
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Terima kasih Tuhan, karena telah menempatkan ku di tengah-tengah kehangatan ini.......
...###...
Empat tahun kemudian...
"Arthur!, kamu dengerin Mommy gak?", tanya Rea kepada putranya dengan intonasi suara yang cukup tinggi. Membuat anak laki-laki yang baru menginjak usia tujuh tahun itu menunduk takut.
Arthur tak menjawab, membuat Rea bertambah geram. Ini yang Rea takuti, putra sulungnya menjadi seperti Levi dulu yang beringas dan tak kenal ampun.
"Kamu melawan dalam hati, iya?, kamu nyumpahin Mommy diam-diam?."
Arthur mendongak dan menggeleng dengan cepat, "Enggak, Mom", bantahnya dengan suara yang pelan namun terkesan datar.
"Terus kenapa kamu gak jawab Mommy?, Kamu udah bosan dengerin omelan Mommy?", sewot Rea lagi.
Arthur menggeleng lesu.
Melihat Arthur yang begitu, entah mengapa Rea tiba-tiba merasa bersalah.
"Ini demi kebaikan kamu Arthur. Mommy gak suka lihat kamu kayak gitu. Kamu gak malu Daddy dipanggil ke sekolah karena masalah anaknya berantem?. Bukannya Mommy nge-bandingin. Tapi asal kamu tau, walau pun Uncle Argan itu terkenal dengan julukan trouble maker nya. Tapi dia gak pernah nyeret Oma dan Opa ke sekolah. Sebandel-bandel nya dia, dia tau batas. Dan Mommy gak mau hal ini terulang lagi", ujar Rea panjang lebar.
"Tapi Mom, Rio duluan yang nyerang Arthur. Dia gak nerima Arthur bilangin supaya jangan gangguin Ratu lagi. Arthur gak suka Ratu diganggu, Mom", sahut Arthur dengan alasannya sendiri. Menatap berani namun penuh hormat mata Mommy nya.
Rea mengurut pelipisnya. Entah bagaimana Arthur bisa sedekat itu dengan Ratu. Hingga dengan cara apapun Arthur pasti akan selalu melindungi Ratu.
"Ya, tapi gak gitu caranya boy", Levi yang sedari tadi diam lantas mendudukkan dirinya disamping Arthur. Lalu merangkul bahu bocah yang dulu sering sekali cekcok dengannya. Bahkan hingga kini.
"Enggak semua masalah bisa diselesaikan dengan kekerasan. Kalau dengan berantem bisa nyelesain sesuatu, mungkin sekarang kamu udah bonyok sama Daddy. Mustahil kalau Daddy gak marah. Tapi apa?, Daddy gak ngelakuin apa yang kamu lakuin ke teman kamu tadi kan. Karena apa?, karena Daddy tau alasan dibalik semua itu. Mungkin Rio juga sama, mungkin dia suka sama Ratu. Tapi dia gak tau cara ngungkapinnya gimana. Makanya dia gangguin Ratu", jelas Levi dengan menggunakan kalimat yang mudah dicerna oleh seukuran anak kelas 2 SD.
Jangan heran lagi, berkat kepintaran yang diwarisi dari kedua orang tuanya. Arthur berhasil masuk ke dalam kelas akselerasi.
Mendengar kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Daddy nya, Arthur sontak menatap tak suka Levi yang tersenyum menyebalkan kepadanya.
"Enggak ada yang boleh suka sama Ratu, selain Arthur", ucap Arthur seperti janji sehidup semati.
Levi tersenyum miring, "Posesif amat mas", ejeknya seraya mencolek dagu Arthur.
"Daddy!."
Levi terkekeh pelan.
"Jadi kamu paham dengan apa yang Mommy bilang tadi", sela Rea dengan masih berdiri dihadapan putranya yang kembali menunduk.
Dengan memainkan jari-jemarinya yang terpaut. Arthur mengangguk singkat, "Paham Mom."
"Apa?", tanya Rea masih dalam mode marahnya.
"Enggak boleh berantem lagi."
"Terus?."
"Apapun masalahnya, harus diselesaikan baik-baik dan gak boleh nyeret siapapun lagi."
__ADS_1
Rea menggigit bibir bagian dalamnya. Ini adalah pertama kalinya ia marah seperti ini kepada Arthur. Jadi Rea sedikit gemetar karena emosinya yang lepas kontrol.
