Rearin

Rearin
Rumitnya bumil


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...She's mine, so forever......


...###...


Levi menghela nafasnya untuk kesekian kalinya. Memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Kepalanya sakit dan otaknya terasa mati rasa.


"Kamu udah dong nangisnya", ujar Levi lelah mencoba untuk membujuk Rea yang masih setia menangis agar segera berhenti. Lalu matanya menatap nanar ke sekeliling lantai kamar yang sudah berserakan gumpalan tisu dimana-mana.


"Hiks, kamu jahat", Rea semakin mengencangkan tangisannya. Bumil satu itu menyisihkan ingusnya dan membuang asal tisu yang barusan dipakainya. Dan kembali menangis dengan kuat. Begitu terus-menerus sampai lebaran kuda.


Levi memejamkan matanya mencoba untuk bersabar. Dirinya sudah berulang kali dipanggil sebagai penjahat hanya karena tak sengaja memukul seekor nyamuk yang hinggap di kakinya. Yang sontak membuat Rea menangis histeris ketika melihat darah dan tubuh nyamuk yang sudah gepeng tak berbentuk.


"Hiks, kamu udah bosan sama aku kan?", tanya Rea sesenggukan.


Levi mengacak-acak rambutnya frustasi. Harus pakai bahasa apa lagi Levi berbicara agar istrinya itu paham.


Dari masalah nyamuk merambat hingga kemana-mana. Membuat Levi pusing bukan main.


Di kehamilan keduanya itu entah mengapa Rea lebih sensitif dan perasa. Bentar-bentar nangis, bentar-bentar marah dan terkadang bersikap dingin. Sampai pernah satu hari Rea mengacuhkannya tanpa alasan. Rea seperti kembali pada awal-awal pernikahan. Berbicara seperlunya saja.


Membuat Levi lelah lahir dan batin. Semoga saja anak keduanya itu tidak menyebalkan. Tapi dari dalam kandungan saja sudah terlihat bakatnya. Astaghfirullah.


"Bukan gitu sayang", Levi melembut dan menghapus air mata Rea dengan pelan menggunakan ibu jarinya.


"Iya kayak gitu", sahut Rea tanpa berniat menghentikan isakannya.


Levi memilih diam seraya menatap wajah basah Rea. Menonton istrinya yang menangis seperti habis kenak pukul. Bahkan laki-laki itu memangku tangannya seperti menonton sebuah drama.


Benar, drama bumil.


Sedetik dua detik Rea masih betah menangis dan Levi pun masih menyaksikannya tanpa membuka suara. Membuat Rea kesal. Bukannya dibujuk tapi malah diliatin gitu aja.


Dasar enggak peka. Manusia batu, kulkas berjalan. Huh, menyebalkan.


"Hiks, kamu kenapa liatin aku kayak gitu?, huwaaa kamu senang ya aku nangis kayak gini?!", ujar Rea bertambah histeris.


Levi tersenyum manis dan mengangguk singkat, "Kamu lucu kalau lagi nangis."


Rea melotot. Wah suami enggak ada akhlak.


"Ih kok gitu sih", sentak Rea kesal lalu mengelap ingusnya dengan ujung kaos yang dikenakan Levi, "Bukannya dipujuk malah diliatin. Cowok macam apa kamu!."


Tuh kan. Levi lagi yang salah.


Enggak dipujuk?, bahkan Levi rasa mulutnya sudah pegal karena terus mencoba untuk membujuk istrinya yang cengeng itu. Cewek memang selalu benar. Cowok enggak berhak protes apapun bukan.


"Kok diam?, udah gak mau nangis lagi?."


Rea yang ingin membuka ponselnya seketika terhenti dan langsung menatap nyalang Levi yang terlihat sangat menyebalkan.


Levi menaikkan sebelah alisnya bertanya, "Kenapa?."


Rea mendengus lalu menundukkan kepalanya menatap ponsel, "Enggak ada", ketusnya.


Levi tersenyum tipis. Mengapa tidak dari saja ia begini, mungkin mulutnya tidak akan berbusa karena membujuk Rea.


"Kamu kenapa sih?, moody-an banget, pusing aku dibuatnya. Bentar nangis, bentar marah, bentar cuek", ujar Levi seraya menyugar rambutnya kebelakang.


Ketikan jari Rea pada keyboard ponselnya perlahan berhenti dan mendongak menatap Levi yang bersiap untuk membuka kaosnya.


Tanpa diduga Rea melemparkan kasar bantalnya pada dada bidang Levi yang terpampang nyata.


"Ih kok kamu nyebelin sih", ujar Rea serak dan kembali siap menumpahkan air matanya.


Levi menghela nafas dan meletakkan kembali bantal tersebut ketempat semula. Lalu Levi menarik Rea untuk ikut berbaring bersamanya.


