Rearin

Rearin
All for love


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Cinta memang tak harus selalu saling memiliki. Karena Tuhan tidak menyatukan mu dengan cinta sejati melainkan dengan yang terbaik......


...###...


"Raya jangan main di bawah meja makan."


"Ya, itu adeknya jangan dibuat nangis."


"Hati-hati pegang gelasnya, awas jatuh."


Rea mengurut pelipisnya yang mendadak sakit. Tangannya yang lain Rea gunakan untuk mengelus perutnya yang mendadak tegang karena capek lari sana-sini untuk mengawasi Raya yang terlalu aktif.


Dita?, cewek itu sudah pulang sepuluh menit yang lalu karena alasan yang penting.


Jadilah tinggal Rea sendirian yang menghadapi kerepotan yang menyenangkan itu. Bik Mirna yang diharapkan dapat membantu pun sedang pergi berbelanja. Stok camilan dan bahan makanan sedang habis, sementara dirumahnya sekarang ada makhluk-makhluk penggila makanan.


"Kak, Aya laper nih, nanti kalau cacing Aya pada demo gimana?."


Rea tersentak ketika melihat Raya yang berdiri dihadapannya sambil memegang perut dengan wajah yang memelas.


"Kak ayo, cacing Aya udah pada berantem ini", Raya menarik-narik tangan Rea untuk ke dapur.


Astaga, itu perut apa karet, elastis banget. Padahal Raya baru siap makan dua kotak salad buah milik Rea. Setelah lima menit sarapan tadi Raya meminta untuk dibuatkan mie instan. Dan Rea pun menyuruh Dita untuk membuatkannya.


Lalu tak lama kemudian, gadis kecil itu merengek lagi meminta makanan. Alhasil Rea merelakan dua kotak salad buah punyanya.


Hanya Raya saja yang sedikit membuat Rea merasa kelelahan.


Sementara Geo dan Anta duduk anteng di sofa ruang keluarga. Menonton kartun yang ada di layar televisi.


Tadi Rea dan Dita sempat dibuat kaget karena Anta yang tiba-tiba menangis dan berteriak Api, Api. Rea kira kamarnya yang kebakaran, rupanya Anta sedang memanggil Papi nya.


"Kak Rea, ayokk", rengek Raya yang tak henti-henti.


"Iya-iya bentar", Rea menggandeng tangan Raya masuk ke dalam ruang makan. Mengambil sepiring bakwan jagung yang dibuat Bik Mirna tadi.


"Ini cukup?", Rea menatap Raya yang sudah mencomot satu.


Raya mengangguk dengan mulut yang penuh, "Emangnya kak Rea kira Aya rakus apa?."


Rea menipiskan bibirnya. Rakus enggak, kelaparan iya.


"Ya udah ayok ke depan", Rea membawa piring tersebut dan mengikuti Raya yang berjalan didepannya seraya berjoget-joget tak menentu.


"Aya!, jangan gituin rambut Anta, entar Anta nangis lho", baru saja sedetik Rea mendaratkan tubuhnya ke sofa, Raya sudah berulah lagi dengan memaksa untuk mengikat rambut Antalva.


"Ish, kenapa sih rambut Anta pendek, jadinya enggak bisa dikepang. Kalau dikepang cantik tau Nta, rambut kita ikal-ikal gitu", cerocos Raya sambil terus berusaha mengikat rambut cowok berumur tiga tahun tersebut.


Rea memejamkan matanya saat mendengar suara tangisan Anta yang kembali terdengar.


"Kenapa?, capek ya?."


Mendengar itu sontak Rea membuka matanya dan menatap Levi yang berdiri dibelakangnya.


"Kok cepet?", tanya Rea setelah melirik jam yang ada di dinding menunjukkan pukul 09:30 pagi.


"Kata Bunda kamu nanti kerepotan, eh taunya iya", Levi duduk disamping Rea. Menatap tiga bocah yang duduk dibawah beralaskan karpet berbulu.


"Pusing aku", keluh Rea seraya menyandarkan kepalanya ke bahu sang suami.

__ADS_1


Levi mengecup puncak kepala Rea sembari memeluk pundak istrinya, "Nikmati aja."


Rea mendengus, "Yakin mau punya anak banyak?", tanyanya untuk keinginan yang diucap Levi kemarin. Cowok itu secara blak-blakan mengatakan kalau dirinya menginginkan sepuluh orang anak. Hell, dikira Rea kucing apa, yang sekali melahirkan bisa dapat empat.


