
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...When you smile, i melt inside......
...###...
Levi mengernyitkan keningnya saat tak mendapatkan sang istri ketika membuka pintu. Biasanya jika Levi pulang kerja atau pulang kuliah, Rea akan menyambutnya dengan senyum manis yang tersungging serta penampilan cantiknya yang selalu membuat Levi bertekuk lutut.
"Assalamualaikum", Levi mengucapkan salam dengan sedikit keras. Namun tidak ada satupun orang yang menyahuti.
Rumah itu memang terlihat sedikit sepi. Sebab Bik Mirna yang sudah dua hari ini pulang ke kampung halaman untuk berziarah.
"Sayang?."
Namun kemana pula istri mungilnya itu sekarang. Apa mungkin Rea sedang tidur di kamar mereka?.
Tanpa pikir panjang lagi Levi langsung menyeret langkahnya untuk menaiki undakan anak tangga. Sebenarnya Levi sudah menyarankan Rea agar mereka tinggal di kamar bawah untuk sementara waktu. Namun perempuan hamil itu menolak dengan alasan, kalau dia masih sanggup untuk naik turun tangga.
"Ganteng banget sih."
Kaki Levi yang baru saja ingin menapak pada undakan anak tangga pertama pun lantas terhenti. Keningnya yang mulus itu perlahan berlipat. Ketika telinganya dengan samar-samar mendengar suara dan cekikikan seseorang.
Dengan gerakan pelan Levi menolehkan kepalanya ke belakang dan betapa terkejutnya Levi saat melihat seorang perempuan yang sedang duduk di ruang keluarga sambil tertawa menatap ponselnya.
"Kamu harus ganteng kayak Park Sunghoon ya sayang."
Levi membelalakkan matanya saat mendengar itu. Mempercepat langkahnya dan memposisikan tubuhnya tepat di belakang perempuan yang sedang mengelus perutnya yang buncit. Setelah melempar asal jas serta tas kerjanya di atas sofa.
"Pasti tengok cowok-cowok yang sok kegantengan itu, kamu nakal ya", Levi memeluk tubuh Rea dari belakang.
Perempuan hamil yang sedang lesehan di atas karpet berbulu di depan tv itu pun sontak menoleh kaget.
"Mau dihukum, hm?", Levi menunjukkan senyuman tipisnya yang membuat Rea gelagapan.
"Hehehe, anaknya kepengen", Rea menyengir menampilkan deretan giginya yang sialnya terlihat sangat manis di mata Levi. Kalau sudah begitu mana bisa Levi marah.
"Anaknya atau kamu?", Levi memeluk perut Rea seraya mengelus sayang bakal calon anaknya di dalam sana. Sementara hidungnya sudah sibuk menghirup dan mendusel-dusel di leher istrinya. Tempat favoritnya ketika hendak tidur.
"Dua-duanya", sahut Rea santai dan kembali melanjutkan kegiatannya men-stalk Oppa-oppa negeri ginseng tersebut.
Levi mendengus. Siapa yang bersalah disini?, Bunda Arinta yang mengajarkan tentang dunia per kpop-an pada Rea atau Levi yang memang kurang menarik di mata istrinya.
Argh, sial. Levi ingin sekali rasanya menyantet mereka semua.
"Dasar", sebal Levi dan beralih mencium pipi tembem Rea. Tubuh Rea semakin hari semakin berisi saja. Membuat Levi gemas.
"Ih, udah sana pergi", Rea mendorong wajah Levi yang sudah membuat basah pipinya, "Belum mandi, malah cium-cium aku. Kamu itu kotor tau", dumel Rea menatap Levi tak suka.
Levi memutar bola matanya malas.
"Heh, matanya jangan gitu. Gak bisa kebalik lagi baru tau", Rea menepuk pipi Levi cukup keras yang membuat sang empunya kaget.
"Sakit sayang", keluh Levi memegangi pipinya yang habis di tampar Rea.
Rea mengedikkan bahunya acuh. Dan kembali fokus pada gawai miliknya.
__ADS_1
"Dah pergi sana, tadi aku udah siapin air hangat, tapi gak tau sekarang udah dingin apa enggak", ujar Rea cuek membuat Levi berdecak.
Levi menarik dagu Rea untuk menatap ke arahnya, "Cium dulu, bentar", tunjuknya pada bibirnya yang tak pernah menyentuh rokok sama sekali.
Rea menurut dan mendekatkan wajahnya lebih dekat. Menempelkan bibirnya pada bibir Levi. Mengecupnya pelan dan singkat. Namun ketika Rea hendak memundurkan wajahnya. Levi dengan sigap menarik pinggang serta tengkuk Rea untuk semakin mendekat.
Mengganti kecupan singkat itu menjadi ciuman lembut tanpa menuntut.
Levi melepaskan ciumannya dari bibir Rea saat merasakan kalau istrinya itu kehabisan nafas.
"Ish, katanya bentar", omel Rea dengan nafas yang terengah-engah.
"Itu kan bentar", sahut Levi enteng dan berdiri dari duduknya. Mengambil jas serta tas nya. Dan berlenggang menuju kamarnya.
Lalu, lima belas menit kemudian Levi kembali turun dengan penampilannya yang lebih segar. Menyugar rambutnya yang sedikit basah. Dan menatap jengah Rea yang masih sibuk dengan dunianya.
Levi jadi menyesal membawa Rea menginap di rumah mertuanya seminggu yang lalu.
"Udahan dong, Mom", Levi kembali memeluk Rea dari belakang. Menyingkap kaos yang dipakai oleh Rea hingga ke bawah dadanya. Menyentuh langsung permukaan kulit perut istrinya.
Rea tak merespon, tangannya dengan lincah men-scroll layar ponselnya. Menyandar nyaman pada dada bidang suaminya.
