
Keluar dari taman sudah jam 17.10. Jalanan agak macet. Kami sampai di resto ikan bakar sudah jam 18.15.
Nia duduk di sebelah kiriku, otomatis aku yang membantu Nia memilah daging ikan, supaya bersih dari durinya. Tangan terlanjur kotor, aku makan pakai tangan, nggak pakai sendok.
"Yang, tolong pilahin ikannya buat aku juga", bisik Gio meminta tolong.
Aku ingat, waktu di Jogja dulu, Gio pernah makan ikan nggak teliti milah duri ikannya, akhirnya sampai tersedak dan muntah. Terus tenggorokannya sakit buat nelan makanan sampai dua hari. Mengingat itu, aku langsung membantu memilah daging ikan untuk Gio.
Jadinya aku milah daging ikan untukku sendiri dan untuk dua baby ku.
"Makasih sayang.... ", bisik Gio di telingaku.
Selesai makan, kami kembali ke vila. Nia langsung aku mandikan dengan air hangat, aku pakaikan piyama, dan langsung kusuruh istirahat di tempat tidur. Soalnya tadi kan Nia nggak tidur siang. Aku nggak mau Nia sampek kecapekan terus sakit.
Jam delapan kurang, aku baru selesai mandi, kulihat Nia sudah tertidur nyenyak.
Setelah menyisir rambut dan merapikan diri, aku ikutan Nia berbaring di tempat tidur sambil nonton tv. Kumatikan lampu besar, kuganti dengan lampu tidur.
"Ceklek", suara pintu dikuka. Pintu kamar memang nggak aku kunci. Kulihat Gita melangkah masuk.
Kutaruh telunjuk di bibirku, pertanda jangan ribut, soalnya Nia sudah tidur. Gita tampak mengerti dia menganggukkan kepalanya.
"Kak, ayo kumpul di luar ! Jangan tidur dulu", ajak Gita.
"Mau ngapain? " tanyaku sambil berbisik
"Sudah ikut aja! ", bisik Gita sambil menarik tanganku.
Gita menarikku sampai di ruang tengah, tempat kita karaoke pagi tadi. Di sana sudah ada Gio dan Sean.
"Mau ngapain sih? Pake tarik-tarik segala ! " omelku kesel.
"Kita kan lagi liburan, masak jam segini sudah mau tidur sih?" kata Gita.
"Terus mau ngapain di sini?" tanyaku
"Kita bisa main, bertukar cerita atau apa gitu.... ", kata Gita.
"Sudah nggak usah repot-repot ! Kamu pacaran aja sana sama Sean. Di tempat dengan suasana yang seperti ini, cocok buat orang yang lagi kasmaran kayak kalian", kataku sambil berdiri dan siap untuk kembali ke kamarku.
"Eh, eh... Mau ke mana?" tanya Gita sambil menarik tanganku lagi.
"Balik kamar, ogah aku ngeliat orang pacaran," sahutku.
"Siapa yang mau pacaran? Aku kan pengen kita kumpul-kumpul", kata Gita.
"Kita ke halaman belakang aja, bakar jagung", ajak Gio untuk menengahi keributanku dan Gita.
"Boleh juga tuh", sahut Sean.
"Aku juga mau jagung bakar", kata Gita semangat.
Akhirnya kami berempat sepakat untuk bakar jagung di halaman belakang. Aku yang membuat bahan olesannya, Gio yang menyiapkan arang dan menyalakan baranya, sedangkan Gita yang mengupas kulit jagungnya. Nanti sean yang bakar.
Jagung-jagung sudah diolesi bumbu, saatnya bakar jagung sekarang.
Denger kita ribut-ribut, bibik dan pak Min ikutan kumpul dengan kami. Akhirnya bibik dan pak Mun yang bantuin bakar jagungnya.
Karena nggak ikut membakar jagung, kita sepakat kembali ke ruang tengah. Kita semua duduk di atas karpet. Gita duduk menyandar pada Sean yang duduk di belakangnya. Gio duduk sambil memangku gitar.
Tadi aku ke toilet dulu sebelum menyusul ke ruang tengah. Aku pengen duduk di pojok, tapi saat melewati Gio, dia menarik tanganku sambil berkata, "kamu duduk di sebelahku aja, yang".
Aku lagi malas berdebat, jadi aku langsung duduk di samping Gio.
"Mau dinyanyiin lagu apa, yang?" tanya Gio padaku.
"Sesuka kamu aja", kataku.
"Oke, dengerin ya, aku nyanyiin sebuah lagu kusus buat kamu", kata Gio sambil menatapku dalam dan mulai memainkan gitarnya.
Dari intronya aku sudah tau lagu yang akan dinyanyikan. Beautiful Girl, lagu yang dinyanyikan Gio saat ini.
