
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Wanita mandiri itu adalah wanita yang tidak mengandalkan kaki laki-laki hanya untuk berjalan.......
...###...
"Kalau kamu enggak bisa, mending gak usah", Rea menatap ke arah Levi yang baru saja masuk setelah bertelepon ria selama dua jam suntuk di halaman belakang. Entah orang gila mana yang tak tau jadwal kapan orang sedang sarapan dan kapan orang tengah senggang. Menelpon suaminya kapanpun tanpa tau waktu.
Levi melirik sekilas Rea lalu kembali duduk menyantap sarapannya.
"Gue laki-laki yang tau tanggung jawab."
Mendengar itu Rea kontan mendengus. Tau tanggung jawab katanya?. Lantas kemana tanggung jawab cowok itu disaat tengah malam Rea kepingin makan sesuatu dan tidak ada orang yang bisa dimintai tolong. Kemana suaminya itu ketika Rea tak bisa tidur malam. Karena Levi yang belakangan ini sering pulang larut pagi, dan pergi setelah cowok itu beristirahat sejenak.
Rea merasa jika dirinya di rumah ini hanya dianggap sebagai pajangan semata.
Pernikahan yang harmonis dengan suami yang baik dan perhatian hanya Rea rasakan seminggu awal pernikahan. Sampai sebulan pernikahan mereka sekarang, Levi benar-benar berubah drastis. Seolah menunjukkan sifat asli yang dimilikinya.
Dari jarang pulang ke rumah, sampai menyapa anaknya pun tak pernah lagi cowok itu lakukan.
Hanya kali ini saja Levi menyempatkan diri untuk sarapan dengannya. Sebab cowok itu ingin menemaninya untuk pergi ke dokter kandungan.
Mengingat itu entah mengapa Rea ingin sekali menangis meraung-raung. Jujur, Rea ingin sekali menceritakan segala perubahan ini kepada Bunda nya. Namun Rea sadar, jika masalah rumah tangganya tidak sebaiknya ia umbar-umbar ke luar.
Mereka menikah berdua, dan harus menghadapi serta menyelesaikan masalah ini berdua.
Jika tak dapat diselesaikan, maka Rea hanya meminta yang terbaik kepada Tuhan.
"Saya cuma enggak mau ganggu waktu kamu", ujar Rea dan bangkit setelah menyelesaikan makanannya. Tanpa menatap ke arah Levi barang sedetikpun Rea berjalan keluar dari dalam ruang makan. Mengayunkan kakinya menuju kamar, untuk mengambil dan menyiapkan diri sebelum pergi.
"Bisakah kita hadapi ini sayang?", gumam Rea sambil mengelus perutnya seraya menatap dirinya dalam pantulan cermin.
Orang-orang mungkin memandangnya sebagai cewek yang cuek, dingin, tangguh dan kuat. Tapi mereka semua tak tau kalau di tengah malam Rea sering melamun dan mempertanyakan, mengapa ini semua bisa terjadi padanya. Tak jarang air mata itu turun kala mengingat malam panjang yang mengerikan tersebut.
"Rea!."
Mendengar teriakan seseorang dari bawah sana membuat Rea refleks membuka matanya dan menghela nafas.
Bahkan sedetikpun tak ingin cowok itu sia-siakan.
Tanpa menunggu lama lagi, Rea meraih tas selempang nya dan segera menuruni undakan anak tangga. Ia tak ingin jika waktu berharga Levi terbuang sia-sia olehnya dan juga anaknya.
"Bik, Rea pergi dulu ya", Rea menghampiri Bik Mirna yang berdiri di belakang Levi. Cewek itu mencium dengan sopan punggung tangan wanita paruh baya tersebut. Tanpa menghiraukan Levi yang memandanginya.
__ADS_1
"Iya, semoga dedek sama Mama nya sehat-sehat aja ya, mbak", balas Bik Mirna yang diamini oleh Rea.
"Jaga rumah bentar, Bik", titah Levi yang dibalas anggukan oleh asisten rumah tangganya tersebut.
Setelah itu mereka berdua segera berjalan menuju pintu utama. Namun belum sempat tangan Levi meraih handle. Pintu itu sudah terbuka terlebih dulu dari luar. Membuat Levi dengan sigap menarik Rea untuk menjauh seraya mengumpat dalam hati.
Orang tak sopan mana yang tidak bisa mengetuk rumah orang terlebih dahulu sebelum masuk.
"Hallo epribadeh. Apa kabar lo, bini lo, ortu lo, buyut lo-"
"Enggak sekalian seluruh warga Indonesia lo tanyain?", sela Morgan seraya menatap jengah teman gesrek nya tersebut.
"Sorry, cita-cita gue bukan jadi jurnalis", balas Ammar.
Morgan memutar bola matanya, "Serah."
