RASA ITU ADA

RASA ITU ADA
EPISODE 88 SEGERA MENIKAH


__ADS_3

Hari ini hari Minggu, biasanya aku olah raga pagi. Tapi hari ini tuh rasa malasku menjadi-jadi, tadi aja saat alaram berbunyi, langsung kumatikan dan aku pun tidur lagi. Maklum, semalam aku kurang tidur


Kemarin setelah bicara banyak sama Gio, dia mengantarku pulang. Sampai di rumah sudah jam sebelas lebih. Setelah bersih-bersih, ganti piyama dan gosok gigi, aku langsung naik ke tempat tidur. Tapi saat mataku melihat laptop di meja, keinginan untuk nonton drama korea tidak bisa aku kendalikan. Aku pun mulai menonton serial drakor. Awalnya aku hanya mau nonton dua episode saja, tapi makin ditonton ceritanya makin menarik, akhirnya aku teruskan nonton drakor nya sanpai tamat, sampai jam empat pagi.


Itulah alasannya aku tidur sampai siang dan tidurku pulas sekali hingga sulit dibanguni. Aku bangun saat pintu kamarku diketuk, disertai suara memanggil namaku.


Kulihat jam di dinding, sudah pukul 09.20. Ya ampun.... aku bener-bener kesiangan. Aku langsung bangun dari tempat tidur.


Suara ketukan di pintu kamarku telah berubah menjadi gedoran dan suara panggilan yang lembut sekarang telah menjadi teriakan. Buru-buru aku berlari dan kubuka pintu kamarku.


Mami dan papi berdiri di depan pintu kamarku dengan wajah panik.


"Ada apa pi, mi? Kok keliatan panik gitu?" tanyaku.


"Gimana nggak panik? Kamu dibangunin dari tadi nggak bangun-bangun! Sekarang sudah hampir setengah sepuluh, sedangkan tadi mama Gio nelpon mami, mengabarkan kalau keluarga Gio akan datang ke sini jam sepuluh pagi ini", gerutu mami dengan kesel.


"Santai aja kali mi.... Kan masih ada waktu setengah jam buat Vania mandi dan siap-siap. Sebelum mereka datang, pasti Vania sudah selesai," jawabku santai.


"Kamu itu ya... , mami sama papi panik gini, eh kamu malah nyantai gitu... Ya udah buruan mandi sana!" papi ikutan ngomel.


"Sori ya pi, mi, kalo hari ini Vania bikin papi sama mami panik", kataku.


"Sudah nggak apa-apa. Kamu buruan siap-siapnya. Kami juga harus bersiap", sahut mami.


Aku bergegas untuk mandi. Mandiku hari ini super kilat, kurang dari sepuluh menit, aku sudah selesai. Aku segera berdandan seperti biasa, memakai make up tipis yang berkesan natural. Aku mengenakan mini dress lengan pendek warna hijau botol, yang kontras dengan kulit terangku.


Jam sepuluh kurang tujuh aku sudah keluar dari kamarku dalam keadaan rapi, cantik dan wangi tentunya.


Aku menemui papi mami di ruang tengah. "Wah anak papi sudah cantik, nih... ," sapa papi.


Aku tersenyum mendengar pujian papi.


"Mi, memang ada perlu apa mi keluarga Gio ke sini?" tanyaku pada mami, soalnya tadi kan mami bilang kalo mamanya Gio nelpon mami.


"Cuma mau main aja katanya, secara kita kan sudah lama nggak berhubungan. Sekarang ceritanya mau temu kangen sama calon besan dan keluarganya," jawab mami sambil mengedipkan sebelah matanya padaku.


"Mami apaan sih? ", sahutku malu.


"Anak kita sudah dandan cantik, mi. Sudah siap dilamar kayaknya mi..", canda papi.


""Iya, pi... Bentar lagi kita mantu, pi..", tambah mami.


"Iih! Papi sama mami ini hobi banget ya ngeledek Vania", sahutku.


