
Saat ini aku dan Gio sudah di dalam mobil. Gio mulai menjalankan mobilnya. Gio memutar radio, lagu romantis segera terdengar, kalian tahu lagu apa? Beautiful Girl.
"Wah.... Kebetulan banget, yang diputar lagu ini, Van !" pekik Gio.
"Memang kenapa? " Aku pura-pura nggak inget sama lagu itu.
"Eng..... Nggak ada apa-apa sih... Ini lagu lama tapi masih enak didengar", kilah Gio.
Aku mengangguk. Dalam hati aku tersenyum geli.
Enaknya kita ngomong di mana ya, Van? ", tanya Gio.
"Terserah kamu aja", jawabku.
"Ke apartemen aku aja, ya! ", ajak Gio.
"Nggak! Kok di apartemen sih?" protesku.
"Tadi katanya terserah aku, sekarang kenapa protes? "
"Masak kita ngomong berdua di apartemen sih? "
"Jangan mikir yang aneh-aneh! Aku milih apartemen soalnya di sana sepi. Nggak ada yang ganggu. Jadi kita lebih enak ngomongnya. Lagi pula sekarang sudah hampir setengah sembilan, kalau kita ke cafe atau resto nggak lama mereka tutup", jelas Gio.
"Aku janji, aku nggak bakal macem-macem, kok. Kamu kan tau aku ! Selama setahun kita jalan dulu aku nggak pernah aneh-aneh, kan? Please percayalah, Van!" kata Gio lagi.
Setelah berpikir sebentar, akhirnya aku menyetujui kemauan Gio.
Setelah hampir setengah jam perjalanan sampailah kami di apartemen Gio. Apartemen elite di Surabaya barat. Apartemennya lumayan luas dan nyaman.
Kami duduk di sofa ruang tamu. Gio membuka gorden, tampak pemandangan indah kota Surabaya, terlihat gedung-gedung tinggi dengan lampu berkelap-kelip, kendaraan lalu lalang. Aku suka view ini.
Sebelum duduk, Gio mengambil minuman di kulkas, susu coklat uht dan air mineral. "Minum dulu, Van"
"Makasih". Kuambil air mineral dan langsung kuminun.
Gio juga minum segelas air mineral. Setelah minum, Gio menarik nafas panjang lalu memulai pembicaraan.
"Nggak terasa ya, Van.... Waktu cepat sekali berlalu, sudah lima tahun kita nggak pernah ketemu".
Aku diam aja, tidak menanggapi omongan Gio.
"Aku kaget sekaligus senang, saat tadi ketemu kamu di acara ulang tahun Nia. Dan aku lebih senang lagi setelah tau tante mommy yang dimaksud Nia adalah kamu, Van."
Aku masih diam, tidak bersuara sedikit pun.
"Kamu sudah kenal sama Nia, apa kamu tau Nia itu anak siapa?" tanya Gio.
"Anak kamu dan Putri," jawabku dengan cepat.
"Benar, Nia memang anaknya Putri, tapi Nia bukan darah dagingku," Gio mulai masuk pada pokok masalah.
"Bagaimana bisa? Bukankah malam itu kalian bersama? " tanyaku.
"Malam itu kita memang bersama tapi tidak melakukan apa-apa karena aku terlalu mabuk, hingga aku langsung tertidur lemas saat berada di kamar. Saat aku tau hal ini, aku justru bersyukur, sebab kalau aku tidak tertidur kemungkinan kami melakukan yang tidak-tidak makin besar, secara aku mabuk."
"Dari mana kamu tau hal itu? " tanyaku lagi.
"Tentu saja dari Putri," jawab Gio.
Gio meneguk minumannya lagi sebelum melanjutkan ceritanya.
"Aku menyewa sebuah apartemen untuk tempat tinggal Putri dan selama dia hamil aku yang membiayai kebutuhan dia juga, tapi kami tidak tinggal bersama".
"Kalian kan sudah menikah, kenapa tidak tinggal bersama? "
"Dari awal aku sudah membuat perjanjian hitam di atas putih dengan Putri, yang isinya : Aku akan bertanggung jawab membiayai dia selama mengandung sampai melahirkan. Setelah anak itu lahir, harus dilakukan tes dna. Bila hasil tes positif, anak itu terbukti darah daging aku, kami akan menikah. Bila tifak terbukti maka Putri dan anaknya harus menjauh dari kehidupan aku selamanya."