"Rea, sarapan lo masih ada enggak?."
Rea yang tak siap pun sedikit terkejut melihat Bara yang sudah berdiri dihadapannya dengan wajah yang memelas serta satu tangan yang memegangi perutnya.
"Ya elah, Bang. Enggak dimana pun dan kapanpun, otak lo isinya cuma bagaimana bisa membuat perut buncit aesthetic."
"Diam lo, gue kaduin Pak botak karena bolos baru tau rasa lo", Bara mendelikkan matanya ke arah Romi yang berdiri di ambang pintu.
Levi yang melihat para jelangkung itu datang pun lantas menghela nafas panjang.
"Ngapain kalian kesini?."
"Numpang sarapan!", sahut ke-empat cowok itu dengan serempak.
Kurang kerjaan sekali, pagi-pagi datang ke rumah orang hanya untuk menumpang makan.
"Gue sama Rea mau-"
Drrt drrt
Ucapan Levi terhenti dengan deringan ponsel yang berada ditangannya. Membuat cowok itu melihat ke arah layar ponselnya. Dan segera berlalu untuk menjauh.
Membuat Rea diam-diam menggeleng kecil seraya tersenyum miris.
"Rea..., gue lapar", Bara dengan tak tau malunya menarik tangan Rea dan bersandar di pundak cewek tersebut. Rea yang diperlakukan seperti itu pun sontak merasa risih dan gugup.
"Ke-ke dapur aja", ujar Rea pelan dengan senyuman yang dipaksakan.
__ADS_1
"Modus lo buncit", Ammar memukul kepala Bara dengan topi yang dipakainya.
"Iri?, bilang bos, ahay", Bara memeletkan lidahnya mengejek Ammar. Dan berniat untuk pergi menuju dapur rumah Levi.
Namun baru satu langkah kakinya berjalan. Levi mendorongnya balik berdiri ke tempat semula.
"Lo pada mau makan kan?", tanya Levi yang dijawab oleh anggukan kompak para pemuda tersebut.
"Temani Rea dulu ke dokter kandungan."
Deg
Mendengar itu Rea sontak menoleh ke arah suaminya. Menatap tak percaya pada Levi yang memasang wajah datarnya. Mengapa Rea harus berharap banyak pada cowok tersebut. Seharusnya Rea paham kalau Levi tidak akan pernah mau membuang waktunya hanya untuk menemaninya pergi ke dokter kandungan.
Apalah arti Rea untuk Levi.
"Saya enggak perlu ditemani. Saya bukan cewek penakut yang hanya mengandalkan kaki laki-laki untuk berjalan", sarkas Rea yang membuat suasana seketika hening.
Morgan, Ammar, Bara dan Romi yang merasa kondisi tak kondusif pun sontak membalikkan badan secara serentak. Mereka paham jika masalah rumah tangga itu adalah suatu hal yang sangat privasi.
"Kalian tetap disini", ujar Levi seperti perintah mutlak bagi mereka berempat. Membuat mereka yang tadinya ingin melangkah keluar langsung kembali memakukan kaki di tempat semula.
"Jangan pukul Rea, Lev", cicit Bara pelan. Ia sangat takut jika Levi seperti Papa nya dulu. Laki-laki yang ringan tangan terhadap wanitanya.
"Hush, anak kecil diam aja", bisik Ammar seraya mencolek lengan Bara.
"Kenapa enggak lo aja yang nganterin Rea?", Morgan bertanya tanpa takut-takut.
"Ada meeting", jawab Levi datar.
Rea mendengus. Itu hanya alibi Levi. Rea yakin kalau meeting dadakan itu pasti ada sangkutannya dengan orang yang barusan menelpon Levi.
Sebab bukan sekali, dua kali Levi seperti ini. Cowok itu sering tiba-tiba pergi dengan alasan meeting setelah menerima sebuah panggilan telepon.
"Biar saya pergi sendiri. Saya enggak mau dicap sebagai cewek manja yang membebankan", ketus Rea dan menyuruh untuk para pemuda yang menghalangi jalannya itu segera menyingkir.
"Lev, kalau lo enggak mau bini lo, mending buat gue. Karena gue lebih bisa menghargai cewek unik dan mandiri kayak Rea. Sejuta perempuan yang ada di dunia ini, enggak akan bisa nandingi bini lo."
"Ssst, Mor, diam deh kalau gak mau lidah lo dipotong", Ammar memang akui kalau Morgan itu sifatnya sedikit blak-blakan dan ketus. Tapi apakah cowok itu tidak bisa membaca situasi yang ada.
"Kenapa gue harus diam?, gue bukan pengecut", sahut Morgan yang membuat ketiga orang lainnya mengumpat pelan.
Morgan dan segala ucapan pedasnya yang menyakitkan.
__ADS_1
...~Rilansun🖤....