"Kita nggak ngeledek, kok. Kita bicara kenyataan. Secara kamu kan sudah dilamar tuh sama Gio, tuh lihat kamu sudah pake cincin tunangan juga. Jadi nggak salah kan kalo bentar lagi papi mami mantu... ", jelas mami.


Omongan kami terhenti saat terdengar suara mobil berhenti di depan rumah, kemudian bel rumahku berbunyi. Sepertinya keluarga Gio yang datang. Jam sudah menunjukkan angka sepuluh tepat. Hm.. sangat tepat waktu.


"Ayo kita ke ruang tamu, tuh pintunya pagarnya sudah dibuka sama bik Sum," ajak papi.


Papi membuka pintu ruang tamu, tampak keluarga Gio dengan formasi lengkap sedang berjalan ke arah kami. Si kecil Nia juga ikut. Nia tampak malu-malu.


Saat melihatku Nia langsung menyapaku, "Mommy.... , mommy pendekin badannya dikit", minta Nia.


Aku turuti aja, ternyata Nia memintaku seperti itu karena dia mau memeluk dan menciumku.


Oh.. manisnya anakku.. hehe..


Semua yang melihat kejadian tadi tersenyum penuh arti.


Keluargaku bersalaman dan peluk cium, dengan keluarga Gio. Saat itulah sempat-sempatnya Gio memelukku, mencium keningku dan berbisik di telingaku, "Love, kamu cantik sekali, I love you".


"I love you too," aku tersenyum dan balas berbisik.


Papi mempersilahkan para tamunya untuk duduk. Nia duduk manis di sampingku.


"Terimakasih pak Billy dan keluarga yang mau menyempatkan mampir ke rumah kami," kata papi saat kami sudah duduk santai di sofa.


"Kami yang harusnya berterimakasih karena keluarga pak Ricky mau menerima kedatangan kami yang mendadak ini. Kami minta maaf ya pak karena berkunjung mendadak", jawab papa Gio.


"Nggak masalah, pak. Ini kan hari Minggu, hari santai jadi nggak mengganggu sama sekali, kok", sahut papa.

__ADS_1


"Saya dan suami saya sangat bahagia sekali, saat kemaren kami tahu Vania mau menerima Gio kembali. Momen ini sudah lama kami tunggu". Mama Gio mengungkapan isi hatinya.


"Jujur saja, selama ini kami masih menyimpan amarah pada Gio karena masalah lima tahun lalu, tapi setelah pak Billy dan ibu menemui kami dan mengungkap kebenaran dari masalah itu, kami sudah membuang amarah kami. Saat ini pun kami ikut bahagia dengan hubungan mereka, " Papi pun bicara jujur.


"Kapan papa mama menemui papi mami? Kok Vania nggak tau? Terus kok papi mami nggak pernah cerita ke Vania? ", tanyaku penuh selidik.


"Kepo deh.. ! Itu kan urusan orang tua....Ya nggak bu Billy?! ", jawab mami sambil minta dukungan dari mama Gio


"Bener..., yang penting berkat kami urusan cinta kalian jadi lancar...," sahut mama Gio.


Pantesan....waktu Gio mengajakku bermalam di rumahnya, itu kan pertama kali Gio ketemu orangtuaku dan aku sempet heran dengan sikap papi dan mami yang welcome terhadap Gio. Rupanya saat itu mereka sudah tau cerita yang sebenernya. Makanya mereka nggak terlihat marah pada Gio.


"Mami sama papi sudah tau juga tentang Nia?" tanyaku.


"Jangan kuatir, sayang... mama sama papa sudah menjelaskan semuanya. Dan pak Ricky beserta ibu bisa memahami dan menerima, kok," jelas mama Gio.


Mendengar penjelasan dari mama Gio aku bersyukur dalam hati, soalnya aku sempat takut orangtuaku nggak bisa menerima Nia. Sekarang hatiku sudah lega.


"Pak Ricky dan ibu, kami sekeluarga hari ini datang ke mari dengan maksud yang baik. Kemarin Gio sudah melamar Vania secara pribadi, hari ini giliran kami yang melamar Vania pada Pak Ricky dan ibu. Bagaimana pak, bu?," tanya papa


"Tentu kami terima dengan senang hati, pak," jawab papi sambil tersenyum.