Tapi saat Rea mendapatkan telepon dari gurunya Arthur tadi. Darahnya mendesir seketika. Rea takut, sangat takut bila Arthur menjadi seperti Levi. Seperti binatang buas yang tak kenal lelah menerkam mangsanya. Kejam, bengis, dan sadis.
Dan Levi menyadari ketakutan istrinya itu. Sebagai seorang Ayah, Levi juga tak ingin Arthur mencontoh sisi kelam dari dirinya.
"Pfft."
Rea menolehkan kepalanya ke arah Levi yang tampak menahan tawa. Dengan ekspresi menyebalkan yang membuat Rea ingin mencakar wajah tampan yang selalu mengisi hari-harinya itu.
"Levi!, kamu kenapa muka nya gitu?!", Rea melotot dengan mata yang berkaca-kaca. Tuh kan, ia tuh gak bisa marah-marah. Apalagi dengan putra kesayangannya.
Levi melirik Rea dan menggeleng cepat dengan tangan yang membekap mulutnya.
Rea mempautkan bibirnya dan menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa. Mengambil bantal sofa dan menutupi wajahnya. Pecahlah tangis Rea disana dengan diiringi oleh tawa Levi yang membahana.
Saat mendengar isakan istrinya semakin membesar, Levi pun lantas menghampiri Rea dan duduk disampingnya.
Memeluk perempuan yang sangat berharga untuknya itu, "Mana ada orang tuanya yang marahin anaknya kayak gitu", selama Rea memarahi Arthur. Mata Levi tak pernah lepas dari wajah Rea yang menahan tangis. Bibir yang digigit. Mata yang berkaca-kaca, dan suaranya yang bergetar.
"Kalau Arthur anaknya bandel gak ketulungan, udah diketawain kamu dari tadi sama dia. Marahin anak aja nangis, cengeng", tambah Levi dan seraya mengusap perut istrinya yang berisi calon anak ketiga mereka.
Rea melemparkan bantal sofa yang dipakainya tadi ke arah dada bidang Levi. Lalu memeluk tubuh yang selalu melindunginya itu, "Diem."
Selain karena hormon kehamilannya. Rea menangis juga karena ia merasa gagal menjadi orang tua. Rea merasa didikannya kepada Arthur tak berhasil hingga anaknya bisa berbuat seperti itu. Dan juga ini adalah kali pertama Rea marah seperti ini.
Selain marah kepada putranya, Rea juga marah pada dirinya sendiri.
"Kamu tau gak, kalau lihat Arthur hari ini. Aku jadi inget waktu aku cemburu dengan Argan. Sampai aku nekat, ekhem nyakitin kamu malam itu", Levi mendadak membuka rahasia serta luka lama.
"Iya, aku gak tau kalau Argan itu Abang kamu. Sampai di hari kamu dikeluarin dari sekolah", bila mengingat itu Levi meringis malu. Merasa dirinya sangat bodoh waktu itu.
"Katanya kamu cinta aku udah lama. Masa itu aja gak tau?."
Levi memutar matanya ke segala arah, mencari alasan yang tepat. Tak mungkin ia mengakui kalau dirinya ini sangatlah dungu dalam hal percintaan. Makanya Levi tak bisa mendapatkan gelar playboy cap koyo.
"Ya kan aku cintanya sama kamu, bukan keluarga kamu", alibi Levi.
Mata Rea kembali berkaca-kaca, "Berarti kamu hiks, enggak suka sama keluarga aku?."
Argh, sial. Mengapa setiap Rea hamil selalu saja cengeng.
"Bu-bukan gitu sayang."
"MOMMY...., CIA PULANG."
Semua orang yang ada di ruang tengah itu seketika menolehkan kepalanya ke arah bocah perempuan berumur 4 tahun dengan seragam TK nya.
Kalea Marshia Devora. Anak kedua dan anak perempuan pertama dari pasangan Levino dan Rearin.
"Loh, Mommy kenapa?, why ale you clying Mommy?", Kalea, atau yang lebih sering dipanggil princess Cia itu berdiri dihadapan Mommy nya dan menyentuh pipi wanita yang sudah melahirkannya.
"Pasti bang Althul kan?", Kalea memutar kepalanya menatap sang Abang yang duduk di seberang sofa.
"Tanyain tuh sama Daddy yang kamu bilang gantengnya tiada tara", sahut Arthur cuek.
