Rearin

Rearin
I'm Tired


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Ada luka dan air mata yang butuh diistirahatkan......


...###...


Rea duduk di tangga terakhir apotik seraya menatap kosong satu butir pil kecil berwarna kuning yang ada ditangannya. Tak pernah membayangkan dalam hidupnya jika Rea akan mengonsumsi obat seperti itu di usia dini. Yang seharusnya di makan oleh wanita yang sudah menikah. Bukan cewek SMA kelas sebelas seperti dirinya.


Menghela nafas panjang dengan tangan yang bergetar Rea menelan pil itu sambil memejamkan mata. Membuat setitik air mata keluar dari sudut matanya. Mendapatkan tatapan aneh dari orang-orang yang berlalu lalang keluar-masuk apotik.


Rea harus mengantisipasi resiko-resiko yang muncul nantinya. Terlebih lagi Rea tidak tahu siapa laki-laki yang bersamanya tadi malam.


Setelah meminum beberapa teguk air. Rea bangkit, membersihkan rok bagian belakangnya. Berjalan melangkah ke arah sekolahnya. Memang letak sekolahnya itu sangat strategis. Terletak di tengah-tengah kota. Memudahkan para penghuni Angkasa untuk membeli beberapa kebutuhan yang tidak ada di kantin maupun koperasi sekolah.


Rea membuang sisa pil itu ke dalam tong sampah yang di lewatinya. Benda itu tidak akan ada gunanya lagi setelah ini. Karena ini adalah yang pertama dan terakhir kalinya Rea mengonsumsi pil kontrasepsi tersebut.


Berdiri di tepi trotoar Rea menatap kosong jalanan yang ada di depannya. Tangannya terulur menyentuh perutnya yang terbalut seragam. Pertama kalinya Rea se-khawatir itu di dalam hidupnya. Sebab Rea tak ingin mengulang kembali kisah Reagan dan Arinta.


Lalu cewek itu menyebrangi jalan sambil melihat kanan-kiri tanpa menyadari dua pasang mata tajam bak elang yang menyoroti nya.


...###...


Argan melompat dari duduknya saat melihat nama sang Papi yang tertera di layar ponselnya. Menyuruh Dafa, temannya untuk menghentikan permainan gitarnya. Serta memberi isyarat pada seluruh cowok yang ada di warung itu untuk tidak bersuara.


"Ssst, Papi Bos nelpon", ujar Argan yang membuat suasana langsung menjadi hening seketika. Teman-temannya yang tadi sedang bermain game dan bernyanyi langsung menghentikan aktivitasnya sejenak. Menuruti apa kata ketuanya itu.


Argan berdehem beberapa kali sebelum mengangkat panggilan tersebut. Lalu menempelkan benda persegi panjang itu ke telinganya.


"Assalamualaikum Papi tersayang", ujar Argan setelah panggilan terhubung. Dirinya ketar-ketir saat mendengar dengusan kasar dari seberang sana.


"Dimana kamu?, ngapa angkat telponnya lama banget?", cerocos Reagan yang terdengar kesal.


Argan melirik seluruh pemuda yang memakai kaos berwarna hitam itu. Hari ini Allandra memang juga sedang mengadakan upacara kelulusan. Sebelum nanti malam mereka mereka melakukan prom night. Sebenarnya anak kelas sepuluh dan sebelas diliburkan. Namun bagi Argan, jika tidak ada dirinya dan anak-anak Darras maka acara di Allandra tidak akan meriah.


"Eum, Argan lagi nge-print tugas. Tadi keasikan lihat mesin print jadi gak sadar Papi nelpon", ngeles Argan seraya menyengir bodoh. Walau ia tau Reagan tidak dapat melihat itu, tapi apa salahnya jika bisa mendukung alasannya.


"Dimana kamu nge-print?", tanya Reagan seolah tak percaya dengan alasan yang diberikan oleh putranya.


"Di depan sekolah", jawab Argan cepat. Lalu untuk beberapa saat tidak ada sautan dari Papi nya di seberang sana.


"Pap-"


"Om Rahmat bilang kamu gak ada di toko bukunya."


Sial.


Argan memejamkan matanya. Mengapa Reagan memiliki banyak sekali ponsel dan nomor orang. Bahkan Papi nya itu punya nomor Bibi Kantin dan Tukang kebun sekolahnya. Entah untuk apa, Argan pun tidak tau.


Lalu terdengar suara hembusan nafas panjang dari seberang. Sepertinya Reagan tau kalau Argan sedang berbohong.

