RASA ITU ADA

RASA ITU ADA
EPISODE 94 ZEVINO JASSON BAGASKARA


__ADS_3

EPISODE 94


ZEVINO JASSON BAGASKARA


Hari ini adalah hari pertunangan kak Rey sama kak Diana. Kami dari pihak keluarga memakai gaun berwarna gold untuk yang cewek, cowoknya semua pakai jas warna hitam.


Undangan nya jam 18.00, tapi papi sama mami jam 17.00 sudah berangkat duluan, karena mereka bertugas menerima tamu, jadi diminta datang lebih awal. Aku akan berangkat bareng Gio, mami memintaku untuk tidak datang terlambat, aku pun mengiyakan.


Nanti Jam 17.30 Gio akan jemput aku. Sekarang masih 17.20.


Tadi aku sama mami ke salon untuk make up dan menata rambut. Aku minta make up yang natural dan tidak mencolok. Rambutku pun cukup simple, dibuatkan kepang di bagian atas kepala, menyerupai bando, dihiasi dengan mutiara kecil-kecil, sedangkan rambutku tetap tergerai, bagian ujungnya dibuat curly.


Untuk gaun, aku memakai dress selutut, berlengan pendek, dari bahan brokat yang dipadu kain sifon, model bagian bawah dressku sedikit lebar. Gaun yang cantik, simple tapi nampak elegan. Aku suka pakai gaun ini.


Aku mematut diri di cermin setelah memakai gaun pesta dan sepatu serta membawa dompet kecil di tangan. Secara keseluruhan penampilanku tampak sederhana, tapi cantik dan enak dilihat. Dandanan seperti ini memang yang aku suka, tidak mencolok.


Terdengar suara mobil datang, aku segera berjalan ke depan, karena aku yakin itu pasti Gio yang datang menjemputku.


Begitu pintu ruang tamu aku buka, nampak Gio sudah berdiri di hadapanku dengan memakai jas hitam yang membuatnya semakin gagah dan tampan.


Sesaat aku terpana melihat penampilan Gio yang sangat menawan.


"Hei....kenapa ngeliatin aku kayak gitu? Baru sadar ya kalo calon suami kamu ini gantengnya maksimal?", kata Gio sambil menjentikan jempol dan jari tengahnya dekat dengan wajahku.


Segera kutepis tangan Gio. "Apaan sih?! Baru diliatin juga sudah kepedean!"


"Kan aku memang ganteng... Kalo nggak masak kamu terpesona gitu ngeliat aku... ", kata Gio sambil nyengir.


"Dasar mr. sok ganteng... " gumamku.


"Nggak usah ngedumel ! Ayo jawab jujur, aku ganteng gak?"


"Iya, kamu ganteng."


Itu jawaban jujur sebenernya, tapi karena gengsi nada suara yang aku pakai seperti orang yang terpaksa.


"Haha... Ngomong gantengnya nggak iklas. Tapi nggak apa deh, yang penting sudah mau bilang aku ganteng," kata Gio sambil tersenyum.


"Ayo kita berangkat", ajakku.


"Tunggu", kata Gio sambil mendekati aku dan bersiap untuk menciumku.


"Eh.. Eh.. Mau apa coba? No cium-cium, ya!! Nanti make up aku luntur! ", kataku sambil melangkah mundur.


"Ya ampun sayang..., cium dikit aja ! Aku jamin nggak bakal ngerusak make up kamu," bujuk Gio.


"Pokoknya nggak boleh !", tegasku


"Ya udah cipika cipiki aja boleh, ya?! "


Aku pun mengangguk. Tapi dasar Gio, setelah cipika cipiki langsung aja curi kesempatan cium pipi aku. Langsung aku cubit pinggang Gio.


"Tadi bilangnya apa?! Dasar modus! Bisa-bisanya curi kesempatan! ", omelku


"Haha... Habisnya kamu cantik banget, imut lagi, bikin aku gemes. Kan kata Nia, kalo gemes... cium aja!"


