
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Tetaplah tinggal meski aku selalu membuat mu kesal. Dan tetaplah ada walau aku tak pandai ciptakan tawa......
...###...
Kedua sudut bibir Levi perlahan terangkat ke atas kala indra penglihatannya menangkap tepat sebuah objek yang takkan pernah muak untuk dipandangnya setiap saat.
Objek yang paling indah di muka bumi ini menurut Levi. Tak ada satupun keindahan dan kecantikan yang dapat menandingi Rea nya di semesta ini.
Rearin Kalyca Allandra itu adalah sosok bidadari Tuhan yang tak sengaja turun ke dunia. Dan bidadari itu hanya diperuntukkan buat menjadi miliknya. Hari ini, esok, dan nanti.
Hingga Langit runtuh dan tanah retak. Rearin hanya milik seorang Levino. Begitupula sebaliknya.
Bucin?. Tak masalah.
Karena memang seindah dan se-berharga itu Rea dalam hidup Levi.
"Assalamualaikum Mommy", Levi melangkah masuk ke dalam kamarnya seraya melempar senyuman mautnya kepada Rea yang mendongak menatapnya.
"Waallaikumussalam", jawab Rea singkat dan kembali fokus pada buku cetak sejarah yang ada pada pangkuannya.
Semenjak ujian, perhatian Rea hanya pada pelajaran, dan pelajaran. Levi jadi cemburu terhadap buku-buku dan materi tersebut.
"Kenapa lama?", celetuk Rea tanpa menoleh ke arah Levi yang sedang membuka kemeja kerja nya.
Levi mengalihkan atensinya dari cermin ke arah Rea yang sedang sibuk belajar. Lalu menatap jam yang menempel di dinding.
"Telat sepuluh menit doang."
Rea mengangkat pandangannya dan melihat Levi yang juga tengah menatapnya. Memindai penampilan suaminya dari atas sampai bawah dengan lamat. Menganggukkan kepalanya beberapa kali sebelum kembali menunduk.
Melihat sikap Rea, Levi hanya dapat menghela nafas panjang.
Semenjak kehadiran Dita empat hari yang lalu ke rumah mereka. Dan omongannya tentang selingkuh serta pelakor sukses membuat Rea menjadi istri yang posesif lagi curigaan. Ditambah dengan drama-drama Korea yang bertemakan perselingkuhan yang ditonton oleh Rea.
Bukannya tak suka, hanya saja Levi tak mau kepercayaan Rea pada dirinya hilang begitu saja.
Mana bisa Levi selingkuh, kalau cewek paling cantik di dunia ini saja sudah menyandang status sebagai istrinya. Miliknya untuk selamanya.
"Tadi ada rapat dadakan", beritahu Levi kemudian. Tak ingin malam ini tidurnya disuguhkan dengan pemandangan punggung Rea yang membelakanginya. Hanya karena perkara 10 menit telat pulang.
"Hm", sahut Rea tak acuh.
Levi melempar kemeja putihnya ke arah keranjang kotor. Membuat tubuh bagian atasnya terlihat jelas. Memamerkan otot-ototnya serta tatto sepasang sayap yang ada di dada bidangnya.
Berjalan mendekat dan berhenti tepat di samping tubuh Rea yang tengah duduk bersandar di kepala ranjang.
"Boleh cium enggak sayang?", bisik Levi pelan di samping telinga Rea.
"Enggak. Kamu kotor, mandi dulu sana", balas Rea acuh dengan enggan menoleh ke arah suaminya barang sejenak.
Levi mencebikkan bibirnya, "Sekali aja, rindu nih."
__ADS_1
"Enggak", kekeuh Rea.
"Boleh?, makasih sayang", tanpa peduli dengan tatapan tajam Rea, Levi lantas dengan cepat mengecup singkat pipi serta bibir istrinya.
"Ka-"
"Aku mandi dulu", dengan kilat Levi langsung ngacir ke kamar mandi. Membuat Rea hanya bisa menggelengkan kepalanya tak paham. Mengapa kakak kelas yang dulu terkenal sangat dingin dan bengis itu. Kini malah menjadi hangat dan tak jelas dalam satu waktu.
Lima belas menit kemudian, Levi keluar dari dalam kamar mandi dengan keadaan yang lebih segar. Cowok yang hanya menggunakan bokser tanpa atasan itu berjalan menghampiri istrinya yang masih setia dengan posisinya.
"Lagi ngapain?", tanya Levi asal seraya melempar handuk basah yang tadi digunakannya untuk mengeringkan rambut.
Rea mendongak dari ponselnya. Waktu belajarnya sudah selesai dari lima menit yang lalu.
"Hm?", Levi mengangkat sebelah alisnya ketika Rea memandang tajam dirinya.
Rea menatap sinis Levi lalu melirik ke arah handuk yang tergeletak naas di lantai, "Ambil", titahnya yang tak terbantahkan.
Levi menggaruk kepalanya yang tak gatal dan memungut kembali handuk tersebut sebelum diletakkan di tempat yang tepat.
"Gimana tadi ujiannya?", tanya Levi setelah membaringkan kepalanya di atas paha Rea.
"Lumayan", jawab Rea singkat tanpa melepaskan fokusnya dari gawai yang ada di tangan.
Levi memiringkan kepalanya menghadap perut buncit Rea. Mengecup dan mengelus sayang anaknya yang meringkuk nyaman di dalam sana.
