
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Seni seviyorum......
...###...
"Terima kasih dok, kalau begitu saya dan istri saya pamit dulu", ujar Levi setelah mendengarkan beberapa wejangan dari dokter kandungan tersebut.
Tanpa menunggu Levi, Rea lebih dahulu keluar dari dalam ruangan bernuansa putih itu. Berjalan dengan kaki yang sedikit di hentak-hentakkan. Membuat Levi yang berjalan di belakangnya hanya bisa mengelus dada sabar.
Untung istri, kalau enggak, mungkin udah lama Levi tukar tambah.
"Pelan-pelan sayang jalannya", tegur Levi yang tak digubris oleh Rea sama sekali.
"Udah dong. Kamu sering banget sih marah-marah, entar tua loh, jelek", tambah Levi setelah menyamakan langkahnya dengan sang istri. Menatap dari samping wajah Rea yang tertekuk sebal. Bibirnya maju beberapa centi, seperti bebek.
Rea yang tak terima di katain tua dan jelek pun kontan memandang Levi dengan tajam. Rea sukses di buat darah tinggi oleh suaminya itu satu harian penuh.
"Jelek kamu bilang?, kamu lihat tuh bapak-bapak dari tadi liatin aku terus. Terus itu tuh, berondong ganteng, gak kedip matanya ngelirik aku. Aku kasih flying kiss langsung tepar di tempat mereka. Masih yakin ngatain aku jelek?", Rea menatap sinis Levi yang terperangah tak percaya. Siapapun tolong katakan, apakah perempuan yang barusan narsis tadi adalah istrinya?.
Levi mengerjapkan matanya dan menghela nafas pendek.
"Iya tau, kamu cantik pake banget", sahut Levi kemudian. Tak ingin masalah lebih panjang.
Rea yang melihat Levi tak ikhlas mengatainya cantik pun semakin dibuat kesal.
"Tau ah, males", ketus Rea dan berjalan lebih dulu.
Hari ini adalah jadwal check-up nya. Dan ini adalah pemeriksaan pertamanya yang ditemani oleh sang suami. Sudah tujuh bulan kandungannya dan baru kali ini Levi bisa menemaninya. Terkadang, suaminya itu... ah sudahlah.
Darah Rea dibuat naik pertama kali ketika Levi dengan tak ada sopan santunnya malah menarik Rea keluar dari ruangan dokter Kevin, ketika dokter itu ingin memulai konsul nya.
Lalu membawanya ke rumah sakit lain dengan dokter kandungan yang lain pula. Tapi satu syarat Levi, dokter itu harus lah seorang perempuan. Membuat mulut Rea mengeluarkan api saat mengomeli Levi.
Sebab mana bisa begitu, Rea sudah melakukan pemeriksaan dengan dokter Kevin dari awal kandungannya hingga bulan kemarin.
Cemburu boleh, tapi ya harus lihat tempat dan situasinya.
Sama-sama pencemburu
"Jadi selama ini kamu di periksa sama dia?", celetuk Levi ketika mobilnya sudah bergabung dengan kendaraan lain di jalanan kota.
Rea melirik sinis Levi dan menjawab singkat, "Ya."
"Dia anak tetangga sebelah yang waktu itu ngomong sama kamu pagi-pagi kan?", Levi ingat akan kejadian pagi-pagi yang sukses membuat api cemburu membara di hatinya.
"Iya", sahut Rea tanpa menatap ke arah Levi.
Setelah itu tidak ada lagi yang berniat membuka obrolan terlebih dahulu. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing.
Sampai dimana iris mata Rea menangkap sebuah objek yang membuat matanya membola.
"Itu Morgan gak sih?", pekik Rea histeris sambil menunjuk seorang laki-laki dan perempuan yang sedang berpelukan di depan sebuah kafe.
Levi yang tengah memandangi lampu lalu lintas yang menunjukkan warna merah itu pun refleks mengikuti kemana arah pandang Rea.
Tak jauh berbeda dari Rea, Levi pun dibuat kaget dengan sesuatu yang dipandang oleh matanya. Apa lagi yang sudah direncanakan oleh Tuhan saat ini.
"Karin?", gumam Levi tanpa sadar yang masih dapat ditangkap jelas oleh indra pendengaran Rea.
Rea mengernyitkan keningnya, "Hah?, siapa?."
Levi mengerjapkan matanya dan memandang polos Rea.
"Siapa Karin?", tanya Rea lagi dengan tak sabaran.
Levi menelan ludahnya susah payah. Terkutuk lah mulutnya yang keceplosan berbicara.
"Siapa Levi?."
