
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Kita kembali layaknya seperti orang asing, yang menutup diri masing-masing......
...###...
"Astagfirullah", Argan memegangi dadanya dengan kedua kakinya yang mundur selangkah.
Argan yang ingin bersantai di balkon lantai dua rumahnya langsung terkejut saat mendapati sosok perempuan yang berdiri membelakanginya menghadap jendela.
"Astaga Rea, gue kira mbak kunti mana tadi yang nyasar", celetuk Argan seraya mendudukkan tubuhnya di sofa yang langsung menghadap ke arah luar balkon yang sangat luas.
Rea tak bergeming, jangankan berbalik badan, menoleh saja cewek itu enggan. Matanya fokus ke pemandangan luar sambil mengelus perutnya yang sudah sedikit membuncit. Apalagi jika dirinya menggunakan dress ketat seperti saat ini. Perutnya memang terlihat sedikit menonjol.
Melihat itu Argan lantas menghela nafas. Sudah dua Minggu Rea menetap disini, dan kegiatan wanita hamil satu itu hanya lah menatap ke arah balkon rumahnya. Berdiri diam menghadap jendela kaca besar. Seperti sedang menunggu seseorang.
Lalu Argan tersenyum saat sebuah ide melintas di benaknya. Dengan cepat cowok itu merogoh ponselnya dalam saku celana. Mengarahkan kamera ponselnya ke arah Rea yang masih setia berdiri membelakangi. Lalu satu jepretan berhasil membidik objek Tuhan yang terlihat sangat aesthetic itu.
Tanpa menunggu lama lagi Argan langsung mengirim foto itu kepada Levi melalui sebuah aplikasi pesan instan. Dengan caption: Cepetan bawa bini lo sebelum dia pergi ke Sydney.
Ya, Rea memang memiliki rencana untuk pergi ke Sydney. Melahirkan disana, dan berencana untuk menetap. Hitung-hitung untuk menemani Renata yang sendirian di sana.
"Mau kemana?."
"Makan", sahut Rea singkat dan berjalan pergi melewati Argan.
Hanya itulah kegiatan yang dilakukan oleh Rea. Makan, tidur, melamun. Rea sudah terlihat seperti tidak memiliki semangat hidup.
Argan turut ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh kembarannya.
Sekarang dirinya tidak bisa menyalahkan siapapun. Jalan takdir lah yang membawa kedua sejoli itu ke situasi seperti sekarang. Semoga saja setelah badai ini, akan ada matahari yang bersinar terang untuk selamanya.
...###...
"Kamu kapan check-up sayang?", Arinta mengusap kepala Rea yang berbaring di atas pahanya.
"Minggu depan Bun", jawab Rea seraya memejamkan matanya menikmati sapuan lembut di kepalanya.
"Duh Minggu depan ya, Bunda kayaknya gak bisa nemenin, Papi kamu ada pertemuan di Bandung katanya", sebagai seorang istri dari pimpinan perusahaan. Arinta memang harus selalu hadir disamping suaminya di setiap acara. Terkadang ia merasa risih, karena bagi Arinta itu bukanlah tempat apalagi gayanya. Tapi mau bagaimana, dirinya menikah dengan Reagan yang notabenenya seorang pengusaha, tentu saja Arinta harus menemaninya di setiap langkahnya.
"Enggak apa-apa Bun, saya pergi sendiri aja."
__ADS_1
"Sama gue aja", serobot Argan datang tiba-tiba lalu merebahkan kepalanya di atas paha Arinta yang satu lagi. Menatap langit-langit kamar Arinta yang terdapat hiasan berupa bintang.
"Males. Bawa kamu yang ada malu-maluin", sahut Rea yang dibalas dengusan kasar oleh Argan.
"Lo..., jadi pindah ke Sydney?", Argan bertanya kemudian dengan hati-hati.
Rea terdiam begitu pula dengan Arinta. Sebenarnya Arinta tidak setuju apabila Rea ingin menetap di Sydney. Bukan apa-apa, ia takut putrinya bakal kesusahan di negeri orang, apalagi jika Renata sudah tiada. Walaupun mereka memiliki banyak kerabat disana. Tapi kerabat yang hanya jumpa sekali setahun, belum tentu bisa banyak membantu.
"Lihat nanti", jawab Rea sekenanya.
Argan menghela nafas pelan-pelan. Lalu cowok itu bangkit duduk. Menatap Rea yang masih bermanja-manja dengan sang Bunda.
"Rea yang nasibnya muram, jalan yok."
Tuk
Arinta memukul pelan kepala Argan saat cowok itu mengatakan kata-kata seperti itu. Bisa-bisanya Argan.
"Mulutnya emang gak ada yang bener", ketus Arinta.
Argan menyengir, "Udah Takdir Bun."
"Berarti takdir kamu juga suram."
"Heh, enak aja, Bunda yang ngelahirin kamu susah payah ya", lagi-lagi pukulan itu mendarat sempurna di kepala Argan.
"Ayo."
Rea berdiri sempurna dengan cardigan yang sudah menutupi dress berwarna peach yang dipakainya. Memotong perdebatan alot yang terjadi antara Arinta dan Argan. Sebenarnya Rea bosan di rumah tanpa ada kegiatan berarti yang dilakukannya. Tapi Rea terlalu segan untuk mengajak Arinta atau Argan untuk jalan keluar.