Aku pun tersenyum, mengingat omongan Nia waktu itu.


"Ayo kita berangkat, yang... Biar nggak telat nanti", ajak Gio sambil menggandengku.


Perjalanan dari rumahku ke tempat acara cuma perlu waktu limabelas menit aja.


Sesampai di parkiran tempat acara Gio memintaku untuk tidak turun dulu.


"Ada apa? ", tanyaku bingung.


"Ingat ya.. , nanti selama acara, kamu harus selalu bareng aku, nggak boleh nyapa sana sini sendiri, ke mana pun kamu pergi, harus sama aku. No tebar pesona, ya..! Ingat sudah punya tunangan ganteng !"


"Ih..apaan sih!! Kamu tuh yang sok ganteng, yang suka tebar pesona. Kalau aku nggak usah pake tebar-tebar juga sudah banyak tuh yang terpesona sama aku. Tapi sayangnya aku justru terpesonanya sama tunangan aku yang sok ganteng ini!! " Kutangkup rahang Gio dengan kedua tanganku dan kukecup pipinya.


"Wah... sudah tambah pinter ngerayu sekarang, ya... Aku seneng dapet booster kayak gini, bikin aku semangat. Jangan turun dulu love, tungguin aku buka pintu buat kamu." Gio segera keluar dari mobil dan membukakan pintu untukku, diulurkannya tangannya padaku, dan langsung kusambut.


"Silahkan my princess... ", kata Gio sambil tersenyum manis.


"Thank you my prince!! " sahutku "Haha... sudah yuk buruan masuk", aku tertawa kecil, kulingkarkan tanganku di lengan Gio.


"Ingat ya... gandeng aku seperti ini terus sampai akhir acara. Janji ya... ", Gio mengulangi permintaannya.


"Pegel dong.... ", protesku.


Mendengar jawabanku, Gio menatapku tajam. Maka aku langsung meralat jawabanku


"Ya," sahutku sambil mengangguk.


Saat kami datang, suasana masi agak sepi, masih belum banyak tamu undangan yang datang.


Kami pun masuk ke dalam gedung. Aku salami orang tua kak Rey dan kak Diana. Papi mami juga ada di sana.


"Mi, kak Rey di mana?" Aku mencari tahu keberadaan kak Rey pada mami.


"Kenapa? Mau gangguin kakak kamu?" canda mami

__ADS_1


"Di sini kan masih sepi, mi... Mending Vania temui kak Rey biar bisa ngomong banyak, nanti kalau sudah di stage nggak bisa lagi, soalnya kan pasti banyak yang antri untuk mengucapkan selamat", kataku.


"Di ujung lorong sebelah kanan ada ruangan, kakakmu diumpetin di sana sama orangnya wedding organizer.". Mami menunjukan arah dimana kak Rey berada.


"Thank you, mi. Vania mau ke sana sekarang."


"Mau ke mana, yang?" tanya Gio


"Sayang, kita samperi kak Rey, yuk... ", ajakku


"Boleh", sahut Gio.


Kami pun menuju ruangan tempat kak Rey disembunyikan.


Aku mengetuk pintu, lalu terdengar suara menyuruhku masuk.


"Halo sayangku.... ", sapa kak Rey begitu melihatku masuk.


Aku segera menghampiri


kak Rey dan kak Diana. "Selamat ya kakak-kakakku yang tersayang, semoga kalian selalu rukun dan happy terus sampai tua". Aku memeluk dan memberikan ciuman pada mereka berdua.


Kak Rey terkejut saat melihat Gio, lalu bertanya dengan bingung," Lo kok bisa ikut ke sini, bro?"


Gio yang berada di belakangku, tersenyum, lalu maju untuk bersalaman dengan kak Rey dan kak Diana. "Selamat buat kalian berdua, semoga langgeng, ya."


