
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Tanpa sadar terkadang kita sudah mengubah seseorang dengan drastis hanya karena beberapa kata......
...###...
Bara menatap dengan penuh binar deretan cokelat yang ada di depan meja kasir. Seperti hasutan setan yang menggoda iman nya. Memanggilnya untuk membeli. Padahal ia sudah dilarang memakan makanan kesukaan sejuta umat itu. Tapi ya mau bagaimana lagi, kalau udah melekat di dalam hati bakal susah di lupain kan.
Lalu Bara sedikit menundukkan badannya melihat harga yang tertera. Cowok itu pun merogoh sakunya dan menatap sedih uang sepuluh ribu yang ada di tangannya. Mendongakkan kepalanya menatap mbak kasir yang tersenyum profesional memandangnya.
"Ada yang bisa saya bantu mas?."
"Eum, ini ada diskon nya gak mbak?", tanya Bara sambil menunjuk deretan cokelat yang ada dihadapannya.
Mbak kasir pun sedikit melongok kan kepalanya dan memandang sekilas barang yang dimaksud oleh Bara. Lalu Mbak kasir itu menggelengkan kepalanya seraya meringis menatap Bara yang cemberut.
"Kalau mau, hari ini ada diskon lima puluh persen untuk mie instan, air mineral-"
"Untuk apa air mineral. Di rumah gue banyak air. Air kolamnya aja bisa diminum", sela Bara dengan ketus membuat Mbak kasir langsung kicep di tempat. Antara gemas dan malu.
Anak TK mana sih itu yang kabur.
"Sepuluh ribu gak bisa?", tanya Bara lagi dengan mengangkat sebungkus cokelat dan menunjukkannya pada kasir perempuan tersebut.
Mbak kasir sontak menggelengkan kepalanya.
"Ayolah mbak, sepuluh ribu. Kecil doang masa dua puluh ribu. Korupsi namanya itu. Saya ini influencer loh mbak dan saya juga dinobatkan duta kuliner sama prince charming di sekolah saya", ujar Bara dengan menunjukkan puppy eyes andalannya. Membuat Mbak kasir gemas ingin mencubit pipi yang tampak berdaging itu.
"Enggak bisa mas", sahut mbak kasir. Untung saja hari ini sepi, jadi Bara tidak membuat antrian yang panjang.
Bara mencebikkan bibirnya. Lalu tak kehabisan akal Bara sedikit mencondongkan badannya kearah mbak kasir, membuat cewek itu refleks mundur kebelakang.
"Mbak tau SMA Angkasa gak?, sekolah yang sebesar GBK itu?, tau enggak?", tanya Bara yang terkesan memaksa.
Mbak kasir pun menganggukkan kepalanya cepat. Menatap takut Bara yang berada didepannya. Mana tau cowok itu orang gila yang kabur dari RSJ.
__ADS_1
"Nah itu punya-"
"Punya mas?."
Bara menggeleng kecil, "Bukan, punya keluarga teman saya", jawabnya dengan menyengir lucu.
Mbak kasir hanya bisa tersenyum geli. Mana mungkin cowok selucu itu adalah orang gila yang kabur dari RSJ.
"Enggak bisa mas, harganya emang udah segitu", ujar mbak kasir mencoba memberi penjelasan pada Bara yang masih menatapnya dengan berbinar.
"Ayolah mbak, kalau pelit jerawatnya tambah besar loh", Bara menunjuk jerawat mbak kasir yang refleks membuat cewek itu menutupi pipinya yang terdapat jerawat. Menghela nafas panjang, takut dosa mengumpati anak kecil.
"Tetap enggak bisa-"
"Ayolah, ayolah. Entar saya suruh deh teman saya buat dateng kesini, ngadem", Bara makin gencar mencondongkan badannya kearah mbak kasir. Dengan menampilkan puppy eyes. Membuat siapa saja yang melihatnya tak tahan untuk menarik gemas pipi cowok tersebut.
Levi memutar bola matanya saat melihat Bara yang sepertinya sedang menggoda mbak kasir tersebut. Entah apa lagi yang ditawar oleh cowok itu. Lantas Levi berjalan menghampiri meja kasir dengan sekeranjang makanan dan minuman untuk mereka nanti di markas.
Berdiri diam dibelakang Bara sebelum mengambil sepuluh bungkus cokelat saat tau itulah yang menjadi keinginan Bara.
"Hitung", Levi meletakkan keranjang belanjaan nya diatas meja membuat Bara kaget dan menoleh kearah Levi yang sudah berdiri disampingnya.
"Huwaaa Levi, cuma lo yang peka emang. Tambah keripik kentang boleh?", Bara tersenyum sumringah menatap Levi yang bertampang datar.
"Hm", Levi hanya bergumam yang langsung membuat Bara mengacir ke arah jejeran rak berisi camilan.
Tak lama kemudian, Bara kembali lagi dengan lima bungkus camilan berukuran besar dalam dekapannya.
