
Keadaanku berangsur normal. Rasa takutku sudah hilang. Gio membeli segelas susu coklat hangat untukku. Hm...yummy!! terasa hangatnya sampai di perut.
"Gimana, Van? Sudah enakan?" tanya Gio
"Ya, sudah nggak apa-apa. Thank you." Ucapku dengan tulus.
"It's ok. Aku nggak nyangka lo Van, kamu sampai separno itu sama filem horor."
Aku cuma tersenyum malu. Ketauan belangnya. Alasanku aja nggak suka filem horor padahal aslinya karena aku penakut.
"Lain kali aku nggak akan pernah ajak kamu nonton filem horor lagi", kata Gio dengan raut menyesal.
"Nggak apa. Nggak usah merasa bersalah. Aku sendiri yang salah karena nggak nanya, tapi langsung masuk nonton", jawabku.
Gio menatapku dengan mata coklatnya yang teduh itu...., kualihkan tatapanku dari matanya. Kelamaan menatap mata itu bisa meleleh hatiku....
"Van... lima tahun berlalu tapi kamu tetap cantik seperti dulu. Aku kangen saat-saat kita di Jogja dulu, Van... ", kata Gio
"Masa lalu nggak akan bisa terulang. Masa lalu biarlah menjadi kenangan.", jawabku asal, karena aku nggak tau harus komen apa. Kulihat Gio diam, nggak merespon komentarku.
Tak lama setelah itu akhirnya Gita dan Sean kelaur juga dari gedung bioskop. Satu setengah jam aku dan Gio menunggu mereka.
"Ayo buruan balik, sudah malam", ajakku yamg sudah bosan menunggui mereka.
"Oke.... ", sahut Gita.
Kami pun berjalan menuju ke tempat parkir. Seperti saat pergi, saat pulang ini pun Gita dan Sean buru-buru duduk di kursi belakang. Jadinya aku duduk di depan lagi, di samping Gio.
"Gio, tolong antar aku ke Mini Cafe ya....Aku mau ambil mobil dulu, mobilku tadi aku tinggal di sana soalnya", pintaku.
"Nggak usah ambil mobil, kak. Kita langsung antar kak Vania ke rumahnya aja", sahut Gita.
"Langsung ke rumah juga nggak apa. Besok pagi aku bisa naik taxi online ke rumah kalian", kataku.
"Kok naik taxi online, sih?! Besok aku jemput kamu, Van" sahut Gio.
"Sebaiknya kakak malam ini nginep di rumah kak Gio aja, jadi besok pagi bisa langsung berangkat, lebih hemat waktu. Setuju nggak, kak? ", saran Gita.
"Nggak! Aku nggak setuju! ", protesku.
"Kak Vania, bener lo apa yang diomongin my sweety.... Lebih baik malam ini kakak bermalam di tempat kak Gio. Besok kan kita harus berangkat pagi-pagi untuk menghindari macet, soalnya ini kan long weekend, pasti volume kendaraan akan sangat padat. Kalau kakak sudah di rumah kak Gio kan besok kita bisa langsung berangkat" Sean mendukung pendapat Gita.
"Ya kalau gitu antar aku ke cafe, aja. Jadi besok subuh, aku yang ke rumah Gio, nanti mobil aku nitip di sana aja", aku masih mempertahankan keinginanku.
"Nggak! Aku nggak mau kamu pagi buta naik kendaraan sendirian! " larang Gio.
"Ya ampun Gio... Aku itu naik mobil, jadi nggak masalah, kecuali kalau naik motor, kamu kuatir itu masih wajar," sanggahku.
"Mau naik mobil maupun naik motor kalau pagi buta sendirian, nggak usah! Biar aku yang jemput kamu aja!"
Gio bersikeras tidak mau dibantah.
"Maksud aku itu kalau kamu pagi harus jemput aku dulu itu kan merepotkan. Orang semobil ngejemput satu orang. Jadi mending yang satu ini yang nyamperi", jawabku.
"Oke, aku kan nggak mau kamu pagi buta jalan sendiri dan kamu juga nggak mau aku jemput, maka kita ambil jalan tengahnya aja... Kamu malam ini aku anter pulang, ambil barang keperluan kamu, terus langsung ikut aku, malam ini kamu tidur di rumahku aja !" Gio memutuskan.