"Thank you.. Thank you buat doa-doa kalian", sahut kak Diana.


"Eh, tunggu tunggu... Lo belum jawab pertanyaan gue, bro...Kok kalian bisa masuk sini barengan? Pake gandengan juga tadi. Sejak kapan kalian kenal?". Kak Rey bertanya pada aku dan Gio dengan tatapan penuh selidik.


"Lo belum tau, bro?" Gio bertanya balik.


"Gue nanya ya karena gue nggak tau, dodol ! Kalo gue tau, ngapain gue nanya! Gimana sih bapak direktur ini...?!" Kak Rey menggerutu.


"Hahaha... gitu aja sewot!!" sahutku.


"Kamu juga, dek...ayo jawab kakak, ada apa antara kamu sama bos GAB ini?" Sekarang kak Rey mengalihkan tatapannya padaku.


"Gio ini cowok aku, kak", jawabku.


"Apa? Aku cuma kamu akui sebagai cowok kamu, yang?" protes Gio.


"Memang ada yang salah?" tanyaku.


"Jelas salah! Yang bener kamu itu harusnya ngenalin aku sebagai tunangan atau calon suami kamu", Gio mengungkapkan alasannya protes.


"Hah? Kalian sudah tunangan? Sudah mau nikah? Sayang, kok kakak nggak dikasih tau sih? Apa kak Rey sudah nggak dianggap kakak, ya?" Kak Rey kembali protes.


"Wah... kalian berdua ini mengacaukan rencana perjodohan pesta topengku", omel kak Rey.


"Kalian kan sudah tunangan nih, masih mau ikutan pesta topeng nggak?", tanya kak Rey.


"Nggak! " Aku dan Gio barengan menolak tawaran dari kak Rey.


"Babe, ini Gio nggak ikutan, terus temen kamu yang mau kita jodohin sama Gio gimana? Kita pasangkan aja sama yang mau kita deketin sama Vania, ya?"


Kak Rey minta pendapat kak Diana.


"Boleh aja, sih... Dari pada nggak ada pasangannya. Tapi calon pasangannya Vania pasti kecewa berat. Tapi sudahlah! Apa mau dikata kalau bukan jodohnya ya nggak bakal jadian!!". Kata kak Diana.


"Bro, kenapa bukan gua yang lo jodohin sama adik lo? Secara lo kan kenal sama gue, kita juga sering ada project bareng, bahkan bisa dibilang kita temen deket...Apa menurut lo gua nggak pantes buat adik lo?" Gio menanyakan alasan kak Rey yang tidak menjodohkan kita.


"Hoey... Santai bro! Nggak perlu ngegas kali.... Gue nggak ngejodohin lo sama adik gue, soalnya ini ada yang request minta dijodohin sama Vania. Lo kan nggak ada request ke gue, jadi gue jodohin lo sama temennya Diana." Kak Rey memberi penjelasan yang masuk akal pada Gio.


"Memang siapa kak yang mau kakak jodohin sama aku?" Kata-kata itu langsung keluar dari mulutku, tapi setelah terucap aku baru sadar kalo apa yang aku katakan ini akan memancing emosi Gio.


"Ada deh...! Kepo juga lo!" Sahut kak Rey ringan..


Bener aja, Gio menatapku tajam dan dengan pandangan yang tidak suka Gio bertanya dengan sedikit ketus, " Kenapa pake nanya, yang? Mau tebar pesona?"


"Ih...apaan sih? I just want to know. That's all! "


"Awas ya sampe macem-macem! Inget sama ini!! ", kata Gio sambil mengangkat tanganku dan menunjuk pada cincin tunangan kita.


"Iya, sayang... Aku sadar kok kita sudah tunangan. Kan tadi aku juga nolak waktu kak Rey nawarin ikutan pesta topeng." Kataku sambil memeluk lengan Gio dan menepuk-nepuk punggung tangannya.


