Rearin

Rearin
Ich liebe dich auch so sehr


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Apapun yang menjadi takdir mu, pasti akan mencari jalannya sendiri untuk menemukan mu......


...###...


Untuk beberapa detik mereka terdiam tanpa ada yang berbicara. Hanya suara semilir angin yang samar-samar terdengar ditelinga. Sebelum suara lirih yang datar itu bersatu dengan angin.


"Pulang sendiri", sahut Rea tanpa memandang ke arah Levi yang menghela nafas berat.


Cowok itu menjatuhkan kepalanya di atas pundak Rea. Tangan kokohnya melingkari pinggang Rea tanpa berniat ingin melepaskannya.


"Please, give me a second chance", gumam Levi di antara ceruk leher Rea. Menghirup dalam-dalam aroma yang mampu membuatnya tenang. Lelah, dirinya sangat lelah. Dan hanya Rea lah satu-satunya obat termanjur untuk melepaskan penatnya.


Levi capek setelah begadang semalaman suntuk mengerjakan pekerjaan kantor karena David melarikan diri keluar negeri. Setelah mereka akan membawa polisi untuk menangkap pria tersebut. David sialan emang. Kalau bisa Levi ingin sekali menyedekahkan nyawa David kepada orang yang membutuhkan.


Mendengar itu sontak saja Rea tertawa dalam hati. Kesempatan kedua katanya?. Hei, setelah menyakiti hatinya hingga tak bersisa. Levi dengan begitu mudahnya meminta untuk memberikannya kesempatan kedua?. Segitu tidak layak kah hatinya, sampai bisa dipermainkan begitu saja.


"Lepasin saya", Rea tak menggubris ucapan Levi dan berusaha mencoba untuk melepas belitan tangan cowok itu di pinggangnya. Mood Rea yang tadinya bagus, malah hancur berantakan karena kehadiran Levi. Dan Rea tak ingin moodnya tambah hancur yang nantinya akan berimbas pada hari yang dijalaninya.


"Rea", panggil Levi dengan nada lelahnya. Lebih tepatnya memohon agar Rea tak beranjak kemanapun.


Rea tak menyahut apalagi menoleh. Hatinya sudah terlalu sakit mas bro.


Bagaikan kaca yang pecah, mau direkatkan pakai apapun, tetap saja garis-garis retak itu terlihat jelas.


"Demi anak kita", bisik Levi seraya menoleh ke arah perut Rea dan mengelus permukaan kulit yang sudah mulai membuncit tersebut.


Rea tersenyum miring, "Disaat melakukan itu, kamu enggak pernah mikirin tentang anak."


Levi mendongak, "Maaf", lirihnya pelan.


Jika saja Morgan dan yang lainnya melihat sikap Levi yang seperti itu. Mungkin saja para cowok itu akan membawa Levi ke tempat ruqyah. Mengira kalau Levi kesurupan hingga ke tulang.


"Kalau minta maaf berguna, buat apa ada polisi", Rea melirik Levi dengan sinis.


"Rea, please-"

__ADS_1


"Levi kita itu udah cerai. Dan saya bukan jala*g tepi jalan yang bisa kamu sentuh-sentuh seenaknya", potong Rea dengan tajam. Levi itu ya apa enggak ada otaknya, datang kerumahnya dengan tujuan menceraikan dirinya, lalu setelah itu datang kembali untuk memintanya pulang.


Dikira Rea cewek murahan yang tak laku. Asal tau saja, setelah tiga hari Levi mengantarkan surat cerai ke rumahnya. Lamaran bertubi-tubi Rea dapatkan. Baik dari anak teman Papi dan Bunda nya. Juga ada teman Argan serta kenalan dari Tante Gina nya.


Jika saja Rea memilih salah satunya. Mungkin saat ini Levi tidak lagi memiliki kesempatan untuk mendekatinya.


Namun sayang, Rea menolak lamaran itu semua setelah memantapkan hati untuk pindah ke Sydney.


"Siapa bilang?, suratnya udah aku robek, dan kejadian itu belum ada sampai tiga bulan, lagian aku rutin kok ngasih nafkah lahir lewat Argan. Lagian itu juga bagian dari rencana Papi kamu."


Rea melototkan matanya. Walau ia tau kalau Papi nya dan Argan terlibat dalam menyelesaikan masalah tersebut. Tapi tak pernah Rea duga kalau ide cerai itu berasal dari Reagan.


"Tetap aja kata pisah itu keluar dari mulut kamu", sahut Rea tak mau kalah. Pokoknya mereka sudah berpisah. Titik.


"Enggak kok, aku cuma bilang saya mengembalikan anak Tante, bukan saya menalak anak Tante."


