
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Sebelum berada di titik terendah, kamu enggak akan tau gimana berartinya uang lima ratusan perak......
...###...
Levi memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Menuruni undakan anak tangga rumahnya dengan segala macam pikiran yang bersarang dibenaknya. Kediaman yang besar itu terasa seperti ruang hampa yang tak memiliki sama sekali kehidupan.
"Mau makan mas?", Bik Mirna bertanya dengan sopan di ujung anak tangga. Ia masih sangat menyayangkan kepergian Rea.
Levi menggeleng lalu berdiri tak jauh dari Bik Mirna.
"Rea kemana Bik?", pertanyaan itu seperti kebohongan yang dibuat Levi untuk dirinya sendiri. Tanpa ada orang yang menjelaskan, Levi sendiri pun paham kalau Rea sudah pergi dari rumah. Setelah melihat pakaian serta barang-barang perempuan itu yang sudah tak lagi ada di dalam kamar.
Membuat ruangan itu terasa kosong, seperti kondisi hatinya kini.
"Si mbak udah pergi mas", jawab Bik Mirna dengan kepala yang tertunduk.
"Kemana?", lagi-lagi pertanyaan yang menyakitkan itu kembali dilontarkan. Pada saat seperti ini, membohongi diri sendiri adalah cara yang paling ampuh.
"Pulang ke rumah orang tuanya."
Levi terdiam untuk beberapa saat, sebelum kepalanya mengangguk singkat.
"Beneran enggak makan mas?", Bik Mirna bertanya lagi setelah melihat Levi yang melangkahkan kakinya ke ruang tengah. Rea sudah memberinya tugas yang harus dijalankannya. Yaitu menjaga Levi untuk perempuan tersebut.
"Udah makan tadi", jawab Levi datar dan kembali melanjutkan langkahnya.
Bik Mirna lantas mengangguk paham lalu mengundurkan diri dengan sopan.
Levi duduk di ruang tengah tepatnya ruang keluarga rumahnya. Dulu, disaat Levi pulang dari kegiatannya di luar, hal yang pertama kali dilihatnya adalah Rea yang duduk sendirian di sini. Kadang cewek itu akan menonton kartun atau tidak film komedi. Dan terkadang Levi juga mendapati Rea yang tertidur pulas di atas sofa.
Tapi sekarang, pemandangan damai itu tak akan lagi dapat dilihatnya. Tubuh mungil itu tak akan lagi dapat direngkuhnya. Tangisan konyol Rea yang terkadang membuatnya tersenyum geli tak lagi dapat dilihatnya.
Rea sudah pergi dari hidupnya. Meninggalkan nya sendirian di dalam kesepian tak berujung.
Levi, saya keguguran.
Sontak Levi memejamkan matanya, saat ucapan yang bagai kaset rusak itu kembali berputar di benaknya. Terdengar mendengung di telinganya.
Tak hanya kehilangan Rea, dirinya juga kehilangan anak yang bahkan belum berwujud dengan sempurna.
Sepertinya ini memang adalah hukuman dari Tuhan untuknya. Dan Levi menerimanya.
"Good night boy", ucapan itu sering kali Levi gumam kan untuk anaknya ketika ia hendak tidur. Menciumnya dengan lembut dan penuh kasih. Bahkan Levi terkadang menyempatkan diri untuk berbicara kepada anaknya.
Tapi itu pun sudah direnggut oleh Tuhan darinya.
Levi sedih, kecewa dan marah. Segala macam perasaan bercampur aduk di hatinya. Meremuk dan menjadi satu. Yaitu rasa penyesalan.
Tapi memang inilah yang Levi inginkan. Daripada Rea perlahan-lahan hancur di tangan David. Pria kejam yang sama sekali tak memiliki hati. Lebih baik Rea sakit hati dan benci kepadanya.
Brak
"LEVI!."
__ADS_1
Levi mengerjapkan matanya lalu cowok itu bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari dalam ruang tengah. Menatap Argan yang barusan saja menendang pintunya dan berteriak sangat keras memanggil namanya.
Levi berdiri dihadapan Argan. Belum sempat ia menanyakan maksud kedatangan cowok itu kerumahnya. Argan lebih dulu melayangkan satu pukulan telak menghantam wajahnya.
"Bangs*t", Levi mengumpat seraya memegang sudut bibirnya yang robek.
"Lo yang bangs*t, sialan. Udah lo nodai adek gue, terus lo nikahi dia dengan heboh, habis itu lo tinggalin dia gitu aja. Kenapa?, kenapa lo nge-cewain Rea sampai dua kali?", Argan memegang kerah baju yang Levi pakai.
"Kurang apa adek gue sampai lo harus nyari cewek lain?, kurang apa?."