"Kenapa kamu berpikir untuk membuat perjanjian seperti itu? Bukankah kamu waktu itu bilang akibat perbuatan kalian Putri hamil? " tanyaku ingin tahu.
"Setelah kita berpisah aku banyak memikirkan hal ini. Aku sendiri nggak yakin itu anakku dan aku juga ingat perkataan kamu, bahwa kamu melihat Putri bermesraan dengan pria bule di cafe. Aku jadi bertanya-tanya, akan kebenaran omongan Putri, karenanya aku membuat perjanjian seperti itu."
Aku kembali terdiam. Dalam hati aku senang karena Gio mempercayaiku.
"Kehamilan Putri ada kelainan yang bila kehamilan itu dipertahankan bisa membahayakan nyawanya. Aku sama sekali tidak pernah tahu hal itu. Putri sengaja menyembunyikan hal ini dari aku. Setiap bulan aku rutin mengantar Putri kontrol ke dokter kandungan, tapi dokter itu tidak pernah mengatakan apa-apa padaku, karena Putri memohon pada dokter untuk tidak memberitahu aku."
__ADS_1
"Bagaimana dengan keluarganya? Apa mereka tahu kondisi Putri? "
"Putri, anak yatim piatu, dia dibesarkan di panti asuhan. Dia sebatang kara, tidak punya keluarga."
Gio kembali menarik nafas panjang.
"Sehari sebelum melahirkan Putri meminta aku dan keluargaku untuk berkumpul karena ada hal penting yang mau disampaikannya. Awalnya kami semua menolak, tapi karena Putri memohon-mohon akhirnya terjadilah pertemuan itu. Sore itu aku, papa, mama, Gita dan Putri berkumpul di ruang vip sebuah resto."
Jujur, aku tertarik untuk mendengar kelanjutan cerita dari Gio.
"Saat itu Putri mengatakan jika anak yang dikandungnya bukan anakku, tapi anak seorang WNA yang saat itu sudah kembali ke negaranya karena kontrak kerjanya di Indonesia sudah berakhir. Dan dia kehilangan kontak dengan pria asing tersebut. Mendengar hal ini tentu saja kami semua sangat marah. Apalagi aku...., aku sangat emosi dan gelap mata, sampai aku hampir menampar Putri, tapi ditahan oleh papa".
Aku lihat Gio mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras, sepertinya dia teringat kembali dengan kejadian saat itu.
Kuambil air mineral di meja, kuberikan pada Gio. Aku harap Gio bisa sedikit tenang setelah minum air.
"Seminggu setelah Putri berhubungan dengan pria itu, kami berangkat ke Semarang. Putri takut hamil tanpa suami, mengingat saat mereka berhubungan tidak memakai pengaman. Itu sebabnya Putri merencanakan untuk menjebak aku. Selain karena alasan tersebut, juga karena Putri memang terobsesi untuk memiliki aku. Maka ditempuhlah cara kotor itu. Meski waktu melakukan perjalanan itu Putri belum hamil, tapi dia sengaja menjalankan tipu muslihatnya untuk berjaga-jaga. Jadi kalau sampai dia beneran hamil dia akan mengkambing hitamkan aku."
"Jahat sekali ! " tanpa sadar aku berkomentar.
"Ya.... Aku pun berpikir seperti itu. Kamu bisa mendengar omongan Putri dan Tina di mall, itu juga bagian dari rencana Putri. Awalnya memang tidak sengaja dia melihatmu ada di mall itu, dia mengikutimu, melihatmu duduk sendiri di food court dia pun mengajak Tina untuk bersekongkol. Akhirnya kamu mendengar pembicaraan mereka, mereka juga sengaja berjalan melewatimu supaya kamu bisa melihat siapa yang tadi berbicara. Putri yakin kamu tidak akan tinggal diam, kamu pasti akan mencari tau dan berusaha mengungkap apa yang sebenarnya terjadi dan dia yakin kamu akan memutuskan aku setelah kamu tau semuanya. "
"Bener-bener jahat ! Egois ! Nggak punya hati ! Hanya demi obsesinya dia menghancurkan kebahagiaan dan harapan orang lain! " Aku mengungkapkan suara hatiku dengan emosi.