"Maaf, karena terlalu mendadak, kami tidak sempat membeli aneka barang untuk seserahan. Kami hanya memberikan seperangkat perhiasan saja untuk Vania." Mama Gio menjelaskan sambil menyerahkan sekotak perhiasan padaku.


"Terimakasih", ucapku.


"Sama-sama, sayang... ", sahut mama Gio.


"Selain melamar Vania, pada bapak dan ibu, ada satu lagi tujuan kami datang kemari. Untuk tujuan ini akan disampaikan oleh anak kami, Gio. Ayo katakan maksudmu pada orangtua Vania, nak," kata papa.


"Terimakasih papi, mami karena sudah mau menerima saya dan mau merestui hubungan kami. Kami sudah pernah berpacaran, kami juga sudah saling mengenal. Kami berdua telah melewati ujian cinta, tapi kami berdua tetap sehati dan saling cinta. Usia kani sudah dewasa, saya tidak mau menunggu lama, saya ingin segera menikahi Vania," Gio mengutarakan maksudnya dengan yakin, tanpa keraguan sedikit pun.


"Hah? Ngapain cepet-cepet? Kita kan baru deket lagi?", tanyaku dengan panik. Aku belum siap jika harus menikah dalam waktu dekat.


"Memang kamu nggak mau dinikahi Gio, nak?" tanya mama


"Bukan nggak mau, ma. Maksud Vania, santai aja nggak usah buru-buru", jawabku.


"Iya sayang...., apa yang dikatakan pak Billy benar. Tidak ada aladan untuk menunda pernikahan ini lagi. Lima tahun tertunda itu sudah sangat lama, nak. Jawab mami dengan jujur, apa kamu tidak mencintai Gio sehingga kamu tidak mau segera menikah?" Mami bertanya dan menatapku tajam, penuh selidik.


"Bukan, mi....bukan gitu... ", sahutku gugup.


"Jadi kamu mencintai Gio? " tanya mami.


"Iya, mi," sahutku malu.


"Iya apa? Yang jelas jawabnya, karena di sini ada papi mami dan orang tua Gio yang menginginkan kejelasan dari hubungan kalian. Sekali lagi mami tanya : apa kamu mencintai Gio? " tanya mami lagi


"Iya, Vania mencintai Gio", jawabku sedikit pelan sambil menunduk. Aku maluuuu....


Aku bisa mendengar suara tawa lega dari para orang tua ini, dan saat aku mengangkat wajahku kulihat Gio menatapku mesra dengan senyum di bibirnya.


"Kalau kamu 9sendiri gimana, Gio? Cinta nggak sama Vania?, "tanya mama Gio.


"Gio sangat mencintai Vania. Bahkan saat lima tahun ini kita tidak bersama, tapi Gio selalu menyimpan cinta Gio untuk Vania." Gio mengungkapkan perasaanya tanpa ragu dihadapan orang tua ku dan orang tuanya sendiri.


"Kalian berdua saling mencintai, papi rasa menikahkan kalian secepatnya adalah ide terbaik", papi ikutan mendukung.


"Sayang, papi mami, bapak dan ibu Billy, Gio sendiri sudah setuju, sekarang biar papi nanya sama adik Gio, bagaimana menurut nak Gita?" tanya papi.


"Kalau Gita setuju kuadrat, om." sahut Gita sambil tersenyum iseng.


"Tinggal satu yang belum bersuara....tapi mami aja yang nanya",.kata papi pada mami sambil menoleh ke Nia.


"Nia....", panggil mami


"Ya oma", sahut Nia.


"Nia sayang sama mommy Vania?" tanya mami


"Sayang banget", jawab Nia sambil mengangguk.

__ADS_1


"Kalau Nia mau momny Vania beneran jadi mommy Nia, mommy Vania harus nikah sama daddy. Nia bolehin nggak daddy menikah sama mommy Vania?" tanya mami pada Nia.