Bugh
Satu pukulan lagi tak dapat Levi elakkan. Argan menatapnya seperti singa yang menatap mangsanya dengan kelaparan. Cowok itu benar-benar ingin membunuhnya.
Setiap pukulan Argan yang hendak mengenai organ vitalnya, dapat Levi tangkis dengan mudah. Tapi pukulan Argan pada wajah dan bagian tubuhnya yang lain. Levi tak melakukan perlawanan sama sekali. Cowok itu masih berdiri tegak walau sudah mendapat memar di sekujur tubuhnya.
"Kenapa karena kehilangan satu anak aja yang belum lahir, lo ngelepas Rea pulang gitu aja ke rumah bokap?. Kalau tau kayak gini, gue gak bakal nikahin lo sama adek gue", ujar Argan dengan amarah yang membara di kedua bola matanya.
"Kenapa lo-"
"Gue harus gimana?, gue harus gimana?."
Argan tertegun menatap Levi yang berteriak dengan keras. Bahkan netra abu-abu itu memerah dan berkaca-kaca. Membuat Argan tertegun. Apa luka yang disembunyikan oleh cowok itu hingga menangis seperti itu.
"Gue harus gimana?, kalau gue milih Rea, gue bakal kehilangan nyokap. Kalau gue milih nyokap, gue bakal kehilangan Rea. Dan kalau gue milih keduanya, gue bakal kehilangan mereka berdua", ujar Levi dengan ekspresi yang campur aduk.
Argan perlahan-lahan melepaskan kerah baju Levi dan menatap lamat adik iparnya itu.
"Sebelum jadi suami, gue seorang anak Ar. Dan gue gak bakal hidup, kalau beliau enggak ada. Gue gak akan sebesar ini kalau enggak ada dia yang nge-besarin. Tapi Rea adalah pendamping hidup gue, orang yang gue pilih untuk menemani sisa hidup gue. Bersama sampai ajal menjemput. Tapi enggak mungkin gue ninggalin nyokap hanya demi cinta. Gue bukan anak durhaka."
"Apapun, yang penting keduanya masih bisa hidup dengan tenang", balas Levi cuek.
Argan terdiam. Menatap Levi yang berbalik badan membelakanginya. Dari gerakan cowok itu mengambil nafas. Argan bisa mengetahui kalau Levi tengah menangis tanpa suara. Jika ada yang bilang air mata duyung adalah hal yang paling berharga di dunia ini. Maka itu salah.
Sebab bagi Argan, air mata laki-laki sejati itu sangatlah langka. Cowok hanya akan mengeluarkan air matanya jika itu benar-benar diperlukan. Untuk orang yang dicintainya atau untuk rasa sakit yang sudah sangat menggunung dihatinya.
Dan Levi menangis. Argan yakin kalau Levi sangat mencintai Rea. Seperti dirinya di hari itu.
Argan berjalan mendekat. Menepuk pundak Levi yang masih membelakanginya.
"Jelasin secara rinci dengan gue."
...###...
Setelah Levi selesai menceritakan semua masalah yang dihadapinya kepada Argan tanpa ada yang ditutup-tutupi. Mereka berdua terdiam tanpa ada yang mau membuka suara. Membuat suasana hening mencekam.
"Seharusnya lo berbagi masalah ini dengan Rea. Dengan kepintaran tuh anak, gue yakin dia bakal dapat menemukan solusi. Sementara adek gue tuh pintar lahir batin yekan. Walau terkadang sangat menyebalkan", celetuk Argan kembali seperti dirinya semula. Tak ada lagi mata tajam yang menyalang. Tak ada lagi amarah yang meledak-ledak.
"Semenjak gue enggak punya tempat buat curhat. Gue gak pernah berbagi masalah dengan orang lain. Dan gue takut nge-bebanin Rea. Jadi sebuah beban itu sakit lo tau", sahut Levi datar.
Argan bungkam. Menatap Levi dari samping. Bahkan dirinya yang notabenenya laki-laki saja mengakui ketampanan yang dimiliki oleh suami adiknya itu. Membuatnya iri diam-diam. Dan memiliki niat untuk melakukan operasi plastik.
"Jijik gue nengok lo Lev, mana ada cowok nangis", Argan menampar pelan pipi Levi seraya berseloroh. Ia jadi sedikit kasihan setelah paham dengan kondisi yang sedang menimpa Levi. Cowok itu ibarat maju kena, mundur pun kena. Hidupnya benar-benar rumit, euy. Kayak rumusnya matematika.
"Bangs*t", umpat Levi pelan.
__ADS_1
"Gue aduin Rea baru tau lo."
Levi hanya mengangkat bahunya acuh.
