
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Mungkin cinta itu memiliki kalimat yang pendek. Tapi ketahuilah jika cinta adalah satu hal yang tak memiliki tanggal kadaluarsa......
...###...
"Biar Nenek aja", Sinta ingin mengambil nampan yang berisi gorengan dari tangan Rea. Namun cucu nya itu lebih dulu menjauhkannya.
"Enggak usah, saya aja", sahut Rea dengan berjalan menuju ke arah teras rumah dengan ditemani Sinta yang tersenyum menatapnya.
Rea memang rutin mengunjungi Kakek-Nenek nya pada setiap akhir pekan. Sekalian menemani Arinta di toko bunga nya. Bunda nya itu memang membuka toko bunga yang berada tak jauh dari tempat tinggal Kakeknya. Sudah lebih dari tiga tahun belakangan ini.
Lagian Rea kasihan melihat pasangan paruh baya itu yang hanya tinggal berdua di dalam rumahnya. Karena kedua pamannya yang sudah tak lagi tinggal dengan mereka berdua. Setelah lulus kuliah, Saka langsung mendapatkan pekerjaan di Turki, dan beberapa tahun kemudian menikah dengan wanita asli sana. Sedangkan Raka, cowok itu tengah mengejar Strata 3 nya di Harvard university. Dan mereka berdua akan pulang jika ada waktu.
Sampai sekarang pun, Raka belum menemukan tambatan hati nya. Sepertinya Tuhan menyuruhnya untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah terlebih dahulu. Serta membahagiakan kedua orang tuanya.
"Gimana?, kamu sama si kecil sehat-sehat aja kan?", Sinta bertanya seraya melihat cucu perempuannya itu dari samping. Setiap menatap Rea, Sinta merasa bernostalgia, sebab wajah cewek itu yang hampir mirip dengan Arinta. Bahkan nyaris mirip. Hanya saja Arinta itu anaknya kalem, ceria, dan ekspresif. Berbanding terbalik dengan Rea yang dingin tak tersentuh. Satu lagi, Rea itu lebih sedikit tegar dan tak mau menunjukkan kerapuhannya.
Dan nasib keduanya pun sama. Sinta sangat nerharap kalau nasib Rea bisa berakhir bahagia seperti Arinta. Biarlah di awal tangis yang bercerita, namun di akhir semoga tawa yang mengudara.
Lalu Rea menoleh dan menganggukkan kepalanya sebagai respon dari pertanyaan Nenek nya barusan.
"Nenek juga jangan lupa obat nya", ujar Rea kemudian yang membuat Sinta tersenyum manis.
Rea, seperti dokter yang selalu mengontrol mereka berdua setiap minggunya.
"Pasti, Buk dokter", sahut Sinta menggoda cucu nya itu.
Seperti biasa, Rea hanya diam dengan ekspresi datarnya. Memang benar-benar tidak bisa di baca.
"Kamu udah pernah coba buat check-up?", tanya Sinta lagi yang membuat Rea berhenti dan terlihat murung.
Untuk beberapa saat Rea diam tak bergeming. Sebelum menjawab, "Belum, Nek."
Lantas Sinta mengelus surai panjang Rea. Tak menyangka jika sebentar lagi ia sudah akan memiliki cicit.
"Enggak apa-apa, yang penting jaga kesehatan terus ya sayang", ujar Sinta lembut yang diangguki oleh Rea. Lalu dua perempuan berbeda generasi itu kembali melanjutkan langkah mereka seraya mengobrol kecil. Menuju Deri yang sedang duduk bersantai di depan teras rumah.
Namun saat hendak mencapai ambang pintu. Langkah Rea mendadak berhenti. Membuat Sinta menatap bingung cucu nya tersebut.
"Kenapa, Rea?."
Rea yang ditanya pun kontan menoleh dengan pupil mata yang sedikit melebar. Membuat Sinta semakin penasaran, sebenarnya apa yang terjadi pada Rea. Sampai membuatnya terlihat terkejut seperti itu.
"Nenek dia-"
__ADS_1
"Cinta. Saya mencintai Rea."
Deg
Rea menggantungkan kalimatnya saat mendengar ucapan seseorang dari luar sana. Yang mengatakan jika orang itu mencintai dirinya. Dan Rea sangat mengenali siapa pemilik suara itu.
Levino.
Mencintai?, seingat Rea mereka tidak pernah berjumpa sebelumnya. Bahkan mereka berdua terikat hanya karena dua malam kelam itu.
Lalu sejak kapan Levi mencintainya?, beberapa hari belakangan ini?, mustahil. Karena cinta bukanlah satu hal yang mudah untuk diungkapkan secara gamblang. Sebab kita harus betul-betul mengetahui apakah perasaan yang sedang mendiami hati kita benar adalah cinta, bukan hanya rasa tertarik semata.
Cinta tidak bisa dibilang cinta, hanya karena kita ingin mengungkapkannya. Dan setelah itu meninggalkan cinta tersebut serta menguburnya ke palung yang terdalam.
Mungkin cinta itu memiliki kalimat yang pendek. Tapi ketahuilah jika cinta adalah satu hal yang tak memiliki tanggal kadaluarsa.
"Le-levi?", gumam Rea tak percaya. Untuk apa cowok itu datang ke rumah Kakek nya. Dan dari mana Levi tau alamat rumah tersebut.
Argh, semenjak Levi masuk ke dalam kehidupannya. Rea selalu merasa kepalanya akan terasa meledak. Sangking banyaknya beban pikiran yang menggunung di dalam sana.