__ADS_1


"Mobil Papi mogok, jemput Papi sekarang juga, sepuluh menit dari seka-"


"Maaf nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif. Hubungi dua hari lagi", Argan menyela ucapan Papi nya dengan meniru suara operator. Lalu mematikan panggilan itu secara sepihak.


Hell, hanya Argan dan Tuhan lah yang tau bagaimana marahnya Reagan sekarang. Mobil mogok itu hanyalah sebuah alasan, orang kaya seperti Reagan mana mungkin tidak memiliki mobil cadangan. Kalau gitu ingatkan Argan untuk membakar seluruh mobil dan motor yang ada di bagasi rumahnya nanti.


Argan akui jika ia sudah melanggar peraturan yang dibuat oleh Reagan. Argan salah karena sudah berbohong pada Papi nya. Tapi jika tidak begitu, Reagan tidak akan memperbolehkannya ngumpul dengan teman-temannya seperti sekarang ini.


Katanya pertemanannya tidak lah sehat. Argan akui kalau temannya ada yang merokok bahkan mengelem. Tapi kan Argan tidak mengikuti mereka. Menyicipi rokok saja Argan belum pernah. Sebandel-bandel nya Argan, ia masih mengingat nasihat Papi dan Bunda nya. Tidak merokok, mengelem, narkoba, dan bermain wanita. Hanya satu yang tidak bisa lepas darinya, tawuran.


"Gimana paketu?", tanya Dafa dan kembali memetik senar gitarnya.


Argan menghela nafas dan menghempaskan tubuhnya pada sofa yang sudah terlihat lapuk, "Kelar hidup gue habis ini Daf", jawabnya dengan tak bersemangat.


"Nginap rumah gue aja mau?", tawar Dafa yang ditolak dengan gelengan kepala oleh Argan.


"Entar rumah lo yang rata dibuat Bokap. Lo gak tau gimana gila nya si pak Bos", Argan menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa dan meletakkan lengan kanannya diatas matanya yang terpejam.


Drrt drrt


"Ck", Argan berdecak saat ponselnya kembali bergetar. Cowok itu menegakkan kembali badannya dengan menatap kesal layar ponselnya.


Namun kekesalannya itu sirna saat melihat nama yang tertera di layar ponsel.


Rea kembaran tembok is calling...


"Assalamualaikum adik ku yang cantik tiada tara", ujar Argan yang membuat Dafa dan beberapa cowok lainnya refleks mendekat. Membuat Argan mendengus. Bukan rahasia lagi kalau adik kembarnya itu sudah menjadi idola para anak Darras.


"Jemput saya Ar", ujar Rea yang entah mengapa terdengar lesu sekali.


"Kenapa lo?, demam?", tanya Argan sambil menyambar jaketnya diatas meja. Dan berjalan menuju motor sportnya yang terletak dibawah pohon depan warung.


"Pusing", jawab Rea singkat yang membuat Argan buru-buru menghidupkan mesin motornya. Nyawanya yang dipertaruhkan jika tuan putri Allandra itu sampai kenapa-kenapa.


"Tunggu gue lima menit lagi", ujar Argan setelah itu mematikan ponselnya. Berpamitan singkat pada teman-temannya sebelum melesat pergi.


...###...


Rea memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Memangku tangannya di atas paha. Dengan menatap aspal yang dipijaknya. Mengabaikan orang yang berlalu-lalang di depan halte yang didudukinya kini.


Entah mengapa Rea merasa badannya sangat letih. Keinginannya hanya satu saat ini, yaitu merebahkan tubuhnya diatas kasur kesayangannya. Mungkin ikatan yang ada pada saudara kembar membuat Argan tau jika Rea tengah tidak enak badan sekarang.


"Selamat siang, dengan mbak Rearin Kalyca Allandra?."


Rea mendongakkan kepalanya dan menatap jengah Argan yang menyengir bodoh berdiri dihadapannya.


"Malu-maluin", gumam Rea melihat Argan yang memakai helm berbentuk tabung gas elpiji serta jaket ojol khas berwarna hijau. Entah dari mana cowok itu mendapatkan semuanya. Dan jangan lupakan cengiran bodoh itu. Membuat Rea ingin sekali mengirim kembarannya itu ke RSJ.


"Sesuai tujuan ya mbak. Bayarnya tunai atau ovo?", tanya Argan seraya memberikan helm serta jaket bombernya kepada Rea. Guna menutupi paha putih mulus itu. Biar tidak dilihat oleh para buaya jelalatan.

__ADS_1


"Bayar dengan pahala boleh?", sekali-kali Rea meladeni tingkah absurd Argan.


