
Aku dan Gita masih menemani Nia menyambut teman-temannya yang datang. Nia tampak senang sekali hari ini.
Di sela-sela itu, Gita berbisik padaku... "Kak, inget nggak sama cowok yang pernah aku ceritain ke kakak waktu itu? "
"Inget. Kenapa? ", tanyaku
"Kami akhirnya jadian, kak", cerita Gita.
"Selamat, ya.... Semoga hubungan kalian awet, langgeng, nggak ada gangguan apa pun", ucapku dengan tulus.
"Amin. Makasih, kak", sahut Gita.
"Cowok kamu sekarang mana? Ada di sini? Kakak pengen tau, cowok seperti apa yang bisa menaklukkan hati seorang Gita Adriana Bramasta", candaku
"Idih... Kakak apaan sih?! "
"Haha.... Git, kamu di sini aja ya temeni Nia, kakak mau ke toilet", pamitku pada Gita.
"Ya, kak", sahut Gita.
"Nia, tante mau ke toilet sebentar"
"Ngapain ? Mau pipis? ", tanya Nia.
Kuanggukan kepalaku.
"Jangan lama-lama, ya... "
"Oke".
Aku segera ke luar dari ruang acara, menuju ke toilet. Tujuanku ke sini selain buang air kecil, juga untuk menenangkan diri. Aku ingin menyiapkan diriku agar tenang dan bisa bersikap wajar saat bertemu 'someone from my past'.
Untung toiletnya sepi, nggak ada orang yang masuk, jadi aku beneran bisa tenang. Cukup lama aku di dalam toilet, sebelum aku putuskan untuk kembali.
Saat aku baru melangkah keluar, ponselku berbunyi, aku berjalan sambil mencari ponsel dalam tasku.
Tiba-tiba....."bruuk....!!!"
Ponsel dan tasku telah jatuh, tubuhku pun bersiap menyusul, sebelum lengan itu menahan pinggangku. Berkat pelukan itu, aku tidak terjatuh.
"Maaf...maa... ", kata maaf yang kuucap belum selesai.
"Vania.... Ini beneran kamu, Van?", tanya pria yang baru menolongku.
Mendengar namaku disebut aku segera mendongak.....oh my God!!
Kenapa dia yang menolongku?
Orang yang ingin kuhindari, kini justru berada sangat dekat denganku, jarak di antara kami tidak sampai dua jengkal.
Wajah itu masih tetap tampan, kini terlihat makin matang dan dewasa. Sepasang mata coklat yang teduh itu pun masih sama, selalu membuatku merasa tenang saat menatapnya.
Kami terdiam, saling menatap dan tanpa kami sadar, posisi kami masih tetap seperti tadi, tangan kanan dia masih memeluk pinggangku, tangan kiriku memegang bahunya, tangan kananku berpegangan pada lengan kiri dia dan tangan kiri dia memegang lengan kananku. Jika ada yang melihat, pasti menyangka kami pasangan kekasih yang sedang berpelukan.
"Daddy, tante mommy.... Ngapain di sini? Nia tunggu di dalam dari tadi, lo.... "
Mendengar suara Nia, aku tersentak kaget, aku langsung melepaslan diri dari pria itu. Kuambil tas dan ponselku yang tadi terjatuh.
Ya Tuhan.... Ada apa denganku? Lima tahun telah berlalu, lima tahun aku berusaha menghapus semua rasa yang kupunya untuk dia. Tapi kenapa saat bertemu kembali dengannya, ada desiran di dada dan jantungku berdetak tidak biasa....., apakah rasa itu masih ada??
"Daddy.... Daddy kok lama? Nia tungguin daddy dari tadi", kata Nia sambil menghambur ke pelukan pria itu.
"Maaf, ya... Daddy tadi ada sedikit urusan di kantor". Pria itu membalas pelukan Nia, mencium pipi Nia serta memberi selamat, "Happy birthday my little girl..."
"Thank you, daddy", sahut Nia.
Pria tampan itu..... Dia adalah seseorang dari masa laluku. Sekilas kulihat sepasang mata coklatnya yang tetap teduh itu, menatap lembut ke arahku dan kembali dia menyebut namaku, "Vania....."
