
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Don't make yourself lose with emotions......
...###...
"Levi ini cantik gak sih?", Rea menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan baju-baju bayi perempuan yang lucu. Namun di detik kemudian Rea harus kembali menghela nafasnya saat tak mendapat respon sama sekali dari suaminya.
Pria itu terlalu sibuk berbicara dengan orang yang berada di sebrang telepon. Sampai-sampai mengangguri Rea yang sedari tadi duduk di sofa ruang tengah.
"Daddy kamu sok sibuk banget, tukang galon padahal yang nelpon itu, iya kan Thur?", Rea mencari dukungan dari putranya yang sedang asik membaca. Apa yang dibacanya?, jangan harap Arthur mau membaca buku anak-anak yang katanya membosankan. Bocah laki-laki itu lebih memilih melihat-lihat majalah yang Rea punya. Berisikan cewek-cewek cantik yang dapat membangun semangat Arthur, katanya.
Arthur memang sudah dimasuki ke PAUD sejak ia sudah mulai pandai berbicara dengan fasih walau terkadang masih terdengar cadel dan keseleo. Makanya Arthur sudah 'jenius' sejak dini, sampai membuat kepala Levi seakan mau pecah rasanya.
Tanpa mendongak, Arthur mengacungkan kedua jempol nya untuk sang Mommy. Membuat Rea memutar bola matanya jengah. Enggak anak, enggak bapak, sama aja. Sama-sama bikin kesel bin nyebelin.
Rea lantas mencebikkan bibirnya dan kembali men-scroll layar ponselnya. Melihat-lihat perlengkapan baby girl di online shop yang membuat Rea hampir gila. Ingin rasanya Rea mengklik semuanya. Namun mereka masih belum tau jenis kelamin dari bayinya.
Semoga saja perempuan. Karena jika cowok, anaknya bisa habis dimakan oleh anjingnya pak RT.
"Levi, stok susu aku kayaknya habis deh. Kamu bisa gak beliin, mau minta tolong Bik Mirna, udah malam, kasihan", Rea memandang punggung tegap Levi yang membelakanginya. Ia baru teringat akan stok susu hamilnya yang habis tadi sore.
"Kamu gak bisa ya?", ulang Rea saat tak mendapatkan respon sama sekali, "Ya udah aku beli sendiri aja", saat Rea akan bangkit dari duduknya. Arthur tiba-tiba saja berteriak yang membuat Rea dan Levi terperanjat kaget.
"DADDY NELPON SIAPA SIH?, SAMPE MOMMY GAK DI DENGELIN!. DADDY MAU BIALIN MOMMY PELGI KELUAL SENDILI MALAM-MALAM?, KALO GITU ALTHUL MINTA TOLONG UNCLE KEVIN AJA!."
"Arthur", tegur Rea dan mencegah putranya itu untuk keluar merealisasikan ucapannya tadi. Meminta tolong bantuan dokter kandungan tersebut.
"Daddy sibuk Arthur", ujar Levi pelan dengan ponsel yang sedikit dijauhkannya.
"Daddy lebih pilih keljaan atau Mommy?", tanya Arthur tegas.
Levi menghela nafas dan menatap ke arah Rea yang memalingkan wajah darinya.
"Sayang, maaf. Aku lagi sibuk banget", ujar Levi frustasi. Kepalanya hampir mau pecah karena masalah yang ada di kantor. Belum lagi pembuatan skripsinya yang tertunda hingga kini. Jika saja kandungan Rea sudah memasuki trimester kedua, Levi tentu harus selalu berada disamping istrinya tersebut. Namun kalau masalah kantor terus berlarut, maka Levi tak akan bisa menemani masa kehamilan Rea nantinya.
__ADS_1
Argh, mengapa sangat rumit sekali.
"Arthur, Mommy gak pa-pa kok. Kita minta bantu Om Bara aja ya kalau gak sibuk", Rea tak menghiraukan ucapan Levi. Bumil satu itu lebih memilih berbicara pada anaknya lalu mencari kontak Bara di ponselnya.
Levi menatap Rea sebentar sebelum kembali mendekatkan ponsel ke telinga. Setelah mengucapkan beberapa hal kepada klien nya yang berasal dari Belgia itu. Levi segera menutup ponselnya dan merampas paksa ponsel Rea yang sedang menghubungi nomor Bara.
"Halo ada-"
Tut
Belum sempat Bara merampungkan kalimatnya. Levi sudah lebih dulu mematikannya sepihak.
"Enggak usah minta tolong orang lain, aku masih ada", ujar Levi yang terdengar tak suka.
Rea kembali mengambil ponselnya dari tangan Levi, "Enggak usah, kamu sibuk", sahut Rea dingin.
"Ayo Thur", Rea menarik tangan Arthur untuk berjalan keluar dari rumah.