"Rea?, kamu kenapa sayang?", tanya Sinta yang khawatir melihat Rea yang terlihat berdiri mematung. Ada apa dengan cucunya itu.
Untuk beberapa saat Rea diam dengan segala pemikirannya. Tak mempedulikan Sinta yang terus memanggil-manggilnya. Sampai sebuah tepukan di pundaknya membuat Rea tersadar dari lamunannya.
"Kamu kenapa?."
Sinta pun menghela nafasnya. Ia paham jika Rea bukanlah seseorang yang mudah bercerita kepada orang lain. Dan Sinta tak ingin memaksa.
"Ya udah ayo", ajak Sinta.
Dengan menganggukkan kepalanya ragu Rea berjalan pelan di belakang Sinta.
Ketika mereka hendak melangkah keluar dari pintu. Deri terlihat masuk dan membuat mereka berhenti di tempat.
"Loh?, baru aja mau nyamperin, kenapa kamu masuk?, udah dibuatin gorengan padahal", cerocos Sinta saat melihat suaminya masuk ke dalam rumah.
"Mau keluar?, ya silahkan", ujar Deri mempersilahkan Sinta untuk keluar. Membuat wanita paruh baya itu berdecak kesal.
"Ada siapa di luar?", tanya Sinta lagi.
Deri sontak langsung memandang ke arah Rea yang menunduk di belakang Sinta.
Lalu pria itu berjalan menghampiri cucunya. Mengelus surai panjang Rea seraya mengecup lembut kening cewek tersebut.
"Laki-laki yang baik itu adalah laki-laki yang berani mengakui kesalahannya. Berani meminta maaf. Dan yang terpenting berani mengambil tanggung jawab dari apa yang sudah diperbuatnya. Berdiri tegak, dan berbicara dengan lantang mengakui kesalahannya. Menerima segala hukuman yang diberikan kepadanya. Namun ia tidak lari setelah mendapatkan hukuman tersebut, ia tetap berdiri dengan kokohnya", ujar Deri panjang lebar yang membuat Rea dan Sinta memandang bingung kearahnya.
__ADS_1
"Siapa laki-laki yang kamu maksud?", Sinta bertanya dengan menatap penuh selidik kepada suaminya.
Deri menoleh, "Ayah dari cicit kita", jawabnya to the point.
Membuat Sinta membelalakkan matanya tak percaya. Dan Rea yang hanya bisa menatap gelisah ke arah nampan yang berisi gorengan tersebut.
"Di-dia kesini?", tanya Sinta kemudian.
Deri terlihat mengangguk.
"Terus kamu apain?, kamu pukul?, ingat udah tua, entar masuk hotel bintang lima", dari dulu Sinta memang tak pernah suka jika menyelesaikan suatu masalah dengan kekerasan. Selagi mulut bisa berbicara, lalu kenapa tidak diselesaikan secara baik-baik saja.
Deri mendengus. Sedangkan Rea, cewek itu langsung memandang ke arah kakek nya. Apakah benar jika Deri juga ikut memukul Levi.
Deri tersenyum menatap Rea. Seolah tau akan arti dari tatapan cucu nya. Deri lantas berujar, "Kakek pun tak mau mengotori tangan dengan darahnya. Kalau kakek pukul, terus pulang ke rahmatullah, entar Rea nangis", pria itu mengelus pipi Rea yang sialnya malah merona mendengar godaan dari Deri.
Siapa yang akan nangis?, malahan Rea akan tersenyum sangat lebar di hari kematian cowok tersebut, mungkin.
"Bicarakan dengan baik-baik. Jangan pikirkan ego masing-masing. Setidaknya untuk sekarang si kecil adalah prioritas utama", ujar Deri lagi yang membuat kedua perempuan tersebut terdiam. Deri itu memang Ayahable banget. Ia tegas namun menunjukkannya dengan penuh kelembutan.
"Udah sana pergi", Deri mengambil nampan tersebut dari tangan Rea. Dan menyuruhnya untuk segera keluar menghampiri Levi.
Deri yakin jika saat ini cowok itu tidak memiliki pendukung sama sekali. Berjuang sendirian.
Bukannya mendukung sebelah pihak, hanya saja Deri ingin memberikan kesempatan untuk cucunya bahagia.
Rea menatap Deri ragu. Lalu dengan satu anggukan meyakinkan dari Kakek nya. Rea melangkahkan kakinya mantap keluar rumah. Menghampiri Levi yang terlihat melamun dengan pandangan fokus ke depan.
Lalu cewek itu menghirup udara panjang sebelum bertanya dengan nada datar andalannya, "Ngapain kemari?."
Mendengar itu, Levi sontak menoleh dan bangkit dari duduknya saat melihat Rea yang berdiri di sampingnya.
"Salah, kalau gue mau ketemu lo?", Levi malah bertanya balik.
"Kenapa?", Rea menundukkan pandangannya. Ia tak mampu menatap netra abu-abu yang terlihat tajam itu. Untuk pertama kalinya, Rea menundukkan wajahnya saat berhadapan dengan orang lain.
"Karena gue rindu lo", sahut Levi lugas. Membuat Rea mendongak dan melotot menatap Levi yang tersenyum miring.
Sial, mengapa cowok itu malah terlihat sangat tampan.
Dengan gaya bad boy nya serta wajah tampannya yang mendukung. Siapa yang bisa menolak pesona seorang Levino Altan Devora. Terlebih kaum hawa.
Eh, apakah Rea termasuk salah satu cewek yang tak bisa menolak pesona Levi?. Enggak, enggak mungkin.
Hatinya sama sekali belum pernah terjamah oleh siapapun.
__ADS_1
...~Rilansun🖤....