Kualihkan pandanganku darinya. Aku sengaja melihat ke arah lain. Aku juga tidak menyapanya. Kalau mau jujur, sebenarnya aku nervous. Aku tidak mau memandang wajahnya, terutama aku menghindari tatapan mata coklatnya itu.
Tuhan... Sebenarnya aku belum siap bertemu dia. Dia adalah mantan tunanganku, mantan terindahku, yang dengan susah payah ingin kubuang dari memory pikiran dan hatiku. Yah... dia adalah Gio Alviano Bramasta. Pria yang sangat kucinta sekaligus pria yang sangat ingin kulupakan.
Mendengar Gio menyebut namaku, Nia langsung bertanya, "Daddy juga kenal sama tante mommy? "
"Jadi yang selama ini Nia sebut tante mommy itu tante Vania? ", Gio bertanya pada Nia dengan tidak percaya.
"Iya, ini tante mommy-nya Nia", tegas Nia.
Aku melihat Gio tersenyum sambil mengelus kepala Nia.
Gio kembali menatapku sambil menyapaku, "Kamu apa kabar, Van? ", sapa Gio.
Aku sedikit kaget, kuusahakan untuk tenang supaya aku bisa bersikap wajar di depan Gio. Aku nggak mau dia tahu apa yang bergejolak di dalam hatiku.
Gio mengulurkan tangannya ke arahku, segera kujabat tangannya sambil menjawab, "Aku baik".
Gio menggenggam tanganku erat. Agak lama kami bersalaman. Sampai terdengar suara Nia, cepat-cepat kutarik tanganku dari genggaman Gio.
"Tante mommy, daddy ayo kita kembali ke dalam", ajak Nia sambil menggandengku di sebelah kiri dan Gio di sebelah kanannya.
Menyadari posisi kami yang seperti ini, aku merasa nggak enak, aku berusaha melepaskan gandengan tangan Nia.
"Tante mommy kenapa nggak mau Nia gandeng", tanya Nia polos
"Tangan tante gatal", jawabku sambil menggaruk tanganku yang tidak gatal.
Nia tampak percaya, tapi tidak dengan Gio, sekilas aku melihat dia menahan tawa.
Aku sengaja tidak berjalan sejajar dengan mereka, tapi aku berjalan di belakang Gio dan Nia.
Begitu kami masuk, kulihat Gita tersenyum ke arah kami. Aku berjalan cepat, supaya tidak perlu berdiri bersama Nia dan Gio untuk menyambut tamu.
Saat aku melangkah menjauh, tangan kecil Nia langsung menggandeng dan menarikku.
"Mommy mau ke mana? Mommy di sini aja temani Nia sama daddy", kata Nia.
"Nia sama daddy dan aunty Gita aja, ya.... Nia pinter, kok...", aku mencoba merayu Nia.
"Nggak! Nia maunya sama tante mommy. Kemaren kan tante mommy sudah janji...."
"Iya". Terpaksa aku turuti kemauan Nia. Kembali kulihat senyum kecil Gio.
Tak lama setelah itu dua orang guru Nia masuk, mengucapkan selamat pada Nia lalu menyalami Gio dan aku.
Miss, ini daddy sama mommy Nia", Nia memperkenalkan aku dan Gio pada gurunya.
"Iya, sayang... Nia nggak bilang pun miss tau, kok", jawab guru Nia.
Setiap ada tamu yang datang, Nia dengan bangga memperkenalkan aku dan Gio sebagai mommy dan daddy-nya.
Ya Tuhan.... Aku sungguh merasa sangat nggak enak sama Gio. Aku takut dia salah paham.
Setelah di rasa undangan sudah pada datang dan jam sudah menunjukkan pukul 18.30, maka Acara segera dimulai.
__ADS_1
Nia berdiri di sampingku sambil menggandeng tanganku. Gio juga berdiri tidak jauh dari kami.
Seorang badut sebagai pembawa acara tampil ke depan.
"Selamat sore adik-adik....perkenalkan nama om adalah om Badut. "
"Om badut mau nanya, yang ulang tahun mana, ya? Ayo yang ulang tahun maju ke depan", panggil om Badut.
Kudorong bahu Nia pelan, "Ayo maju sayang.... ", suruhku.
Nia pun maju ke depan.
"Halo cantik, siapa namanya?", sapa om Badut.