"Nggak! Aku nggak mau, Gio! Nanti nggak enak! "
"Kenapa nggak enak? Di rumahku malam ini ada banyak orang, bukan hanya ada kita berdua aja! Jadi nggak usah nggak enak! " kata Gio.
Pembicaraan terhenti, karena terdengar nada panggil dari ponselku, telpon dari mami.
"Halo... ya, mi ?"
"Sayang kamu di mana? Kok belum pulang? ", tanya mami
"Ini lagi di perjalanan, mi. Sebentar lagi nyampai, kok", jawabku.
"Kamu besok jadi pergi, nak? Sudah packing?" tanya mami lagi.
"Jadi, mi. Vania sudah packing, mi."
"Ya sudah kalau gitu. Hati-hati ya.... "
"Oke, mi... Bye... "
Baru selesai telpon sama mami ada telpon masuk lagi dari mama Gio.
"Halo, ma? "
"Halo sayang, lagi di mana kamu?"
"Ini lagi otw pulang, ma"
"Dari mana, Van? "
"Pulang dari nonton sama Gita dan calon suaminya", jawabku sambil mengedipkan mata ke arah Gita. Gita melengos, Gio tertawa kecil denger omonganku.
"Hahaha... Kamu ini usil juga ya, Van ! Eh, kamu nonton cuma sama Gita dan Sean? Gio nggak ikut? " tanya mama.
"Ikut, ma. Ini Gio lagi nyetir. Mama mau ngomong sama Gio?" aku nanya balik.
"Nggak usah! Sayang, mama mau minta tolong boleh? "
"Minta tolong apa, ma? "
__ADS_1
"Ini... Si Nia malam ini agak rewel, sedangkan kita kan besok mau pergi, mama kuatir kalo rewel dan kurang istirahat, besok dia jadi kurang fit. Nia kan kalau sama kamu nurut, jadi maksud mama mau minta tolong kamu supaya malam ini temeni Nia tidur, ya.... Kamu nggak mau kan kalau lagi liburan terus Nia sakit? " bujuk mama Gio.
"Maaf ma, Vania nggak bisa. Vania barusan bilang sama mami kalau Vania sudah otw pulang". Kataku memberi alasan.
"Sayang, kalau masalah mami... kamu nggak usah bingung, habis ini mama akan langsung telpon mami kamu untuk minta ijin. Kamu mau ya, sayang ! Makasih ya, sudah mau bantuin mama". Mama Gio membuat keputusan sendiri, padahal aku belum bilang setuju. Hedeh....!!
"Van, tolong telponnya kamu loud speaker, mama mau ngomong sama Gio", suruh mama Gio.
"Ya, ma", ponselku langsung kuaktifkan loud speakernya.
"Gio... ", panggil mama
"Ya ma, ada apa? ", tanya Gio
"Kamu antar Vania pulang untuk ambil barang yang mau dibawa untuk pergi besok. Setelah itu ajak Vania ke sini, mama mau Vania tidur di sini malam ini."
"Oke, ma.... Siyap laksanakan perintah bos" sahut Gio.
"Ya sudah gitu aja, mama mau nelpon besan dulu minta ijin mau bawa calon mantu", kata mama Gio sambil tertawa senang
Tentu saja tiga orang yang ada di mobil ini ikutan ketawa, cuma aku aja yang terdiam dengan wajah yang terasa panas.
"Hahaha... Mama usilnya kambuh ! Liat ma muka kak Vania sudah merah kayak saos tomat", Gita ikutan ngeledek aku.
"Sudah ah....jangan gangguin Vania terus. Ati-ati di jalan ya, bye.... " mama mengakhiri panggilannya.
"Bye ma..... ", sahut Gio.
"Dari tadi aku sama kak Gio ngomong diprotesi terus. Giliran mama yang ngomong, langsung nurut deh...!! " Omel Gita.
Aku nggak nyangka mama Gio sampai mau bela-belain minta ijin ke mami. Mudah-mudahan mami nggak ngijinin doaku dalam hati.
