Rearin

Rearin
Ketemu Mama mertua


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Kebanyakan yang membuat manusia itu tiada bukan penyakit, melainkan beban pikiran yang perlahan-lahan menggerogoti setiap sel di dalam tubuh.......


...###...


"Mau kemana?", Rea bertanya setelah melihat jika jalan yang dipilih Levi bukan menuju pusat perbelanjaan. Bukankah cowok itu tadi mengajaknya untuk pergi berbelanja. Apakah Levi berubah pikiran. Lantas kemana Levi akan membawanya.


"Ke rumah Mama", jawab Levi dengan fokus yang berada pada jalanan yang ada di depannya.


Rea mengangguk singkat, namun sedetik kemudian pupil mata cewek itu melebar seketika. Apa tadi katanya. Ke rumah Mama, Mama?.


Mama yang berarti wanita yang sudah melahirkan Levi bukan?. Dalam artian yang sesungguhnya adalah ibu mertuanya kan.


Astaga, untuk pertama kalinya Rea akan datang mengunjungi ibu mertuanya tanpa membawa apapun. Jika saja ia dipanggil menantu durhaka. Maka Rea akan memukul Levi kalau bisa sampai mati. Karena cowok itu yang memberitahunya secara mendadak.


"Belanjanya?", tanya Rea lagi. Mencoba untuk menegosiasi. Setidaknya sampai rasa gugupnya hilang setelah mencuci mata di mall.


Levi melirik Rea melalui sudut matanya dan menjawab, "Pulang dari sana."


Rea mendengus sembari memainkan jari-jemarinya yang berada di atas paha. Menatap ke samping jendela mobil dengan gelisah.


Kekesalannya terhadap Levi yang tadinya mulai sirna kini kembali membara. Ingin rasanya Rea memukul kepala Levi dengan palu. Biar hancur sekalian.


Tak beberapa lama kemudian mobil Levi berhenti di pelataran sebuah rumah mewah dan megah. Membuat ketakutan Rea semakin menjadi-jadi.


"Ayo turun", ajak Levi sambil membuka pintu mobil. Namun melihat Rea yang hanya duduk terdiam, membuat cowok itu mengurungkan niatnya untuk turun.


Merasa paham dengan kegelisahan istrinya, Levi pun lantas mengambil sebelah tangan Rea dan menggenggamnya.


"Jangan takut, Mama baik kok orangnya."


Rea mendongak dan menatap Levi yang juga tengah menatapnya.


Haruskah Rea percaya dengan cowok yang seperti bunglon itu. Yang sifatnya berubah-ubah setiap waktu. Membuat Rea sulit untuk mengenali suaminya sendiri.


"Kita buktikan", ujar Rea dan melepaskan genggaman tangannya. Lalu turun terlebih dahulu dari dalam mobil.


Levi diam-diam tersenyum tipis. Lucu, melihat Rea yang gugup seperti itu.


Cewek yang dulunya acuh tak acuh dengan lingkungan sekitarnya. Sekarang malah gemetar ketakutan karena ingin bertemu ibu mertuanya.


"Ayok", Levi menarik tangan Rea untuk masuk ke dalam rumah.


Tapi Rea tak bergerak sama sekali dari tempatnya. Membuat Levi menoleh ke ibu hamil tersebut.


"Kenapa?", tanya Levi.


Rea menatap Levi dengan wajah yang berkeringat dingin, "Narik nafas dulu boleh enggak?."


Mendengar pertanyaan polos yang keluar dari mulut istrinya itu ingin sekali rasanya Levi tertawa. Ditambah dengan wajah Rea yang ketakutan seperti melihat hantu. Sangat mendukung.

__ADS_1


"Udah narik nafasnya?", tanya Levi setelah melihat Rea yang terdiam menatap lantai.


"Nyari angin dulu boleh?."


"Enggak sekalian nyari makan?", Levi menatap flat ke arah istrinya itu.


"Kalau bo-"


"Enggak boleh", tanpa menunggu lama lagi Levi langsung menarik tangan Rea untuk segera masuk ke dalam rumah.


Rea yang mengikuti dari belakang pun hanya bisa menunduk seraya mengikuti kemana arah langkah Levi membawanya. Ia takut bertemu dengan David dan kembali mendapatkan hinaan serta cacian.