"Nia"
"Nia ulang tahun yang ke berapa?", tanya om badut lagi
"Empat tahun", sahut Nia.
"Nia nama panjangnya siapa, sayang? "
"Giovania Bramasta"
Aku sangat kaget mendengar Nia menyebut nama lengkapnya. GIOVANIA......bukankah itu gabungan dari GIO + VANIA?? Apa maksudnya ini?? Aku menoleh ke arah Gio, meminta penjelasan, tapi Gio hanya tersenyum sambil berbisik, "Nama yang indah bukan? "
Selama ini aku nggak pernah tau kalau Nia punya nama panjang kukira namanya memang cuma Nia.
"Apa mommy sama daddy Nia ada di sini? ", tanya om badutnya.
"Ada, om", jawab Nia cepat
"Nia tau nggak siapa nama daddy?"
"Tau, om. Nama daddy Gio Alviano Bramasta".
"Apa bener daddy nama yang baru di sebut Nia? ", tanya om Badut pada Gio.
Nampak Gio mengangguk sambil tersenyum.
"Kalau nama mommy Nia siapa?"
"Nama mommy Vania", jawab Nia.
"Bener ya mommy namanya Vania! ", tanya om Badut.
Aku bingung harus bagaimana. Nama yang disebut Nia memang namaku, tapi aku bukan mommy nya Nia. Akhirnya aku diam saja.
"Benar, nama mommy nya Nia itu Vania". Gio yang menjawab. Aku kembali menoleh dan menatap Gio.
Kali ini Gio malah mendekat ke arahku, sedikit menunduk dan berbisik, "Ini semua untuk Nia. Aku nggak mau dia sedih".
Dengan terpaksa aku setuju. Kuanggukkan kepalaku.
"Mari mommy, daddy ke depan temani Nia tiup lilin, yuk... ", panggil om Badut.
Aku masih ragu untuk maju, tapi Gio menggandeng tanganku dan memaksaku mengikuti langkahnya untuk maju ke depan.
Aku menggerakkan tanganku, supaya lepas dari gandengan Gio, tapi nggak bisa. Gio sengaja0 mengeratkan pegangannya saat dirasa aku berontak.
Nia tersenyum senang melihat kami maju ke depan. Apalagi saat om Badut meminta aku dan Gio secara bersamaan mencium pipi Nia, untuk difoto.... Nia senangnya bukan main!!
"Akhirnya Nia punya mommy sama daddy yang seperti teman-teman", Nia berbisik di telingaku
Nia diminta untuk make a wish dulu sebelum tiup lilin. Setelah tiup lilin tiba acara potong kue.
Kue sudah terpotong, saat ini Nia, memegang sepotong kue.
"Sekarang Nia suapkan kuenya untuk mommy sama daddy. Nia mau suapi siapa dulu, sayang", tanya om Badut.
"Nia mau suapi mommy dulu baru daddy", jawab Nia.
Nia menyuapkan kue ke mulutku, lalu Nia memotong kue dengan sendok yang sama, aku meminta Nia untuk mengganti dengan sendok yang baru, tapi kata Gio tidak perlu dan Nia menurut aja. Akhirnya Nia menyuapi Gio dengan sendok bekasku.
Kemudian, oma, opa juga diminta maju untuk disuapi kue sama Nia. Terakhir apa?? Ya foto keluarga....
Acara selanjutnya makan malam secara prasmanan untuk yang dewasa. Anak-anak sudah disiapkan makanan sendiri. Satu anak satu nampan.
Saat acara makan, aku sengaja menjauh dari Gio. Aku duduk sendiri di pojok. Tadi aku sempat melihat menu makanannya, aku tidak tertarik. Jadi aku cuma mengambil sebotol air mineral aja.
Kulihat Nia duduk makan bersama teman-temannya, ditemani bibik.
Pandanganku beralih ke arah kue ultah Nia. Saat itulah aku jelas melihat nama yang ditulis di kue itu Giovania. Padahal aku tadi ke dapur untuk mengecek kue itu, tapi aku memang tidak memperhatikan tulisan nama itu.
Hegh.... Kutarik nafas panjang. Aku sungguh tidak menyangka, pertemuanku dengan Nia membuatku harus kembali bertemu dengan orang-orang dari masa laluku.....