Levi pun hanya menghela nafas pendek dan merebahkan kepalanya ke atas pundak Rea. Memejamkan matanya seraya menghirup aroma yang mampu membuatnya tenang.
Tak terasa sudah sepuluh menit keheningan memeluk pasangan suami istri tersebut. Hingga Rea bosan dan meletakkan ponselnya ke atas karpet. Mengelus punggung tangan Levi yang melingkari perutnya.
"Kamu mau makan enggak?", tanya Rea sembari memainkan cincin pernikahan yang melekat pada jari manis Levi.
Levi tak menjawab.
Ketika Rea hendak menolehkan kepalanya menatap Levi. Calon Ayah itu lebih dulu mengeratkan pelukannya dan bergumam, "Hm."
"Tadi aku buat sup ayam, kamu mau makan enggak?."
"Nanti", jawab Levi sekenanya.
"Gimana kerjaan kamu hari ini?, capek enggak?", Rea mencoba membuka obrolan di antara mereka.
"Hm", Levi hanya menjawab dengan sebuah gumaman tak jelas.
Rea menghela nafas panjang. Melihat dari sikap cuek dan dinginnya, Rea yakin Levi tengah merajuk.
"Kamu marah?", tanya Rea pelan.
Levi tak menyahuti nya, membuat Rea semakin yakin. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi. Rea duduk bersandar sambil memainkan jari-jemari suaminya.
Keheningan pun kembali melingkupi keduanya. Hingga terdengar alunan merdu yang sangat pelan. Membuat Levi menegakkan kepalanya dan melirik Rea yang sedang memainkan cincin pernikahan mereka.
"Daddy, jangan marah-marah..., takut nanti lekas tua..., Mommy setia orangnya...., Takkan pernah mendua...."
Levi mengulum senyum ketika mendengar Rea yang bernyanyi. Walau sangat pelan, tapi Levi dapat mendengarnya cukup jelas.
Aish, mengapa istrinya itu menggemaskan sekali.
Levi tetap diam. Levi yakin kalau Rea mengira dirinya sudah tidur, maka nya bumil satu itu berani bernyanyi. Mengingat sikap Rea yang cuek, bahkan untuk mengatakan kata-kata romantis saja Levi butuh membujuknya cukup lama.
__ADS_1
"Dari jutaan bintang..., Daddy paling gemerlapan..., Dari segenap jejaka..., Daddy lah yang paling menawan....", Rea melanjutkan nyanyiannya dengan tangan yang terus mengelus dan memainkan jari-jemari Levi.
Levi tersenyum lebar lalu memutar tubuh Rea menghadap ke arahnya. Membuat si empunya kaget tak percaya.
"Loh kamu gak tidur?", Rea membulatkan matanya menatap Levi.
"Tadinya iya, tapi dengar suara yang merusak gendang telinga, enggak jadi tidur."
Rea mendengus dan menatap sinis Levi yang tengah menundukkan tubuhnya ke depan perut Rea yang terpampang jelas.
Diam-diam Levi tersenyum seraya melayangkan satu kecupan lama di perut Rea, "Daddy loves you and... your Mom."
Satu lengkungan sabit terbit di bibir Rea kala telinganya mendengar gumaman lirih itu. Walau sudah sering, namun selalu berhasil menyentuh relung hatinya.
Suaminya memang yang paling sempurna. Oppa-oppa Korea pun lewat.
Tak ingin melewati momen, Rea pun lantas langsung menyambar ponselnya dan membuka aplikasi kamera. Memfoto Levi yang masih setia mengecupi perut buncitnya. Sungguh manis.
"Kamu udah-"
Cup
Rea membungkam bibir Levi ketika cowok itu hendak berbicara. Membuatnya membelalak tak percaya. Benarkah itu Rearin?, istrinya yang kaku?.
"Kamu..."
"Karena kamu udah buat jantung aku berdebar, dan aku orangnya enggak suka berhutang budi, maka nya aku mau bales kamu dengan buat jantung kamu berdebar juga", sela Rea yang lagi-lagi berhasil membuat Levi tak percaya. Hei, dari mana ratu es itu belajar kata-kata seperti itu.
"Kenapa?, manis enggak?", Rea mengedipkan sebelah matanya menatap Levi yang masih mematung tak percaya.
Namun sedetik kemudian Levi menyeringai dan mendekatkan wajahnya. Mencium bibir Rea yang selalu sukses membuatnya candu.
"Kurang", bisiknya di telinga Rea sebelum memagut benda kenyal nan basah tersebut.
Rea memukul bahu Levi ketika tangan suaminya yang enggak tobat-tobat itu sudah merayap kemana-mana.
"Ih, Levi!", sentak Rea saat tangan Levi hendak membuka celananya. Dasar, pantang dipancing.
"Kamu yang mulai", Levi menjauh berusaha menetralkan gairahnya yang tiba-tiba memuncak.
Rea mencebikkan bibirnya.
"Levi, aku pengen."
"Pengen apa?, pengen aku?", sahut Levi cepat yang mendapat pukulan di dada dari Rea.
"Bosen, kamu terus", Rea memutar bola matanya, "Aku pengen seblak", lanjutnya dengan menunjuk puppy eyes andalannya.
Levi tak merespon. Tanpa aba-aba ia langsung mengangkat Rea dalam gendongannya membuat bumil satu itu memekik tertahan.
"Levi aku-"
"Aku pengen kamu", potong Levi dengan suara yang serak dan matanya yang sayu. Menghipnotis Rea yang ingin protes.
...~Rilansun🖤....
__ADS_1
...Ada yg nungguin gk?, enggak ada ya🙁. Buat yg baca, semoga jempolnya gak mageran ya tekan like. Sampai jumpa kapan":v...