Aku sungguh tidak menyangka sakit yang aku rasakan bertahun-tahun ini karena ulah Putri. Mataku terasa sangat panas mendengar cerita Gio. Bodohnya aku bisa terpedaya seperti itu.... Tanpa sadar airmataku mengalir.
Melihat itu, Gio duduk mendekat, diambilnya tissue di meja dan dihapusnya airmataku. Gio juga menggenggam tanganku. Aku hanya diam dan tidak menolak, karena aku tidak menyadari itu semua. Yang ada dipikiranku hanyalah rasa sakit yang kurasa saat itu. Di mana untuk waktu yang lama aku merasakan sakitnya, aku harus mengobati lukaku, aku tertatih menata hatiku, untuk bisa melewati hari-hariku.
Setelah melihat aku tenang, Gio bertanya, "Mau aku lanjutkan ceritanya? "
Aku hanya menganggukkan kepalaku.
"Setelah Putri membuat pengakuan, besoknya dia kontraksi, kubawa ke rumah sakit, ternyata sudah saatnya untuk melahirkan. Dokter menyarankan operasi tapi Putri bersikeras ingin melahirkan secara normal. Akibat kelainan kehamilannya, Putri mengalami kesulitan saat melahirkan, dia mengalami pendarahan hebat, dokter sudah berhasil mengeluarkan bayinya, tapi dokter tidak berhasil menyelamatkan nyawa Putri. Dia meninggal setelah Nia lahir".
"Saat itu aku dan keluargaku berniat untuk menyerahkan Nia ke salah satu panti asuhan. Tapi entah kenapa melihat wajah Nia yang lucu dan senyumnya yang manis, ada rasa tidak tega pada bayi mungil itu."
Gio tersenyum kecil, mungkin mengingat betapa lucunya Nia saat masih bayi.
"Ternyata kedua orangtua ku juga tidak menginginkan Nia diserahkan ke panti. Mereka senang dengan keberadaan Nia. Mereka memintaku untuk mengadopsi Nia dan menganggap Nia sebagai cucu mereka. Kata papa kesalahan yang diperbuat oleh Putri tidak boleh kita lampiaskan ke Nia. Di sini, Nia adalah korban, dia tidak bisa memilih untuk dilahirkan oleh siapa."
"Hari itu, setelah mengungkap tipu muslihatnya, Putri memintaku untuk menyampaikan permohonan maafnya sama kamu, Van. Dia menyesali perbuatannya dan dia juga merasa bersalah sudah mengacaukan hubungan kita."
Aku terdiam. Apa yang sudah dirusak Putri tidak bisa kembali hanya karena sepotong kata maaf, pikirku.
"Setelah kejadian itu aku mulai mencari keberadaanmu, Van. Aku datangi rumah papi Ricky, tapi kalian telah pindah rumah. Aku tidak bisa menghubungimu mau pun keluargamu karena ponselku hilang, sedangkan nomer kalian semua ada di sana. Aku tidak tau kamu ada di mana, aku datangi Siska dan Fani di kantor Jogja tapi mereka tidak mau memberi info tentangmu".
Memang aku yang minta mereka untuk tidak memberi informasi apa pun tentang aku ke kamu, kataku dalam hati.
Gio mengacak-acak rambutnya
"Saat itu aku sempat frustasi, stress berat, bahkan kata dokter aku mengalami depresi, Van. Aku pengen menemui kamu untuk menjelaskan semuanya, tapi aku tidak bisa menemukan kamu. Aku jadi malas melakukan apa pun, bahkan aku berbulan-bulan tidak masuk kerja, sampai akhirnya aku di phk oleh kantor tempatku bekerja. Sehari-hari kerjaku hanya duduk melamun sambil merokok, padahal kamu tahu kan aku bukan perokok. Mengetahui keadaanku yang seperti itu, papa langsung membawaku pulang ke Jakarta. Aku dibawa ke psikolog, aku diterapi berbulan-bulan, sampai akhirnya aku dinyatakan sembuh".
Aku tidak menyangka, luka yang dirasakan Gio jauh lebih berat dariku. Mataku kembali terasa panas, aku sungguh tidak tega membayangkan keadaan Gio saat mengalami depresi seperti itu.
"Kamu tahu apa yang membuatku bisa cepat pulih?" tanya Gio
"Apa? " aku bertanya balik.
"Motivasi dari dokter. Dokter itu bilang : Aku harus sembuh supaya aku bisa ketemu kamu."
