
Setelah menempuh dua jam perjalanan, akhirnya kami sampai di kota Batu, di vila yang disewa Gio. Vilanya besar dan mewah, ada kolam renangnya, ada tempat sauna dan ruang gym juga. Ada ayunan, jungkat-jungkit, perosotan juga trampolin. Begitu datang tadi Nia langsung mencoba semua mainan itu dengan ditemani bibik.
Di vila ini ada enam ruang tidur. Satu orang menempati satu kamar, kecuali mama sama papa, bibik sama pak Min dan aku sama Nia.
Setelah memasukan tas ke kamar masing-masing, kami semua berkumpul di ruang tengah yang dilengkapi sound system untuk karaoke.
Aku keluarkan macam -macam snack dan roti juga beberapa macam minuman yang aku beli kemaren. Aku susun di wadah dan kuletakkan di atas meja.
"Semua kan sudah kumpul, nih... Gimana kalau kita karaokean?" usul Gita
Semua setuju. "Siapa yang mau nyanyi?" tanya Gita
"Nia mau nyanyi?" tanya mama Gio.
"Mau.... mau.... Nia yang nyanyi duluan, ya aunty", Nia berteriak sambil mengangkat tangannya dengan semangat.
"Oke....Nia yang duluan nyanyi", Gita setuju.
"Anak daddy mau nyanyi apa? " tanya Gio pada Nia.
"Nia mau nyanyi Bunda, daddy"
"Oke, daddy cariin dulu, ya... untuk yang lain silahkan pilih lagu yang mau dinyanyikan, jadi nanti yang lagu pilihannya keputer bisa langsung nyanyi", jelas Gio
Lagu pilihan Nia mulai dimainkan, Nia pun ancang-ancang untuk mulai menyanyi. Kayaknya Nia memang sering karaokean tetlihat dari cara dia bernyanyi, Nia tau kapan mulai masuk nyanyi dan kapan harus berhenti. Suara Nia bening, cukup merdu dan enak didengar.
Nia duduk di sofa bersamaku. Gio duduk di sebelah kananku, tapi nggak duduk di sofa, Gio duduk di bawah, di karpet. Mama dan papa duduk di sebelah Nia. Gita duduk di single sofa dan Sean duduk di bawah Gita.
Selesai Nia bernyanyi kita semua memberikan tepuk tangan. "Wah.... anaknya daddy makin pinter nih nyanyinya.... ", puji Gio
"Cucunya opa hebat deh...suaranya makin bagus", puji papa Gio
"Kan Nia latihan terus sama bu Nada", jawab Nia.
"Bu Nada itu siapa, sayang?", tanyaku.
"Guru vokalnya Nia, tan", jawab Nia.
"Nia les vokal? di mana? ", tanyaku lagi
"Di sekolah, tante mommy".
Aku mengangguk paham.
Semua memberikan pujian pada Nia. Nia seneng sekali. Sekarang Nia bersandar manja di dadaku, kedua tangannya melingkari perutku. Nia mendongak, menatapku...
"Ada apa, hm? " tanyaku
"Nia sayang tante mommy" jawab Nia.
Kucium kening Nia " Tante juga sayang sama Nia", balasku.
Karena Gio duduk di sebelahku, otomatis Gio denger omongan Nia barusan.
"Nia cuma sayang sama tante mommy aja? Nia nggak sayang sama daddy ?" tanya Gio
"Sayang juga.... Nia sayaaaang banget sama tante mommy sama daddy"
"Bener nih? " tanya Gio menggoda Nia.
"Iya, beneran Nia sayang daddy, Nia sayang tante mommy". Nia menciumku, kemudian Nia menghampiri Gio, diciuminya pipi Gio berkali-kali sampai Gio tertawa geli.
"Anaknya daddy memang pinter," kata Gio sambil mengelus kepala Nia.
"Nia anaknya tante mommy juga" sahut Nia, dia kembali duduk di sampingku dan langsung memelukku sepetti tadi.
Aku tersenyum menanggapinya, aku tidak membantah omongan Nia, soalnya aku nggak mau bikin Nia sedih. Semua yang ada di ruangan ini memperhatikan Nia dan tersenyum penuh arti.