"Belum tentu juga, Git. Kalau mami nggak kasih ijin? Kan nggak jadi", jawabku.
"Taruhan yuk, kak? "
"Taruhan apa? "
"Itu mama berhasil nggak dapetin ijin dari mami kakak. Kalau aku yakin mama berhasil. Kalau kakak kan mikirnya nggak berhasil ! Jadi ayo kita taruhan, yang kalah harus mau terima hukuman".
"Hukumannya apa? "
"Aku belum kepikir mau kasih hukuman apa untuk kak Vania. Kakak juga boleh mikirin dua hukuman untuk aku. Jadi nanti yang menang berhak memberi dua hukuman pada yang kalah. Gimana kak? Deal? " tantang Gita.
Kepalang tanggung, kalau aku mundur sekarang, pasti aku bakal diketawain. Ya sudahlah aku ikuti aja permainan Gita, meskipun aku tau kalau urusan sama Gita ujung-ujungnya aku pasti dikerjai.
"Oke... Deal! ", sahutku.
"Di sini ada kak Gio sama Sean yang jadi saksi taruhan kita, ya.... Apa pun hukumannya harus diterima dan dilakukan", jelas Gita.
Nggak terasa sudah sampai, mobil Gio sudah berhenti di depan rumah. Aku segera turun.
"Masuk yuk...', ajakku.
"Sudah malam, Van. Nggak enak, nanti ganggu. Kita tunggu di mobil aja", jawab Gio.
"Ok...., tunggu aku ijin dulu, ya "
Aku segera masuk ke dalam untuk menemui mami dan papi.
Ternyata kedua orangtuaku sedang nonton tv di ruang tengah.
"Malam pi, mi... ", sapaku.
"Malam, sayang... " jawab mereka.
"Mi, pi, besok itu Vania pergi berlibur sama keluarganya Gio", aku memulai pembicaraan.
"Gio...mantan kamu? " selidik papi
"Iya, pi. Gio sudah menjelaskan pada Vania kebenaran dari masalah yang terjadi lima tahun yang lalu itu. Kapan-kapan Vania akan ceritakan ke papi dan mami", janjiku.
"Sejak kapan kamu berhubungan lagi dengan mereka? ", tanya mami
"Sekitar dua mingguan, mi", jawabku jujur.
"Kalian berlibur apa orang tua Gio ikut?" tanya papi.
"Orangtua dan adik Gio ikut semua, pi"
"Rencananya berlibur ke mana? berapa lama?" tanya mami
"Ke Batu, hari Minggu sore balik, mi.
Pi, mi, karena besok itu kita akan berangkat pagi sekali, mama Gio minta Vania malam ini tidur di rumah mereka. Apa boleh pi, mi?" Aku meminta ijin pada orangtuaku.
"Selama kalian di rumah itu tidak hanya berduaan saja, dan tidak tidur sekamar berdua, papi kasih ijin." Ah....jawaban papi membuatku lemas. Kalau gini ceritanya, aku kalah taruhan sama Gita....
"Sebenarnya tadi mamanya Gio sudah telpon mami, minta supaya malam ini kamu diijinkan bermalam di rumah mereka."
"Kalau gitu Vania tinggal ke kamar dulu, ya... mau ambil traveling bag."
Aku keluar dari kamar dengan membawa sebuah traveling bag di tangan kananku. Aku pamit pada papi dan mami
'Vania pergi dulu pi, mi... " kataku pada kedua orangtuaku, kupeluk dan kucium mereka.
__ADS_1
"Hati-hati ya, nak... Jaga diri baik-baik. ", papi mengingatkanku.
"Ya, pi. Bye.... "
"Have fun, sayang.... Bye... "
"Bye mi.... "
Papi dan mami mengantar aku ke depan. Gio, Gita dan Sean segera turun dari mobil saat melihat mami dan papi mengantarku keluar.
"Selamat malam pi, mi... Apa kabar? " sapa Gio dan segera menghampiri kedua orangtua ku, memberi peluk cium pada mereka.Begitu pun Gita dan Sean, mereka ikutan menyalami papi dan mamiku.
"Kabar kami baik, nak", jawab papi. Aku sedikit bingung ngeliat respon mami dan papi, yang begitu welcome dengan kehadiran Gio.
