RASA ITU ADA

RASA ITU ADA
EPISODE 106 HARI PERNIKAHAN


__ADS_3

Tanpa terasa sekarang sudah hari Jumat, hari terakhir aku menyandang status single. Hari ini ada acara malam midodareni, keluarga dan teman dekat aja yang datang berkumpul di rumah. Jam 22.00 semua tamu sudah pulang.


Aku susah ganti piyama, sudah bersih-bersih dan sudah pose cantik di tempat tidur. Sekarang sudah jam 22.40, aku harus segera tidur, karena besok aku harus bangun pagi.


Baru juga mau merem, ponselku berbunyi, ada panggilan masuk dari Gio.


"Halo love...." Belum juga aku bilang halo, Gio sudah nyapa duluan.


"Ya...", sahutku


"Kok cuma ya, love? Sayangnya kok nggak disebut?" protes Gio


"Ya, sayang...ada apa?" Daripada ribut, aku ikuti aja kemauan Gio.


"Aku kangeeeeen banget banget, love", sahut Gio.


"Aku juga, tapi sukur deh besok kita sudah bisa ketemu", kataku.


"He-eh, untung hari ini sudah terakhir, dan mulai besok sudah bebas hambatan, kita sudah bisa selalu bersama, bisa serumah, sekamar, bahkan seranjang," kata Gio sambil tertawa.


"Kamu sekarang di mana, yang?" tanyaku


"Malam ini aku sama keluargaku tidur di hotel. Jadi besok waktu ke tempat kamu, aku keluar dari hotel. Ngomong-ngomong tadi acaranya selesai jam berapa, love?" tanya Gio


"Terakhir tamu pulang jam 22.00. Ini aku sudah di tempat tidur", ceritaku.


"Love, malam ini kamu masih tidur sendiri, tapi mulai besok dan seterusnya aku akan menemani kamu tidur", kata Gio


"Ya, mulai besok akan ada banyak perubahan dari kebiasaan yang kita lakukan. Pelan-pelan masing-masing dari kita harus menyesuaikan diri dengan perubahan itu," sahutku


"Iya. Love, kamu seneng nggak kita besok nikah?" tanya Gio


"Seneng dong, kan tiap orang yang menjalin hubungan serius tujuannya untuk menikah. Lagi pula seandainya saat itu tidak ada masalah, kita sudah menikah sejak lima tahun lalu", sahutku.


"Iya ya, love....itu semua karena kebodohan aku, love." Gio kembali menyalahkan dirinya dan menyesali apa yang telah terjadi lima tahun lalu.


"Sudahlah, sayang... Apa yang terjadi pada kita itu sudah takdir. Tuhan punya rencana lain yang indah untuk kita, buktinya setelah lima tahun kita dipertemukan lagi dan besok adalah hari pernikahan kita." Aku berusaha membuat Gio tidak terlalu merasa bersalah dengan apa yang telah terjadi pada masa lalu.


"Makasih atas pengertianmu, love," kata Gio dengan tulus.


"Yang, sudah malam nih, aku sudah ngantuk. Aku bobok dulu, ya....soalnya besok aku harus bangun pagi untuk make up," pamitku pada Gio.


"Ok, selamat malam, selamat tidur, mimpi indah ya istriku.. muach, I love you....see you tomorrow." Gio mengucap salam.


"Nite, I love you too my hubby", balasku.


KEESOKAN HARINYA


Tanpa terasa seminggu sudah berlalu. Hari ini adalah hari Sabtu, di mana aku sudah boleh bertemu dengan Gio lagi, di hari pernikahan kami.


Dari jam 03.30, alaramku bunyi, tapi aku snooze, nggak lama kemudian ada yang masuk ke kamarku dan langsung membangunkan aku. "Van, Vania bangun, Van!", aku tau itu suara mami.


"Lima menit lagi, mi... mataku masih pengen merem," sahutku.


"Nggak, nggak ada lima menit lagi ! Sekarang juga kamu harus bangun !" kata mami dengan tegas. Mami menarik kedua tanganku, membuat aku terduduk.