"Eh, lo bucin juga ya, bro", ledek kak Rey.


"Lo nggak tau aja perjuangan gua untuk dapetin dia. Enam tahun gua kenal dia, dan selama lima tahun ini gua kejar dia, tapi gua ditolak terus...makanya sekarang setelah dapet, ya nggak bakalan gua lepas." Kata Gio sambil tersenyum dan menatapku lembut.


"Lebay ah !! Nggak gitu juga ceritanya, kok," sahutku.


"Van, kamu tadi di depan nggak ketemu kak Jasson?" tanya kak Diana padaku.


"Nggak, kak. Tadi setelah kasih selamat sama orang tua kak Rey dan orang tua kakak, aku langsung ke sini," jawabku.


Ada orang wo mendekat, mau mengambil foto kak Rey dan kak Diana, maka aku memutuskan untuk keluar dari ruangan itu supaya nggak ganggu. "Ya udah kak, kita keluar dulu, ya.." pamitku.


"Duluan, ya... ", Gio mengangguk pada kak Rey dan kak Diana.


Saat kita sudah keluar dari ruangan kak Rey, Gio langsung bertanya padaku. "Jasson itu siapa, yang?"

__ADS_1


"Kak Jasson itu kakaknya kak Diana, sekaligus sahabatnya kak Rey," jelasku.


"Kalo dari cara Diana nanya, keliatannya hubungan kalian cukup dekat, ya? " tanya Gio lagi.


"Dulu itu kalo kak Rey jalan sama kak Diana, kak Jasson selalu disuruh ikut sama orangtuanya, untuk ngawasi mereka pacaran. Sebenernya kak Jasson nggak mau, tapi orangtuanya memaksa. Supaya kak Jasson nggak bengong sendiri, kak Rey ngajakin aku untuk nemeni kak Jasson. Aku sama kak Jasson biasanya duduk terpisah dari kak Rey dan kak Diana, kita main kartu, main uno, main game di ponsel dan banyak lagi, tapi kadang juga kalo sudah bosen main, kita cuma duduk-duduk aja sambil cerita dan bercanda."


"Apa kalian pacaran?" Gio melontarkan pertanyaan yang sudah dari tadi ingin diketahuinya.


"Hah? Pacaran? Ya nggaklah, yang ! Secara waktu itu aku masih kelas satu smp, masih belum ngerti cinta-cintaan dan juga aku jelas belum boleh pacaran. Waktu itu, kalau toh ada perasaan, cuma perasaan kagum secara kak Jasson itu sekolahnya pinter selalu jadi juara kelas, sering ikutan lomba olimpiade fisika sama matematika dan sering juara juga. Kalau ada pelajaran yang aku nggak bisa, pasti aku nyari kak Jasson. Dia orangnya baik banget, sabar dan suka bercanda."


"Kayaknya ada yang seneng nih bakal ketemuan sama mantan...", ledek Gio.


"Bukan mantan, tapi temen lama. Nanti aku kenalin kamu sama kak Jasson, ya.. "


"Nggak perlu ! Ngapain kenalan sama cowok... "


"O gitu...., kenalan sama cowok nggak mau, tapi kalo kenalan sama cewek langsung nyosor?"


Aku sudah memasang mode nggak enak hati.


"Bercanda, yang... Aku tuh cuma bercanda. Jangan marah, dong ! Sensi amat sih?!"


"Nggak ! aku nggak marah. Cuma nanti kalau aku kenalan sama cowok, kamu nggak boleh protes!"


"Nggak ada ya acara kenal-kenalan segala !" protes Gio.


"Haha... Makanya jangan cari gara-gara kalau nggak siap terima akibatnya," ledekku sambil ketawa.


"Kamu ini... " Gio tersenyum dan mengelus pipiku.


Para undangan sudah ramai memenuhi ruangan. Kak Rey dan kak Diana juga sudah di atas stage.


