
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Perempuan adalah satu-satunya makhluk Tuhan yang berhati lembut, walau sudah disakiti beribu kali pasti hatinya akan dengan cepat memaafkan. Bukannya bodoh, tetapi kaum hawa itu lemah dan rapuh......
...###...
"Enggak usah mampir."
Rea menahan helm yang hendak Argan buka. Cowok itu pasti berniat untuk mampir. Dan Rea tak ingin itu terjadi. Ia tak mau kalau Argan bisa melihat keretakan yang ada diantaranya dan juga Levi.
Itu pun kalau Levi ada di rumah saat ini.
"Heh, pelit banget sih lo, cuma minta air putih doang", Argan mendumel sambil memasang kembali pengait helm nya.
"Tuh banyak", sahut Rea seraya melirik parit yang berada tak jauh dari mereka.
Argan sontak mendelik, "Lo kira gue tikus got?."
"Semacamnya."
"Ih gemes, gue bunuh juga baru tau rasa lo. Biar harta warisan untuk gue semuanya", Argan mencubit kedua pipi Rea dan tertawa pelan di akhir kalimatnya. Membuat Rea memandang was-was Abang kembarannya tersebut. Apakah Argan sudah gila karena harta warisan?.
"Udah sana pulang, moga-moga kamu yang jatuh di jalan, biar harta warisan untuk saya."
Mendengar itu Argan pun melototkan matanya, "Ya Allah, punya adek gini amat. Kualat lo sama Abang lo sendiri."
Rea memutar bola matanya, "Udah cepetan, entar keburu malam."
"Iya-iya, bawel", Argan menghidupkan kembali mesin motornya. Membuat Rea sedikit menjauh.
Namun bukannya berlalu pergi. Cowok itu malah memanggil Rea untuk mendekat, "Anaknya bos Reagan, sini."
Rea mengernyitkan keningnya namun tak urung melangkah menghampiri Argan.
"Kenapa?."
Tanpa Rea duga, Argan tersenyum tulus dengan menyentuh puncak kepala adik perempuan satu-satunya itu.
"Bahagia terus ya. Apapun yang terjadi jangan menyerah, gue bakal selalu ada untuk lo."
Rea tertegun dan terhenyak menatap manik yang sama dengan miliknya itu. Untuk pertama kalinya Rea melihat Argan bersikap seperti itu terhadapnya.
"Saya baik-baik aja", sahut Rea dengan datar.
__ADS_1
Mendengar itu Argan tanpa berkata apa-apa lagi langsung menarik Rea ke dalam pelukannya.
"Jangan nutupin diri lagi Rea. Karena sikap lo yang itu buat gue menyesal. Sebagai Abang gue gak guna, gue gak bisa lindungi adek perempuan satu-satunya yang gue punya. Jangan buat gue menyesal untuk yang kedua kalinya", ujar Argan yang lagi-lagi membuat Rea tertegun. Tapi tak urung air mata itu kembali turun secara perlahan. Jatuh membasahi pipinya.
"Ma-maafin saya Ar. Karena saya kamu malu."
"Lo bukan suatu hal yang memalukan untuk gue. Walau gue jarang ada untuk lo. Tapi lo harus tau Rea, kalau gue selalu ada dibelakang lo. Gue sayang lo Rea. Lo saudara satu-satunya yang gue punya."
Rea menangis terisak dalam pelukan Argan. Tak pernah terpikirkan dalam benaknya jika Argan yang biasanya slengean, konyol dan sedikit bodoh bisa berkata seperti itu. Hatinya benar-benar sangat tersentuh.
"Hei, jangan nangis", Argan menangkup wajah Rea dan menghapus jejak air mata tersebut. Ia sedikit terkejut melihat Rea yang menangis seperti itu. Seingat Argan, terakhir kalinya ia melihat Rea menangis seperti itu ketika Rea tak mampu melafalkan bahasa spanyol dengan lancar dalam waktu satu bulan.
"Lo nangis, baju gue basah anying", kelakar Argan membuat Rea memukul pelan wajah abangnya itu.
"Udah sana pulang", Rea menepis tangan Argan yang masih menangkup wajahnya. Dan mendorong Argan untuk segera pergi.
"Jangan sembunyiin apapun lagi", Argan menarik tangan Rea dan mencium sekilas kening adiknya.
Rea membelalakkan matanya. Apakah Argan dapat membaca masalah yang sedang dihadapinya.
"Cepat masuk, gue pulang dulu. Entar si Bunda dikiranya gue keluyuran lagi."
"Emang gitu kan."
