
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Ketika segalanya tampak sulit, maka jalan satu-satunya adalah berserah diri......
...###...
"Enggak waras."
Levi menatap tajam kearah Bara yang baru saja mengatainya gila. Besar sekali nyali cowok itu.
"Gila", balas Levi datar.
"Eh masih mendingan Gila tau, setidaknya gila itu masih bisa berfikir sedikit. Lah, enggak waras itu udah emang korslet gak bisa mikir sama sekali", sarkas Bara yang membuat semua laki-laki yang berada di sana menatap tak percaya kearah cowok tersebut. Apakah Bara sudah tidak sayang dengan nyawa nya. Berapa banyak nyawa yang dimilikinya hingga berani mengatai seorang Levino Altan Devora gila.
"Gue masih bisa berfikir", sahut Levi yang terdengar santai. Jika saja orang yang mengatainya gila itu bukanlah Bara, mungkin saja Levi sudah memukulnya saat ini.
Bara itu seperti anak kecil yang polos. Cowok itu mudah sekali mempercayai apa yang di dengar oleh telinganya. Dan Levi sudah menganggap Bara layaknya seorang adik.
"Kalau lo emang masih bisa berfikir seharusnya lo enggak lakuin itu pada Rea. Seharusnya lo berfikir, kalau itu dapat merusak masa depan tuh cewek", ujar Bara dengan amarah yang menggebu-gebu. Sebagai seorang anak laki-laki yang memiliki Ibu dan kakak perempuan. Bara merasa emosi saat mengetahui jika Levi sudah melecehkan perempuan sampai membuatnya hamil. Ia juga merasa kecewa dengan laki-laki yang selalu dijadikannya sebagai panutan serta kebanggaan itu.
Bara tak habis pikir jika Levi bisa seberani itu. Ia saja bahkan tak berani untuk berbicara secara langsung dengan seorang perempuan yang tak dikenalnya. Alasannya sampai kini men-jomblo pun karena Bara takut kalau dirinya suatu saat nanti akan melukai pasangannya.
Bara tak ingin menjadi seperti Papa nya yang tega meninggalkan Mama nya hanya karena wanita lain.
Sial, bila mengingat itu Bara ingin menangis rasanya. Bukan apa-apa, hanya saja air mata serta tangisan Mama nya masih terekam jelas di otaknya.
Lantas dengan hati yang kesal, cowok itu berlalu pergi meninggalkan apartemen Levi. Membuat Bryan langsung mengejar kakak kelasnya. Bara itu kalau sudah marah bisa dibilang agak sedikit nekat, daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Lebih baik diantisipasi terlebih dulu.
Levi menghela nafasnya. Ia merasa menyesal karena sudah menceritakan masalahnya. Seharusnya Levi tidak menceritakan itu semua dihadapan Bara.
"Lo si Lev, nyebar benih sembarangan", cetus Morgan seraya meneguk hingga tandas minuman kaleng yang dipegangnya.
"Ho'oh, si Levi udah kayak autotomi aja, suka ninggalin buntutnya", celetuk Ammar menambahi.
"Lo nyamain gue dengan cicak?."
"Lah kagak bego, gue bilangin lo mirip autotomi", bantah Ammar dengan ekspresi yang dibuat sedemikian rupa.
Tuk
Morgan memukul kepala Ammar yang tak ada isinya tersebut, "Autotomi itu istilahnya goblok, cicak itu kalau dalam keadaan bahaya dia suka mutusin ekornya, nah istilahnya itu autotomi", ujarnya mencoba menjelaskan sedetail-detailnya kepada temannya yang sulit dideskripsikan itu.
"Lah berarti hewan autotomi itu gak ada?", tanya Ammar seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
__ADS_1
"Kagak bege. Lo SD enggak sih ah, itu aja nggak tau", Morgan frustasi menghadapi teman modelan Ammar.
"Emang enggak tau, kan gue SD sekolahnya cuma dua kali dalam sebulan", cengir Ammar yang lagi-lagi ditimpuk oleh Morgan menggunakan kaleng minuman yang sudah di remuknya.
"Payah emang, kalau bekawan sama orang yang bayi nya cuma minum air tambah gula", ketus Morgan.
"Wess, sakitnya sampai ke lambung", seru Ammar dengan memegang dadanya. Membuat Morgan menggelengkan kepalanya tak tau lagi. Entah dicuri kemana hilangnya otak Ammar.
Sementara Levi yang jengah dengan perilaku teman-temannya pun langsung merebahkan diri di atas sofa. Menelungkup kan badannya tanpa melepaskan sepatu sama sekali. Levi mengira jika dengan ia bercerita akan dapat solusi dari teman-temannya. Tak usah solusi, setidaknya mendengarkan saja sudah cukup.
Tapi Levi lupa kalau ia tidak memiliki teman yang normal.
"Bos!."
Romi datang dengan berlari memasuki apartemen Levi.
"Bos, gawat-gawat", Romi mengguncang tubuh Levi yang tengkurap. Cowok itu tidak bergerak sama sekali.
"Bos, kalau lo kagak bangun, gue jamin lo bakal nyesal", ancam Romi dengan berkacak pinggang. Namun Levi tetap saja tidak bergeming. Membuat Romi berdecak kesal.
"Kalau gue udah keluar, lo teriak sekali pun gue gak bakal balik", ujar Romi dan hendak berbalik keluar dari dalam apartemen.