"Emang lo punya pahala?, gue kira cuma punya dosa", sahut Argan yang membuat Rea menegang.


"Dosa saya banyak Ar", gumam Rea dengan sangat pelan.


"Apa?, ngomong apa lo barusan?", Argan menaikkan sebelah alisnya seraya memberikan sebelah telapak tangannya kearah Rea. Membantu cewek itu untuk naik keatas jok belakang.


"Cepetan. Saya pusing", ujar Rea tidak menjawab pertanyaan Argan. Lalu Rea merebahkan kepalanya kearah punggung lebar Argan. Membuat cowok itu berjengit kaget, sebab biasanya Rea itu paling anti berdekatan dengan orang. Jangankan orang, untuk skinship dengan Papi nya dan Argan saja Rea malas.


Sepertinya kali ini adik kembarannya itu memang tidak enak badan.


"Oke, saya jalan juga sekarang", ujar Argan mengikuti gaya berbicara Rea. Namun tidak digubris oleh Rea. Cewek itu memejamkan matanya menikmati sapuan halus sang angin pada kulit wajahnya. Rea sangat letih. Hati dan tubuhnya sangat lelah. Ada air mata dan luka yang harus diistirahatkan nya.


Dua puluh menit berlalu. Motor sport Argan akhirnya memasuki pekarangan kediaman Allandra. Menghentikan motornya diteras depan. Lalu Rea turun dari motor dan memberikan helm serta jaket itu kembali pada Argan.


Tanpa berkata apa-apa lagi Rea langsung melenggang masuk kedalam rumahnya. Membuat Argan mengumpati sikap Rea yang sama persis dengan Papi nya.


Sementara Rea yang hendak berjalan menaiki anak tangga langsung berhenti saat mendengar sebuah teriakan nyaring yang memanggil namanya.


"Woi, princess."


Rea berbalik dan menatap Dita yang duduk di meja makan bersama Arinta. Rumah cewek itu memang berdekatan dengan kediaman Allandra. Dan siapa sangka jika Dita adalah anak dari teman Bunda nya dulu. Lebih tepatnya teman sebangku Laily, Alya.


"Kemana lo tadi malam tiba-tiba nge-hilang?", tanya Dita yang diabaikan oleh Rea. Membuat cewek itu berdecak sebal dengan respon sahabatnya itu.


"Kenapa telpon Bunda gak diangkat sayang?", Arinta berjalan menghampiri Rea yang berada di anak tangga terakhir.


"Saya sibuk Bun", jawab Rea merasa bersalah.


Arinta tersenyum maklum, "Kamu udah makan?, mau makan dulu?", tanyanya seraya mengelus surai cokelat gelap putrinya.


Rea menggeleng kecil, "Saya capek Bun, mau tidur."


Arinta mengangguk dan menarik tengkuk Rea. Mencium sekilas kening putrinya. Lalu membiarkan anak gadisnya itu berjalan menaiki anak tangga. Menatap nanar punggung kecil yang terlihat rapuh itu. Membuat ingatan masa lalu kembali terputar di benaknya.


..."Bunda, kata ibuk guru kalau kita berbicara dengan yang lebih tua itu harus sopan", ujar Rea kecil menatap polos Arinta....


..."Iya, harus sopan", sahut Arinta sibuk mengikat rambut Rea yang akan pergi sekolah hari ini....


..."Katanya yang sopan itu pakai saya-kamu."...


..."Tapi pakai aku-kamu juga sopan", balas Arinta dan menatap Rea yang terlihat sangat excited ingin pergi ke sekolah....


..."Tapi kata ibuk guru berbuat kebaikan itu gak boleh setengah-setengah", protes Rea tak terima....


...Arinta tersenyum dan mengalah, "Ya udah, terserah kamu."...


Dari Rea mulai kelas dua SD. Banyak yang bertanya kepadanya, mengapa gaya bicara putrinya itu terdengar sangat formal sekali. Dan mereka berkata apakah Rea itu adalah anak broken home. Mendengar itu sontak Arinta langsung meminta Rea untuk mengubah gaya bicaranya. Namun Rea tidak ingin menuruti Bunda nya dengan alasan kalau dia sudah nyaman dengan semuanya.

__ADS_1


Alhasil Arinta mengalah. Arinta tahu jika itu adalah perbuatan baik. Namun Rea tidak hanya berbicara formal kepada orang lain. Terhadap keluarganya pun cewek itu sangat formal dan sopan. Membuat orang yang terkadang mendengarnya menatap aneh mereka.


...~Rilansun🖤....


__ADS_2