Rearin

Rearin
Need time


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Enggak baik noleh ke belakang, kalau kita udah siap berjalan ke depan......


...###...


Bunyi ketukan jari Rea pada keyboard ponselnya menjadi backsound di antara mereka berempat. Bersatu dengan suara-suara kegiatan yang ada di tempat nan luas tersebut.


Reagan menghela nafasnya. Memecahkan keheningan yang ada di antara mereka. Padahal sekarang ini mereka tengah berada di tempat yang bisa dibilang sangat sibuk. Namun, kesedihan dan keheningan itu melingkupi mereka berempat tanpa sadar.


"Kamu beneran mau pergi sayang?", Reagan menatap Rea yang duduk disampingnya. Yang sedari tadi sibuk terhadap ponselnya sendiri.


Rea melirik sekilas Reagan dan kembali fokus ke layar ponselnya. Menampilkan room chat nya dengan Dita. Sahabatnya itu tengah rewel sekarang, karena Rea tak sempat berpamitan dengan Dita tadi. Karena sungguh, ini sangat mendadak. Tanpa pernah Rea rencanakan sebelumnya.


"Yakin, Pi", jawab Rea singkat dengan melirik Reagan melalui sudut matanya.


"Kamu belum konsultasi sama dokter kamu kan?, besok aja ya sayang pergi nya", Arinta memegang lengan Rea yang terlihat sangat sibuk. Mencoba untuk membujuk putri semata wayangnya itu. Mengapa Rea harus mewarisi sifat keras kepalanya Reagan.


"Bentar, Bun", ujar Rea lalu bangkit berdiri. Berjalan sedikit menjauh dari keluarganya.


Argan yang melihat itu pun lantas berceletuk santai, "Emang keturunan Bos Reagan yang enggak kaleng-kaleng. Sama-sama keras kepala."


"Bunda, enggak ada jajan untuk Argan minggu ini."


Argan melototkan matanya dan langsung menoleh ke arah Reagan yang duduk disampingnya dengan tangan yang bersidekap di dada.


"What?, enggak bisa gitu dong Papi ku sayang", protes Argan tak terima kalau uang jajannya kosong Minggu ini. Enak saja, bagaimana nanti ia bisa mentraktir teman-temannya pas malam mingguan.


"Apa yang enggak bisa Papi lakuin?", Reagan menatap Argan yang membrengut sebal, "Uang-uang Papi juga, suka-suka Papi lah."


"Argan kaduin ke Pak RT baru tau", gerutu Argan seraya menatap sinis Papi nya yang sok ganteng.


"Ya udah kamu jadi anak Pak RT aja", sahut Reagan santai dan kembali menatap ke arah Rea yang masih bertelepon ria di depan sana.


Argan memajukan bibirnya kesal, "Malas, muka Pak RT enggak bisa dibawa ke tengah Pi. Yang ada nanti orang-orang ngira kalau Pak RT itu supirnya Argan."


"Papi bilang ke Pak RT kamu, biar diusir dari lingkungan."


"Astaghfirullah, punyak bapak gini amat ya Allah. Baim lelah", Argan memegang dadanya dengan mimik wajah yang dibuat sedemikian rupa.


Tak berapa lama kemudian, Rea kembali duduk di tengah-tengah Reagan dan Arinta.

__ADS_1


"Gimana?."


Rea menatap Arinta dan mengelus punggung tangan Bunda nya tersebut. Wanita itu terlihat sangat mengkhawatirkannya.


"Boleh Bun, kata dokter Kevin enggak apa-apa selama saya enggak punya keluhan", sahut Rea dengan menunjukkan senyuman tipis andalannya.


"Tapi kamu-"


"Kami berdua baik-baik aja kok, Bun", sela Rea meyakinkan kalau dirinya dan juga anak dalam kandungannya aman-aman saja.


"Kenapa enggak nunggu liburan aja sih, kan bisa sama-sama kita perginya", cetus Argan.


Rea melirik Argan yang duduk disamping Reagan.


"Anak saya pengennya sekarang", balas Rea datar. Argan mendengus, kenapa setiap berbicara dengan dirinya tidak ada nada yang lebih baik untuk di dengar. Ya Allah, Argan capek.


"Lo beneran enggak mau ngasih tau Levi?."


Pertanyaan Argan sukses membuat tiga orang itu bungkam. Reagan serta Arinta menoleh ke arah Rea yang terlihat menunduk menatap lantai yang dipijaknya.


"Saya-"


Ucapan Rea terjeda saat mendengar panggilan untuk maskapai yang ditumpanginya bergema di telinganya.


Lalu Rea bangkit dari duduknya yang langsung diikuti oleh Reagan, Arinta dan Argan.


Pertama Rea menolehkan wajahnya ke arah Arinta yang langsung membuang muka. Rea lantas menghela nafas.