"Ayo bangun, Van ! Bentar lagi orangnya EO jemput kamu untuk ke salon, lo!", kata mami lagi.


"Iya, mi..." Aku menjawab iya dengan pososi duduk dan mata yang masih terpejam.


"Vania..., kamu ini mau nikah apa nggak, sih? Disuruh bangun kok susahnya minta ampun", mami mengomel dan mengeluh karena susah membangunkan aku.


"Iya, mi...., iya.., sekarang Vania bangun," karena mendengar omelan mami aku segera bangun dan beranjak dari tempat tidur.

__ADS_1


Jam 07.00 aku sedang mematut diri di cermin. Aku sudah selesai di make up, sudah pakai baju pengantin. Ada mahkota kecil yang bertengger di kepalaku, membuat penampilanku tampak cute dan manis. Polesan make up yang tidak berlebihan dan berkesan natural membuatku terlihat cantik dan anggun, ditambah anting dan kalung yang indah melengkapi penampilan paripurnaku.


"Cantik sekali istri bapak Gio...," komen Siska saat menemuiku, sebelum Gio datang.


"Jelas dong ! kan aku memang cantik sejak lahir", sahutku.


"Nyesel aku muji kamu, Van," gerutu Siska. "Tapi kusus hari ini aku setuju sama omongan kamu", tambah Siska.


"Tapi kamu memang hari ini cuantik, dek ! anggun, mempesona, keren, elegan, sempurna, say ! Aku yakin Gio nanti pasti makin bucin ngeliat kamu kayak gini, Van", puji Fani.


"Tq, kakak tua..."


"Sudah dipuji juga, masih aja manggil kaysk gitu ! Nyebelin !" gerutu Fani, sedangkan aku sama Siska ketawa aja dengernya.


Jam 07.30 tepat, Gio dan orang tuanya datang. Kami bertatap muka, setelah seminggu tidak bertemu. Fotografer mengarahkan kami untuk pose berpelukan. Gio menggunakan kesempatan, dia memelukku erat dan berbisik di telingaku, "I miss you, baby, I miss you so much.."


"Me too....", bisikku.


Sesuai arahan fotografer lagi, Gio mencium keningku dalam dan lama.


"Waduh.... sepertinya kak Gio memanfaatkan kesempatan foto ini untuk melepas rindu, ya! Keliatan banget lo dari ekspresi wajahnya," goda sang fotografer yang disambut tawa semua yang ada di sana.


Gio dan aku pun ikut tertawa. "Nanti kalau elo sudah ngerasain dipingit, elo baru tau rasanya kangen berat yang gua alami saat ini. Makanya begitu lo suruh pose pelukan dan ciuman ya gua langsung nyosor, secara gua sudah nahan kangen setengah mati. Mana istri gua hari ini cantiknya sempurna lagi..." Tanpa sungkan dan malu Gio mengungkapkan apa yang dirasanya.


Kembali ruangan ini ramai dengan tawa, mendengar apa yang Gio katakan. Sedangkan aku tertunduk malu.


Setelah mengambil beberapa pose kami berdua. Kami pun berfoto dengan Fani dan Siska. Jasson dan Bram di acara pagi ini nggak ikut, tapi mereka akan hadir di resepsi nanti malam.


Macam-macam acara sesuai adat telah kami jalani, sesi foto dengan keluarga dan kenalan yang hadir juga sudah kami lakukan, dilanjut acara ramah tamah.


Jam 11.00 pemberkatan nikah di gereja, tapi jam 10.30 kami sudah tiba. Kami disuruh menunggu di mobil, sampai jam 10.55, kami berdiri di luar pintu geteja, dan pukul 11.00 tepat aku dan Gio melangkah masuk ke dalam gereja.


Sepanjang berjalan dari pintu masuk sampai ke altar, aku merasakan desiran yang kuat di dadaku, tanpa kusadari tanganku mencengkram lengan Gio.


Jantungku berdetak lebih keras. Saat imam mengatakan...


