepalaku pusing dan berat. Pelan-pelan kubuka mataku, kulihat sekeliling, ternyata aku di kamar mami.
Pintu kamar terbuka, terdengar suara mami, "Syukurlah, kamu sudah sadar, nak...", kulihat mami Heni berjalan ke arahku.
Aku mengangguk pelan. Setelah kesadaranku sudah benar-benar pulih, aku teringat ucapan dokter yang mengatakan orangtuaku sudah meninggal.... Aku langsung terduduk dan bertanya, " Di mana papa sama mama, mi? Aku mau ketemu mereka ", tanpa kusadari air mataku kembali mengucur.
"Iya, sayang, iya...., nanti mami antar kamu. Sekarang kamu makan dulu ! ".
"Nggak, mi. Vania nggak mau makan, Vania mau ketemu papa mama".
"Iya, sayang... nanti pasti mami ajak kamu untuk menemui mereka tapi kamu harus mau makan dulu. Kalo kamu nggak makan dan sakit, papa sama mama akan sedih. Kamu nggak mau kan mereka sedih? ", mami Heny berusaha membujukku.
Akhirnya aku menurut aku makan beberapa sendok. Sebenernya aku nggak ada nafsu makan, meski semalam aku hanya makan sepotong roti, tapi aku sama sekali tidak merasa lapar. Aku cuma pengen ketemu papa sama mama, itu saja.
__ADS_1
Sehabis makan, mami menyuruhku mandi dulu, kali ini aku menurut karena akupun merasa badanku lengket dan nggak nyaman, maka aku pun segera mandi.
Sehabis mandi aku merasa lebih segar, mami menyisir rambutku sehingga telihat rapi. Setelah itu, mami memenuhi janjinya, mengantarku untuk menemui orangtuaku. Selama perjalanan aku diam, tapi airmataku terus mengalir, pikiranku melayang, terbayang wajah kedua orangtuaku tersayang....
Beberapa kali mami mengajakku bicara, aku hanya diam, aku nggak paham omongannya, seakan otakku nggak berfungsi. Yang ada di pikiranku cuma papa sama mama aja. Akhirnya mami pun diam, mungkin mami sadar aku ingin tenang dan tidak diganggu.
Tak lama, kami sampai di rumah duka. Sudah banyak pelayat yang datang, papi pun ada di sana. Aku melihat ada dua peti berwarna putih diletakkan berdampingan di tengah ruangan.
Awalnya aku hanya diam, mengamati sambil tersenyum, karena aku masih berpikir mereka tidur, tapi ketika aku sadar mereka sudah tiada, aku langsung mendekati mereka... Aku peluk, aku ciumi mereka sambil menangis dan berteriak keras memanggil orangtuaku. "Papa.... Mama.... Vania nggak mau ngeliat papa sama mama tidur di sini !! Ayo bangun pa !! Bangun ma !! Banguuunn !!! Kita pulang sekarang !! "
Mami berusaha menenangkanku dengan memelukku, tapi aku tepiskan tangan mami aku kembali mendekati peti, masih menangis keras, kembali aku peluk dan ciumi orangtuaku. "Papa...mama..... Kalian nggak sayang Vania ! Kalian jahat ninggalin Vania ! Vania nggak mau sendiri pa! Vania takut, ma ! Papa.... Mama.... ", aku menangis, meraung-raung. "Vania nggak ijinin kalian pergi!! Vania mau ikut kalian ! Vania sayang kalian. Papa...., mama,.... papa....,mama... "
Aku terus berteriak-teriak memanggil orangtuaku sambil kugoyang-goyang badannya, aku peluk dan ciumi mereka terus....Tangisan dan teriakanku makin kencang, karena rasa kehilangan yang aku rasakan semakin dalam terasa. Papi berusaha menenangkan aku dengan memelukku, tapi aku meronta berusaha untuk mendekati orangtuaku lagi. Papi kembali menarikku dan berusaha memelukku erat, agar aku sedikit tenang, tapi aku terus meronta, makin lama tenagaku makin berkurang...
__ADS_1
Sampai akhirnya badanku kembali lemas dan aku ngerasa ruangan ini berputar, makin lama makin cepat, sebelum akhirnya aku tak sadarkan diri lagi.
********
Terimakasih sudah baca novel aku yang 🙏 berjudul RASA ITU ADA.....😍😄
Ikuti kelanjutan ceritanya....
Semoga kalian suka. ❤❤❤
Jangan lupa vote, komen dan like, ya....👍👍
*********
__ADS_1