RASA ITU ADA

RASA ITU ADA
EPISODE 67 MEMBERI JAWABAN


__ADS_3

From Rico 09.10


Halo, selamat pagi, Van. Just info aja ini aku sudah di pesawat, bentar lagi take off ke Surabaya.


Tunggu aku ya, Van.... Sudah siap sama jawaban kamu? Semoga jawaban kamu sesuai harapanku. Ok, Van... see you soon, bye..


To Rico 09.12


Safe flight, Ric


Hegh.... Kutarik nafas panjang. Aku memang sudah punya jawaban untuk Rico. Aku nyaman berteman sama Rico, tapi rasa nyaman itu cuma sebatas teman.


Aku nggak tega bikin Rico terluka. Apa aku ubah aja keputusanku? Tapi apa aku siap jadi istri Rico? Yang terutama apa aku siap menikah tanpa cinta?


Hei.... Nikah itu cuma sekali dalam seumur hidup, jangan sembarangan mengambil keputusan!! Suara hatiku mengingatkan aku.


"Tok.. Tok.. Kak... "


"Masuk aja"


"Pagi, kak....", sapa Kenzo


"Pagi... Tumben pagi gini udah sampai sini... Ada apa? ", tanyaku


"Iya kebetulan ada perlu sama temen yang rumahnya di daerah sini, jadi sekalian aku mampir, soalnya ada yang perlu aku omongin sama kakak"


"Mau ngomongin apa, Ken?"


"Itu lo kak, hari ini kan jadwalnya Two K yang manggung, tapi kebetulan Kayla hari ini ada keperluan jadi nggak bisa tampil. Aku sudah minta tolong Double Leo yang gantiin, tapi Leony-nya juga nggak bisa. Apa boleh kalo hari ini yang perform aku sama Leon aja? ", tanya Kenzo.


Aku berpikir sebentar... " Ya sudah nggak apa-apa, nanti malam kamu boleh tampil bareng Leon".


"Makasih, kak", ucap Kenzo.


"Iya, Ken. Sama-sama", jawabku lesu.


"Kak..., apa kakak lagi ada yang dipikirin? Cerita aja sama aku kak... ", tanya Kenzo sambil menatapku.


"Aku... Nggak ada apa-apa kok, Ken", jawabku.


"Kak, nggak usah sungkan sama aku, kita kan sudah berikrar jadi kakak adik. Jadi kalo kakak ada pikiran yang mengganggu, bisa share sama aku, dan aku bukan orang yang ember. Jadi rahasia kakak aman". Kenzo berusaha meyakinkan aku untuk mau berbagi cerita dengan dia.


Daripada aku suntuk sendiri, kuputuskan untuk bercerita pada Kenzo.


"Gini, Ken... Ini sebenernya tentang temen aku. Dia minta pendapat sama aku, kalau aku di posisi dia, apa yang aku lalukan... ", aku memulai cerita, tapi aku nggak mengakui kalau ini masalahku.


"Masalahnya apa, kak? "


"Temen aku ini punya mantan saat masih sma, setelah putus mereka berteman, tapi karena sesuatu dan lain hal, komunikasi mereka terputus. Tanpa sengaja mereka bertemu lagi lima tahun kemudian, si cowok masih ada rasa, tapi ceweknya sudah punya pasangan baru. Setelah sekian waktu, si cewek putus sama pacarnya. Si mantan yang sma ini ternyata masih belum bisa move on, tapi dia nggak berani menyatakan perasaannya ke temenku, alasannya takut ditolak dan takut si cewek nggak mau temenan lagi sama dia".


Aku berhenti sebentar untuk minum, tenggorokanku kering soalnya.


"Terus? ", tanya Kenzo


"Saat ini si cowok dipaksa untuk segera menikah sama orangtuanya. Makanya si cowok ini memberanikan diri meminta temanku untuk menjadi istrinya. Soalnya dia cuma diberi waktu tiga bulan untuk membawa pasangan pilihannya menemui orangtuanya, kalau nggak bisa, si cowok bakal dinikahkan dengan gadis pilihan kedua orangtuanya itu", aku mengakhiri ceritaku.