Ini lagu kenangan kita, lagu saat Gio nembak aku di cafe waktu itu. Selama nyanyi tatatapan mata Gio tidak lepas dariku. Aku pun tanpa sadar terus membalas tatapan itu.
Menatap wajah Gio dari jarak dekat dan secara intens seperti ini, membuat rasa yang ada di dada yang kutahan selama ini mulai memberontak dan bergejolak. Jantungku berdetak makin kencang.
Pikiranku melayang, teringat setahun kebersaman kami, yang jauh dari keributan, jauh dari masalah. Hari-hari indah yang penuh cinta, susah senang bersama. Hingga sosok itu datang dan mengacaukan semuanya. Tanpa terasa airmataku mengalir.....
Aku kaget saat Gio mengusap airmataku, saat itulah aku baru menyadari kalau Gio sudah selesai bernyanyi.
"Kenapa nangis? Inget dulu? " tanya Gio lembut.
Aku memalingkan wajahku dari tatapannya dan segera mengeringkan airmataku, aku berlagak tidak ada apa-apa, karena aku nggak mau terlihat lemah.
"Kita main truth or dare aja yuk..", ajak Gita.
"Boleh", sahut Gio dan Sean.
Kami duduk berempat membuat lingkaran, Sean mengambil sebotol air mineral dan mulai memutar.
Mulut botol mengarah ke Gita, "Truth or dare? " tanya Sean
"Truth lah kan aku jujur", kata Gita dengan lagak songong.
"Pernah nggak dicium cowok selain aku? Kalo pernah siapa?" tanya Sean
__ADS_1
"Pernah", jawab Gita dengan mantap
Aku bisa melihat raut wajah Sean sedikit berubah. "Siapa? ", tanya Sean
"Papa sama kak Gio", jawab Gita
"Beneran ?", tanya Sean untuk meyakinkan. Sekarang ada kelegaan di raut wajah sean.
"Iya bener. Kan sebelum ini aku nggak pernah pacaran.... Kamu pacar pertama aku, dan aku berharap kamu juga yang terakhir buat aku", kata Gita sambil menatap Sean dengan mesra. Sean mencium pipi Gita.
"Hoiiii... Ada gue di sini.... ", teriak Gio.
'Sirik aja sih kak Gio ! Pengen? Buruan pacaran!! "
"Belum di acc sama dia" Gio menunjukku dengan dagunya.
"Mari silahkan non, tuan... Jagung bakarnya sudah siap", kata bibik yang tiba-tiba sudah terlihat berada di ruang tengah dengan membawa jagung bakar, lalu bibik meletakkannya di meja.
Di belakang bibik, ada pak Min yang membawa nampan berisi empat gelas besar minuman. "Ini minumannya non, tuan... Silahkan", kata pak Min.
"Makasih pak Min, bibik. Pak Min sama bibik bakar jagung juga ya... buat bibik sama pak Min", kataku.
"Iya non mommy, makasih", sahut bibik sambil masuk ke dalam lagi.
"Makasih non. Permisi, pak Min ke belakang dulu"
"Hahaha.... Aku dari tadi siang dengerin bibik manggil kamu, aku ngerasa geli, yang....Lucu banget, manggilnya non mommy", kata Gio sambil ngakak.
"Panggilan bibik ke aku itu ngikuti Nia. Dulu Nia manggil aku tante cantik, waktu itu bibik manggil aku non cantik. Setelah Nia mengubah panggilannya jadi tante mommy, bibik mulai manggil aku non mommy", jelasku.
"Iya si bibik ini lucu kalo manggil. Aku dipanggil non aunty, kak Gio dipanggil tuan daddy..... Hahaha... "
Kami pun tertawa bersama mengingat panggilan bibik untuk kami.
Kami berhenti main, menikmati jagung bakar dulu. Hm... yummy !! Aku makan dua jagung, lo. Aku memang pecinta jagung bakar berbumbu.... Makan jagung bakar, minumnya teh manis hangat....
Setelah pada selesai makan jagung bakar, kami melanjutkan permainan.
Ayo sekatang giliran aku yang muter," kata Gita.
Kali ini mulut botol mengarah ke Gio. "Truth or dare? " tanya Gita.
"Truth", sahut Gio
"Setelah lima tahun berpisah, gimana perasaan kakak ke kak Vania? ", tanya Gita
Gio menjawab sambil menatapku. "Dari dulu perasaanku nggak pernah berubah, bahkan rasa cintaku selalu bertambah setiap harinya. Banyak orang yang menganggap aku bodoh, karena aku nggak pernah bisa move on dari kamu, Van "
Duh.... Gio ini gimana sih? Masak saat dalam permainan malah ngomong kayak gini?? Bikin baper nih..... Tatapan mata itu bikin jantungku detaknya makin keras dan cepat.... Aku cuma diam terpaku, ada rasa malu yang bikin aku tersipu, tapi di balik semua itu sebenernya ada rasa rindu di hatiku untuk bersamamu....