"Mau kemana?."
"Rea, kamu jangan kekanak-kanakan bisa gak sih."
Langkah Rea seketika terhenti saat mendengar ucapan Levi yang seperti jengah akan sikapnya. Sontak Rea membalikkan badannya dan menatap tajam Levi yang berdiri menatapnya.
"Kekanakan kamu bilang?."
"Iya, kamu gak bisa ngertiin aku lagi. Aku itu lagi sibuk banget. Aku pusing lihat kamu yang bentar-bentar rengek minta ini-itu, sampai aku gak bisa fokus dengan kerjaan. Aku baru nyampe kantor lima menit tapi kamu malah nyuruh aku pulang lagi cuma buat bikinin kamu nasi goreng doang. Aku itu bukan pengangguran Rea", ujar Levi panjang lebar mengeluarkan segala uneg-unegnya yang mampu membuat Rea terdiam seribu bahasa.
Seharusnya Levi paham, setelah ia mengatakan itu semua keadaan tentu tidak akan kembali lagi seperti semula.
Rea tertawa sumbang, "Berarti selama ini aku nyusahin kamu?, aku beban buat kamu?, iya?!", bentak Rea tanpa sadar. Emosinya ikut tersulut setelah Levi berucap seperti itu.
"Kamu bosan dengan aku, karena kamu balik lagi dengan mantan kamu itu kan?."
Levi terlihat gelagapan, " A-apa maksud kamu?."
__ADS_1
"Kamu pikir aku gak tau kalau kemarin kamu nemenin mantan kamu yang ngantar anaknya ke rumah sakit?!", Rea terkekeh sinis, "Sampai kamu lupa kalau di hari itu Arthur juga lagi butuh kamu. Dia terus nungguin Daddy nya di depan gerbang sekolah dan berharap Daddy nya bakal datang. Aku gak pernah protes sama kamu kan?. Aku gak pernah nanya kamu ngapain ke rumah sakit sama tuh cewek. Karena apa?, karena aku takut terlalu ikut campur dalam hidup kamu."
Rea berjalan lebih mendekat ke arah Levi yang terdiam tanpa ekspresi, "Kamu bilang aku gak ngertiin kamu?. Kalau aku gak ngertiin kamu, aku bakal bangunin kamu tadi malam karena Arthur sakit. Tapi aku enggak ngelakuin itu karena aku tau kamu capek. Kalau aku enggak ngertiin kamu, mungkin kemarin aku udah enggak ada di rumah ini. Istri mana yang enggak marah tau kalau suaminya pergi dengan perempuan lain ke rumah sakit untuk mengantar anak dari perempuan itu. Sementara dia punya anak sendiri yang sedang nungguin dia kayak orang bodoh."
"Kamu gak ngerti", desis Levi pelan.
Rea terkekeh sinis, "Aku-"
Drrt drrt
Suara ponsel Levi memotong ucapan Rea. Manik hitam legam itu langsung membidik ke arah layar ponsel yang menampilkan satu nama 'Karin.'
Ketika Levi hendak mengangkat panggilan tersebut. Tanpa diduga-duga Rea dengan cepat mengambil benda pipih itu dan membantingnya ke lantai dengan cukup keras.
"Rea!, kamu-"
"Apa?", tantang Rea, "Aku memang gak pernah bisa ngertiin kamu. Kamu itu terlalu sulit untuk dibaca. Waktu empat tahun aja gak cukup untuk ngenal kamu lebih dekat. Bahkan wujud asli kamu aja aku gak tau", sarkas Rea dan segera berlalu ke dalam kamarnya. Rea tak ingin lagi lebih lama berada di dalam rumah ini. Dua kali, dua kali sudah Levi menyakitinya ketika Rea sedang mengandung.
Dan Rea tak ingin anaknya kenapa-napa karena pertengkaran mereka.
"Argh", Levi berteriak cukup keras seraya meraup kasar wajahnya.
Di antara aduk mulut, dan luapan emosi masing-masing. Mereka melupakan seorang anak yang berdiri termangu menatap orang tuanya. Untuk pertama kalinya ia melihat Mommy nya yang begitu marah serta Daddy nya yang begitu frustasi.
Arthur seperti tidak mengenali keduanya. Tidak ada lagi kehangatan dan keharmonisan yang biasanya selalu ia rasakan dari kedua orang tuanya.
"Da-daddy..."
...~Rilansun🖤....
Karin siapa sih kamu..., kyknya hobi bgt ngehancurin rumh tngga org.
Sorry telat, smoga suka, janlup like n komen. 083165626093, that's my wa. Yg gabut ato mo nnya ato yg cuma mo nmbh kontk doang😂, blh di sv. but, yg aneh" i'll block😘. gamo sv gpp jg kok, no ribet".
...See you next chap👋...
__ADS_1