"Perasaan ceweknya gimana? Masih cinta nggak sama si mantannya? "


"Temen aku sih sudah nggak cinta. Dia cuma ngerasa nyaman aja berteman sama mantannya itu".


"Kalau kakak sendiri pendapatnya apa? ", tanya Kenzo


"Awalnya aku berpikir untuk menolak saja, tapi aku nggak tega membuat cowok itu sedih karena aku tau dia sangat berharap aku mau terima dia. Apa aku terima aja, ya....?". Tanpa sadar aku sudah membuka kebohonganku sendiri.


"Ini tentang kakak sendiri, kan?! Aku sudah menyangka dari awal kakak cerita", todong Kenzo.


Dengan sangat terpaksa aku mengakui.


"Nggak apa, kak. Jujur aja sama adik sendiri", kata Kenzo


"Aku harus gimana, Ken? Nanti malam aku harus kasih jawaban. Aku beneran nggak tega kalo bikin dia terluka. Soalnya dia itu orangnya baik banget sama aku. Aku sendiri heran kok aku nggak bisa jatuh cinta lagi sama dia...", kataku


"Ini cowok yang waktu itu mengelus rambut kakak, ya? ", tanya Kenzo


Kuanggukkan kepalaku.


"Menurut aku yang harus diutamakan adalah perasaan kakak sendiri. Nggak usah mikirin perasaan orang lain dulu. Soalnya mau happy atau nggak, keputusan di tangan kita, bukan di tangan orang lain. Satu lagi kita tidak bisa mengatur dengan siapa kita jatuh cinta", tutur Kenzo.


"Jadi nggak apa ya kalo aku tolak, meskipun itu bikin dia sedih? ", tanyaku memastikan


"Ya pasti nggak apalah, kak! Kalau kakak maksa terima dia, terus kakak nggak bisa cinta sama dia, kakak justru malah bikin dia lebih terluka lagi". Kenzo memberiku masukan.


"Kakak nanti ketemuannya di cafe ini, kan? "


"Ya"


"Siip ! Kakak nggak usah ragu, nggak usah takut ! Ada aku, kak. Aku bakal jagain kakak". Kenzo memberi suport.


"Oke adik.... Nggak nyesel aku punya adik kayak kamu". Kupeluk Kenzo, ditepuk-tepuknya bahuku.


"Kalo ada apa-apa nggak usah sungkan cerita sama aku, kak. Aku juga akan menjadikan kakak tempat aku berbagi".


"Sekali lagi makasih, ya... ", ucapku tulus.


"It's ok, sis.... Ya udah kak, aku langsung balik, ya.... sukses untuk nanti malam. Bye..."


"Bye my little brother.... ", kulambaikan tanganku sambil tersenyum, begitu pun dengan Kenzo.


Aku semakin yakin dengan keputusanku setelah mendapat masukan dari Kenzo.


Kerja... Kerja.... Aku pun membuka laptop dan mulai bekerja. Lumayan lama aku konsen memeriksa laporan pembelian barang.


Hoahm....aku menguap sambil meregangkan badanku. Padahal kerjaanku cuma duduk tapi kok bisa capek, ya....


Kulihat chat di ponselku. Aku baru sadar kalo dari pagi Vino nggak chat aku sama sekali. Tumben banget nih orang.... Biasanya rajin sekali chatting.


Eh, ngapain aku mikirin Vino, dia kan cuma pacar chat doang ! Mau dia chat, mau nggak, itu hak dia. Kan di antara kita nggak ada ikatan apa-apa....

__ADS_1


Mending aku interkom bagian dapur aja, minta dibuatin juice mangga pake gelas jumbo, pasti enak dan seger.....


Saat lagi posisi santai menikmati juice, pintu ruanganku terbuka, masuklah si kecil sambil berlari


"Halo mommy....., eh salah halo tante mommy.... ", sapa Nia, sambil memelukku.


