
**MAMA GIO POINT OF VIEW**
Aku sungguh tak menyangka, bisa bertemu dengan gadis cantik kesayanganku, dia adalah Vania, mantan tunangan putraku. Aku dan suamiku sangat menyayanginya. Kami menganggapnya seperti putri kami sendiri.
Sebenarnya hubungan putraku, Gio dengan Vania baik-baik saja, hanya saja karena kecerobohan putraku, dia telah diperdaya oleh seorang wanita yang mengakibatkan kandasnya hubungan putraku itu dengan kekasihnya.
Tapi sudahlah, wanita perusak itu sekarang sudah tiada, jadi nggak ada gunanya juga ngomongin dia.
Aku mau memaafkan dia, sebab di saat menjelang kematiannya, wanita itu mau menceritakan dengan jujur apa yang sebenarnya telah dia perbuat pada hubungan anakku dengan kekasihnya.
Ternyata anakku tidak melakukan kesalahan apa pun. Semua yang dia katakan lima tahun lalu itu adalah kebohongan besar.
Pada waktu itu, setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya, anakku berusaha mencari kekasihnya, tapi dia tidak berhasil menemukan di mana Vania. Sampai-sampai anakku mengalami depresi.
Beberapa waktu yang lalu, cucuku berulang tahun, dia akan mengundang seseorang yang disebutnya tante mommy. Kami semua penasaran ingin bertemu dengan tante mommy tersebut.
Pada hari ulang tahun Nia, cucuku itu, kami sekeluarga mendapat kejutan yang sangat membahagiakan. Ternyata yang dipanggil tante mommy oleh cucuku itu adalah orang yang kami rindukan selama ini, dia adalah Vania, mantan tunangan putraku.
Meski lima tahun telah berlalu, sejak putusnya pertunangan mereka, tapi aku tau kalau anakku masih memendam rasa untuk Vania. Cintanya yang besar tidak pernah sirna. Anakku tidak bisa pindah ke lain hati. Dia masih mengharapkan bisa menjalin kasih kembali dengan mantan tunangannya itu.
Sebagai mama, aku tidak bisa diam saja, aku harus membantu anakku menggapai harapannya. Aku akan membantu putraku sesuai porsiku sebagai orang tuanya.
Aku sudah mendapatkan nomer telpon maminya Vania, aku sudah menghubunginya, aku berencana untuk menemui kedua orang tua Vania.
Tujuanku adalah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi lima tahun lalu itu. Aku nggak mau orang tua Vania mempunyai pemikiran yang jelek terhadap anakku. Mengingat saat hubungan mereka berakhir, papi Vania sangat marah pada anakku.
Sore ini aku dan suamiku sudah tiba di Mini Cafe, untuk menemui papi dan maminya Vania. Saat aku menelpon dan mengajak bertemu, respon maminya Vania cukup baik.
Begitu kami masuk, kulihat maminya Vania berjalan menghampiriku...
"Selamat sore, bu Ricky, apa kabar? Sudah lama nggak ketemu", aku menyapa duluan sambil cipika cipiki.
"Kabarnya baik, bu. Terimakasih mau berkunjung. Mari silahkan duduk"
Papanya Gio juga bersalaman dengan maminya Vania.
__ADS_1
"Pak Ricky ke mana, bu", tanya papanya Gio.
"Masih terima telpon, sebentar lagi ke sini, kok", jawab maminya Vania.
Benar saja tak lama kemudian pak Ricky sudah bergabung di meja kami.
"Selamat sore, maaf saya tadi masih terima telpon", kata pak Ricky sambil bersalaman denganku dan dengan suamiku.
Bersamaan dengan itu makanan dan minuman dihidangkan.
"Waduh nggak usah repot pak, bu", kata papa Gio.
"Nggak repot, kok. Mari silahkan dicicipi makanan dan minumannya", mami Vania mempersilahkan.
Kami menikmati hidangan sambil saling bertukar cerita dan sesekali bercanda. Setelah suasana cair, aku memulai pembicaraan.
"Pak, bu, maaf sebelumnya, sebenarnya selain ingin silaturahmi, kedatangan kami ini juga untuk meluruskan masalah yang terjadi pada anak-anak kita lima tahun yang lalu", aku mulai masuk pada inti dari tujuan kedatangan kami.
"Bu, maaf juga.....sebaiknya kita tidak perlu menengok masa lalu.", sahut maminya Vania.