"Assalamualaikum, Ma."


Rea melepaskan tangannya dari Levi dan berdiri dibelakang cowok tersebut dengan memainkan jari-jemari tangannya. Setelah mereka sampai di dalam sebuah ruangan yang Rea yakini jika itu adalah kamar Mama nya Levi.


"Waallaikumussalam", terdengar sahutan lembut yang mendamaikan.


"Mama sehat?", Levi duduk di samping Ayla, Mama nya yang tengah duduk menyandar di kepala ranjang.


"Alhamdulillah", sahut wanita paruh baya tersebut.


Rea hanya bisa menunduk sambil mendengar percakapan sepasang anak dan ibu tersebut.


Bukan apa-apa, Rea hanya takut jika Mama nya Levi akan seperti Papa nya yang menolak sangat keras kehadirannya. Bahkan menghinanya dengan kata-kata yang dapat merusak mental. Membunuhnya secara verbal.


Rea hanya ingin memiliki hubungan yang baik dengan mertua nya.


"Levi, kamu apain mantu Mama sampai ketakutan kayak gitu", celetuk Ayla yang seolah-olah marah kepada putranya.


"Mantu Mama itu orangnya bisu", sindir Levi yang membuat Rea mengumpat dalam hati.


Ayla memukul pelan kepala Levi, "Kamu, enggak mungkin cewek cantik kayak gini bisu. Kamu itu yang buta."


"Sini, duduk dekat Mama", Ayla menepuk ranjang sebelahnya yang tadi ditempati oleh Levi. Menyuruh Rea untuk duduk di dekatnya.


Membuat Rea dengan gerakan canggung menghampiri ibu mertuanya dan duduk disampingnya.


Lalu cewek itu mengambil sebelah tangan Ayla. Mencium punggung tangan yang terasa sangat lemah tersebut.


Ayla yang mendapatkan perlakuan seperti itu pun lantas terkesiap. Tak menduga jika menantunya adalah perempuan yang sangat sopan santun.


Di zaman sekarang, perempuan yang penuh sopan santun dan memiliki attitude itu jarang sekali ditemukan, bukan. Seperti mencari satu jarum di tumpukan jerami.


"Nama kamu pasti Rea, cocok dengan orangnya, penyayang", ujar Ayla membuat Rea tersenyum canggung. Ini diluar ekspektasi Rea, ia mengira jika ibu mertuanya adalah tipe orang yang selalu ingin menang sendiri. Menatap menantu sebagi pembantu. Dan lebih memihak kepada anaknya. Seperti kebanyakan ibu mertua di dalam-dalam sinetron.


"Maafin Mama ya enggak bisa hadir di pernikahan kalian", Ayla menunjukkan raut sedihnya. Membuat Rea langsung menyahut dengan cepat.


"Enggak apa-apa M-ma", Rea masih sedikit kikuk untuk memanggil ibu mertuanya itu.


Melihat interaksi yang berjalan mulus diantara istri dan Mama nya, Levi pun lantas menghela nafas lega.

__ADS_1


Sebenarnya Levi sudah lama ingin membawa Rea untuk menemui Ayla. Namun Mama nya itu baru dua hari yang lalu kembali dari Amerika. Untuk menjalani pengobatan rutinnya. Dan Levi juga mencari waktu yang tepat, dimana David sedang tidak berada di rumah. Levi malas untuk bertemu Papa nya itu.


Lalu suara deringan dari ponselnya membuat dua perempuan berbeda generasi itu sontak menatap ke arahnya.


Levi mengambil ponselnya yang berada di dalan saku celana. Melihat siapa orang yang menelponnya. Lalu menatap ke arah Ayla dan Rea yang juga tengah menatapnya.


"Sebentar", pamit cowok tersebut dan berjalan keluar dari dalam kamar Mama nya.


Rea yang melihat itu pun lantas menghela napas pendek. Ini sudah panggilan ke tiga dalam pagi ini. Atau mungkin lebih.


Sebenarnya Rea tak masalah. Namun yang menjadi pertanyaannya itu adalah mengapa Levi harus mengangkat panggilan tersebut jauh darinya. Biasanya Levi tak pernah berbuat seperti itu.


