Rearin

Rearin
Morgan dan Tiffany


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Gue nyari suami, bukan playboy penyebar janji......


...###...


"Makasih, Bik."


Bik Mirna tersenyum manis menatap dua orang perempuan yang duduk berdampingan itu. Setelah selesai menyajikan beberapa camilan dan tiga cangkir teh, wanita paruh baya itu lantas pamit undur diri kebelakang.


"Silahkan", Rea mendorong secangkir teh ke depan Tiffany. Mengurai kecanggungan yang ada di antara mereka berdua. Dari tadi banyak pertanyaan yang bersarang di kepala Rea. Untuk apa Tiffany datang ke rumah mereka?. Apakah cewek itu tidak terima dengan batalnya pertunangan antara Levi dan dirinya?. Tapi jika Tiffany ingin melabrak, sudah pasti mereka berdua tidak duduk menikmati camilan disini, bukan.


Tiffany mengangguk singkat dan menyesap pelan secangkir teh yang diangkatnya. Tiffany menyadari kecanggungan Rea. Dirinya pun juga sama, canggung, kikuk, dan merasa tidak nyaman. Terlebih bila mengingat kebelakang, rasa bersalah itu langsung menguap di hatinya.


Dulu Tiffany dengan tak tau malunya datang ke rumah ini sebagai calon tunangan dari suami perempuan yang tengah duduk disampingnya.


"Udah berapa bulan?", Tiffany membuka obrolan terlebih dahulu. Tidak mungkin kan kalau mereka berdua harus diam-diaman seperti itu terus.


Rea yang tadinya menunduk menatap perutnya lantas mendongak seraya tersenyum tipis, "Empat bulan."


"Sehat-sehat terus ya", ujar Tiffany mengelus perut Rea membuat bumil satu itu terpana kaget. Namun tak berapa lama, raut wajah Rea kembali normal. Sedari awal Rea memang tau kalau Tiffany adalah perempuan yang baik. Hanya saja Tiffany dibutakan oleh keegoisan dan rasa sakitnya.


Hamil tanpa sosok suami itu tidaklah mudah.


"Kamu juga, semoga ibu dan anaknya sehat-sehat terus", balas Rea yang dibalas Tiffany dengan senyuman manisnya.


Lalu keduanya kembali terdiam. Sebelum suara lembut dan anggun itu kembali mengalun merdu.


"Rea."


Merasa dipanggil, Rea mengalihkan pandangannya dari vas bunga ke arah Tiffany. Dan entah rasa cemas dari mana, Rea memainkan jari-jarinya yang berada di atas pangkuannya. Menatap Tiffany yang ingin melanjutkan ucapannya.


Sepertinya pembicaraan mereka akan sangat serius.


"Gue minta maaf", Tiffany tersenyum sendu menatap Rea yang juga tengah menatapnya.


"Gue hampir aja ngerusak rumah tangga lo karena keegoisan gue semata. Yang ada dipikiran gue waktu itu adalah nyariin ayah buat anak gue. Tanpa pernah berpikir kalau ayah tersebut juga memiliki anak yang juga sangat membutuhkan ayahnya", lanjut Tiffany sambil menundukkan kepalanya. Mengusap perutnya yang sudah membuncit.


"Kalau aja kebahagiaan itu bisa dibeli, gue bakal borong semuanya untuk anak gue. Kasihan dia, masih kecil tapi udah ditinggal gitu aja sama bapaknya. Kalau yatim mah jelas, lah ini statusnya pun sama sekali enggak jelas", Tiffany terkekeh pelan di akhir kalimatnya. Tapi Rea bisa menangkap kesedihan dan luka yang tersirat di dalamnya.


"Sialan emang si Bayu", umpat Tiffany pelan seraya menghela nafas. Lalu Tiffany menatap kembali Rea yang sudah berkaca-kaca memandangnya. Bumil emang sangat sensitif.


Terbawa suasana, manik coklat gelap nan indah itu pun turut diliputi berlian.