Dadaku berdesir, begitu berartikah aku buat Gio?
"Setelah mendapat motivasi itu aku bertekad untuk sembuh. Setelah sembuh, aku kembali beraktivitas normal, bekerja lagi."
"Hanya karena ulah satu orang, merusak kehidupan banyak orang dan menyusahkan banyak orang juga ".
"Sudahlah, Van. Nggak usah diambil hati, orangnya juga sudah pergi. Sekarang aku lega, Van karena apa yang aku simpan selama ini sudah aku ceritakan semua ke kamu."
"Makasih sudah berbagi cerita" kataku.
"Nggak perlu terima kasih, Van Memang sudah sejak empat tahun lalu aku niat mau menceritakan ini sama kamu, hanya saja belum ada kesempatannya."
"Kamu sejak kapan pindah ke Surabaya? " tanyaku
"Sejak tiga tahun lalu aku memutuskan untuk pindah ke Surabaya dan membuka usaha di sini. Aku memilih Surabaya, karena ini kota tempat kamu tinggal. Aku sangat berharap bisa bertemu denganmu lagi".
__ADS_1
"Sudah tiga tahun? "
"Iya, Van. Sudah tiga tahun aku dan Nia pindah ke Surabaya".
Jadi sudah tiga tahun Gio di Surabaya dan kita nggak pernah ketemu sama sekali. Kok bisa ya....??
"Ternyata motivasi dari dokter itu bener, Van... Karena aku sudah sembuh, sekarang ini
aku bisa bertemu kamu," kata Gio sambil tersenyum.
"Van, apa kamu pernah mengingat atau memikirkan aku setelah kita berpisah? " tanya Gio
"Bukan hanya pernah tapi sering pada saat awal-awal kita pisah. Tapi aku gak mau terpuruk, jadi aku memaksa hati dan otakku untuk sebisa mungkin membuang atau melupakan kenangan masa lalu kita."
"Apa kamu berhasil? " tanta Gio
"Berhasil, meski perlu waktu yang cukup lama", jawabku.
Mendengar jawabanku sekilas kulihat mendung di matanya, tapi hanya sebentar dan kembali normal.
"Ngomong-ngomong papi Ricky sama mami gimana kabarnya? "
"Baik, mereka sehat," sahutku.
"Suatu hari aku akan menemui papi dan mami kamu."
"Untuk apa? "
"Menjalin hubungan apa salah? Aku kan sudah lama tidak bertemu mereka".
"Terserah kamulah", sahutku.
Gio kembali tersenyum
"Gio, sekarang sudah malam, aku mau pulang," kataku.
"Nggak nginep, Van? " tanya Gio sambil tetsenyum dan mengedipkan matanya
"Dasar modus!! ", jawabku sambil melotot.
"Hahaha.... Reaksi kamu nggak berubah, Van! Tetep lucu dan bikin gemes! "
"Nggak usah ketawa ! Lucu dan bikin gemes... Memang kamu pikir aku Nia apa?"
"Hahaha... Jangan marah, dong ! Kamu memang bukan Nia, tapi kamu itu calon mommy nya Nia"
"Iiih! Apaan sih ! Nggak lucu!"
"Emang nggak lucu... kan aku bukan om Badut" sahut Gio sambil tertawa kecil.
"Tau ah!! "
"Sudah nggak usah kesel gitu ! Ayo aku anter pulang! ", ajak Gio.
************************
💖💖💖💖💖💖💖💖
Halo halo.....
Sudah pada tidur ? Atau masih nungguin kelanjutan cerita RASA ITU ADA?
Rahasia telah terungkap, apa yang terjadi selanjutnya? Penasaran? Ikuti terus kelanjutan cerita RASA ITU ADA sampai tamat, ya....
Ayo readers bantuin author untuk selalu vote, like & komen, ya.... Jangan lupa ajak kenalan dan kerabat ikutan mampir untuk membaca cerita ini.
Buat readers yang sudah vote author ucapkan thank you so much. Author tungguin tambahan votenya banyak - banyak, ya...
Buat yang belum.... tolong dong bantuin author... please votr karya author yang berjudul RASA ITU ADA.
Terimakasih untuk atensi dan dukungan kalian selama ini.
Salam..... 🙋😊😍😇😘😄🙋
************************
__ADS_1