"Eh Bik, minta minum dong. Tenggorokan saya galau nih", Argan memanggil Bik Mirna yang mengintip dari balik dinding. Wanita itu sedari tadi berdiri disana dari awal pertengkaran. Sepertinya asisten rumah tangga tersebut takut. Iya sih, umurnya udah sangat senja. Kalau kena senggol dikit, langsung terkapar tuh badan ke tanah.
Bik Mirna mengangguk dan segera berlalu pergi memasuki dapur.
"Kalau gue jadi lo Levi, gue bakal merasa jadi cowok yang paling beruntung. Bisa memiliki istri kayak Rea", Argan menggantung ucapannya saat Bik Mirna meletakkan minuman beserta camilan. Setelah wanita paruh baya itu pergi. Argan baru melanjutkan ucapannya.
"Kalau orang lain yang lo nodai waktu itu. Mungkin dia enggak mau nikah sama lo Lev, mungkin juga tuh cewek langsung nyantet lo sampai mati. Karena lo nodai adek gue bukan sekali Lev, tapi dua kali. Dan beruntung orang itu Rea. Bahkan adek gue dengan sukarela milih lo sebagai suaminya di depan orang ramai. Nentang keinginan Papi dengan berani. Adek gue itu emang limited edition", ujar Argan dengan menatap vas bunga yang ada di atas meja.
Mereka berdua terdiam sesaat sebelum suara Argan kembali terdengar.
"Lo tau Lev", Argan menatap ke arah karpet berbulu yang dipijaknya, "Rea itu di rumah enggak pernah di pukul sama sekali. Jangankan dipukul, orang tua gue aja gak pernah bicara dengan nada tinggi sama dia. Bahkan Rea enggak dibolehin megang sesuatu yg bakal buat dia terluka. Rea memang betul dijaga di rumah. Makanya Papi marah pas tau lo mau nikah sama Rea. Karena Papi gak mau ngasih mutiaranya sama pencuri yang enggak ada moral", Argan menoleh menatap Levi yang hanya duduk diam.
"Bagi Papi, lo itu pencuri, karena udah rebut anak gadisnya gitu aja", Argan memukul pundak Levi sekilas.
"Ya elah Lev, gue kayak bicara sama orang bisu tau gak", Argan mendengus karena Levi yang sama sekali tak merespon ucapannya. Sudah menggunakan rumus mencari luas persegi panjang ia berbicara. Namun Levi tetap saja tidak menggubrisnya. Setidaknya balas 'ya' atau paling tidak 'hm'. Gitu aja repot.
"Sekarang apa rencana lo?", tanya Argan setelah menyesap teh yang sudah dibuatkan oleh Bik Mirna.
"Ngikutin takdir Tuhan."
Puk
Argan melemparkan bantal sofa ke wajah Levi membuat cowok itu sontak mengumpat pelan.
"Sok puitis lo njir", sinis Argan.
"Lo enggak mau coba kasih tau ini ke Rea dulu?."
Levi menggeleng, "Kalau gue kasih tau, dia bakal balik ke rumah, dan David langsung bakal bertindak sama dia. Gue enggak mau itu terjadi. Lo enggak tau gimana gilanya David", jawabnya dengan ekspresi datar andalannya.
Argan mengangguk pelan. Jika saja Argan yang berada di posisi Levi. Mungkin ia sudah memilih untuk bunuh diri. Tapi Levi tidak, dengan otak pintarnya cowok itu pasti sudah menyusun berbagai macam rencana.
Drrt drrt
Levi mengambil ponselnya yang berdering di atas meja. Lalu Levi menunjukkan layar ponselnya ke arah Argan. Yang menampilkan nama David dengan besar.
"See, Lucifer udah nelpon", ujar Levi flat membuat Argan terkekeh pelan.
Levi bangkit dari duduknya, "Gue titip Rea sama lo Ar", tambahnya menatap Argan yang masih duduk.
"Lo bakal ngasih duit bulanannya kan?, gue bakal dapat gaji juga kan?."
Levi memutar bola matanya, "Tunggu gue gantiin posisi David."
"Sialan lo."
Kemudian Levi berjalan hendak ke kamarnya. Namun langkahnya berhenti di undak anak tangga pertama. Menatap Argan yang masih keliatan dari tempatnya berada.
"Buat muka lo babak belur kayak gue. Mata-mata si Lucifer ada dimana-mana", setelah mengatakan itu Levi melanjutkan langkahnya ke lantai atas. Meninggalkan Argan yang cengo dengan mulut dibuka lebar. What, apa maksud dari orang jenius tadi.
...~Rilansun🖤....
__ADS_1
Tiba-tiba temenan🤣