"Udah, gak usah nangis. Mending kita tidur, dah malam", Levi mencium sepasang kelopak mata yang dihiasi bulu mata panjang nan lentik tersebut. Membuat berlian yang tadinya bersembunyi seketika keluar begitu saja.


"Gak mau tidur dengan kamu", ketus Rea yang berbanding terbalik dengan ucapannya. Kedua tangannya malah terulur memeluk pinggang Levi dan membenamkan wajahnya di dada bidang Levi yang selalu menjadi favoritnya. Entah untuk bersandar, meluapkan amarah atau sekedar curhat.

__ADS_1


Levi terkekeh geli, "Aku juga gak mau cium kamu", sahutnya dan melayangkan satu kecupan di kening istrinya.


Setelah itu keduanya hening. Levi yang memejamkan matanya namun masih terjaga. Dan Rea yang menghirup rakus aroma yang menguar dari tubuh suaminya. Sangat manly namun sangat memenangkan.


"Levi", panggil Rea merasa suntuk.


"Hm", sahut Levi tanpa membuka matanya.


"Tadi aku lihat instastory nya Celine", beritahu Rea seraya memainkan jakun Levi. Rea suka saat melihat benda itu naik turun.


"Hm, terus?."


"Dia lagi makan taco loh", hubungan Rea dan Celine memang sudah mulai terjalin dengan baik setelah cewek itu datang kerumahnya sebelum berangkat ke negeri paman Sam untuk melanjutkan study. Celine meminta maaf dengan tulus atas apa yang telah diperbuatnya. Bahkan cewek itu sampai menangis karena menyesal sudah menjebak Rea sampai segitunya.


Rea kesal, marah, dan ingin memaki gadis yang duduk dihadapannya kala itu. Namun Rea tak membenci. Mungkin ini memang sudah takdirnya.


Levi membuka matanya dan menatap tepat di manik hitam legam tersebut, "Jadi?."


"Aku pengen makan itu", rengek Rea.


Levi melirik ke arah jam dinding, "Udah malam, besok aja ya."


"Masih jam setengah sepuluh", timpal Rea setelah ikut melihat ke arah jam.


Levi menghela nafasnya lalu mencium sekilas bibir Rea.


"Ya udah ayo", Levi berdiri dan berjalan ke arah lemari. Mengambil hoodie serta jaket untuk Rea.


"Arthur udah tidur belum ya?", tanya Rea sembari memakai jaketnya tanpa melirik Levi.


Levi mendengus, "Gagal rencana gue", gumamnya sangat pelan. Rencana Levi untuk tidur cepat itu agar Rea dan dirinya bisa melakukan olahraga menjelang subuh nanti. Mumpung putra tersayangnya itu sedang menginap di rumah mertuanya.


Tapi sepertinya itu kini hanya tinggal angan. Karena kalau Rea tidur terlalu larut malam. Maka sudah pasti Rea tak akan mau untuk diajak melakukan itu.


"Ayo", Levi mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Rea. Lalu setelah itu mereka berdua turun ke bawah.


"Tumben banget kamu ngidam. Pas hamil Arthur aja kamu jarang pengen sesuatu", ujar Levi seraya membukakan pintu mobil untuk Rea.


Levi menggelengkan kepalanya pelan. Levi hanya berharap kalau ngidam Rea itu tidak semengerikan yang pernah Levi dengar.


Ya, semoga saja


"Mau kemana ini?", tanya Levi seraya menghidupkan mesin mobilnya.


"Kesini", Rea menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan sebuah resto taco yang terkenal di ibu kota.


Levi melirik dan mengangguk sekilas.


"Kamu besok check-up kan?, tunggu aku pulang makan siang, kita pergi sama-sama."


"Hm", sahut Rea enggan. Matanya fokus pada layar gawainya.


"Levi?", panggil Rea menginterupsi Levi yang tengah fokus pada jalanan didepannya.


"Ya."


"Eum, gak jadi taco deh, sate aja. Tuh, disitu", Rea menunjuk gerobak sate yang ada dipinggir jalan. Dikerumuni oleh banyak orang-orang yang mengantri.


Kayaknya enak.


Levi hanya bisa menghela nafas pasrah. Karena kerumitan yang ada sekarang itu juga terjadi karena dirinya. Sebab jika Levi tidak menitipkan ****** nya di rahim Rea. Mungkin sekarang ia tak duduk disini mengendarai mobil demi memenuhi ngidam sang istri.


"Ya udah", Levi pun memutar balik mobilnya.


Setelah sampai. Rea turun dari mobil dengan cepat dan langsung menempatkan dirinya di dekat penjual sate yang terlihat sibuk.


