Rearin

Rearin
New member


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Memiliki mu adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan padaku.......


...###...


Arinta dan Reagan bergegas berlari ke kamar yang ditempati oleh Rea dan Levi, setelah mendapat kabar dari menantunya.


Mereka yang tadinya terlelap seketika terjaga. Begitupula dengan Bik Mirna. Kabar yang diumumkan oleh Levi berhasil menggemparkan seisi rumah.


"Ya ampun, ini air ketubannya udah pecah", ujar Arinta histeris setelah duduk di samping putrinya yang tampak menahan kesakitan.


"Bunda...., sakit Bun", Rea menitikkan air matanya menatap sang Bunda. Membuat Arinta pun ikut turut menangis.


Arinta pernah berada di posisi Rea sekarang, bahkan lebih parah. Namun tetap saja, melihat putri kecilnya yang menahan kesakitan seperti itu membuat Arinta tak kuasa menahan air matanya. Ingin rasanya Arinta mengusir kesakitan yang tengah dirasakan putrinya kini.


"Sabar ya sayang", Arinta mengelus lembut rambut Rea yang lepek karena keringat. Lalu wanita dewasa itu menolehkan kepalanya menatap suami beserta menantu yang menjadi patung dadakan di sisi kanan ranjang.


"Papi siapkan mobil!. Levi, kamu gendong istri kamu cepat", titah sang nyonya besar yang langsung dilaksanakan dengan kilat. Mereka tak ada waktu untuk bersantai-santai.


"Bik, jangan sampai ada yang kelupaan. Nanti Bik Mirna nyusul aja sama Pak Harun ya", Arinta menyebutkan nama supir pribadinya untuk mengantarkan Bik Mirna menyusul mereka ke rumah sakit.


"Iya Buk", sahut Bik Mirna seraya mengemas segala keperluan Rea ke dalam tas besar yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari.


Kemudian Arinta berlari keluar dan menyusul Reagan serta Levi dan Rea yang sudah masuk ke dalam mobil.


"Sabar ya sayang", ujar Arinta menenangkan Rea yang duduk di belakang bersama suaminya.


Levi mengelus perut Rea dengan sebelah tangannya. Sementara sebelahnya lagi sibuk menghubungi pihak rumah sakit untuk mereservasi terlebih dahulu.


"Levi...", Rea merintih dengan mencengkeram erat lengan Levi. Sampai tanpa sadar kuku-kuku panjangnya menancap di kulit putih Levi. Membuatnya kelihatan memerah dan sedikit mengeluarkan darah.


Levi meringis, tak dipungkiri kalau tangannya sedikit perih. Namun tentu saja itu tak sebanding dengan rasa sakit yang tengah dirasakan oleh istrinya kini. Andai kata Rea meminta Levi untuk menggantikan posisinya dan jika pun itu bisa, maka Levi bersedia.


Hatinya lemah melihat Rea yang rapuh.


"Aku yakin kamu bisa, you are my strong woman", ucap Levi menyemangati Rea yang tampak tak berdaya. Sedikit rasa penyesalan terbesit di hati Levi. Seharusnya dulu ia tidak merenggut mahkota Rea hingga berakhir dengan kesakitan seperti ini. Seharusnya Levi dapat lebih bersabar dan memiliki Rea dengan cara yang benar. Seharusnya....Ya sekarang itu hanya tinggal lah penyesalan yang berbekas.


"Gi-gimana kalau aku gak bisa?", di sela-sela kesakitan yang mendera, Rea bertanya dengan lirih.

__ADS_1


Levi tersenyum, mencoba memberikan semangat, "Aku percaya kamu mampu", sahutnya dan melayangkan kecupan ringannya di kening Rea.


"My son, dengerin Daddy", Levi berbicara di depan perut Rea. Mengelus sayang malaikat kecilnya yang sudah tak sabar ingin melihat dunia, "Sabar ya sayang, sebentar lagi kita bakal ketemu. Bantu Mommy ya, semoga kalian berdua sehat-sehat aja."


Seperti mantra, rasa sakit itu sedikit berkurang. Walau saat gelombang itu datang, sakitnya tak dapat digambarkan.


"I love you", Levi menegakkan tubuhnya dan mencium bibir merah Rea yang merekah.


Arinta yang sedari tadi menyaksikan putri serta menantunya dari kaca spion tengah pun tak dapat lagi membendung air matanya. Arinta seakan dibuat deja vu bila melihat kondisi Levi dan Rea sekarang.


Delapan belas tahun silam, ia pernah berada di posisi Rea. Dirinya yang mati-matian berjuang untuk melahirkan dua buah hatinya dengan didampingi Reagan yang selalu setia memberinya semangat.