"Kenapa enggak, aku yakin kamu bisa mendidik anak-anak kita dengan baik", jawab Levi enteng.


Masalahnya bukan tentang cara mendidik. Tapi proses mengandung dan melahirkannya itu lho. Apa iya sepanjang hidupnya kegiatan Rea hanya akan diisi mengandung, melahirkan, dan mengurus anak.


Walau rejeki tak ada yang tau. Tapi bagi Rea dua anak saja cukup.


"Kalau kamu emang cinta aku, kenapa enggak kayak Papi yang ngelakuin vasektomi karena enggak mau lihat Bunda merasakan sakitnya melahirkan", Rea mendongak menatap Levi yang juga tengah menatapnya.


Bukannya langsung menjawab, Levi malah tersenyum ganteng. Lalu mengecup kilat bibir Rea. Membuat bumil satu itu mendengus keras dan kembali memalingkan wajahnya ke depan.


"Papi beneran ngelakuin itu?", tanya Levi yang masih tak percaya.


Rea menganggukkan kepalanya setelah berteriak melarang Raya untuk tidak memainkan piring bekas bakwan jagung yang sudah habis tak bersisa.


"Iya, setelah melahirkan aku sama Argan, Bunda sempat pendarahan sampai koma. Oma Nata pernah cerita, katanya selama Bunda koma itu Papi udah kayak orang gila. Enggak mandi-mandi, bahkan makan pun kalau enggak dipaksa enggak bakal makan", cerita Rea dengan pandangan yang fokus pada anak-anak.


"Iya sih, serem juga", gumam Levi pelan. Levi tak bisa membayangkan bagaimana bila dirinya yang berada di posisi Reagan. Mungkin Levi akan lebih parah dari mertuanya itu. Sedangkan jauh dari Rea untuk beberapa waktu yang lalu saja, Levi sudah terasa ingin mati. Apalagi kalau kehilangan Rea untuk selamanya.


Rea yang dapat mendengar gumaman Levi pun lantas mengulum senyum.


"Tapi melahirkan itu adalah anugerah bagi setiap wanita", ujar Levi kemudian yang menarik perhatian Rea untuk menatap.


"Enggak banyak perempuan yang bisa merasakan apa yang kamu rasakan sekarang", tambah Levi seraya mengelus perut buncit yang berisi anaknya itu, "Dan aku enggak mau renggut itu dari kamu."


Senyum manis Levi menular pada Rea. Cewek itu tersenyum lebar menatap pahatan Tuhan yang sangat paripurna tersebut.


"Iya sih, Papi aja yang bucin nya kelewatan", jika dipikir-pikir lagi, Reagan memang terlalu berlebihan. Tapi mungkin itulah caranya menunjukkan betapa besarnya dia mencintai Arinta.


"Ngomong apa sih", gerutu Rea.


"Lho kan iya bener, enggak ada yang kekal abadi. Maka nya aku mau banyak anak dari kamu", ujar Levi menyahuti.


"Kenapa?."


Levi mengelus lembut surai panjang Rea, "Kalau aku duluan yang dipanggil Tuhan, maka ada anak kita yang bakal nemenin kamu, dan buat kamu mikir dua kali buat nikah lagi."


Rea mendengus pelan. Darimana pikiran itu datang.


"Dan kalau kamu yang duluan dipanggil, maka anak-anak kita lah yang menjadi kenangan dari kamu. Menjadi alasan aku buat gak nyusul kamu", lanjut Levi yang membuat Rea terhenyak. Segitu cintanya kah Levi kepadanya?. Rela mati untuk tetap bersama dirinya.


Tuhan, jika saja keinginan Rea dapat dikabulkan, maka Rea hanya akan meminta satu. Rea akan meminta cabutlah nyawanya bersamaan dengan Izrail mencabut nyawa suaminya.


"Kalau aku yang duluan dipanggil Tuhan, kira-kira kamu bakal nikah lagi enggak?", tanya Rea iseng.


Levi menyeringai jahil. Menaikkan sebelah alisnya angkuh, "Kalau ada yang cantik, kenapa enggak?."


Mendengar itu sontak saja Rea membrengut seraya menghempaskan tubuh Levi. Mengambil jarak dari Levi yang sudah tertawa puas.


"Nanti malam tidur diluar", ketus Rea sambil melirik sinis Levi yang masih tertawa.