Kembali kuminum air mineralku, supaya aku lebih tenang.
Seorang pelayan mendekatiku. "Ibu Vania? ", tanyanya
"Iya, ada apa? ", tanyaku
"Ada yang menyuruh saya mengantar makanan ini untuk ibu"
"Saya nggak mau, saya nggak pesan", kataku tegas.
"Saya tau ibu tidak pesan, tapi ada seseorang yang memesan makanan ini untuk ibu. Tolong ibu terima. Saya cuma pesuruh, kalau ibu tidak mau mebetima, nanti saya kena marah bos saya, bu", jelas pelayan itu.
Akhirnya kuterima makanan itu.
Sepiring galantine dan segelas lemon tea dingin. Hm... Cukup menggugah seleraku. Secara galantine itu salah satu makanam favoritku. Siapa ya yang memesan makanan untukku ? Bodo amat!! Rejeki nggak boleh ditolak!!! Segera kunikmati makanan gratis itu.
Tanpa aku sadari ada sepasang mata yang menatap dan memperhatikan aku dari kejauhan. Bibirnya menyunggingkan senyum saat melihat aku menikmati makananku.
Setelah anak-anak selesai makan, acara kembali dilanjutkan dengan permainan. Nia duduk bergabung dengan teman-temannya, bermain bersama om Badut.
Tepat pukul 20.30, acara selesai.
Kembali diadakan acara foto. Aku tidak bisa menghitung berapa kali aku foto bertiga bersama Nia dan Gio. Begitu pun foto bersama keluarga Gio.
Selesai foto, Nia mendekatiku. 'Tante mommy, kue ulang tahunnya bagus. Nia suka banget. Thank you, tante mommy", kata Nia sambil mencium pipiku.
"Sama-sama sayang... ", jawabku
"Tadi kado dari tante mommy yang bungkusnya pink terus ada pita silvernya, kan? Nanti kado tante mommy Nia buka duluan", kata Nia.
Aku tersenyum menanggapi omongan Nia. "Semoga Nia suka kado dari tante", kataku.
Karena acara sudah sekesai, aku berencana untuk segera pulang. Kuhampiri mama dan papa Gio untuk pamit.
"pa, ma, Vania pulang dulu, ya...", pamitku.
"Eh, jangan ! Seperti yang tadi papa bilang, kalian perlu bicara ! Papa akan panggil Gio", papa menyuruh Gita memanggil Gio.
__ADS_1
Tak lama kemudia Gio datang. "Ada apa, pa?" tanya Gio.
"Papa rasa sudah saatnya kamu bicara sama Vania. Papa mau Vania tau apa yang sebenarnya terjadi lima tahun yang lalu itu", jawab papa.
"Papa bener, nak. Kalian harus bicara. Ceritakan semuanya pada Vania", tambah mama.
"Gio juga berpikir seperti itu, ma, pa", jawab Gio.
"Vania sayang... Tadi kamu ke sini naik apa, nak? ",.tanya mama.
"Mobil, ma", jawabku
"Kalau gitu mobil kamu nanti biar dibawa Gita, kamu pulang bareng Gio aja, kan kalian perlu waktu untuk bicara", kata mama Gio.
"Nggak usah ngerepoti Gita mau pun Gio, ma. Biar Vania bawa mobil sendiri aja, nggak apa, kok".
"Nggak apa-apa, sayang. Sama sekali nggak ada yang repot, kok", kata mama Gio lagi.
"Kamu mau bicara sama Vania di mana, Gio? Di rumah? ", tanya papa.
'Nggak, pa", sahut Gio.
"Van, kamu pulangnya bareng aku, ya ! Setelah kita bicara, aku akan mengantar kanu pulang", Gio berbicara padaku.
"Nggak perlu, Gio. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Semuanya sudah berakhir lima tahun yang lalu", jawabku.
"Memang semua sudah berakhir lima tahun lalu. Tapi kamu harus tau kenapa itu semua bisa terjadi.
Jawabannya tidak seperti apa yang kamu tahu, ada rahasia di balik semua itu. Aku mau kamu tau yang sebenarnya", jelas Gio.
"Vania, mama harap untuk kali ini kamu turuti keinginan Gio, ya", minta mama Gio.
"Papa jamin Gio tidak akan macam-macam sama kamu".