__ADS_1
Kalea menatap Levi yang tersenyum manis kepadanya. Untung saja anaknya perempuan, kalau tidak, mungkin sudah menjadi santapan anjing pak RT.
"Daddy?", tunjuk Kalea pada Levi.
"Enggak, Abang kamu tuh yang buat Mommy nangis", Levi menunjuk Arthur yang memutar bola matanya jengah.
"Siapa Mom olangnya?, bial Cia bogem sini", Kalea menyingsingkan lengan baju sekolahnya. Entahlah, bagaimana bisa anak perempuan dari keluarga Devora itu bisa seberani dan sebar-bar itu.
"Adeknya yang buat Mommy nangis", Rea menunjuk perutnya yang sudah memasuki bulan keenam.
Mendengar itu Kalea mendadak melembut dan menyentuh perut buncit Rea, "Adeknya Cia gak boleh buat Mommy nangis ngelti?. Laki-laki itu gak boleh buat pelempuan nya nangis, iya kan Dad?."
Jika dulu Arthur meminta adek perempuan. Maka kini Kalea me-request adek laki-laki.
Levi mengangguk, "Iya dong."
"Kayak Abang Anta yang selalu buat Cia ketawa. Adek halus kayak gitu."
"Bukan Abang, tapi Om."
Kalea yang sedang mengobrol dengan adiknya pun seketika menatap horor Arthur yang barusan berceletuk.
Karena Laily sudah dianggap Tante oleh Rea, maka dari itu anak-anak Laily adalah sepupu Rea juga. Dan tentu saja Anta adalah Om untuk Arthur dan Kalea.
Namun gadis kecil itu tak mau memanggil Anta dengan sebutan Om, karena katanya Anta belum tua dan Anta itu ganteng. Enggak kayak om-om tukang es lilin yang jualan di depan sekolahnya.
"Kok nyebelin sih, Cia bilangin ke Kak Latu balu tau."
"Cepu", ejek Arthur singkat.
Rea serta Levi yang melihat Cia adu mulut dengan Arthur pun tak dapat menahan senyumannya. Ocehan-ocehan kedua anak mereka itu selalu berhasil membuat rasa letih mereka hilang seketika.
Cia yang galak akan emosi bila lama-lama menghadapi Arthur yang dingin tapi nyebelin.
"Anak kamu enggak ada yang beres."
Rea melotot dan mencubit perut Levi, "Mulutnya."
"ENGGAK... ABANG ANTA CUMA BOLEH JADI SUAMI CIAAAA", teriak Kalea seraya berlari mengejar Arthur yang mengejeknya.
Rea yang mendengar itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sepertinya setelah anak-anaknya besar nanti, Rea tak perlu pusing untuk mencarikan jodoh keduanya. Karena dari kecil saja Arthur dan Kalea sudah memiliki tambatan hatinya masing-masing.
Levi memeluk tubuh Rea dari samping seraya menyaksikan Kalea yang menumbuk perut Arthur yang tertawa dibawah tubuh Kalea.
Cinta mereka tidak lah salah. Yang salah adalah bagaimana cara mereka dapat bersatu. Andai kata Levi dapat lebih bersabar diri. Dan Rea yang lebih mampu untuk menjaga diri. Mungkin sepasang remaja itu tidak akan sampai di titik seperti ini. Terikat dalam satu hubungan sakral, yaitu pernikahan. Dan mendapatkan tanggung jawab sebagai orang tua.
Tapi baik Levi dan Rea, tak pernah menyesali ini. Malah mereka berdua bersyukur dan mengucapkan beribu terima kasih kepada Tuhan karena telah menempatkan mereka di tengah-tengah kehangatan yang ada.
Kehangatan yang mampu membuat orang lain iri.
...~Rilansun🖤....
...Huwaaa sorry lamaaaa, udh masuk waktu ujian, and u know lah😶.Semoga suka.... Ini adalah titik akhir dari perjumpaan kita, dan semoga saja ini adalah yang terbaik dari segalanya. Cielah, bhsnya😂. Sekali lagi makasih udah mau baca cerita abal-abal ku ini. Dan sorry kalau aku agak ngeselin. Semoga hidupnya lancar.........
...Paypay👋👋, see you next time.... ...
__ADS_1
Selasa, 30 November 2021. Istrinya mas Jamal pamit undur diri🐷