"Kok tadi nggak ikutan masuk? ", tanya mami.
"Sudah malam mi, takut ganggu", sahut Gio.
Setelah ngobrol sebentar, akhirnya kami berpamitan pada papi dan mami. Sebelum mobil berjalan, papi berpesan pada Gio.
"Gio, papi titip Vania. Jagain anak papi, ya..."
"Pasti, pi... Gio pamit pi, mi... "
"Hati-hati di jalan, jangan ngebut, nak. Bye..." mami mengingatkan Gio .
"Bye pi... Bye mi... ", pamitku dan Gio kompak
"Bye sayang....." sahut papi dan mami.
"Ehem.. Ehem... kompak ni yei.... " sindir Gita.
"Sepertinya ada yang lagi happy nih lantaran dapat lampu hijau dari calon mertua," ledek Gita sambil menatap Gio dengan senyum tengilnya.
"Amin.... ", sahut Gio.
"Ngapain amin? " sahutku
"Omongan itu kan doa, Van... jadi kalau omongan yang baik ya harus diamini supaya terjadi", jawab Gio.
"Bener itu, kak. Eh, kak Vania.... Ingat, ya ! kakak hutang dua hukuman dari aku, karena kakak sudah kalah taruhan"", Gita mengingatkan aku akan taruhan kami.
"Iya. Apa hukumannya? ", tanyaku
"Besok aja, pas lagi liburan....", sahut Gita.
"Terserah kamu deh.... ", kataku pasrah.
"Tenang aja, yang... Nanti kalau kamu nggak sanggup, aku yang akan ngejalani hukuman dari Gita", Gio menenangkan aku.
Tapi aku malah nggak tenang... Deg deg deg.... Itu efek dari mendengar kata yang dari mulut Gio.
"Hahaha.... Cie cie.... gara-gara dapat lampu hijau dari camer langsung berani panggil sayang... .", Gita meledek Gio.
Gio dan Sean ikutan ketawa bareng Gita. Aku cuma bisa melihat kesamping, menatap ke jendela, tersipu malu.
"Emang kak Vania sudah mau dipanggil sayang sama kak Gio?" tanya Gita
"Nggak", sahutku cepat.
"Jangan keburu nolak, Van... nanti nyesel lo, yang... ", canda Gio sambil mengedipkan sebelah matanya.
Deg deg deg, jantungku berdetak keras lagi mendengar Gio menyebutku yang.
"Yang mana? yang ini atau yang itu", tanya Gita sambil menunjuk dirinya sendiri lalu menunjukuku
"Jelaslah kakak pilih yang ini", sahut Gio sambil menunjuk ke arahku. Gio kembali menatapku dengan tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.
Aku segera memalingkam wajahku, menatap ke arah jendela. Kenapa desir di dada ini kembali terasa? Rasa tenang dan nyaman saat bersamanya begitu nyata terasa pula. Ada apa denganku? Apakah ada yang salah denganku? Apakah ini pertanda dari rasa itu ada? Apakah ini pertanda hatiku masih terikat pada kisah lama? Entahlah.... aku tidak bisa menjawab karena aku tidak tahu apa jawabannya.
Tanpa terasa mobil yang dikemudikan Gio telah berhenti di depan sebuah rumah bercat putih. Tanpak pak Min membukakan pintu, mobil Gio pun masuk.
***********************************
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai....
Apa kabar? Semoga semua readers selalu baik, sehat dan tetap semangat, ya....
Ikuti terus kelanjutan cerita RASA ITU ADA sampai tamatnya. Jangan bosen nunggu author up.
Author selalu menunggu dukungan dari kalian baik itu berupa vote, like mau pun komen. Buat yang sudah mendukung, author ucapkan thank you so much. Bagi yang belum, ayo dong ikutan dukung author.... Ajak juga teman, kenalan, sahabat, kerabat kalian untuk ikut baca karya author yang berjudul RASA ITU ADA.
Oke, sekian dulu, author pamit ya....
Selamat malam
Selamat beristirahat
Salam.... 💝🙋😎😘😇😍😄🙋💝
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
**************************************
__ADS_1