Setelah Argan benar-benar hilang ditelan jalan. Rea baru melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
Sesudah Levi dan Tiffany pergi kembali dari rumah siang tadi. Rea memutuskan untuk pergi ke rumah Bunda nya. Pada awalnya, para teman Levi menawarkan diri untuk mengantarnya. Namun Rea mengatakan jika ada Abangnya yang akan menjemputnya.
Membuat ke-empat cowok itu pun mengangguk dan pergi dari rumahnya. Setelah kepergian mereka Rea benar-benar merasa sepi. Ditambah dengan Bik Mirna yang pulang lebih cepat karena cucunya sedang sakit. Membuat rumah besar itu terasa hening dan kosong.
Dan untuk apa Rea berdiam diri sendirian di tengah kekosongan itu.
Lalu Rea mendorong pelan pintu jati berukir cantik tersebut. Menutupnya kembali dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Rea tersenyum miris saat melihat rumah masih dalam keadaan gelap. Sepertinya Levi belum pulang.
Kenapa harus pulang, kalau ada seorang wanita cantik yang berada disamping kita. Benar, bukan.
Ctak
Rea menghidupkan saklar lampu rumahnya. Membuat setiap sudut rumah seketika terang benderang.
"Isshh."
__ADS_1
Rea yang ingin menaiki anak tangga langsung berhenti dan memutar balik badannya menatap ke arah ruang tengah. Telinganya masih berfungsi dengan sangat baik. Dan Rea tak mungkin salah mendengar ringisan seseorang tadi.
Dengan was-was Rea mengayunkan kakinya menuju asal suara tersebut. Ia takut jika itu adalah maling atau orang gila entah dari mana. Ditambah dengan dirinya yang tengah berbadan dua dan sendirian di dalam rumah. Bagaimana kalau orang itu melakukan hal yang tidak-tidak padanya.
Rea mengambil vas bunga yang ada di atas nakas. Untuk jaga-jaga. Lalu cewek itu berjalan pelan menghampiri sofa yang diduduki oleh orang itu. Untung saja membelakanginya.
Namun belum sempat Rea mengayunkan vas yang ada ditangannya. Orang itu lebih dulu bangkit dan berbalik ke belakang.
"Lo ngapain?."
Rea membelalakkan matanya dan menjatuhkan vas kaca tersebut. Ia tak menduga kalau itu adalah Levi. Suaminya sendiri.
"Kamu kena-"
"Auhh."
Ucapan Rea terpotong ketika melihat Levi yang tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa. Sepertinya Levi tengah menahan kesakitan. Ada apa dengan cowok itu. Bukankah tadi masih terlihat baik-baik saja.
Membuat Rea refleks berlari dan menghampiri Levi.
"Kamu kenapa?", tanya Rea.
Levi menggelengkan kepalanya, "Enggak apa-apa", sahutnya sembari mengurut pelipisnya yang terasa berdenyut. Kepalanya benar-benar sangat sakit sekarang. Seperti dihantam oleh batu yang besar.
Tak percaya, Rea pun menaruh punggung tangannya di dahi Levi. Setelah melihat wajah Levi yang merah padam namun terlihat pucat, Rea yakin kalau cowok itu pasti tengah sakit.
"Astaghfirullah", Rea sontak mengucap saat merasakan suhu tubuh Levi yang sangat panas.
"Kamu tunggu disini dulu. Saya mau ambil kompresan", Rea yang hendak melangkah ke dapur pun langsung berhenti saat melihat tangannya yang dicekal oleh Levi.
Dengan mata yang sayu Levi menatap Rea, "Enggak usah", lirihnya dan menarik istrinya itu. Membuat Rea duduk terjatuh di sampingnya.
Mata Rea terbelalak saat merasakan tangan Levi yang melingkari pinggangnya.
"Kepala gue pusing banget", gumam Levi seraya merebahkan kepalanya diatas pundak Rea. Bahkan rasa panas itu seperti langsung menjalar ke seluruh tubuhnya. Menusuk ke dalam dagingnya dan berhenti di tulangnya.
Entah dorongan dari mana. Rea menggerakkan tangannya untuk memijat kepala Levi yang terasa panas sekali.
Untuk beberapa saat mereka terdiam sunyi hingga Rea merasakan deru nafas teratur yang menerpa kulit lehernya.
"Levi, lebih baik pindah ke kamar", ujar Rea pelan seraya mengurut pelan pelipis cowok tersebut.
Dengan terpaksa Levi menjauhkan tubuhnya dari Rea. Berjalan dengan tertatih menuju kamarnya yang ada di atas. Awalnya Rea hanya menatap dari tempat duduknya. Namun ketika melihat Levi yang hendak terjatuh, Rea langsung bersigegas menghampirinya. Dan menuntun suaminya itu berjalan menuju kamar mereka berdua.
__ADS_1
...~Rilansun🖤. ...