"Boleh. Nia bolehin daddy nikah sama mommy Vania. Nia mau mommy Vania jadi mommy Nia beneran, tinggal bareng Nia, main sama Nia terus kita bobok bertiga sama daddy juga", celoteh Nia dengan happy.


"Nia maunya daddy sama mommy cepet-cepet nikah atau lamaaaaa baru nikah? " mami sengaja mengarahkan jawaban Nia.


"Nia maunya cepet-cepet, oma", sahut Nia polos.


Tatapan Nia sekarang beralih padaku, "Mommy...., mommy nikahnya sama daddy sekarang aja, ya..."


Mendengar permintaan Nia, membuat semuaxyang ada di ruangan ini tertawa. Aku pun ikut tersenyum.


"Gimana sayang? Mau ya segera nikah ?" tanya mama Gio penuh harap.


"Ya, ma" jawabku sambil mengangguk.


"Makasih, sayang.... ", spontan ucapan itu keluar dari bibir Gio.


"Bagus.... akhirnya semua setuju. Kalau dari keluarga kami sih pengennya mereka menikah minggu depan aja, tapi tampaknya nggak memungkinkan, kita perlu persiapan. Bagaimana kalau kita dinikahkan mereka bulan depan? Waktu sebulan itu cukup untuk melakukan persiapan", usul mama Gio dengan penuh semangat.


"Papa setuju, ma" kata papa Gio


"Gita setuju banget... " Gita ikutan komen


"Saya setuju aja.... ", sahut papi.


"Saya setuju. Lebih cepat lebih baik." kata mami.


Hari Minggu itu diisi dengan diskusi untuk rencana pernikahan kami yang akan dilaksanakan bulan depan.


Orang tua ku dan orang tua Gio masih asik membahas pernak-pernik pernikahan kami, saat Gio memanggilku untuk mengikutinya ke ruang tengah.


"Ada apa?" tanyaku


"Aku kangen, pengen peluk",kata Gio sambil memeluk pinggangku.


"Kangen? Dari tadi juga sudah ketemu.. Kangen dari mana? " tanyaku.


"Kamu itu ... Kan aku bilang kangen pengen peluk, sayang... ", jelas Gio sambil menarik hidungku.


"Sayang, sebentar lagi saatnya makan siang, pesen makanan via online aja, ya...! Enaknya pesan apa, yang?" tanya Gio.


"Aku lagi pengen masakan padang sih.... Tapi keluargamu suka nggak masakan padang?", tanyaku.


"Suka, kok. Papi mami suka juga kan? " tanya Gio untuk memastikan.


"Suka".


"Ya sudah, ayo kita pesan kamu info aku papi mami suka pakai ikan apa .." Gio mulai memesan makanan via online.


********************************


🌀⛅🌀⛅🌀⛅🌀⛅🌀⛅🌀


Hallo semua....


Nih author ikuti kemauan kalian yang minta Gio sama Vania cepet nikah. Gimana? Sudah lega? Semoga kalian semua suka, ya.... Ikuti terus jalan cerita novel RASA ITU ADA sampai akhir cerita, ya.....


Jangan lupa ajak kenalan dan keluargackalian untuk membaca cerita ini. Dukungan dari kalian memacu semangat author untuk berkarya, karenanya tolong terus dukung author dengan vote, like maupun komen.


Bagi teman-teman yang sudah mendukung author terutama yang sudah memberikan vote, author ucapkan banyak-banyak terimakasih....tolong jangan bosan untuk vote terus banyak-banyaj, ya..... supaya rankingnya RASA ITU ADA nggak terjun bebas ke bawah. Bagi yang belum mendung, author mohon parisipasinya ya untuk memberikan vote yang banyak, author tunggu ya....


Author sedih nih...., yang baca dan yang like banyak tapi yang mau vote cuman dikit. please kasih author semangat dong dengan kasih vote untuk karya author ini.


Oke sekian dari author.


Salam..... 🙋😘😊😇😄😍🙋


🌀⛅🌀⛅🌀⛅🌀⛅🌀⛅🌀


*********************************

__ADS_1


__ADS_2