
Hari Sabtu pun tiba, sesuai janji Gio, hari ini kita berenam ada acara makan malam bersama. Supaya nggak ribet, kita jalan pakai satu mobil, mobilnya Gio
Gio yang setir, aku duduk di sebelahnya, bangku tengah Steve, Sinta, Mona dan Randy.
"Sore ini cuaca cerah, langit yang biru nampak indah, senyuman menawan tiada putus merekah.... di bibir Randy yang telah melepas masa jomblonya", terdengar suara Steve seolah membaca puisi yang isinya meledek Randy.
Kita-kita yang denger otomatis ketawa ngakak.
"Kalian nih ya.... Emang nggak suka ngeliat gue seneng ya?! Ngeliat temen lagi happy diledek, diketawain ! Payah deh lo lo pada! ", protes Randy
"Aku ngedukung, kok....Aku ikut seneng ngeliat kalian kayak truk gandeng meski lagi duduk di mobil", celetukku yang langsung disambut tawa yang lain.
Mona segera menarik tangannya dari genggaman Randy tapi, nggak dilepasin sama Randy. Akhirnya aku yang kena sasaran, Mona mencubit lenganku.
"Auw.... Sakit !", teriakku
"Kenapa, yang", tanya Gio bingung, soalnya dia konsen nyetir jadi nggak ngeliat waktu Mona nyubit.
"Aku dicubit sama pasangan baru, yang", kataku mengadu
"Eis nih anak manja banget ya ! pake ngadu segala....!", omel Mona
"Hahaha.... harus dong ! Salah satu fungsi pacar kan untuk menerima pengaduan", sahutku sambil tertawa
"Mana yang dicubit? Mana yang sakit?", tanya Gio lebay.
"Lenganku yang dicubit.... sakit banget", jawabku ikutan lebay.
"Kasihan... ", sahut Gio sambil mengelus bekas cubitan di lenganku.
"Udah! Udah! Stop dramanya. Eneg gue ngeliat lo berdua kayak gitu. Mentang-mentang udah selangkah lebih maju dari kita", protes Steve.
"Hahaha... ", aku dan Gio ketawa aja menanggapi kekesalan Steve.
__ADS_1
"Nggak usah kesel! Gue tau kok lo ngiri. Ya, kan? ", Gio ngeledek Steve.
"Gio, lo nggak pernah marahan ya sama Vania", tanya Sinta.
"Ya ampun Sin.... Kemaren nanyain aku, sekarang nanya gitu lagi ke Gio.... ", sahutku
"Ya kan gue pengen tau pastinya dari kedua pihak. Jujur gue ngiri sama kalian berdua. Gue sama Steve juga pengen bisa kayak kalian. Ayo Gio buruan jawab!", kata Sinta.
"Mana ada orang pacaran nggak pernah marahan? Ya pasti pernahlah ribut, marahan, cuma kembali ke kitanya lagi, mau cepet selesai nggak urusannya. Kalo pengen cepet baikan ya harus cepet diomongin. Yang ngambek duluan harus terbuka, harus ngomong apa yang membuatnya marah atau kesel supaya pasangannya juga bisa tau akar masalahnya", jelas Gio panjang lebar.
"Biasanya yang sering ngambek siapa? Lo ya, Van? ", tuding Mona.
"Hahaha...", Gio menjawab dengan ketawa. "Kasihan tunangan gue jadi tertuduh. Sebenernya kita memang jarang ribut. Tapi jujur, gua yang sering mulai", Gio mengakui.
"Elo ? Beneran? Gue pikir Vania, secara dia kan beda umur lumayan dari lo, masih manja kalo gue liat", sahut Sinta.
Mendengar itu aku langsung menoleh ke arah Sinta sambil sedikit melotot.
Bukannya takut, Sinta dan tiga orang yang duduk di jok tengah malah ngakak ngeliat aku melotot.
"Yang... Aku diketawain. Turunin aja mereka di sini. Nggak usah diajak makan", aku mengadu dan merajuk pada Gio.
"Hei kalian berempat...jangan gangguin Vania ya! Kalo kalian ganggu dia lagi, gue turunin kalian di jalan", Gio pura-pura mengancam.
"Hahaha... Pantesan kalian jarang berantem! Sama-sama bucin sih...!", teriak Randy, yang membuat semua pada ngakak.
"Nggak masalah lo katain bucin, emang gua cinta banget ama doi", jawab Gio sambil mengelus kepalaku.
"Nyesel gue ngomong kalo akhirnya harus ngeliat adegan drama kalian lagi", sahut Randy.
"Denger ya....yang punya acara kita, jadi penumpang nggak boleh protes", celetukku.
"Hahaha.... Rasain lo pada! ", Gio tertawa sambil mengajakku high five.
__ADS_1
"Iya deh... gue akan jadi penumpang yang baik", kata Randy sambil memeluk bahu Mona.
"Cie cie.... Gara-gara baper ngeliat Gio ama Vania, jadi gatel tuh tangan ikutan meluk yang di sebelahnya", ledek Sinta yang membuat Mona tersipu.
"Kamu juga mau yang? Sini aku peluk", sahut Steve sambil melingkarkan tangannya ke pinggang sinta.
"Eh, kalian yang di tengah toleransi dong ama kita berdua, gua lagi nyetir nih...", protes Gio.
"Rasain aja derita lo, bro !", sahut Steve yang otomatis didukung suara ngakak yang lain.
"Hegh sebel gue! ", gerutu Gio.
"Hahaha.... Sabar bro! ", sahut Randy
"Udah nyampe. Ayo turun, jangan ngakak terus! ", teriak Gio saat mobil sudah terparkir.
Kita pun masuk ke cafe bersama pasangan masing-masing. Setelah memesan makanan, Sinta mengeluarkan tongsisnya, kita pun selfie rame-rame.
Sambil menunggu makanan, aku ke toilet bareng Mona. Kebetulan aku selesai dulu, menunggu Mona keluar aku melihat ke sekeliling cafe ini. Di sudut kiri aku ngeliat ada cewek lagi pelukan sama bule. Saat mengetahui wajah cewek itu aku sempet kaget.., nggak nyaka aja. Apalagi saat aku ngeliat mereka ciuman.... aku langsung mengalihkan pandanganku. Kalian tau cewek itu siapa?
Untung nggak lama setelah itu Mona sudah selesai, kami pun segera kembali ke tempat duduk kami.
Aku masih menyimpan di ingatanku apa yang barusan kulihat, tanpa menceritakan pada siapa pun.
*********
Hi readers.... terimakasih sudah baca novel aku yang judulnya RASA ITU ADA
Gimana? Suka nggak sama cerita yang aku buat? Ikuti terus kelanjutannya ya...
Jangan lupa aku perlu suport dari kalian, aku tunggu komen, saran dan jempolnya....
Thanks... 🙏😊😍
__ADS_1
***********