Sekarang mama sama papa yang mau nyanyi, mereka berduet. Saat mereka menyanyi, Gio menyentuh tanganku
"Van...", panggil Gio
"Ada apa? " tanyaku
"Coba badan kamu nunduk dikit", kata Gio.
Aku pun merendahkan posisi punggungku, sehingga tinggi badan kami sejajar. Gio langsung berbisik di telingaku," Aku mau gantiin posisi Nia".
"Maksudnya? " tanyaku bingung.
"Gantiin Nia meluk kanu" Gio kembali berbisik di telingaku.
Reflek tanganku langsung memukul bahu Gio, setelah itu kucubit lengan atasnya.
"Auw... sakit, Van! " Gio menjerit pelan, lalu tertawa sendiri.
Aku cemberut kesal denger omongan Gio. Aku kembali konsen dengerin mama sama papa Gio nyanyi.
Mereka menyanyikan lagu barat oldies tentang cinta. Mereka menyanyi dengan saling menatap, bergenggaman tangan, mesra sekali. Bikin aku jadi iri dan baper aja....
Selesai mereka bernyanyi kami semua bertepuk tangan.
"Wuih.... mesra banget !! Babe, kita harus contoh mereka, sampai tua masih tetap mesra", kata Gita.
"Kita pasti bisa lebih mesra dari mama papa, my sweety", sahut Sean
"Jangan cuma ngomong doang! buktiin!" tantang Gita.
Sean tiba-tiba berlutut di hadapan Gita, "Gita Adriana Bramasta, saat ini di hadapan orang tua dan keluargamu, aku memintamu dengan sungguh, please be my wife". Sean melamar Gita langsung di hadapan keluarganya. Iih... bikin bapet deh...!!
Gita yang tadinya cuma main-main nantang Sean, sekarang justru melongo karena sangat kaget dan nggak menyangka sama sekali, kalau Sean serius menanggapi ucapannya.
"Git.... ayo dijawab!!", kataku.
"Buruan jawab, dek ! Sean nungguin tuh !" kata Gio.
"Yes, I do, babe.... ", jawab Gita dengan malu campur bahagia. Gita yang biasanya suka ngeledekin orang sekarang wajahnya tampak merona merah. Si Gita bisa tersipu malu juga ternyata ....
"Pa, ma, Sean serius dengan Gita. Sean ingin Gita menjadi istri Sean. Sean minta restu dari papa dan mama". Kata Sean pada papa mama Gio.
__ADS_1
"Sean, papa dan mama merestui hubungan kalian. Kapan orangtua mu menemui kami?", tanya papa Gio.
"Secepatnya, pa", sahut Sean dengan yakin.
Sean sangat bahagia, dia mengambil sesuatu dari sakunya, ternyata cincin, dipakaikannya cincin itu di jari manis Gita. Sepertinya Sean memang sudah merencanakan lamaran ini, terbukti Sean sudah menyiapkan cincin untuk Gita. Setelah itu Sean mengecup kening Gita. Saat itulah untuk pertama kalinya aku melihat Gita meneteskan airmata. Cewek usil yang ceria ternyata bisa melow juga...
"Selamat ya, Git", aku memberi selamat pada Gita, kupeluk dan kucium dia, lalu aku menyalami Sean juga.
"Kapan nyusul, kak? " canda Gita
"Kapan-kapan", sahutku
" Bukan kapan-kapan tapi secepatnya", ralat Gio sambil tersenyum.
"Apaan sih? Yang ditanya aku, kok yang jawab kamu", omelku psda Gio.
"Memang Gita nanya ke kamu, tapi kan ada hubungannya dengan kita, jadi ya nggak salah kalau aku ikutan kasih jawaban", jelas Gio
"Tau ah!! ", sahutku kesel.
Melihat aku kesal, Gio cuma tersenyum.
Gio mendekat ke Sean dan Gita. untuk memberi selamat pada mereka. Gio berpesan pada Sean, "Jaga Gita baik-baik, sayangi dan lindungi dia! Jangan pernah sakiti Gita ! Kalau sampai itu terjadi, kamu akan berhadapan dengan aku ".
"Iya, kak. Aku janji, aku tidak akan pernah menyakiti Gita. Aku akan melakukan apa pun untuk melindungi Gita dan aku juga akan berusaha selalu membuat Gita bahagia", janji Sean.
"Bagus! Aku akan pegang janjimu! " kata Gio.