"Semoga mereka segera nyusul kita, sweety.....", kata Sean.
Gita mengangguk pasti dan menjawab, "Amin".
"Ayo lanjut.... Sekarang kak Gio yang muter", kata Sean .
Gio mulai memutar, botol air mineral itu berputar kencang, agak lama baru berhenti mengarah ke Sean.
"Pilih apa? Truth or dare?" tanya Gio
"Truth", sahut Sean yakin.
"Adek aku Gita, pacar ke berapa kamu? Kalau bukan yang pertama, yang sebelum-sebelumnya dengan siapa dan kapan itu kejadiannya? "
"Sebelum dengan Gita, aku pernah sekali pacaran dengan Nina, saat kelas 11, cuma setahun doang. Gita, kamu memang bukan pacar pertama aku, tapi kamu akan menjadi wanita terakhir dalam hidupku, yang akan menjadi istriku". Sean mengatakan itu dengan mantap serta penuh keyakinan, tangannya menggenggam tangan Gita dan matanya menatap Gita penuh cinta. So sweet banget banget.... Aku yang menyaksikan itu ikutan melted....
"Sudah ya... Jangan bikin aku baper!! Dan jangan sampai ciuman di depan ku lagi !" Gio memperingati Gita dan Sean.
Yang mendapat peringatan malah ngakak....
"Makanya kak yang gencar nyerangnya! Pepet terus, kak... Supaya bisa kayak kita... ", kata Gita dengan gaya ketawanya yang tengil.
"Akan kakak laksanakan", Gio melirikku sambil nyengir.
"Aku lagi nih yang muter, kali ini botolnya harus menghadap ke kak Vania, karena cuma kak Vania yang belum dapat giliran", omongan Sean bikin aku makin deg deg-an.
Sean memutar botol dengan santai, membuat botol pun berhenti dengan tenang tepat di hadapanku.
"Siip! Babe, aku yang nanya kak Vania, ya..", Gita meminta untuk mengambil giliran nanya Sean.
"Boleh aja". Sean mengijinkan.
"Kak Vania pilih truth or dare? "
"Dare aja !!" jawabku
"Nggak asik ih! Semua pada truth, masak kak Vania pilih dare ! Memang kak Vania menyimpan kebohongan, ya? ", tanya Gita dengan gaya provokasinya.
Dan bodohnya aku, tanpa sadar aku termakan provokasi Gita, terpancing emosiku saat Gita mengatakan aku menyimpan kebohongan. Maka aku langsung dengan lantang berkata," Oke, aku tunjukin kalau aku nggak menyimpan kebohongan, aku pilih truth".
Saat itu juga aku melihat Gita tersenyum menang dan saat itulah aku sadar, aku telah masuk ke dalam perangkap Gita.
"Oke, dengerin pertanyaanku ya, kak.... ehem ehem....."
Ini anak nyebelin banget sih! Pake batuk-batuk segala, bikin aku makin nggak nyaman. Telapak tanganku mulai dingin.
__ADS_1
"Pertanyaannya.... Setelah lima tahun berpisah, dan setelah kakak tau kebenarannya, bagaimana perasaan kakak terhadap kak Gio atau apa yang kak Vania rasakan saat bersama kak Gio seperti sekarang? ", Gita sudah menembakan pertanyaan.
"Kok nanyanya banyak? " protesku.
"Nggak banyak! Tadi yang lain juga gitu nanyanya. Iya kan?" Gita mencari dukungan.
Dan Sean maupun Gio adalah pendukung setia Gita untuk saat ini. Mereka langsung mengangguk dan menyetujui omongan Gita.
"Iya, tadi kak Gio juga banyak nanyanya ke aku dan aku jawab semuanya", kata Sean bersemangat.
Hegh... kutarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan.
"Bagaimana perasaanku setelah tau kebenarannya? Jawabanku adalah lega. Lega karena saat itu aku tidak mencintai orang yang salah, dalam arti kita berpisah bukan karena dia menghianati cinta kita. Setelah lama berpisah dan bertemu lagi, aku merasa kaget, aku nggak nyangka kita bisa bertemu kembali," aku menyudahi pengakuanku.
"Belum kelar, ada satu pertanyaan yang belum dijawab, bagaimana perasaan kakak saat bersama kak Gio seperti sekarang, setelah lima tahun berpisah? ", Gita mengingatkan aku akan pertanyaannya yang memang sengaja tadi tidak kujawab.
"Aku merasa nyaman." jawabku jujur.
"Cuma nyaman? Nggak ada rasa senang? Atau Deg deg-an? "
"Hei.... Aku nggak punya kewajiban menjawab pertanyaan tambahan, ya....! Pertanyaan awal kan sudah tuntas terjawab, jadi ya sudah selesai." Aku kembali protes.