Dari yang Arinta lihat, Levi itu sedikit unik. Jika dulu disaat Arinta akan melahirkan, Reagan lah yang terlihat sangat khawatir dan repot. Suaminya itu terus saja mengomeli dirinya yang tak ingin menerima saran dokter untuk operasi. Namun Levi terlihat lebih tenang dan dewasa. Padahal usia mereka sama, hanya tua Levi delapan bulan. Tetapi menantunya itu benar-benar bisa mengimbangi Rea yang khawatiran seperti Papi nya.


"Huh, menantu kamu itu emang gak sopan", dengus Reagan pelan yang hanya dapat di dengar Arinta yang duduk disampingnya.


Arinta melirik sekali lagi dari kaca spion tengah. Melihat Levi yang masih mencuri-curi ciuman di bibir Rea.


"Kayak kamu dulu gak aja", timpal Arinta. Hei, masih ingatkah dulu suami budiman nya itu bagaimana mencium dirinya di depan dokter dan suster.


Lima belas menit perjalanan, akhirnya mobil berhenti di pelataran sebuah rumah sakit besar di ibu kota. Sesampai di sana, Rea langsung dibaringkan di atas brankar yang sudah menunggu.


...###...


Pada dasarnya, manusia itu memang tidak tau diri.


Datang mendekat jika mereka sedang butuh. Lalu pergi menghilang begitu saja ketika sudah tak dibutuhkan lagi.


Terhadap Tuhan nya pun begitu. Mereka akan bersujud, menangis, meminta penuh harap kepada sang pencipta. Namun saat harapan itu sudah terkabulkan, bahkan untuk menoleh saja mereka sudah enggan. Menundukkan kepalanya kepada ilahi pun tak lagi pernah.


Dan sayangnya Levi adalah salah satu dari manusia yang tidak tau diri tersebut.


Ibadah sekedarnya saja. Mungkin di mata orang Levi adalah laki-laki yang sempurna. Suami dan calon ayah yang hebat. Tetapi Levi adalah seorang umat yang gagal.


Ia adalah manusia yang penuh dosa.


"Udah?", tanya Argan saat melihat Levi yang baru saja duduk di sampingnya. Setelah mengurusi administrasi rumah sakit.


Levi mengangguk, "Udah. Bunda udah masuk?."

__ADS_1


Argan berdehem sebagai respon.


"Kenapa bukan lo aja sih yang masuk?", Argan baru datang sepuluh menit yang lalu saat dirinya diberi kabar oleh sang Papi kalau adik kembarannya akan melahirkan.


Levi menyandarkan punggungnya dengan bahu yang merosot lesu, "Rea mau nya sama Bunda."


Seminggu yang lalu mereka pernah berdebat akan permintaan Rea yang berharap agar Arinta lah yang menemaninya saat bersalin. Tentu saja Levi menolak keras, karena ia ingin menemani Rea berjuang hingga titik darah penghabisan.


Namun lagi-lagi Levi kalah ketika melihat Rea yang menangis dan merajuk.


Jika masuk pun, Levi tak yakin dapat banyak membantu. Yang ada ia hanya akan terus memaksa para suster dan dokter untuk cepat-cepat membantu istrinya agar tak kesakitan lagi.


Sungguh, mendengar rintihan kesakitan dan melihat air mata Rea, adalah kelemahan baginya. Saraf-saraf tubuhnya seakan melemah tak berdaya.


"Gue yakin Rea bisa. Dia kan anaknya bos Reagan yang sok kuat", Argan berujar pelan di akhir kalimatnya. Melirik Papi nya yang tengah berdiri bersandar di dinding.


Levi menghela nafasnya. Memejamkan matanya seraya berdzikir pelan. Melantunkan doa-doa nya dalam hati. Berharap agar Tuhan dapat melindungi keselamatan bidadari dan malaikat kecilnya di dalam sana.


Detik, menit berlalu, hingga keheningan yang sedari tadi melingkupi orang-orang yang ada di depan ruangan bersalin itu pecah seketika. Tangisan nyaring yang menusuk indra pendengaran mereka membuat semuanya berdiri tegak dan menatap ke arah pintu yang masih tertutup rapat.


Oek....oek....oek


Levi berdiri mematung saat Argan menepuk bahunya dan mengucapkan selamat.


"Huwaaaaa ponakan gue udah lahir, makasih ya Allah", seru Argan dengan penuh rasa syukur.


Tes


Tanpa sadar satu tetes air mata itu lolos begitu saja dari manik abu-abu yang mendadak mengembun.


Levi dengan gerakan cepat menekukkan lututnya dan mendaratkan keningnya di lantai dingin rumah sakit. Bersujud dengan mengucapkan beribu kata syukur kepada sang pencipta.


"Selamat datang jagoan. Selamat datang Arthur Relvizo Devora."


...~Rilansun🖤....


Relvi's first son


__ADS_1


__ADS_2