"Sayang, aku mau ke toilet sebentar, ya," pamitku pada Gio.


"Aku temani, aku juga mau ke toilet", sahut Gio.


"Kalau sudah selesai duluan tunggu di depan lorong toilet aja, yang. Biar aku nggak susah nyari kamu," pesan Gio.


"Ya", jawabku sambil melangkah masuk ke toilet wanita.


Kami pun berpisah, aku belok ke kanan, Gio belok ke kiri.


Setelah selesai, aku keluar dari toilet, menuju depan lorong, tempat aku dan Gio janji bertemu. Gio belum ada, berarti aku selesai duluan.


Sambil menunggu Gio, aku pun mengambil ponselku. Kuperiksa pesan yang masuk, mungkin ada chat yang penting, yang perlu cepat dibalas.


Saat aku asik membaca chat di ponselku, ada yang menepuk pundakku. Aku pun segera menoleh, ternyata kak Jasson.


"Halo pacar kecilku... ", sapa kak Jasson sambil menjabat tanganku dan cipika cipiki.


"Hallo juga, kak... Kok dari tadi aku nggak ngeliat kakak?"


"Gimana kamu mau ngeliat aku? orang dari tadi kamu asik berduaan melulu", ledek kak Jasson.


"Berarti kakak ngeliat aku dong dari tadi? Sombongnya... udah ngeliat gitu, tapi nggak mau nyanperin, nggak nyapa lagi...". Aku sedikit kesal, kukerucutkan bibirku.


"Ih... lucu banget kalo kesel... Haha", kata kak Jasdon sambil mejentik pipiku pelan. "Nggak usah ngambek dulu, dengerin alasannya.... Aku itu bukan nggak mau nyapa kamu cantik.. , tapi aku nggak enak ganggu kalian"


"Alasan....."


"Beneran", sahut kak Jasson


"Ehm ehm", suara batuk Gio menyadarkan aku akan keberadaan Gio. Sejak kapan ya Gio di sini? Sepertinya barusan aja sih....


"Kak Jasson kenalin, ini Gio tunangan aku. Sayang, ini kak Jasson, sahabatnya kak Rey yang juga kakaknya kak Diana."


Aku memperkenalkan Gio pada kak Jasson. Setelah bersalaman dan saling menyapa sebentar, kak Jasson pamit ke toilet. Aku dan Gio kembali ke tempat acara.


Pembawa acara memberitahukan ada beberapa nama teman atau keluarga dari kak Rey dan kak Diana yang akan menyumbangkan lagu.


"Baiklah para hadirin, saat ini kami akan kembali memanggil sahabat dari calon pengantin untuk menyumbangkan lagu. Ini dia kami panggilkan Mr Zevino Jasson Bagaskara.... "


Zevino Jasson?! Aku nggak pernah tau kalau kak Jasson punya nama depan, apapagi nama depannya Zevino. Zevino?? Vino?? Oh my God... kenyataan ini mengejutkan aku. Apa bener kak Jasson itu Vino? Vino yang berusaha mendekatiku?


*********************************


🍻🍷🍻🍷🍻🍷🍻🍷🍻🍷🍻


Halo readers tersay....


Apa kabar hari ini? Semoga semua baik dan selalu sehat. Sori ya, kemaren author nggak up, soalnya author lagi sakit kepala.


Terimakasih ya buat readers yang sudah baik hati nolongin author untuk vote. Jangan bosen ya untuk selalu nambahin vote kalian banyak-banyak.


All readers, please beri dukungan untuk author, ya... baik berupa vote, like mau pun komen. Dukungan kalian membuat author lebih semangat untuk menulis.


Oke, see you in next episode


best regards 🌹🙏😘😇😍🙋🌹


🍻🍷🍻🍷🍻🍷🍻🍷🍻🍷🍻

__ADS_1


*********************************


__ADS_2