Lalu Gio pun memeluk Sean dan betkata, "Welcome to our family, brother"
"Thank you, bro", sahut Sean dengan senang.
"Hegh.... Mama sama papa nyanyinya bikin orang baper, sekarang Gita sama Sean ikutan bikin orang iri dan baper... .", tiba-tiba Gio berkomentar
"Nggak usah iri ! nggak usah baper ! Buruan tembak tuh mangsa, jangan kelamaan ! Ntar keburu dimangsa orang, nangis lo !!" ledek Gita.
"Kakak kan pengikut aliran slow but sure", sahut Gio membela diri.
"Terserah kakak! Yang penting aku sudah ngingetin dan kalau karena terlalu slow terus kakak terlambat, jangan pernah nyesel!!! "", kata Gita lagi.
"Apa perlu mama yang bertindak, Gio?"
"Nggak, ma. Gio mau usaha sendiri. Gio yakin, Gio bisa."
"Kalau memang bisa ya cepetan, nggak pakai lama, ya.... ", pesan papa.
Mereka ini ngomongin masalah apa sih? Aku kok nggak paham? Tau ah!! Aku nggak mau kepo. Ngapain pusing... bukan urusan aku juga.
"Sudah ah... Jangan ngomong terus ! ayo siapa yang mau nyanyi sekarang? " mama menengahi.
Gio menyenggolku dan bertanya, "Kamu mau nyanyi apa ?"
"Aku nggak pede nyanyi di depan orang banyak", kataku.
"Nyanyi bareng aku aja, ya!", ajak Gio.
Anehnya aku mengangguk, menyetujui ajakan Gio untuk nyanyi bersama. Ada apa sama aku? Apa kebawa suasana kebaperan akibat ngeliat kemesraan mama papa juga Sean Gita?
Mulai sekarang aku nggak akan protes kalau Gio panggil aku yang, soalnya diprotes juga percuma....tetap aja diulangi terus. Aku sudah capek negur Gio. Kalau Gio manggil aku yang itu yang masalah adalah detak jantungku, aku cuma takut jantungan aja. Hehe...
"Mau nyanyi lagu apa, yang? " Gio mengulang pertanyaannya., karena tadi aku hanya diam akibat sibuk dengan pikiranku, hingga aku tidak menjawab pertanyaan Gio.
"Sempurna, Andra And The Back Bone", jawabku tanpa berpikir.
"Oke" Gio segera memutar lagu pilihanku. Aku dan Gio masing-masing memegang satu mic. Gio menarik tanganku, mengajakku menyanyi sambil berdiri.
**Kau begitu sempurna
Dimataku kau begitu indah
Kau membuat diriku akan slalu memujamu
Disetiap langkahku
Kukan slalu memikirkan dirimu
Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu
Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semuaa
Hanya bersamamu ku akan bisa
**Kau adalah da-rahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh sayangku, kau begitu
Sempurna... Sempurna...
**Kau genggam tanganku
Saat diriku lemah dan terjatuh
Kau bisikkan kata dan hapus semua sesalku
Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa
**Kau adalah darahku
__ADS_1
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh sayangku, kau begitu
Sempurna... Sempurna...
**Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa
Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh sayangku, kau begitu
Kau adalah darahku(darahhku)
Kau adalah jantungkuu(jantungku)
Kau adalah hidupkuu(hidupku)
Lengkapi diriku
Oh sayangku, kau begitu
Sayangku, kau begitu
Sempurna... Sempurna
Mungkin karena kami terlalu menghayati syair lagu ini, kami nyanyi dengan hati, yang tanpa kami sadari tertuang pada ekspresi dan interaksi di antara kami saat menyanyi. Membuat orang yang ngeliat akan beranggapan memang ada sesuatu di antara kami.
Selesai kami bernyanyi, semua bertepuk tangan dengan semangat. Aku melihat papa sama mama tersenyum senang.
"Aku punya video bagus nih ! Kita lihat, yuk!" ajak Gita.
"Video apa, Git? " tanyaku.
"Ada deh.... Bentar lagi juga tau" jawab Gita dengan santai.
Tak lama kemudian, video itu diputar. Ya ampun Gita.... yang diputar Gita adalah videoku dan Gio. Rupanya tanpa sepengetahuan kami, Gita merekam penampilanku dan Gio saat nyanyi barusan.