Ya, saat Putri minta untuk bertemu kami pada waktu itu, papanya Gio sengaja menyuruh orang untuk memasang alat yang bisa merekam gambar maupun suara yang terjadi di ruang vip yang kami sewa waktu itu. Rekaman itu yang akan kami tunjukkan pada orang tua Vania.
"Baiklah kami bersedia melihat videonya", jawab pak Ricky.
Lega hatiku mendengar jawaban dari pak Ricky. Kuambil tablet dari dalam tasku, kuputar rekaman video Putri yang membuat pengakuan. Aku bisa melihat kilat amarah di mata kedua orangtua Vania.
"Kurang ajar!! Wanita ini sudah meluluh lantakan hati anak saya! Dia membuat anak saya merasakan luka untuk waktu yang lama", geram papi Ricky setelah melihat rekaman itu.
"Perempuan itu jahat sekali hatinya! Pintar sekali dia mengatur tipu muslihat! " komentar maminya Vania
"Anak kami pun menderita. Setelah mengetahui kebenaran ini, Gio berusaha mencari Vania, dia ke rumah bapak, tapi rumah itu kosong, Dia mencoba bertanya pada sahabat Vania yang di Jogja tapi mereka tidak mau membagi info tentang Vania. Saat itu ponsel Gio hilang, catatan nomer handphone kalian semua ada di situ, sehingga dia tidak bisa menghubungi kalian. Gio sempat frustasi dan stress bahkan sampai depresi selama berbulan-bulan. Untungnya setelah enam bulan berobat, Gio bisa sembuh." Aku menceritakan apa yang dialami Gio pada orang tua Vania.
"Tidak terasa lima tahun sudah berlalu.... Tapi sampai saat ini putra kami, Gio masih sendiri, dia masih memendam rasa pada Vania. Apa bapak dan ibu mengijinkan kalau Gio mendekati Vania lagi,? ", tanyaku
"Karena kami sudah tau kebenaran cerita lima tahun silam itu.... Pada dasarnya kami tidak mempermasalahkan hubungan mereka, tapi semua keputusan ada di tangan Vania," jelas papi Ricky.
__ADS_1
"Apa bapak, ibu atau Gio sudah bertemu Vania? " tanya mami Vania.
"Sudah bu, belum lama ini. Vania juga sudah tau kebenaran dari persoalan itu, Gio sendiri yang menceritakan pada Vania. Saya bisa dapat nomer telpon ibu juga dari Vania.", tuturku.
"O begitu rupamya.... Tapi Vania belum cerita pada kami", sahut papi Ricky.
"Papi kayak nggak tau Vania aja! Anak itu kan pemalu, pi....jadi dia pasti memendam ini dan nggak akan cerita kalau kita nggak tanya", kata mami Vania.
"Maaf kalau kami lancang, kalau boleh tau apa Vania sudah mempunyai kekasih? ", tanya papa Gio.
"Setau kami Vania masih sendiri", sahut papi
"Tapi beberapa waktu lalu Vania pernah cerita tentang kekasih chat. Jadi mereka pacaran tapi cuma via chat aja, tanpa tau orangnya, nggak pernah telponan juga nggak pernah video call.", cerita mami Vania.
"Begitu rupanya... Pak, bu, kalau boleh usul sebaiknya pertemuan kita ini jangan diceritakan pada Vania. Biarkan hubungan mereka mengalir. Kalau memang jodohnya, pasti mereka bersama lagi", usulku.
"Iya, saya setuju, bu. Yang penting kita merestui hubungan mereka, masalah jadi atau nggak itu tergantung pada jodoh, usaha dan perasaan mereka", sahut mami Vania.
Akhirnya setelah cukup lama ngobrol, kami pun pamit pulang dengan lega. Misi yang kami emban sudah tersampaikan.
Selamat berjuang, nak... Semoga kamu bisa memenangkan hati Vania kembali....
*************************
🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬
Hai readers....
Di episode ini para orang tua sudah bertemu. Sudah merestui. Kalian merestui nggak?
Kalau episode ini cepet direview, malam ini author akan up satu episode lagi. Setuju nggak?
Ok, seperti biasa jangan lupa vote, like dan komen, ya.... Buat yang sudah vote author ucapkan terimakasih banyak.
Salam... 🙋😊😘😀😇😍😜🙋
__ADS_1
*************************