"Maafin Levi ya sayang", ujar Ayla. Ia marah pada saat Levi menjelaskan bagaimana pernikahannya bisa terjadi. Ayla tak pernah menyangka jika anaknya bisa berbuat seperti itu.


Rea tersentak saat merasakan tangannya di elus lembut oleh Ayla. Menatap ibu mertuanya itu seraya tersenyum tipis.


"Mama juga enggak tau kenapa Levi bisa berubah kayak gitu. Beringas dan awur-awuran. Dulu Levi itu anaknya sangat ekspresif. Apapun yang dia dapat dan alami pasti bakal selalu cerita ke Mama. Tapi anak itu berubah semenjak Papa nya pergi meninggalkan kami", ujar Ayla seraya menatap ke depan. Seolah menerawang masa lalu yang sudah terlewati.


Rea mengernyitkan keningnya bingung. Semenjak Papa nya pergi. Maksudnya meninggal gitu?. Tapi bukankah David itu Papa kandungnya Levi.


"Maksudnya Ma?", tanya Rea dengan penasaran.


Ayla tersenyum dan menggenggam tangan menantunya.


"Mama itu bukan asli orang sini. Mama dari Turki dan pindah ke sini."


Rea sedikit paham, pantas saja wanita itu tidak terlihat seperti perempuan Indonesia pada umumnya.


Memiliki kulit yang putih bersih. Hidungnya yang bangir. Mata abu-abunya yang berkilau indah. Dan wajahnya yang mirip orang-orang belah bumi bagian timur. Sangat cantik dan anggun.


"Kami tinggal di sebelah rumah Papa nya Levi waktu itu. Angkasa Leon Devora, laki-laki yang sangat baik. Dia satu-satunya orang yang mau untuk membawa Mama berbaur dengan lingkungan sekitar. Dengan sabar mengajari Mama bahasa dan budaya yang pada saat itu sangat asing untuk Mama. Bahkan dia tak pernah absen untuk datang ke rumah", Ayla tersenyum saat mengingat masa-masa manis dalam hidupnya itu.


Rea sedikit membelalakkan matanya mendengar penuturan Ayla.


Jangan bilang jika Papa kandungnya Levi itu adalah Angkasa. Bukan David.


Rea memang tau kalau keluarga Levi adalah pemilik SMA Angkasa. Namun ia tak pernah menyangka jika suaminya itu sendiri adalah anak dari pemilik aslinya.


"Ternyata kedekatan itu malah memunculkan perasaan yang membuat kami terikat. Setelah menghabiskan waktu sepuluh tahun berpacaran, kami memutuskan untuk menikah. Semuanya berjalan dengan lancar hingga kecelakaan itu merenggut nyawa laki-laki yang paling Mama cintai. Mengambil dengan paksa seorang Ayah dari anaknya yang baru berusia enam tahun kala itu. Membuat Levi trauma dan terus mengurung dirinya di dalam kamar", air mata tanpa sadar mengalir begitu saja ketika mengingat kehidupan rumah tangga yang awalnya harmonis berakhir dengan tragis.


"Melihat Levi yang shock kehilangan Papa nya. David pun meminang Mama dua tahun kemudian. Demi Levi, Mama menerima lamaran adik ipar Mama tersebut. Tapi David tidak seperti Angkasa. Jika Angkasa adalah laki-laki penyabar, maka David berbeda. Pria itu lebih tempramen. Membuat Levi jarang sekali mau untuk pulang ke rumah. Dia sering kali menginap di rumah Paman nya atau di rumah Kakek-neneknya."


"Mama pernah ingin mengakhiri hubungan tersebut. Tapi David dengan gila mengancam akan membunuh Levi serta orang tua Mama. Apa yang bisa Mama lakukan, selain bertahan dan diam."


Rea mengusap punggung Ayla yang bergetar. Ia bisa merasakan kesedihan yang dirasakan oleh ibu mertuanya itu. Membuat air matanya juga turun begitu saja.


"Jangan beritahu Levi, Rea. Ini semua hanya dengan kamu Mama berani bercerita."


Rea mengangguk dan memeluk tubuh Ayla yang lemah tak berdaya. Dua perempuan berbeda generasi itu saling menumpahkan air mata. Menuangkan segala kesedihan dan luka yang mereka alami.


...~Rilansun🖤....

__ADS_1


__ADS_2