Aku sendiri tercengang melihat video itu. Apa benar tadi aku dan Gio bernyanyi bersama semesra itu? Dari gesture tubuh kami, dari mata kami yang saling menatap, bahkan ada adegan Gio memelukku segala. Kapan Gio memelukku? Kok aku nggak ngerasa? Apa karena aku terlalu mengahayati isi lagu itu? Di video itu kami memang terlihat seperti pasangan yang beneran merasakan berhadapan dengan orang yang sempurna di mata kita, yang sangat kita cinta.
Kembali tepuk tangan terdengar di ruangan itu saat video kami berakhir, kali ini ditambah sorakan dan komentar-komentar jahil.
"Videonya bagus !! kirim ke kakak, Git!" minta Gio pada Gita dengan antusias.
"Cie cie.... kak Gio seneng banget sama video ini?!"
"Nggak usah ngeledekin kakak ! Buruan kirim video, itu !" suruh Gio.
"Sabar napa....", omel Gita
"Iih... daddy genit peluk-peluk tante mommy .... ", terdengar komentar polos dari Nia, yang membuat semua orang tettawa mendengarnya.
"Itu bukan pelukan genit, tapi pelukan sayang... ",.sahut Gio
"Kayaknya bentar lagi Nia beneran punya mommy nih... ", seloroh Sean.
"Amin!!! ", jawab Gio dengan cepat dan mantap.
"Rasanya bakal ada yang melepas predikat jomblo kadaluwarsa nih.... ", celetuk Gita.
"I hope so, sis.... ", komen Gio
"Kita sebagai orang tua merestui kalian lo", kata mama sambil tetsenyum dan menatapku serta Gio, si mama ikutan menggoda kami.
"Papa sudah nggak sabar untuk menikahkan kalian berdua".
"Doain yang terbaik buat Gio pa, ma....'
Ya ampun... Kalau saja ada jin nya aladin di sini aku akan meminta untuk menghilangkan aku dari hadapan semua orang saat ini. Aku bener-bener malu mendengar ledekan mereka setta jawaban Gio. Dan aku lebih malu lagi saat mengingat bagaimana pembawaanku saat nyanyi bareng Gio tadi.
Kenapa aku nggak bisa kontrol diri? Kenapa aku bisa seperti itu? Apakah itu memang cerminan dari isi hatiku? Atau ini semua karena terbawa suana aja?
Aku menoleh untuk melihat reaksi Gio, ternyata Gio sedang menatapku lekat, sepasang mata coklatnya yang teduh menatapku dengan penuh kilauan cinta. Aku segera mengalihkan pandanganku, aku nggak sanggup bertatapan lama dengan Gio.
Rasa takut itu kembali menyeruak, ya aku takut kembali terluka. Sekali terluka sudah cukup membuatku menderita untuk waktu yang lama. Memulihkan bekas luka itu tidak mudah. Bertahun-tahun aku jungkir balik berusaha menetralkan sakit yang kurasa.
Saat ini memang luka itu sudah tidak berdarah. Luka itu sudah menutup sempurna. Apa aku sudah siap memulai lagi? Apa aku siap bila sampai terluka kembali?
********************************
🍂🍁🍂🍁🍂🍁🍂🍁🍂🍁🍂
Hai hai hai....
Hari Minggu ini lagi ngapain ? Masih berani jalan ke mall? atau lagi pada berlindung di rumah aja? Semoga saja bencana virus corona segera berakhir, ya.... sehingga kita semua bisa bebas beraktivitas seperti biasa.
Mengisi waktu santai di rumah, yuk ikuti kelanjutan cerita RASA ITU ADA. Jadilah saksi kebersamaan Gio dan Vania yang sedang liburan bersama keluarga.
Jangan lupa author selalu menunggu vote, like dan komen dari kalian. Banyak terimakasih author ucapkan untuk pembaca yang sudah mau mendukung author, jangan bosan untuk terus memberi dukungan, ya.... Bagi yang belum, author tunggu partisipasi dukungannya.
Selamat sore
Selamat berakhir pekan
Salam..... 💓🙋😘😜😇😄😍🙋💓
__ADS_1
🍂🍁🍂🍁🍂🍁🍂🍁🍂🍁🍂
*********************************