"Oke, kak Vania ingat dengan taruhan kita? "
Aku mengangguk lemas. Ini anak mau apa, ya? Mau menggunakan hak menghukumnya?
"Bagus kalau masih inget, itu artinya kakak juga inget kan kalau kakak masih hutang dua hukuman? " tanya Gita memastikan
"Ya", jawabku pasrah.
"Aku pakai satu hukumanku sekarang...."
Mampus aku!! Apa yang aku kuatirkan terjadi....
"Kak Vania hanya harus menjawab pertanyaanku"
"Apa? "tanyaku
"Kak Gio coba duduk mepet di sebelah kak Vania", Gita menyuruh Gio menggeser duduknya bergeser untuk mepet Vania.
"Untuk apa? " tanyaku
"Karena ini ada hubungannya dengan pertanyaanku", jawab Gita.
Gio menurut, sekarang Gio duduk mepet denganku, bahkan lengan kami bersentuhan. Ampun detakan jantung yang abnormal ini makin menjadi... Ada pula rasa hangat yang menjalar. Kalau boleh jujur, aku pengen lengan itu memelukku seperti dulu..... Hei stop Vania!! Jangan ngelantur!! Alam sadarku mengingatkan.
"Jawab dengan sejujurnya, sekarang ini bagaimana perasaan kak Vania saat duduk berdekatan dengan kak Gio?", Gita mengulang pertanyaannya.
Aku tetdiam, lidahku terasa kelu untuk menjawab. Gita mendekatiku, dipegangnya dadaku. Sial !! Ini anak kok tau aja, sih ....!!
"Tanganku merasakan Jantung kak Vania berdetak dengan cepat dan kencang, yang artinya berdekatan dengan kak Gio berpengaruh pada kak Vania. Berpengaruh apa, sejauh mana, cuma kak Vania yang tahu. Jadi, tolong beritahu kami tentang pengaruh itu", kata Gita.
Ampun Gita, kenapa kamu mendesak aku untuk mengakui perasaanku di depan Gio sih??
"Berdekatan fisik seperti ini membuat jantungku berdebar kencang. Tapi kalau dekat dalam arti bersama, aku merasa nyaman saat bersama dia dan aku juga merasa senang saat aku tau dia masih menyimpan rasa untukku."
Aku merasa lega setelah selesai menjawab pertanyaan Gita.
"Gimana kak Gio? Puas? Kakak mau nanya apa lagi sama kak Vania? Aku masih punya satu kesempatan yang bisa kakak pakai", Gita memberi kesempatan pada Gio untuk bertanya.
"Nggak. Nggak perlu! Ini menyangkut kami, nanti aku akan bicara sendiri dengan Vania mengenai masalah kami ini." jawab Gio.
"Nanti kita bicara ya...?!" kata Gio padaku
"Ya, nanti kita bicara", jawabku pasti.
"Siip....!!! Aku seneng denger kalian akan bicara. Aku mendoakan hasil pembicaraan itu berbuah kebahagiaan", kata Gita dengan girang.
"Amin.... ", sahut Gio dan Sean. Aku hanya tersenyum menanggapi.
Setelah mencecarku dengan pertanyaan, Gita memutuskan untuk berhenti bermain, secara kami berempat sudah mendapat giliran semua.
Tak lama setelah itu Gita dan Sean memisahkan diri, katanya pengen berduaan jalan-jalan menikmati kota Batu di waktu malam.
Aku tau bukan itu alasan sebenarnya, alasan utamanya mereka memberi kami kesempatan untuk bicara. Ya begitulah Gita, selalu banyak akalnya.
********************************
π½πΏπ½πΏπ½πΏπ½πΏπ½πΏπ½
Halo....
Author mau cerita nih tentang kejadian kemaren. Kemaren itu sebenernya dari jam 14.30 author sudah mengirim naskah, jam 17.00-an author sudah terima notifikasi kalau naskah eps 81 sudah berhasil melewati tahap seleksi, artinya sudah bisa di up load, tapi ternyata ada masalah di sistem sehingga sampai lewat tengah malam eps 81 baru bisa di upload. Begitu ceritanya....
Readers ku yang tetkasih, yang baik budi dan tidak sombong, please help your author dong.... dukung author dengan vote, like & komen kalian. Supaya ranking novel RASA ITU ADA bisa naik. Buat readers yang sudah care sama author, sudah dukung author, terimakasih banyak, ya.....jangan bosen untuk terus mendukung authormu ini. Buat yang belum pernah vote, ayo.....kasih vote buat author dong.... author tunggu ya say....
Oke selamat siang....
Selamat beraktivitas
Salam..... πππππππππ
π½πΏπ½πΏπ½πΏπ½πΏπ½πΏπ½
*********************************
__ADS_1