"Halo juga sayang....",.balasku, kucium pipinya. "Nia bau asem", candaku.


"Hahaha.. ..Nia kan tadi habis olah raga lari-lari, Nia keringetan, terus barusan lari lagi, keringetan lagi. Tante mommy sih....liat Nia lagi keringetan malah dicium... Rasain tante mommy kebagian bau asem", sahut Nia sambil ketawa.


Aku pun ikut ketawa, kucubit pelan pipinya.


"Tante mommy, Nia sudah bawain undangan ulang tahun Nia. Undangan untuk tante momny itu Nia sendiri yang nulis, lo....", pamer Nia sambil menyodorkan undangan yang ada di tangannya.


Kulihat undangan dari Nia, Aku perhatikan tulisannya, memang bener tulisan di amplopnya jelas sekali kalo itu tulisan anak kecil yang baru belajar nulis. Meskipun begitu, aku senang, aku ngerasa diistimewakan.


"Nia ngundang tante, bilang nggak sama oma?", tanyaku.


"Bilang. Kan Nia minta undangan satu sama oma terus Nia ditanya buat siapa, Nia bilang buat tante mommy, mau dibantu nulis sama aunty, tapi Nia nggak mau. Nia mau nulis sendiri supaya tante mommy tau, Nia sudah bisa nulis bagus", jelas Nia.


"Iya, Nia sudah pinter ya nulisnya... tapi harus rajin berlatih, supaya tulisan Nia bisa lebih bagus lagi. Makasih ya, undangannya " kataku


"Sama-sama tante mommy", Nia membalas ucapanku dengan manis, bibirnya tersenyum matanya berkedip-kedip. Ampun.... lucu banget!!! Langsung aja aku peluk dan aku ciumi berkali-kali. Gemes deh....


"Tadi kata tante mommy Nia bau asem, tapi kok tante cium Nia lagi?? ", Nia merajuk


"Habisnya kamu bikin tante gemes gemes gemes.... ", aku cubit pipinya berkali-kali.


"Mulai deh... Mulai tante mommy cubit-cubit terus.... Nanti pipi Nia abis, lo! ", Nia mulai kesel.


"Jadi Nia sekarang sudah nggak mau digemesin sama tante nih...?"


"Mau..., tapi kalo dicibiti terus Nia takut pipi Nia abis, tan... "


Ya ampun.... Jadi Nia bilang pipinya bisa abis itu memang beneran dia mikirnya gitu. Hahaha...


"Nia sayang, pipi Nia ini ciptaan Tuhan, mau dicubit berapa kali pun nggak akan bisa habis, sayang. Jadi Nia nggak usah takut. Nia ngerti? ', aku mencoba menjelaskan dan tampaknya Nia paham.


Tiba-tiba bibik ikutan masuk ke ruanganku.no "Permisi non mommy"


"Ada apa, bik? "


"Anu non... Bibik sudah cerita sama oma tentang kue ulang tahun itu. Terus oma minta nomer telpon non mommy, boleh non? ", tanya bibik


"Nggak apa, bik. Ini saya kasih nomer telpon Mini Cafe", aku berikan kartu nama Mini Cafe pada bibik.


Aku ngerti, mungkin omanya Nia mau memastikan, secara mereka kan nggak kenal aku. Mereka takut kalo sampai kue ultahnya nggak ada pas harinya. Maklumlah dalam acara ulang tahun, kue ultah adalah hal yang penting.


Jam 12.15, Nia balik. Soalnya nanti jam 15.30 Nia ada les bahasa Inggris. Sedangkan Nia harus sempet tidur siang sebentar sebelum les. Supaya badannya seger dan nggak ngantuk waktu les.


Setelah Nia pulang, aku kembali sendiri di ruang kerjaku. Kulihat lagi ponselku, ada beberapa chat masuk, tapi nggak ada chat dari Vino.


Apa Vino lagi sibuk sama kerjaannya? Apa dia sakit? Ada apa sama kamu, Vino? Apa aku chat dia aja, ya? Setelah menimbang beberapa waktu, akhirnya aku putuskan untuk chat Vino.