"Gue cuma enggak mau anak gue dipanggil anak haram", lirih Tiffany pelan yang langsung membuat Rea menarik cewek tersebut kedalam pelukannya.


Rea paham betul bagaimana perasaan Tiffany. Dulu sebelum menikah dengan Levi, Rea juga memiliki ketakutan seperti itu. Rea takut anaknya kelak bakal dibully dan dicaci habis-habisan.

__ADS_1


Anak haram?, itu sangat lah kejam.


"Loh, kok nangis?."


Rea melepaskan pelukannya. Menatap Levi yang sudah berdiri dihadapannya dengan pakaian yang santai.


"Kenapa nangis, hm?", Levi menangkup wajah Rea dengan tangannya. Menghapus bulir-bulir air mata yang masih jatuh menggunakan ibu jarinya.


Bukannya menjawab, Rea malah memeluk Levi dan menyembunyikan wajahnya di perut kotak-kotak suaminya tersebut. Kembali melanjutkan tangisnya dengan lebih kencang.


Levi melirik Tiffany yang sedang menghapus air matanya dengan alis yang terangkat.


Ada apa dengan kedua wanita hamil tersebut?. Apa moodnya bumil emang aneh seperti itu?.


Tiffany tersenyum, "Biasa, bumil."


Mendengar itu Levi lantas menghela nafas lega. Ia pikir kalau kedua perempuan itu tadinya terlibat cekcok hingga bermaaf-maafan dan berakhir dengan menangis bersama.


"Cengeng banget sih. Dikit-dikit nangis", ejek Levi seraya mengelus rambut istrinya.


Rea mengatupkan bibirnya berusaha menahan suara isak tangisnya. Lalu dengan satu gerakan pelan Rea mencubit pedas punggung Levi. Membuat cowok tersebut mengaduh kesakitan.


Heran, suka banget nge-jailin istrinya.


Tiffany yang melihat adegan yang menurutnya manis itu pun tak dapat untuk tidak tersenyum. Menurutnya cool couple itu memiliki caranya sendiri untuk menunjukkan kemesraannya.


"Levi, Rea."


"Gue mau ngomong sesuatu, penting."


...###...


"Udah, jangan gugup", Rea memegang tangan Tiffany yang berada di atas meja. Sedari tadi Tiffany menghela nafas terus, membuat Rea yang melihatnya pun tahu bagaimana gugupnya seorang Tiffany Aurellie.


"Morgan enggak gigit kok", celetuk Levi yang duduk dihadapan Rea dan Tiffany dengan pandangan fokus pada ponselnya. Membuat Rea memandang jengah ke arah suaminya tersebut.


Rupanya kedatangan Tiffany ke rumah mereka dua hari yang lalu, selain meminta maaf, adalah meminta Levi serta Rea untuk dapat menemani Tiffany menjumpai Morgan.


Rea kira apa sampai Tiffany terlihat sangat serius waktu itu.


Rea memang mengetahui hubungan yang ada di antara Tiffany dan Morgan dari Levi. Sebenarnya Rea cukup khawatir dengan mereka. Cinta memang bisa dibangun perlahan-lahan. Namun jika cinta itu tidak ada sedikitpun sedari awal, maka ketika terkena terpaan badai sedikit saja, hubungan itu akan langsung kandas.


Memang takdir tidak ada yang tau. Tapi ya sudahlah, Rea berdoa yang terbaik saja untuk keduanya.


Bunyi bel pintu membuat Tiffany langsung memandang ke depan cafe. Dimana seorang laki-laki dengan gaya cool nya berjalan menghampiri mereka. Seketika jantung Tiffany terasa gempa lokal.


"Sorry, nunggu lama", Morgan mendaratkan tubuhnya di sofa yang sama dengan Levi. Meminum minuman yang sudah dipesankan.

__ADS_1


Jika Morgan terlihat santai, maka tidak dengan Tiffany yang sudah berkeringat dingin. Anggaplah jika dia terlalu berlebihan, Tiffany tidak perduli.