Kalau begitu, nanti jika ada yang lebih ganteng dari Levi, boleh dong Rea oleng.


"Emang kamu bisa tidur tanpa aku?", Levi menatap jahil Rea setelah berhasil meredakan tawanya.


"Bi-"


"Ihh, Abang ganteng so sweet banget sih."

__ADS_1


Rea menoleh cepat ke arah Raya yang entah sejak kapan mulai memperhatikan mereka berdua.


Sial, Rea lupa kalau masih ada anak-anak didekat mereka.


"Enggak kayak Abang Geo. Udah jelek, pelit, nyebelin lagi. Ngemis sana Bang", Raya mengejek Geo yang hanya menatap datar adik perempuannya itu.


"Nih kayak Anta dong, walaupun cengeng tapi mukanya cakep. Kayak ada bule-bule nya gitu", tambah Raya sambil mencolek telinga Anta yang terlihat risih.


Levi tersenyum melihat Raya yang menurutnya cukup unik. Dulu Levi sangat menginginkan seorang adik, dirinya ingin merasakan bagaimana rasanya berantem kecil seperti itu. Tapi sayang, Tuhan tidak mengizinkannya.


"Geo ganteng kok, kayak oppa-oppa Korea", celetuk Rea mencoba untuk membangkitkan mood Geo yang terlihat down setelah di ejek terus-menerus oleh adeknya. Bagi Rea, Geo itu lebih terlihat mirip dengan Tantenya Gina. Dan Raya itu persis banget kayak Papanya. Namun mulut Raya itu lebih pedes.


"Mana ada, kayak aki-aki bongkotan iya", bantah Raya santai.


Levi dan Rea menggelengkan kepalanya. Geo itu terlalu sabar untuk perempuan cerewet kayak Raya. Apakah itu yang dinamakan kakak-adik harus saling melengkapi.


"Anta kenapa?", tanya Levi saat melihat cowok kecil itu berjalan lesu menghampirinya.


"Anta au bobok", jawabnya dengan bibir kecilnya yang bergerak lucu.


"Sini", Levi merentangkan tangannya. Memeluk Anta yang terlihat nyaman dalam gendongan Levi. Mengelus punggung mungil itu secara teratur.


Manis. Satu kata yang dapat menggambarkan pemandangan yang dilihat oleh Rea saat ini. Levi pasti akan menjadi seorang Daddy-able banget.


"Raya sama Geo main dulu ya, Kak Rea mau antar Anta bobok dulu", ujar Rea membuat dua adik beradik itu kompak mengangguk.


"Jangan berantem", tambah Levi yang dibalas Geo dengan anggukan. Sementara Raya hanya menyengir kuda.


Setelah itu pasangan suami-istri tersebut berjalan keluar dari ruang keluarga. Dengan Anta yang sudah mulai terlelap dalam gendongan Levi.


Namun, belum sempat mereka menginjakkan kaki ke anak tangga. Suara pintu dibuka yang diiringi dengan ucapan salam itu menghentikan pergerakan keduanya.


Terlihat enam orang berjalan masuk ke dalam rumahnya bersama Bik Mirna yang sepertinya baru pulang belanja.


"Bunda?", Rea berjalan menghampiri Arinta, Reagan, Gina, Zidan, serta Ardean. Menyalami tangan para orang tua itu secara bergantian. Disusul dengan Levi yang susah payah karena Anta yang mendekapnya erat. Saat hendak menyalim tangan Ardean, Anta yang berada dalam gendongan Levi seketika berteriak, "Api!."


Ardean tersenyum tipis dan meraih tubuh gembul putranya itu.


"Anta repotin Kakak enggak?", tanya Ardean membuat Anta melirik ke arah Rea.


"Anta ngelepotin?."


Rea tersenyum dan menggeleng.


"Rin, toiletnya dimana?, gue kebelet nih."


Mereka semua kompak menoleh ke arah pintu saat mendengar suara itu.


"Aunty?."


"Ami!", Anta bergegas turun dari gendongan Ardean dan berlari ke arah cewek yang terlihat terpaku di ambang pintu. Tubuhnya menegang kaku saat Anta tiba-tiba memeluknya.


"Ini...., anak siapa?", Laily bertanya pada orang-orang yang menatap cengo ke arahnya.


Kenapa?, apa ada yang salah?.


...~Rilansun🖤....


...Semangat ku tergantung pada laik mu🙂....


...Selamat malmimg, jomblo💞😘...

__ADS_1


__ADS_2