Argan menoleh sekilas, lalu ikut memperbaiki penampilannya.
Setelah itu mereka berdua berpamitan dengan Arinta.
"Jagain adek kamu Ar", pesan Arinta yang dibalas anggukan mantap dari Argan.
Lalu mereka berdua bergegas masuk ke dalam mobil Argan. Mumpung Reagan belum pulang kerja. Karena jika ayah dua orang anak itu sudah pulang, maka mereka tidak akan bisa untuk keluar dari rumah tanpa penjagaan satu pun.
"Levi enggak ada hubungi lo sama sekali?", Argan membuka obrolan pertama kali.
Rea terdiam sejenak sebelum menjawab, "Enggak ada."
__ADS_1
Jujur, Rea sendiri juga sedang bingung dengan status hubungannya saat ini. Sebab tak ada kata pisah yang terucap dari mulut mereka berdua. Rea pergi begitu saja dari rumah, dan Levi yang sama sekali enggan untuk memperjelas semuanya.
...###...
"Lo sebenarnya mau kemana sih?", tanya Argan kesal saat Rea hanya berjalan mengitari mall. Argan ajak untuk mencari baju, Rea bilang jika bajunya sudah sangat banyak. Lalu Argan ajak untuk pergi mencari makanan, Rea berkata kalau perutnya sudah sangat kenyang.
Terus untuk apa mereka datang kesini?, Jogging?.
"Saya...", Rea menggantung ucapannya saat iris hitam nya tak sengaja mendapati Levi beserta Tiffany yang berjalan menuju ke arah mereka.
Lalu dengan cepat Rea langsung menarik cardigan nya. Menutup rapat perutnya.
"Sombong banget suami lo", Argan mencibir setelah Levi berlalu pergi melewati mereka tanpa bertegur sapa. Jangankan menegur, melihat ke arah mereka saja tidak.
Rea tak menggubris, dengan senyum pahitnya cewek itu melanjutkan langkahnya. Jika tak menjaga kehormatannya, maka tadi Rea dengan tak tau malunya akan menarik Levi dan memeluk suaminya untuk melampiaskan rindunya.
"Daddy kamu tuh ya sayang, emang gak ada akhlaknya. Padahal dia tau kok Mommy disana, tapi dia sama sekali enggak nyapa. Dasar sombong, tapi tenang aja ya sayang, nanti Mommy cariin Daddy yang baru yang lebih ganteng sama yang lebih perhatian", dumel Rea seraya mengelus perutnya. Argan yang diam-diam mendengarkannya pun sontak saja tersenyum geli. Tidak pernah ia lihat Rea bersikap seperti itu.
Lalu Argan membuka aplikasi pesan dan mengetikkan beberapa kata untuk Levi.
Mamp*s lo, sok sombong sih. Siap-siap aja nerima kartu undangan dari Rea sama calon laki barunya.
Setelah itu Argan mengekori langkah Rea yang memasuki toko kosmetik. Mengikuti kemana pun Rea pergi.
Sepuluh menit kemudian, Argan mendengus saat melihat Rea yang masih saja memilih-milih skincare nya. Sepertinya cewek itu hanya berniat untuk melihatnya tanpa membelinya.
"Lo ngapain sih beli-beli gituan Rea, anaknya bos Reagan yang sombongnya tiada tara. Mending siram tuh muka pakai air panas, auto glowing, shining, shimmering, splendid. Wow fantastic", cerocos Argan yang diabaikan oleh Rea. Cowok itu sangat berisik seperti knalpot yang rusak. Membuat orang-orang disekitar mereka menatap ke arah mereka sekali dua kali.
"Jangan cantik-cantik bener neng, entar Justin Bieber, Shawn Mendes, sama oppa-oppa nya si Bunda pada ngantri di luar rumah. Kan bakal repot si Papi", tambah Argan yang lagi-lagi tak dihiraukan oleh Rea.
Lalu untuk beberapa saat Rea tak lagi mendengar suara cempreng Argan yang menusuk indra pendengarannya. Merasa penasaran Rea memutar kepalanya dan melihat Argan yang berlari menghampirinya seraya memegang satu botol pembersih lantai toilet.
"Buat apa?", tanya Rea melirik botol panjang yang dipegang Argan.
"Buat lo. Kalau pakai ini irit duit, habis tuh muka lo dijamin langsung putih, enggak payah pakai bedak juga bakal cakep. Ayo, silakan diborong mbak", seperti sales yang mempromosikan barangnya, Argan menyebutkan segala keuntungan yang bisa di dapat dengan tangannya yang tak bisa diam.
"Hahaha, Mama tangan abangnya lucu. Kayak boneka yang tinggi itu."
Rea menoleh ke samping saat mendengar suara anak kecil. Matanya menatap ke arah telunjuk kecilnya yang mengarah ke sebuah boneka balon yang seperti menari-nari di depan sebuah konter.
Melihat itu sontak saja Rea segera berbalik badan, meninggalkan Argan yang masih sibuk mengoceh. Argan memang malu-maluin.
__ADS_1
Niat hati ingin refreshing malah menjadi kacau karena Argan.
...~Rilansun🖤....