"Dia-"
Tin tin tin
__ADS_1
Ucapan Levi terpotong dengan suara-suara klakson kendaraan yang berada di belakangnya. Tanpa menghiraukan gerutuan Rea, Levi pun lantas dengan cepat kembali mengemudikan mobilnya dengan pikiran yang berkecamuk.
Sementara Rea membuang pandangannya ke samping jendela seraya mendesis sebal.
Karin?, siapa dia?, mengapa Levi terlihat sangat terkejut setelah melihat cewek itu. Dan apa hubungannya dengan Morgan.
Ingatan Rea kembali melalang buana pada saat acara tujuh bulanan nya yang diselenggarakan beberapa hari yang lalu. Rea dapat melihat dengan jelas kalau ada yang tidak beres dengan Tiffany dan Morgan hari itu. Sepasang suami istri yang baru menikah dua bulan itu terlihat tengah menjaga jarak. Walau terkadang masih menunjukkan kemesraan yang Rea anggap hanya lah pencitraan semata.
Apakah perempuan yang bernama Karin itu terkait dalam masalah pernikahan temannya?.
Bukannya ingin ikut campur, Rea cuma tak mau kebahagiaan Tiffany terenggut lagi.
Mereka baru bertemu sebentar. Tapi seperti ada ikatan kakak-adik diantara keduanya.
"Levi, apa Karin itu orang yang kamu sebut beberapa waktu yang lalu?", tanya Rea ketika roda mobil memasuki pekarangan rumah.
Levi menegang, tak menyangka jika Rea masih kepikiran soal itu.
"Kamu masuk dulu ya, aku ada kelas hari ini", bukannya menjawab Levi malah berujar seraya mengecup singkat kening Rea.
"Tapi-"
"Rea, ini bukan ranah kita untuk ikut campur", sela Levi dengan suara yang lembut. Menatap tepat di manik istrinya yang terlihat sangat ingin tahu.
Levi tersenyum dengan tangan yang mengusap rambut panjang Rea, "Istirahat ya, jangan telat makan siang", ujarnya lalu Levi membungkukkan badannya untuk mencium dan mengusap anaknya, "Jagain Mommy ya, jangan bandel."
"Kamu pulang cepatkan?", tanya Rea setelah Levi kembali menegakkan tubuhnya.
"Kenapa?, kangen?", Levi menatap jahil Rea yang mencebikkan bibirnya.
"Udah ah, males", Rea mendorong Levi yang hendak memajukan wajahnya. Tanpa ditanya lagi pun Rea sudah tau apa yang ingin dilakukan oleh suaminya tersebut.
"Rea", panggil Levi ketika Rea hendak membuka pintu mobil.
"Seni seviyorum."
Rea mengernyitkan keningnya, "Hah?, apa?."
Levi tersenyum dan menyentil lipatan-lipatan halus di kening istrinya, "Cari sendiri."
Levi dengan segala kelembutannya yang selalu berhasil membuat Rea merasa sangat dicintai.
"See you my wife", bisik Levi di depan bibir Rea yang terengah-engah.
Rea menatap netra abu-abu Levi yang sangat indah itu. Lalu dengan secepat kilat Rea melayangkan kecupan kilatnya pada bibir Levi.
"Too my husband."
Setelah melakukan itu, tanpa merasa bersalah Rea langsung berjalan cepat memasuki rumah. Meninggalkan Levi dengan lengkungan sabit yang menghiasi wajahnya.
Semoga saja Tuhan selalu melindungi kebahagiaan keluarga kecilnya...., dan orang-orang sekitarnya.
...###...
Rea melirik sekali lagi ke arah jam dinding yang menempel di dinding dapur. Benda yang berbentuk strawberry itu menunjukkan pukul 17:43 menit.
Lantas Rea berdecak kesal seraya membalikkan ikan dalam penggorengan.
"Kemana sih?, katanya pulang jam lima?, ini udah mau Maghrib tau", dumel Rea pada dirinya sendiri.
Bik Mirna yang sedang mencuci buah-buahan pun tersenyum maklum.
"Mungkin terjebak macet mbak", celetuk wanita paruh baya tersebut.
Rea memandang Bik Mirna sekilas dan mengangguk pelan. Mungkin saja.
"Jus mangga nya jadi mbak?", pertanyaan Bik Mirna yang membuyarkan lamunan Rea. Untung saja ikan yang sedang ia gores tidak hangus.
"Jadi Bik, tapi jangan pakai gula, susu nya dikit aja", balas Rea tanpa mengalihkan perhatiannya pada ikan dalam penggorengan.
"Oke mbak, tunggu bentar ya. Bibik mau ke belakang dulu", Rea menganggukkan kepalanya.