To Vino 12.31


Hai kekasih gelapku...


Sudah sepuluh menit berlalu tapi belum ada balasan, dibaca aja.... nggak !! Kenapa ya? Aku bingung mikirin sikap nggak biasa Vino hari ini. Kok aku jadi kuatirin Vino? Aku takut terjadi sesuatu sama dia. Eh tunggu... ada apa dengan diriku? Gimana wajah Vino aja aku nggak tau, status kita cuma pacar chatting , lalu kenapa aku terus mikirin Vino? Apa ada yang mulai nggak beres dengan hati aku.... ?


Vino... Vino... Kenapa sih kamu mulai mondar-mandir di pikiranku? Bikin aku pusing mikirin kamu ! Sudah ah! Stop mikirin Vino! Aku harus kembali konsen ke kerjaan aku !


Saat ingat aku belum makan, aku langsung interkom bagian dapur, minta dibuatkan sandwich, kentang goreng sama susu coklat pake es untuk makan siang, soalnya aku lagi males makan nasi.


Nggak lama pesananku datang. Kunikmati makananku sambil dengerin lagu dari ponselku.


Selesai makan, aku kembali beraktivitas. Aku terus bekerja, tak terasa hari sudah sore saat semua tugasku selesai. Kutengok jam di dinding, pukul 16.50.


Masih ada, waktu satu jam sebelum Rico datang. Aku segera mandi dan bersiap-siap.


Saat aku sudah selesai berdandan dan ganti baju, kudengar ada suara notifikasi dari wa, segera kuperiksa ponselku. Ternyata chat dari Vino.


From Vino 17.20


Halo kekasih terangku.....


Tumben chat aku duluan? Kangen ya sama aku ?


From Vino 17.21


Sori ya, tadi pagi aku bangun kesiangan jadi nggak sempet chat kamu. Begitu sampai kantor ada klien yang mendadak minta diajukan penawaran dan langsung presentasi. Seharian aku ngurusi tuh klien, sampai sore baru selesai. Ini aja aku baru sampai rumah.


To Vino 17.22


Kasihan.... Capek ya, sayang?


From Vino 17.23


Lumayan sih....


Tapi capeknya langsung hilang begitu barusan kamu panggil sayang


To Vino 17.24


Perez...!!


From Vino 17.25


Yang... Kamu nggak pengen ketemu aku?


To Vino 17.26


Nggak !


From Vino 17.27


Sakit hatiku baca jawaban kamu

__ADS_1


To Vino 17.28


Hahaha.... Nggak usah sakit hati, nggak ada dokternya


From Vino 17.29


Ada. Kan kamu dokternya


To Vino 17.30


Garing ah!!


Eh, kamu bilang baru pulang. Buruan mandi sana! Biar nggak kemaleman mandinya.


From Vino


Cie... Kekasih terangku perhatian juga ternyata. Jadi seneng akunya....


To Vino


Ge-er !


From Vino


Hahaha


Udahan dulu, ya. Aku mau mandi, yang...


To Vino


Ok...... Bye


From Vino


Bye sayangku.... 😘


Entah kenapa abis chat sama Vino, aku ngerasa seneng. Pikiranku tenang. Apa Vino mulai berpengaruh dalam hidupku? Ah.... Nggak taulah!!


Jam 17.55, karyawanku memberitahu tentang kedatangan Rico. Aku pun segera keluar.


Kutemui Rico, dia sudah duduk di salah satu meja cafe.


"Hai... ", sapaku


"Hai, Van... ", Rico berdiri dan bersalaman denganku.


Setelah duduk..."Mau pesan apa, Ric? ", tanyaku sambil menyodorkan menu.


Kupanggil karyawanku untuk mencatat menu yang kami pesan. Sambil menunggu makanan, kami ngobrol ringan dan bercanda seperti biasa, kami sama sekali tidak menyinggung masalah lamaran Rico.