Nyatanya jantungnya memang berdegup dengan sangat kencang. Tangannya yang basah karena keringat. Bibirnya yang kelu. Dan matanya yang tak bisa diam melirik kesana-kemari. Yang penting tidak melihat sosok objek yang berada didepannya kini.


"Udah-"


"Levi temani sa-aku ke toilet", Rea memotong ucapan Levi dengan meringis. Tadi malam Levi memintanya untuk tidak berbicara dengan formal. Rea menolak, karena dirinya sudah terbiasa begitu dari kecil. Tapi lagi-lagi Levi memiliki seribu macam ancaman yang mampu membuat Rea bungkam dan menurut.


"Tumben", Levi menaikkan sebelah alisnya menatap Rea. Sementara Rea mendelik tajam ke arah Levi. Heh, apakah Levi tidak paham dengan maksudnya?.


Ingin pergi ke toilet itu hanyalah sebuah alibi, sebenarnya Rea mau memberi sedikit ruang kepada Morgan dan Tiffany untuk berbicara.


Maklumlah, otak Levi itu berat sebelah. Soal pelajaran dan itu saja yang kencang. Soal cewek dan segala masalah hubungan, Levi masih perlu masuk ke perguruan.


"Bentar doang", Rea menarik tangan Levi untuk segera bangkit. Sedikit melototkan matanya ketika Levi hendak kembali protes.


Suka banget nyari bahan perdebatan. Enggak kasian apa dengan istrinya yang lagi hamil begini. Tiap menit diajak debat melulu.


"Eum, kami pamit bentar ya, kalian berdua ngobrol baik-baik aja ya", ujar Rea dengan senyuman tipisnya yang dibalas Tiffany dengan pandangan mata yang tak rela ditinggal berdua saja dengan Morgan.


"Ayok, Levi", tanpa ba-bi-bu lagi Rea segera menarik Levi untuk segera menjauh, sebelum suaminya yang baik itu kembali membuka protes-an.


Morgan tersenyum geli melihat Tiffany yang masih tak rela melihat kepergian Rea dan Levi. Terbukti dengan cewek itu yang masih menatap ke arah dua pasangan tersebut.


"Kapan?."


"Hah?", Tiffany mengerjapkan matanya berkali-kali. Kapan apa?.


"Mau nikah kapan?."


"Hah?", jika tadi Tiffany melongo, kini dirinya menatap Morgan dengan mata yang melotot dan mulut yang terbuka. Mengapa Morgan menanyakan itu dengan sangat santai. Seperti sedang menawar harga ikan di pasar.


Morgan berdecak pelan. Bangkit dari duduknya dan mencondongkan tubuhnya ke arah Tiffany yang masih dengan ekspresi menggemaskannya.


"Mau nikah kapan calon mama?", bisik Morgan pelan di hadapan wajah Tiffany. Bahkan Tiffany bisa mencium bau mint dari nafas Morgan. Belum lagi parfum yang dikenakan Morgan. Sangat manly.


Tiffany menarik nafasnya susah payah. Mengapa Morgan harus berbicara begitu dekat. Tidak bisakah cowok itu tetap duduk seperti tadi. Sebab ada sesuatu di dalam sana yang sedang berdetak gila.


"L-lo maunya kapan?", sumpah itu keluar begitu saja dari mulut Tiffany. Bahkan dirinya sendiri saja kaget. Membuatnya menutup mulut dan menatap Morgan dengan menggeleng kecil.


Morgan lantas tersenyum miring, "Besok?, kalau enggak hujan."


Pletak


Tiffany tiba-tiba menjitak kening Morgan. Membuat siempunya meringis sakit plus kaget.


"Gue nyari suami, bukan playboy penyebar janji", tukas Tiffany sebelum berlenggang pergi dengan kesal.

__ADS_1


Sialan, dirinya dipermainkan.


...~Rilansun🖤....


__ADS_2