Levi tersenyum tipis dan segera mengikuti istrinya. Berdiri dibelakang Rea karena tak ada lagi bangku yang kosong.


"Pak!, bumil lima bungkus dong."


Levi kaget saat mendengar teriakan Rea yang mengundang beberapa pasang mata ke arah mereka.

__ADS_1


Lihatlah, mood Rea itu sangat berubah-ubah kan.


"Eh buk, ngantri dong. Saya aja yang lagi hamil mau tuh ngantri", sarkas Rea tanpa diduga pada seorang ibuk-ibuk yang menyerobot antriannya.


Levi tersenyum canggung kepada wanita paruh baya tersebut. Berharap ibu-ibu itu memaklumi sikap istrinya.


Sepertinya anak keduanya ini akan lebih bawel dan 'hebat' daripada Arthur.


"Pak, saya dulu dong, entar anak saya brojol disini lagi", Rea mengelus kandungannya yang baru berusia tiga bulan.


"Pak-"


"Sayang, tadi kamu suruh orang ngantri, kamu juga harus sabar dong", Levi mengelus kedua pundak Rea seraya berujar pelan.


"Tapi kan aku pengen", Rea mendongakkan kepalanya menatap Levi yang tengah menunduk melihatnya.


Levi kembali menghela nafas berat, "Udah jangan nangis", tambahnya ketika menangkap mata Rea yang sudah berkaca-kaca.


"Ih kamu nyebelin, males banget", cebik Rea dan kembali menatap ke depan.


Levi menggelengkan kepalanya pelan dan seketika melirik ke arah samping saat mendengar suara bariton seseorang yang memanggil nama istrinya.


"Rea?."


Rea menoleh dan berteriak histeris, "Bang Aji!."


Laki-laki yang dipanggil Bang Aji itu pun lantas tersenyum manis, "Iya, apa kabar?."


"Baik", jawab Rea dengan anggukan semangat 45.


Aji tertawa gemas melihat Rea yang sangat lucu. Lalu tanpa sadar tangannya mendarat ke atas puncak kepala adik kecilnya itu. Menepuk ringan dan mengacaknya sedikit.


"Ekhem", Levi berdehem keras membuat Rea dan Aji tersentak. Saat matanya dan mata laki-laki yang pernah ingin menjadi calon suami istrinya itu bertemu, Levi langsung melayangkan tatapan tajamnya.


Jika saja bisa, Levi ingin sekali rasanya memotong tangan yang sudah seenaknya menyentuh Rearin nya.


Aji tersenyum canggung dan bertanya, "Kamu juga apa kabar?."


Levi melengos lalu menjawab dengan ketus, "Baik."


"Eum, Rea saya dengar kamu hamil lagi ya?", basa-basi Aji mencoba untuk menghalau kecanggungan yang ada.


Rea yang sedang mengomeli Levi dengan pelan pun tersentak dan kembali menatap Abang angkatnya tersebut.


"Alhamdulillah, iya Bang udah tiga bulan", sahut Rea seraya tersenyum, "Oh iya, kata Papi Bang Aji mau nikah ya?, kapan?, Rea diundang gak?", Rea menunjukkan cengiran andalannya diakhir kalimat.


Aji tersenyum. Dulu ia pernah suka dengan Rea yang dingin namun perhatian. Rea remaja yang begitu menarik dimatanya. Namun sekarang Aji paham, jika saja pernikahan mereka berlangsung hari itu. Mungkin Rea yang dingin itu tidak akan pernah bisa menjadi cerah seperti sekarang. Karena Aji tak yakin bisa meluluhkan gunung es tersebut. Sebab ia bukanlah pawangnya.


"Saya takut entar makanannya pada habis sama kamu", kelakar Aji yang membuat Rea mencebik. Hal itu sukses menarik perhatian beberapa orang yang menatap mereka.


Sial, mengapa Rea harus menunjukkan ekspresi yang menggemaskan seperti itu. Merasa panas, Levi pun lantas menarik tudung jaket Rea dan memasangkan nya. Membuat Rea menatap bingung suaminya.


"Kenapa?."


Levi hampir saja berteriak saat Rea dengan begitu polosnya bertanya, kenapa?.


Apakah perempuan itu tidak tau kalau sedari tadi dia menjadi bahan cuci mata untuk para cowok-cowok yang kurang belaian tersebut.


Huh, Levi ingin mencongkel mata cowok-cowok sialan yang sudah berani menatap ke arah istrinya.


"Enggak ada", jawab Levi seraya mengecup kening Rea. Agar buaya-buaya itu sadar diri dan segera mundur teratur, kalau mangsanya sudah memiliki pawang.


She's mine, so forever.


...~Rilansun🖤....


...Gaje?, bialin....


mas posesip👇


__ADS_1


__ADS_2