Mempelai : " Ya, sungguh."


Imam : "Selama menjalani perkawinan nanti, bersediakah kalian untuk saling mengasihi dan saling menghormati sepanjang hidup?


Mempelai : "Ya, saya bersedia."


Imam : "Bersediakah kalian dengan penuh kasih sayang menerima anak-anak yang dianugerahkan Allah kepada kalian, dan mendidik mereka sesuai dengan hukum Kristus dan GerejaNya?"


Mempelai : "Ya, saya bersedia."


"Baiklah, untuk saudara Gio dan saudari Vania, silahkan sekarang kalian saling berhadapan dan saling berpegangan tangan", kata pastor.


Kami segera berdiri saling berhadapan, Gio menggenggam tanganku erat. Aku menatap Gio sambil tersenyum, Gio juga tersenyum padaku.


"Sekarang teguhkanlah pernikahan kalian dengan janji setia satu sama lain. Dimulai dari saudara Gio, setelah itu dilanjutkan oleh saudari Vania," kata pastor.


"Di hadapan Tuhan, Imam, para orang tua, para saksi, Saya, Fransiskus Gio Alviano Bramasta, dengan niat yang suci dan ikhlas hati memilihmu Maria Vania Putri Rajasa untuk menjadi isteri saya. Saya berjanji untuk setia kepadamu dalam untung dan malang, suka dan duka, sehat dan sakit, dengan segala kekurangan dan kelebihanmu. Saya akan selalu mencintai dan menghormatimu sepanjang hidup saya."


Gio sudah mengucapkan janjinya dengan lancar, kulihat mata Gio berkaca-kaca.


Sekarang giliranku untuk brikrar, kutarik nafas panjang sebelum berkata...


"Di hadapan Tuhan, Imam, para orang tua, para saksi,  saya Maria Vania Putri Rajasa, dengan niat yang suci dan ikhlas hati memilihmu, Fransiskus Gio Alviano Bramasta untuk menjadi suami saya. Saya berjanji untuk setia kepadamu dalam untung dan malang, suka dan duka, sehat dan sakit, dengan segala kekurangan dan kelebihanmu. Saya akan selalu mencintai dan menghormatimu sepanjang hidup saya."


Mataku terasa panas, aku tadi sangat tersentuh saat mengucapkan sumpah. Sekarang sudah terasa lega , aku bisa melafalkan dengan lancar dan tanpa kesalahan.


Tiba saatnya untuk menukar cincin. Gio mengangkat tanganku lalu memasukkan cincin yang terbuat dari emas putih itu di jari manisku. Aku juga menyematkan cincin yang serupa di jari manis Gio.

__ADS_1


Gio membuka kerudung yang tadi menutupi wajahku. Kembali kami saling bertatapan, senyum merekah di bibir kami, meskipun setetes air bening sudah jatuh di pipiku.


"Saudara Gio silahkan mencium kening istri anda, sebagai tanda kasih," kata pastor.


Gio pun mencium keningku, diiringi suara tepuk tangan dari undangan serta keluarga yang hadir.


Selesai acara di gereja, kami balik ke hotel, untuk touch up make up dan rambut juga untuk beristirahat.


Jam 18.00 resepsi di gedung.


Tamu undangan datang dari keluarga dan kenalan orangtua Gio dan orangtuaku, teman-teman dan relasi kerja Gio juga aku.


Undangan yang datang sudah memenuhi gedung tempat acara berlangsung, saat aku dan Gio melangkah memasuki ruangan, diiringi lagu Beautiful In White. Tanganku melingkar di lengan Gio. Gio tampak sangat tampan dan gagah dengan stelan jasnya yang berwarna biru navy.


Senyum bahagia menghiasi bibir kami. Kami melangkah dengan anggun dan pasti menuju stage. Saat kami berjalan, aku bisa mendengar suara-suara yang memuji, ada yang mengatakan kami pasangan yang serasi, ada juga yang bilang sangat cocok karena mempelainya cantik dan ganteng. Ada juga yang mengungkapkan rasa irinya pada kami.