"Kamu enggak di apa-apain kan sama mereka?", Levi bertanya dengan pelan. Itu adalah ketakutan terbesarnya setelah mengizinkan Rea untuk ikut ujian semester ganjil di SMA Allandra. Levi takut istrinya terkena bully atau semacamnya. Sudah cukup Rea mendengar caci-makian di sekolah lamanya dulu.
Levi merasa bersalah kala mengingat ucapan Rea saat meminta izin untuk ikut ujian. Hatinya lemah ketika sepasang manik hitam itu berkaca-kaca memohon kepadanya.
Rea harus putus sekolah karena dirinya yang bajingan ini. Impian cewek itu harus terkubur karena masa depan yang Levi tawarkan secara mendadak.
Tapi Levi berjanji, setelah ini apapun keputusan Rea akan Levi dukung. Jika istrinya itu ingin melanjutkan pendidikan hingga ke negeri orang pun, akan Levi sanggupi.
Karena Levi sadar, dirinya adalah penyebab terbenamnya cita-cita Rea untuk saat ini.
"Enggak. Kan aku ujiannya di ruangan Papi", Rea jengah dengan pertanyaan itu. Sudah setiap hari Levi bertanya dengan pertanyaan yang sama. Dan Rea pun menjawab dengan jawaban yang sama.
Apakah otak Levi itu memorinya kecil, hingga lupa setiap saat.
"Hmm", Levi hanya bergumam tak jelas. Cowok itu masih sibuk dengan kegiatannya menyapa sang jabang bayi.
"Kamu enggak makan?", tanya Rea seraya mengelus rambut Levi.
"Enggak."
Rea memandang tak suka Levi lalu mendaratkan satu jalapeno di lengannya, "Kebiasaan."
Levi mengaduh dan mendongak menatap Rea. Tersenyum manis yang membuat Rea jengah.
"Kamu cantik banget sih, sampai aku gak ***** makan", gombalan receh ala-ala buaya yang nongkrong di perempatan jalan.
Rea minipiskan bibirnya, "Cewek ya cantik lah, kalau ganteng mah cowok."
__ADS_1
"Eits salah. Kalau semua cewek itu cantik, terus untuk apa diciptakannya kata 'jelek'?"
Rea memutar bola matanya jengah, "Up to you."
"Kamu nonton apaan sih?, fokus banget kayaknya", Levi menegakkan tubuhnya dan duduk disamping Rea. Wajahnya seketika datar saat melihat wajah pria-pria dari negeri ginseng itu memenuhi layar ponsel Rea. Seharusnya Levi tak bertanya tadi, karena jawabannya pun ia sudah tau.
"Hobi banget. Apa bagusnya sih mereka. Mana ada cowok pakai skincare-an. Kalah jalan tol sama muka nya", dumel Levi tak suka.
Rea yang tak terima idola nya di hina pun menoleh cepat menatap Levi.
"Terus bedanya sama kamu apa?, yang make serum aku kemarin siapa?. Mana habis satu botol lagi. Kamu apain tuh serum. Kamu tau gak itu berapa harganya, bisa beli satu motor tau", cerocos Rea panjang lebar. Kekesalannya belum sirna setelah memarahi Levi satu harian suntuk kemarin. Hatinya memanas ketika mengingat kembali botol serum wajahnya yang terletak naas di dalam tempat sampah. Dengan keadaan yang sudah kosong tanpa isi.
Levi menciut seketika. Bibirnya maju beberapa centi seraya memainkan jari-jemarinya. Masih berbekas di ingatannya bagaimana amarah Rea yang meledak-ledak karena botol kecil sialan itu.
"Kan aku mau glowing juga biar kamu gak ngeliatin terus cowok-cowok kayak mayat itu", Levi mencari pembelaan.
"Apa hasilnya setelah kamu pakai satu botol serum?, enggak ada kan. Sama aja", judes Rea dan meletakkan ponselnya ke atas nakas. Membaringkan tubuhnya pelan yang diikuti oleh Levi.
Rea menatap wajah Levi yang tertekuk seperti anak kecil. Sudah Rea bilang bukan, cowok itu bisa menjadi apapun dalam satu waktu.
Kemudian tangan Rea terulur menangkup wajah bayi besarnya itu. Membuat Levi menatap ke arah Rea yang tersenyum manis.
"Kamu dengan mereka itu beda. Kamu itu suami aku, mereka itu ya cuma buat cuci mata doang."
"Gantengan aku, apa mereka?."
"Ya kamu lah", jawab Rea cepat.
"Terus kenapa kamu masih butuh cuci mata?, kan kata kamu aku ganteng, berarti yang kamu lihat itu aku."
Skak mat.
Rea kalah.
"Ya karena aku..., udah ah aku ngantuk", Rea menutup matanya untuk menyudahi pembicaraan yang tidak jelas ini.
Tidak mungkin kan, Rea mengaku kalau oppa-oppa Korea itu lebih tampan dari Levi. Eum, ya menurut Rea saat ini mereka yang paling tampan. Ups.
"Sayang..., kamu mau punya boyband sendiri enggak sih?", Levi melingkarkan tangannya di pinggang Rea. Mengikis jarak yang ada diantara mereka berdua. Dan berbisik pelan di telinga sang istri.
Rea yang memang belum tidur pun lantas membuka matanya dan menatap tak paham Levi.
"Hah?, gimana?."
"Ayo kita punya banyak anak, biar bisa buat boyband sendiri", tambah Levi seraya meniup sensual telinga Rea.
...~Rilansun🖤....
...Skip aja deh:v, janlup like, semangat ku tergantung dengan kamu😘...
ngina diri sendiri👇
😂
__ADS_1