Setelah selesai membayar, mbak kasir itu memberikan sekantung plastik besar berisi belanjaan kearah Levi seraya tersenyum.
Bara yang melihat keganjilan dari senyuman itu lantas berceletuk sambil mengunyah keripik, "Mbak nya centil ih. Cewek itu harus jual mahal mbak, jangan mau disamain sama kolor sepuluh ribu tiga."
Mbak kasir yang mendengar itu lantas tersenyum canggung. Sepertinya cowok baby face itu dendam kepadanya karena tidak dituruti permintaannya untuk turun harga.
Levi hanya menggeleng kecil lalu berlenggang pergi dengan Bara yang membuntutinya dari belakang.
__ADS_1
Ketika pintu mini market itu tertutup dengan sempurna. Levi terpaku di depan pintu dengan pandangan yang lurus. Membuat Bara menepuk pundak cowok tersebut.
"Woi, kenapa lo?. Jangan bilang tiba-tiba datang bulan?!", ujar Bara histeris sambil menatap kearah bokong Levi. Memastikan apakah ada merah-merah atau tidak. Terkadang bodoh dan enggak punya otak itu emang beda tipis. Pantasan enggak lulus, orang tiba di kelas langsung tidur dan bangun pas jam istirahat atau pulang. Sesimpel itu emang hidup seorang Bara Antonio Prayudha.
"Enggak ada darah", gumam Bara setelah mengamati bokong Levi. Membuat orang yang lalu lalang menatap aneh kearah mereka berdua.
Lalu Bara terjengit kaget saat melihat tangan Levi yang mengepal erat. Rahang cowok itu yang sudah mengeras. Membuat urat-urat lehernya tercetak jelas. Sontak Bara mengikuti kemana arah pandang Levi. Kernyitan di dahinya muncul saat melihat seorang cewek di seberang sana. Berdiri di depan apotik dan terlihat bingung.
"Terulang lagi", gumam Levi pelan yang dapat di dengar oleh Bara dan menambah lipatan di kening mulus duta kuliner tersebut.
Sementara Levi terus memandang ke satu titik di depan sana. Tak mempedulikan sekitar. Seolah di dunia ini hanya ada dirinya dan seorang cewek yang menjadi objeknya.
Lalu kilasan masa lalu tiba-tiba terlintas di benaknya. Membuat kepalan tangan itu semakin mengerat.
...Levi menatap penuh harap kearah gadis yang berdiri dihadapannya dengan wajah yang datar. Tidak ada ekspresi apapun yang terlihat setelah Levi mengungkapkan perasaannya. Respon cewek itu tidak sesuai harapan Levi. Padahal sudah satu bulan lebih Levi menyiapkan keberanian dan semuanya hanya untuk hari ini. Tapi segalanya tidak sesuai dengan ekspektasi....
...Terdengar gila memang, seorang anak SD yang baru saja lulus tiba-tiba menembak adik kelasnya pada hari kelulusan. Di belakang sekolah, dan disaksikan oleh teman-temannya....
..."Jangan takut, aku nanti SMP nya gak jauh dari sini kok", ujar Levi memberitahu. Untuk beberapa saat keduanya hening. Hanya terdengar sorakan heboh dari teman-temannya....
...Hingga mulut yang sedari tadi terkatup rapat akhirnya terbuka dan berujar dengan datar....
..."Saya gak mau pacaran", ujarnya yang membuat Levi mematung. Senyuman sumringah yang menghiasi wajahnya langsung surut seketika. Semua orang terdiam membuat suasana menjadi hening....
..."Kata Bunda saya, anak kecil belum boleh pacaran. Lebih baik kamu banyak belajar dan olahraga", tambahnya lalu tanpa perasaan gadis kecil itu membelah kerumunan dan pergi begitu saja meninggalkan Levi yang sudah disoraki oleh teman-temannya. ...
...Laki-laki yang baru lulus itu pun mengepalkan tangannya yang berisi. Menatap lurus punggung kecil yang telah lenyap di telan dinding....
..."Rearin, jangan sampai suatu saat kamu lupa dengan aku", gumam Levi....
Levi tersenyum miring saat flashback kembali ke hal yang paling memalukan dalam hidupnya itu. Seperti hari istimewa yang selalu dapat diingatnya dengan mudah.
"Kali ini gue gak akan biarin lo nolak gue lagi, Rearin", desis Levi tajam dengan tangan yang terkepal. Pandangan yang tegas dan tajam. Jika orang bisa melihat dengan jelas mata cowok itu. Maka mereka akan dapat melihat luka dan kesedihan yang sangat mendalam. Trauma akan ditolak sudah membuat tubuhnya bergetar. Menahan amarah yang membara di dalam dada.
Levi merasa sorakan-sorakan temannya waktu itu terdengar sangat jelas di telinganya kini. Menghantui pikirannya.
__ADS_1
...~Rilansun🖤....