Meski sebenarnya aku nggak mau jalan berdua dengan Gio, tapi aku tidak enak menolak keinginan kedua orang tua Gio.
Akhirnya aku menuruti keinginan mereka. "Baiklah, Vania akan ikut dengan Gio".
"Terimakasih, nak. Kamu mau mendengarkan kami", kata mama Gio.
"Ya sudah buruan kalian jalan, nanti keburu malam !", kata papa.
"Vania, mana kunci mobil dan stnk kamu? Biar nanti Gita bisa bawa mobil kamu", kata mama.
Aku pun memberikan apa yang mama minta
"Mari Pa, ma, Vania jalan dulu", pamitku
"Gio duluan ya, pa, ma...bye... ."
"Ya. Kalian ati-ati, ya....bye.... ", pesan mama.
Aku pun berjalan bersama Gio, menuju pintu keluar, saat Nia menyusul kami. "Tante mommy sama daddy mau ke mana? Nia ikut".
"Hei sayang....., daddy mau nganter tante mommy pulang dulu. Nia juga bentar lagi pulang sama oma opa", jawab Gio.
"Tante mommy kenapa nggak ikut pulang ke rumah Nia aja? ", tanya Nia padaku.
"Ya nggak boleh, sayang. Itu kan rumah Nia, bukan rumahnya tante. Jadi tante harus pulang ke rumah tante sendiri", jawabku.
"Nia pengen tante mommy jadi mommy Nia. Boleh kan, dad? ", tanya Nia pada Gio.
Blush.... Oh my God ! Nia kamu ngomong apa?? Mukaku pasti sangat merah, karena aku sangat malu.
"Nia, untuk saat ini tante mommy harus pulang soalnya orang tua tante mommy sudah nungguin di rumah", Gio berusaha membuat Nia mengerti tanpa menyinggung keinginan Nia
"Git... Gita... ", Gio memanggil Gita.
"Ada apa, kak? ", Gita menghampiri kami dan bertanya
"Tolong kamu temani Nia, kakak ada perlu dengan kak Vania", jelas Gio.
"Ya, kak", sahut Gita.
"Nia, daddy pergi dulu, ya... ", pamit Gio sambil memeluk dan mencium Nia.
"Ya, daddy", sahut Nia.
"Kakak duluan, dek... ", pamit Gio
"Ok.... Ati-ati,.... ", jawab Gita
" Tante pulang ya. Bye sayang... ", kucium pipi Nia.
"Bye tante mommy. I love you"
"I love you too.... Git, duluan, ya....bye... ", kataku.
"Ya, kak. Bye.... "
Kami pun segera berlalu meninggalkan tempat itu. Saat ini kami sudah di lobi.
"Kamu tunggu di sini dulu ya, Van. Aku ambil mobil di parkiran", kata Gio.
"Memang kamu parkir di mana?", tanyaku.
"Itu, di dekat pos satpam", jawab Gio.
Kulihat tempat yang dimaksud Gio. Nggak jauh, kok. " Kita langsung aja ke sana", kataku.
Kami pun kembali melangkah. Aku jalan dengan tidak konsen, pikiranku kemana-mana, hingga tidak memperhatikan ada undakan. Hampir saja aku terjatuh. Untungnya ada yang memegangiku.
"Terimakasih", kataku.
"Sama-sama. Ati-ati, Van ! Kalo jalan jangan sambil melamun !" Gio mengingatkan aku.
********************
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Hai readers..
Nih... Gio sudah ketemu sama Vania. Kalian suka nggak? Rahasia apa yang mau diungkap Gio? Mau tau? Ikuti terus kelanjutan cerita RASA ITU ADA.
Terimakasih untuk pembaca yang sudah baik dan bermurah hati mendukung author dengan vote cerita ini. Author seneng banget. Kalo boleh terus vote dan banyakin votenya, ya....
Buat pembaca yang belum vote, ayo dong ikutan vote karya author
Untuk semuanya author harap jangan pernah lupa untuk selalu vote, like dan komen. Ayo ajak kerabat dan kenalan kalian supaya ikut memvaca cerita RASA ITU ADA. Dukungan kalian adalah mood booster buat author.
Terimakasih semua....
Salam πππππππ
__ADS_1
********************