Setelah meniriskan dan meletakkan ikan-ikan yang sudah matang ke atas piring. Rea kembali memasukkan ikan yang selanjutkan akan digoreng.
__ADS_1
Seraya menunggu masakannya matang, Rea pun mengambil buah apel yang tadi sudah dikupas oleh Bik Mirna.
"Pembohong banget sih Dad-"
"Siapa yang pembohong sayang?."
Rea tersentak ketika mendapati sebuah tangan kekar yang melingkari pinggangnya dari belakang. Dan suara berat yang membisik pelan di telinganya.
Rea memutar kepalanya ke belakang. Dan langsung menghadiahkan jalapeno spesialnya di lengan Levi.
"Auh, suka banget KDRT", keluh Levi, setelah itu tanpa mempedulikan wajah Rea yang terlihat garang, Levi mencium kening istrinya cukup lama.
"Kenapa telat?", tanya Rea setelah Levi selesai mencium hampir seluruh permukaan wajahnya. Sesekali Rea begini, tidak memarahinya karena dari luar langsung mendekat kepada perempuan hamil tersebut.
"Macet", sahut Levi. Tidak mungkin Levi bilang kepada Rea kalau ada satu pekerjaan mendadak yang harus dilakukannya tadi.
Pekerjaan yang sangat menguras tenaga.
Rea yang sangat jeli pun memicingkan matanya, "Enggak bohong kan?", tanyanya curiga.
"Kamu enggak percaya sama aku?", Levi malah bertanya balik.
Bila sudah begitu Rea hanya dapat menghembuskan nafasnya.
"Cepat mandi sana, keburu Maghrib", ujar Rea kemudian dan kembali fokus pada ikannya.
Bukannya beranjak, Levi malah semakin menempelkan tubuhnya pada Rea. Membenamkan wajahnya di pundak Rea. Menghirup aroma yang menguar dari tubuh istrinya.
"Sayang."
"Hm."
"Ini apa?", tanya Levi random seraya menunjuk garam yang berada di rak-rak bumbu dapur.
"Garam", jawab Rea sekenanya sembari membalikkan ikannya.
"Kalau ini?", tanya Levi lagi.
Kening Rea berlipat halus. Apa Levi itu bodoh sampai tidak tau kalau butir-butir kecil berwarna putih itu adalah gula.
"Gula", Rea tetap saja meladeni kegaje-an suaminya.
"Kalau yang ini?", Levi menunjuk dirinya sendiri yang membuat Rea langsung tersenyum mengerti.
Mematikan kompornya, Rea pun lekas berbalik menghadap Levi.
Dengan wajah yang dibuat-buat datar, Rea menjawab, "Narkoba."
"Lah kok narkoba?", Levi seperti tidak terima dengan jawaban Rea. Seharusnya yang Rea jawab itu adalah kesayangan. Bukan narkoba.
"Narkoba itu kan candu."
"Jadi?", Levi menunggu kelanjutan ucapan Rea yang telah membuat gombalannya gatot, alias gagal total.
"Ya kamu itu candu."
Sedetik kemudian Levi langsung tersenyum lebar, yang membuat Rea langsung menyesali ucapannya. Niatnya hanya ingin menggombali suaminya sekali-kali. Hitung-hitung sebagai lem yang dapat semakin mendekatkan mereka.
Terkadang gombalan receh itu sangat dibutuhkan.
"Bisa aja pendek", ujar Levi sambil menjawil gemas hidung bangir istrinya.
Rea cemberut. Lihat lah, selain bisa membuatnya melayang, Levi itu juga ahli dalam menaikkan darah tingginya.
"Mau istighfar, tapi takutnya kamu kebakar", ujar Rea santai dan kembali menghadap ke arah kompor. Melanjutkan acara masak-memasaknya yang tertunda.
"Udah sana mandi, kamu kotor."
Levi memutar bola matanya jengah. Keluar sudah kata-kata keramat ibu negara.
Tanpa ba-bi-bu lagi, Levi langsung balik kanan dan berjalan ke arah kamarnya yang terletak di lantai bawah. Setelah memasuki trimester ketiga, Rea memang memilih untuk tinggal di kamar yang ada dibawah. Levi pun tak ingin mengambil resiko dengan tetap membiarkan Rea naik-turun tangga.
...~Rilansun🖤....
__ADS_1
...Seni seviyorum, ah aku suka bgt nyebut kata ini sm someone. Tapi someone ny gapeka" njir-,(maapmlhcurht😀) Janlup like dan komen ya, smngt ku tergantung dengan laik mu 😘...