"Bun, kata nenek, enggak boleh mempersulit perjalanan orang yang mau pergi. Nanti jalannya enggak lancar", ujar Rea seraya mengambil tangan Bunda nya.


Arinta menatap Rea yang memandangnya dengan senyuman tipis. Kemudian tanpa aba-aba Arinta langsung menarik putrinya itu kedalam pelukannya.


"Baik-baik disana ya sayang. Jaga kesehatan. Dengerin apa kata Oma Nata. Jangan suka keluyuran di dapur pas malam hari. Jangan nyiksa diri ya, karena enggak ada Bunda yang bisa meluk kamu", ucap Arinta dengan suara yang serak menahan tangisannya.


Rea mengangguk singkat dan mengelus pelan punggung Arinta.


"Saya cuma pergi bentar doang kok Bun."


"Iya nih si Bunda. Kayak si Rea yang mau pergi selamanya aja", celetuk Argan yang langsung mendapat tatapan tajam dari Reagan.


"Walaupun, dua Minggu itu lama juga tau. Bunda kan enggak kuat nahan rindu", Arinta melepaskan pelukannya dengan bibir yang mencebik.

__ADS_1


Tanpa sadar Rea terkekeh pelan melihat itu. Terkadang Bunda nya itu terlihat seperti anak kecil. Pantas saja Papi nya setia. Orang istrinya gemesin kayak gitu.


"Oo, berarti ini alasan Papi yang enggak pernah pergi dinas lebih dari dua hari. Dan kalau harus pun, Bunda bakal ikut", lagi-lagi suara Argan yang terdengar cempreng bin menyebalkan itu mengudara.


"Tungguin saya ya Bun", Rea mengelus pipi Bunda nya dengan ibu jari. Lalu mengecup kedua pipi wanita itu dengan sayang.


Setelah berpamitan dengan Reagan serta Argan. Rea segera membalikkan badannya. Melangkah menjauh dengan sesekali menoleh ke belakang. Dimana Arinta dan Argan yang melambaikan tangan kepadanya.


Rea memutuskan untuk pergi ke Sydney setelah melihat Levi yang terus saja merecoki hari-harinya. Kemana pun Rea pergi, cowok itu akan membuntutinya sampai Rea kembali pulang. Terus memohon untuk memberikan kesempatan kedua.


Bukannya Rea tak memaafkan Levi. Dari hati terdalamnya, Rea sudah memaafkan Levi jauh-jauh hari sebelum Levi menceritakan masalah yang sebenarnya.


Sekarang tinggal bagaimana Rea mengobati lukanya itu. Walau itu hanya sebuah sandiwara. Tapi tetap saja hatinya yang Levi mainkan.


Dan dengan Levi yang terus memohon kepadanya, membuat hati Rea semakin sakit. Ia sakit karena sudah bersikap kejam terhadap orang yang dicintainya.


Sekali ini saja, Rea ingin egois. Ia ingin hidup dengan rencananya sendiri. Rea butuh waktu untuk pulih. Dan semoga saja waktu dua Minggu di Sydney mampu membuat Rea kembali pulih. Menemukan jati dirinya dan suatu hal yang diinginkan hatinya. Setelah ini, Rea akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendengarkan kata hatinya. Karena ini adalah hidupnya, Rea yang akan menjalaninya hingga ajal menjemput. Dan Rea tak ingin ada sebuah kata penyesalan.


"REAAA!"


Langkah kaki Rea berhenti dengan tubuh yang menegang kaku. Matanya yang tadi menunduk menatap lantai kini membola menghadap ke depan. Nafasnya tercekat di tenggorokan saat suara bass itu meneriaki namanya.


Jangan, jangan menoleh Rea. Bangun kembali benteng pertahanan yang mulai roboh itu. Jangan membuat semuanya terlihat sia-sia.


Enggak baik noleh ke belakang, kalau kita udah siap berjalan ke depan.


Ucapan Sinta seketika menggema di telinganya. Seolah menjadi sebuah arahan untuk Rea agar tidak menoleh ke belakang.


"Kita bisa sayang", bisik Rea pelan seraya mengelus perutnya. Bagi Rea ini adalah sebuah ujian untuknya. Apakah setelah ini ia bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Menjadi seorang ibu yang baik untuk anaknya kelak.


Lalu dengan langkah yang sedikit tergesa, Rea kembali mengayunkan kakinya. Memantapkan keinginan hatinya untuk pergi.


Tanpa menoleh ke belakang, tanpa menatap seseorang yang terus meneriaki dengan gila namanya.


"REAAA!."


...~Rilansun🖤....


...Yang setuju Rea pergi?😂. **Mana tau dapat bule baru yekan....


...Makasih udah setia nungguin up dari saya yg mageran ini. Semoga suka. Happy reading all😘**...

__ADS_1


__ADS_2