
Hari Minggunya, setelah sarapan kami mulai siap-siap, barang-barang kami masukkan mobil. Rencananya kami akan berangkat dari rumah papi jam 09.00, mau mampir ke makam papa mama, setelah itu balik Jogja.
"Apa nggak bisa ambil cuti untuk besok, sayang? Mami masih kangen", tanya mami
"Vania juga masih pengen tinggal, mi tapi mau gimana lagi...jatah cuti Vania udah habis, mi".
"Kamu minta dipindah ke kantor Surabaya aja , nak... ", pinta mami
"Nggak bisa semau Vania mi...seandainya Vania mengajukan juga belum tentu di acc, tergantung keputusan dari perusahaan".
"Sudahlah, mi! Kalo mami kangen kan kita bisa ke Jogja untuk ketemu Vania. Surabaya Jogja sekarang kan jadi deket mi sejak ada jalan tolnya. Lagipula kalo Vania beneran pindah ke Surabaya...kasihan mantu kita, mi...", sahut papi sambil menatap Gio.
Gio tertawa kecil menanggapi omongan papi.
"Ya udah, tapi janji sama mami ya...kalian harus sering-sering pulang ke Surabaya".
"Iya, mi....", jawabku.
"Kamu di Jogja sudah sepuluh bulan tapi baru pulang dua kali ini. Pokoknya setelah ini kamu harus pulang minim empat kali dalam setahun, kalo nggak ....mami bakalan marah sama kamu", ancam mami dengan wajah cemberut
"Tenang aja, mi... setelah ini Vania pasti akan sering pulag, nanti Gio yang anter", kata Gio berusaha menenangkan mami.
"Ingat janji kalian, ya....! Mami nggak cuma mau dijanjiin aja, mami mau buktinya !"
"Siap, mi.... ", sahutku dan Gio barengan.
"Eh.... anak mantu kita kompakan, mi... ", canda papi sambil ketawa, lumayan untuk mengubah suasana....
"Cie.. cie.... ", mami ikutan ngeledek dan ketawa juga.
"Papi sama mami mulai deh..... ", aku merajuk, pura-pura kesel
"Itu artinya kita memang udah jodoh, pi, mi... makanya kita jawabnya bisa kompak ", sahut Gio
"Hahaha.... ..udah berani jawab nih mantu, pi.......", celetuk mami, yang disambut tawaku papi dan juga Gio.
Setelah semua beres, tiba saatnya untuk pamit...
__ADS_1
"Pi, mi, saya pamit. Terimakasih sudah menerima saya dan mengijinkan saya untuk melamar Vania", pamit Gio dengan sopan.
"Sama-sama, nak. Titip Vania selama di Jogja, ya.... Tolong jaga dia, Vania milik kami yang paling berharga", pesan papi pada Gio.
"Baik, pi", kata papi sambil menepuk-nepuk pundak Gio.
"Gio pamit ya, mi.. ", Gio menghampiri mami, lalu mami memeluk Gio.
"Sayangi dan cintai Vania sepenuh hati dan jangan pernah sakiti Vania, Gio...cuma itu pesan mami, nak ".
"Iya, mi", jawab Gio
Aku berpelukan sama papi mami "Vania balik pi, mi, dua minggu lagi Vania pulang. Papi sama mami jaga kesehatan, jangan sampe kecapean".
"Iya, nak. Selamat jalan.... Hati-hati ! Gio jangan ngebut ya... kalau ngantuk, berhenti dulu, jangan maksa jalan !", pesan papi.
"Iya, pi", Gio mengangguk paham
" Bye pi... Bye mi.... I love you... ", teriakku sambil melambai
" Bye sayang... We love you too...", mereka pun balas melambai.
Di makam aku bersimpuh di depan nisan orangtuaku, lalu berkata, "Pa, ma, ini Gio pacar Vania".
"Om, tante kenalkan nama saya Gio, saya pacar Vania, saya serius sama anak om dan tante.. Saya ke sini untuk minta ijin mau melamar Vania., saya mohon restu dari om dan tante."
Aku pun berbicara pada orangtuaku, "Pa, ma, Vania di sini bersama Gio, pria yang Vania cintai dan dua minggu lagi Gio akan melamar Vania lalu 6 bulan sesudahnya kami akan menikah. Vania mohon restu dari papa dan mama ". Aku cium nisan kedua orang tuaku, meneteslah airmata yang sudah kutahan dari tadi.
Gio memelukku erat, mengusap airmataku dan mengelus kepalaku. Aku berusaha menahan agar tidak menangis.
"Sudah jangan nangis, yang...kita kan berbagi kabar gembira jadi nggak boleh nangis...", bisik Gio sambil menghapus airmataku.
Selesai doa dan menabur bunga, kami pun pamit pada orangtuaku.
"Vania pamit ma, pa... Vania mau balik ke Jogja. I love you pa... I love you ma.... Bye .."
Dari makam kami langsung balik ke Jogja. Di mobil aku ambil ponselku, aku buka galery aku scroll ke bawah untuk melihat foto- foto lamaku. Setelah dari makam aku jadi makin kangen, pengen ngeliat wajah papa mama.
__ADS_1
Ada foto papa mama yang lagi pelukan dan saling menatap dengan latar belakang pantai, itu foto pas kita liburan ke Bali, aku yang motret. Mereka tampak serasi dan mesra. Melihat kemesraan mereka, membuatku tersenyum. Foto ini sedikit mengobati rssa kamgenku pada mama dan papa.
" Ngeliat apa yang? Kok senyum-senyum sendiri? " tanya Gio
"Nih ngeliat foto papa sama mamaku", jawabku sambil menunjukkan foto orangtuaku padanya.
Kebetulan kita lagi di setopan lampu merah, jadi Gio bisa ikut ngeliat foto itu. "Pasangan yang sangat serasi... mereka sangat mesra dan tatapan mereka sarat dengan cinta".
"Semoga kita juga bisa seperti mereka. ya, yang.....", kataku
"Amin.... ", sahut Gio sambil mengelus tanganku. "Harus itu, yang... bahkan kalo bisa kita harus lebih dari itu, ya.... "
"Amin... ", sahutku.
"Yang kalo aku liat dari foto-foto papa mama, kamu itu banyak miripnya ke mama kamu, ya....cuma mata dan hidung kamu aja yang seperti papa"
"Mirip papa atau mama nggak masalah buatku soalnya mereka kan cakep-cakep, jadi nggak heran kalo hasilnya secantik aku... ", jawabku narsis
"Ih... bikin gemes kalo narsisnya udah kumat", komen Gio sambil mencubit hidungku.
"Kan kamu yang sering bilang aku cantik...., tapi memang sih kalo pas bercermin tuh aku selalu ngeliat ada cewek cakep di kaca....", candaku
"Hahaha.... pacar aku narsisnya tingkat dewa...', sahut Gio sambil mengacak-acak poniku.
*********
Terimakasih sudah baca novel aku yang berjudul RASA ITU ADA.....🙏🙏🙏
Semoga kalian suka., ya... ❤❤❤
Jangan lupa ikuti terus kelanjutan
ceritanya....😄😊😍
Aku selalu menunggu komen dan like
kalian 👍👍👍
__ADS_1
Salam.... 🙋
**********