Yang aku nggak suka banyak cewek yang terpesona pada Gio, yang memuji-muji ketampanan Gio dan bahkan ada yang bilang pengen jadi pasangan Gio. Gila nggak?? Memang kuakui suamiku ini tampan, apalagi hari ini, kadar ketampanannya jadi berlipat ganda. Hari ini hari bahagiaku, tapi ulah mereka bikin aku kesal. Apa gini ya deritanya punya pasangan yang ganteng?


Pesta berlangsung meriah, acara demi acara telah kita lalui. Semuanya berjalan lancar. Jam telah menunjukkan pukul 21.30, saat satu persatu tamu undangan mulai berpamitan untuk pulang.


Kusus keluargaku dan keluarga Gio masih lengkap, karena masih ada sesi foto keluarga.


Baju pengantinku yang simple dan elegan, sangat menunjang penampilanku malam ini. Berkali-kali Gio menatapku lekat dan mengatakan aku sangat cantik.


Seperti saat ini, saat kami berdiri di stage, menunggu keluarga yang akan berfoto dengan kami, Gio menatapku dalam lalu berbisik padaku, "Love you look very beautiful today."


"Thank you," sahutku dengan sedikit tersipu.


"Baru juga dibilang cantik sudah tersipu, gimana nanti malam....", goda Gio.


"Nanti malam ya tidur, sudah capek seharian ini acaranya padat," sahutku enteng, padahal aku tau apa yang dimaksud Gio.


"Lihat aja nanti...., aku jamin kamu nggak bakal bisa tidur, bahkan ngantuk aja nggak akan sempat," bisik Gio di telingaku.


Mendengar bisikan Gio wajahku terasa panas, aku yakin pasti pipiku memerah.


"Tuh kan makin merah pipi kamu", goda Gio lagi.


Untuk menutupi rasa maluku, kucubit lengan Gio keras.


"Auw...sakit, love ! Aku ini suami kamu, lo ! Di hari pertama nikah kok sudah melalukan kdrt pada suami, sih?" keluh Gio sambil mengusap lengannya yang aku cubit barusan.


"Habisnya kamu gitu sih...", sahutku.


Acaranya baru selesai sekitar jam 23.00-an. Bisa dibayangin kan betapa ngantuk dan capeknya.....


Malam ini dan besok malam, aku dan Gio tidur di hotel. Lusa baru pulang ke rumah.


Aku minta Gita untuk ikut ke hotel, karena aku perlu bantuannya untuk melepas gaun pengantin serta mahkota dan lain-lain yang menempel di kepalaku.


Dengan bantuan Gita, setelah satu jaman selesai semuanya, make up di wajahku pun sudah terhapus. Gita sangat membantuku.


Saat aku masuk ke kamar mandi, Gita sudah meninggalkan kamar.


Meskipun hari sudah larut, tapi aku tetap mandi dan keramas, toh aku nggak akan kedinginan karena mandinya pakai air hangat.


Saat aku keluar dari kamar mandi, kulihat Gio sudah ada di kamar, sedang melepas jasnya.


"Hai sudah selesai mandi, love? Kok nggak nunggu aku? Kan kita sudah boleh mandi bareng...", kata Gio sambil mengedipkan sebelah matanya.


Aku yakin mukaku pasti memerah. Gio mendekat, dia memelukku erat dan mengecup bibirku. "Sudah buruan mandi sana ! Bau tau !" Aku mendorong Gio untuk menjauh. "Mandi dulu baru peluk. Kalo gini rugi aku... secara aku sudah wangi dipeluk sama yang masih bau asem."


Gio mencubit pipiku," Berani ya ngatain suami.... tunggu aja balasan dari aku", kata Gio sambil melangkah ke kamar mandi.

__ADS_1


Selesai mengeringkan rambut dan memakai krim malam serta body lotion, aku segera berbaring di tempat tidur. Aku capek dan ngantuk. Sebelum Gio keluar dari kamar mandi, aku sudah tertidur.


***********************


__ADS_2