Setelah selesai makan, kupanggil karyawanku untuk membersihkan meja dan kusuruh membuatkan kentang goreng untuk teman ngobrol kami.


Kulihat ke arah stage, tampak Kenzo juga melihat ke arah mejaku dan tersenyum, aku pun balas tersenyum.


"Van...., bisa kita mulai bicara? ", tanya Rico.


"Iya, Ric", jawabku.


"Aku minta maaf, ya, Van kalau aku sepertinya mendesak kamu untuk menjawab. Semoga kamu bisa mengerti kalau aku terpaksa berbuat ini, mengingat deadline yang ditentukan oleh orangtuaku.


"Nggak apa, Ric. Aku ngerti, kok".


"Jadi apa jawaban kamu, Van? ", tanya Rico sambil menatap mataku.


Aku bisa melihat tatapan penuh harap di sana. Maafkan aku Rico, kataku dalam hati.


Aku menarik nafas panjang sebelum memulai pembicaraan. "Rico, aku sangat menghargai perasaan yang kamu punya untuk aku. Kita memang pernah dekat bahkan pernah pacaran, tapi itu sudah lama berlalu",


"Aku tau, Van... Tapi aku masih punya, rasa cinta untukmu, rasa cinta yang sama, bahkan lebih mendalam dari semula, Van", sahut Rico.


"Maafkan aku, Rico, tapi rasa cinta itu sudah nggak ada lagi di hati aku, Ric. Sekarang ini yang ada hanya rasa sayangku sebagai teman", jelasku.


Saat ini aku melihat wajah tampan Rico memancarkan raut yang lesu dan sedih. Aku nggak tega ngeliatnya.


Tanpa sadar kugenggam tangan Rico, "Maafkan aku, Ric. Aku sungguh nggak bermaksud melukaimu, tapi aku juga tidak bisa membohongi perasaanku. Aku nggak mau berpura-pura menerimamu untuk menyenangkanmu, karena aku nggak mau kita berdua akan makin terluka nantinya.


"Aku ngerti, Van. Aku terima dengan iklas keputusanmu.


"Terimakasih Ric, atas pengertianmu. Aku berharap setelah mendengar jawabanku malam ini, kita bisa tetap berhubungan baik sebagai teman", kataku dengan tulus.


"Iya, Van. Kita tetap akan berteman. Kurasa urusan kita sudah selesai, aku balik ya, van", pamit Rico sambil berdiri dari duduknya.


Aku pun ikut berdiri untuk mengantar Rico ke depan.


"Van, boleh aku peluk kamu sebagai tanda perpisahan seorang teman?", tanya Rico.


Aku mengangguk, Rico langsung memelukku erat, aku bisa merasakan detak jantung Rico yang berpacu kencang. Rico mencium pipiku juga. Aku tidak menolak, karena jujur aku merasa sedikit bersalah sudah membuat hatinya terluka. Tak lama, setelah itu Rico melepas pelukannya dan segera berlalu.


Saat aku masuk kembali ke cafe, kulihat Kenzo masih memperhatikanku, aku kembali tersenyum padanya.


Tanpa aku sadari, ada sepasang mata lain yang memperhatikanku dari jauh saat aku bersama Rico tadi, bahkan sampaibsaat ini tatapannya masih mengiringi langkahku.


***************


Hai Hai Hai.....


Sori, hari ini author cuma sanggup up satu episode aja, tapi panjang lo isinya....


Semoga kalian masih suka dan setia baca cerita RASA ITU ADA sampai tamat, ya....


Jangan bosen ya author ingetin terus jangan lupa vote, like dan komen. Juga ajakin kenalan kamu untuk ikutan baca cerita ini.


Bagi yang sudah vote author ucapkan terimakasih. Author harap kalian mau vote lagi dan lagi yang banyak, ya.....


Buat yang belum vote, please dong vote karya author.


Ok, selamat berhari Minggu, semoga semua readers selalu sehat dan happy

__ADS_1


Salam..... 😀😍😇😊😘


***************


__ADS_2