Rea memutar bola matanya malas, "Sama aja."


"Beda dong, saya mengembalikan anak Tante, itu maksudnya aku nitip kamu bentar sama Bunda", mengapa Levi tiba-tiba menjadi cerewet sekali. Menyebalkan.


Rea melirik sinis Levi, "Bunda saya itu."


Semenjak berusaha untuk membujuknya pulang. Levi memang sudah mengganti panggilannya menjadi aku-kamu. Rea yakin itu hanyalah strategi yang digunakan cowok itu untuk membuatnya kembali.


"Kalau Bunda saya juga Bunda kamu, berarti kita adik-kakak!", ketus Rea yang semakin membuat Levi semakin tertawa.


"Tapi lebih enakan jadi suami kamu. Kalau kakak cuma sebatas saudara. Kalau suami mah enggak ada batasannya", bisik Levi sensual di akhir kalimatnya. Cowok itu malah memajukan wajahnya ke arah Rea. Dan menarik pinggang Rea untuk lebih mendekat.


Merasa paham dengan maksud siluman buaya itu, lantas dengan kesal Rea mendorong wajah Levi untuk menjauh, "Cerewet", tukasnya.


Levi tersenyum dan mencium telapak tangan Rea yang tepat berada di bibirnya.


Cup


"Ich liebe dich auch so sehr."


Rea membelalakkan matanya lalu menurunkan tangannya secara perlahan. A-apa yang dibilang oleh Levi tadi?. Telinga Rea rasanya mendadak tuli.

__ADS_1


Rea memalingkan wajahnya ke samping ketika melihat seringai-an lebar yang menghiasi wajah Levi. Ekspresi seperti apa itu. Menyeramkan. Levi seperti om-om yang ingin perkosa anak perawan orang.


Melihat telinga serta pipi Rea yang memerah bak kepiting rebus. Levi pun semakin menyeringai lebar.


"Ich liebe dich auch so sehr, Mommy."


Rea tersentak dan refleks menoleh ke arah Levi saat cowok itu dengan sengaja meniup telinganya.


And...


Cup


Bibir mereka bertemu pada akhirnya. Menempel lembut dengan menyelami telaga bening masing-masing. Tak bergerak sama sekali. Seolah waktu tengah berhenti berputar.


Hingga beberapa detik terlewati. Dan Levi lah yang duluan memulai memberikan gerakan-gerakan kecil pada benda kenyal nan basah itu.


Rea melebarkan matanya. Menatap horor Levi yang sudah memejamkan mata. Bukan begini konsepnya.


Seharusnya saat ini mereka masih membahas kejelasan hubungan yang ada di antara mereka.


"Hmph", Rea memukul dada Levi. Berharap kalau ayah dari anaknya itu melepaskan ciuman mereka. Namun Levi malah mengarahkan tangannya ke belakang kepala Rea. Menarik tengkuk wanitanya, hingga ciuman mereka semakin dalam dan intens.


Lalu Levi membuka kedua matanya saat sudah tidak lagi merasakan penolakan Rea. Cewek itu terlihat sangat manis dengan kedua mata yang tertutup. Mengikuti gerakannya dengan pasif tanpa memberontak lagi.


Seakan mendapat lampu hijau, sontak saja Levi semakin semangat untuk menyalurkan rindunya yang sudah lama terpendam kan. Sepertinya Rea juga merasakan hal yang sama terhadapnya.


"Pulang ya sayang", Levi menatap sayu Rea yang terengah-engah karena tindakannya barusan.


"Pulang sendiri sana!", ketus Rea lalu bangkit dari atas pangkuan Levi. Secepat mungkin ia berjalan masuk ke dalam rumah. Memegang dada bagian kirinya. Hei jantung, jangan murahan banget dong. Masa dicium dikit udah enggak karuan.


Rea menyandarkan punggungnya ke dinding. Menghirup nafas panjang dan menghembuskan nya kasar, "Levi sialan."


Kelopak mata itu perlahan tertutup. Rea masih sibuk berusaha untuk menetralkan jantungnya yang semakin menggila.


Haruskah Rea kembali memberikan hatinya pada orang yang sudah bertahta tinggi di dalam sana. Tapi kalau hatinya kembali disakiti dan dibuat kecewa, bagaimana. Rea tak mampu lagi untuk memungut pecahannya dan menyatukannya pelan-pelan.


Sial, benteng pertahanannya sudah mulai perlahan runtuh. Mati aja sana Levi.

__ADS_1


...~Rilansun🖤....


Pendek ya?, sorry. Otak ku udh mentok smpe disini🤧. See you next chap


__ADS_2