"Mau kemana lo?", tanya Morgan.
"Makan enak di kondangannya Rea", sahut Romi yang membuat Levi seketika langsung bangkit dan berlari cepat menuju pintu apartemennya.
...###...
Benarkah itu Rea, perempuan dingin dengan segala ketertutupannya.
"Udah selesai sayang?", Rea tersentak saat melihat Arinta yang berdiri di sampingnya.
Melihat senyuman lebar yang terpatri di bibir Bunda nya membuat Rea hanya bisa mengangguk lesu.
Dua minggu telah berlalu. Dan usia kandungannya pun sudah memasuki satu bulan lebih. Waktu terlalu cepat dalam menjalankan tugasnya.
Setelah kejadian dimana Levi memukul guru privatnya, cowok itu tidak lagi diperbolehkan datang oleh Reagan. Puluhan bodyguard kelas atas sudah digerakkan oleh Papi nya untuk menjaga kediaman Allandra. Berserak di seluruh penjuru rumah. Membuat Levi tak menemui celah untuk bisa masuk.
Dan seminggu yang lalu, orang tua nya menawari satu hal yang tak pernah terbesit di pikiran Rea sekalipun.
Menikah.
Arinta dan Reagan menyuruhnya untuk menikah dengan Aji. Seorang anak panti yang diangkat menjadi anak asuh oleh kedua orang tuanya. Dan kini pria itu sudah bekerja di perusahaan Papi nya sebagai Manajer Personalia.
__ADS_1
Awalnya Rea menolak dengan alasan umur mereka yang terpaut sangat jauh. Tapi lagi-lagi dengan segala bujukannya, Arinta berhasil membuatnya luluh dan menurut.
Mungkin saja Tuhan mengirimkan kebahagiannya melalui rencana yang sudah dibuat oleh Papi dan Bunda nya.
"Serahkan semuanya dengan sang pencipta. Bunda sebagai orang tua hanya bisa berdoa, semoga kamu diberikan kebahagiaan yang tiada tara", ujar Arinta seraya memegang pundak putrinya yang berdiri cantik dihadapannya.
Ini bukan mendadak, tapi semuanya sudah direncanakan sejak Reagan mengetahui kalau Rea sedang mengandung tanpa seorang suami.
Bukan Reagan yang memaksa, tapi Aji sendirilah yang bersedia. Dan Reagan yang tak ingin melewatkan rejeki pun, langsung mencari waktu yang tepat untuk mengutarakannya kepada Rea.
"Ayo, lama banget. Padahal muka lo enggak ada beda-beda nya juga", celetuk Argan seraya berdiri menyandar di pintu kamar Rea.
Setelah Argan pulang dua minggu yang lalu, ia dibuat kaget oleh ucapan Papi nya perihal pernikahan Rea. Baginya itu terlalu sangat cepat, terlebih saat ia mendengar calonnya yang lebih tua dari Rea. Tapi jika ini yang terbaik untuk adik kecilnya, maka Argan hanya bisa berdoa dan berharap pada Tuhan kalau kesedihan tidak akan lagi menghampiri Rea.
"Yang iri di langkahin bilang aja", sahut Arinta membuat Argan mengelus dada sabar.
"Hati-hati loh Ar, katanya kalau di langkahi bakal susah dapat jodoh", tambah Arinta seraya menuntun putrinya itu berjalan keluar dari dalam kamar.
"Ya Allah Bunda, doa mu sungguh aku hargai", balas Argan lalu menggandeng tangan kanan Rea.
Rea hanya terdiam tak bergeming. Mulutnya berat untuk mengatakan sesuatu. Entah apa yang membuat tubuh Rea merasa lemah. Cewek itu hanya bisa mengikuti langkah Bunda serta Abangnya yang menuntunnya ke lantai bawah.
Dimana ijab kabul akan dilaksanakan.
Setelah itu Arinta dan Argan melepaskan gandengan mereka pada tangan Rea. Lalu Reagan menyambut tangan putrinya dan mengantarkannya menuju Aji yang sudah menunggu bersama penghulu serta keluarga yang lain. Tidak banyak yang hadir, hanya keluarga serta kerabat dekat.
Itu pun Deri dan Sinta tidak dapat datang karena Deri sedang jatuh sakit. Sedangkan Vina dan Zhein akan sampai besok dari Jerman bersama Renata. Para Kakek dan Nenek itu kaget saat mengetahui masalah yang menimpa cucu nya. Mereka tidak menyangka jika kisah lama terulang kembali.
"Sudah siap?", Pak penghulu bertanya kepada Aji yang langsung diangguki oleh pria tersebut.
Lalu Aji menjabat tangan Argan yang menatapnya dengan serius.
"Saudara Aji Putra Dafkanza bin Yoga Dafkanza, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan adik kandung saya Rearin Kalyca Allandra bin-"
Brak
"Berhenti!."
Semua perhatian teralihkan oleh seorang laki-laki yang membanting helm nya ke lantai hingga menimbulkan suara yang cukup nyaring. Membuat Argan sontak melepaskan jabatan tangannya dan berdiri.
Siapa laki-laki gila yang berani mengacau tersebut.
...~Rilansun🖤....
__ADS_1
Duh, gak tau ini nulis apa😭. Semoga paham ya🙏