Rearin

Rearin
A wedding plan


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Ketika cinta di uji......


...###...


Cowok itu berjalan dengan pandangan yang lurus menatap ke depan. Langkah kakinya di tengah-tengah ruangan hening tak bersuara itu kontan membuat semua pasang mata menuju ke arahnya.


Dengan kemeja yang sengaja dibiarkan terbuka, menampakkan kaos putih yang membalut tubuh atletisnya. Rambutnya yang hanya disisir dengan jari. Jeans yang koyak di bagian lututnya. Serta tas yang disandang di pundak kanannya.


Penampilannya mungkin menunjukkan tampilan seorang bad boy. Tapi tidak ada yang tau jika di balik sikap urakan nya itu tersimpan jiwa pendendam dan psycho.


"Selamat pagi, tuan."


Levi melirik seorang sekretaris wanita yang berada di balik meja kerjanya. Tepat di depan ruangan sang Chief Executive Officer tersebut.


Lalu tanpa menghiraukan sekretaris itu, Levi membalikkan badannya dan hendak mendorong pintu kaca tersebut. Namun pergerakannya terhenti karena ucapan sekretaris Papa nya itu.


"Tuan, CEO sedang ada tamu."


Levi menoleh dan menatap datar sekretaris yang sudah tidak asing lagi baginya.


"Siapa?, polisi?, sujud syukur gue kalau gitu", sahut Levi dengan ketus membuat sekretaris itu menggelengkan kepalanya. Bukan suatu rahasia lagi, kalau keluarga Devora sudah tak seharmonis dulu. Sudah banyak hal yang terjadi selama tujuh tahun belakangan ini.


"CEO tadi pesan kalau enggak boleh ada yang gang-"


"-gu", wanita berhijab itu menatap cengo pintu kaca yang sudah tertutup rapat. Menggelengkan kepalanya sekali lagi. Ia sudah melihat tumbuh kembangnya seorang Levino Altan Devora. Dan dirinya juga sudah melihat perubahan besar yang ada pada penerus tunggal Devora Corporation tersebut.


Sementara di dalam ruangan mewah nan elegan itu. Levi yang hendak berteriak memanggil David pun langsung terhenti saat melihat se-sosok orang yang sudah membuat hidupnya sulit. Tengah mengobrol dengan asik bersama Papa nya, sang pencipta kerusakan hidupnya.


"Levi?", David mengernyit menatap putranya yang sedang berdiri menatapnya. Membuat pria paruh baya yang duduk disampingnya pun ikut melirik ke arah Levi.


"Woah, calon mantu."


Levi melirik ke arah Andreas. Seorang pengusaha yang sudah bertahun-tahun bergelut di dunia perbisnis-an. Namanya sudah tak lagi asing, karena beliau merupakan salah satu relasi bisnis keluarganya. Dan satu fakta lagi, pria itu adalah Ayah dari Tiffany.

__ADS_1


"Apa kabar?", Andreas memeluk Levi seraya menepuk pundak cowok tersebut. Sangat ramah dan friendly.


"Baik", sahut Levi dengan ekspresi wajahnya yang sangat datar.


"Ada perlu apa kamu datang kemari?", David berjalan menghampiri Levi yang sudah diajak untuk duduk di sofa oleh Andreas.


Levi menatap David yang duduk di seberangnya, "Ada yang mau di bilang."


"Tentang?."


Levi terlihat diam sejenak sebelum menjawab, "Tiffany."


Mendengar itu Andreas tertawa dan menepuk sekilas pundak Levi, "Kamu enggak usah capek-capek mikir. Kami udah bahas soal itu", ujarnya yang membuat Levi menaikkan sebelah alisnya bingung.


"Soal apa?", Levi bertanya dan melirik ke arah David yang tersenyum menatapnya. Senyuman yang dapat Levi ketahui apa artinya. Jangan bilang kalau pria paruh baya itu sudah merencanakan sesuatu lagi.


"Pernikahan kamu dengan Tiffany", bukan David yang menjawab. Justru Andreas lah yang menyahuti dengan wajah yang sumringah.


Sialan. Levi refleks mengumpat dalam hatinya. Apa-apaan. Bukan ini yang diinginkannya.


Tujuan Levi menghampiri David hari ini adalah untuk memutuskan hubungannya dengan Tiffany. Setelah melihat kalau banyak laki-laki yang mengincar istrinya. Tentu saja Levi tak ingin Rea lepas dari genggamannya. Ditambah hubungan mereka yang mulai renggang karena kemunculan Tiffany belakangan ini. Dan Levi tidak mau jika kesempatan itu dimanfaatkan oleh pebinor di luaran sana yang siap untuk merebut istrinya.


"Bentar", Andreas menyela ucapan Levi seraya berjalan menjauh untuk menerima panggilan yang masuk dari ponselnya.


"Apaan, gue enggak mau", Levi menatap tajam David sambil berujar dengan pelan.


"Kamu harus mau", balas David seraya melotot menatap keponakan yang merangkap menjadi putranya itu.


"David, lo-"


"Sorry, saya harus pergi dulu karena ada keperluan yang mendesak. Untuk kelanjutannya kamu bisa menelpon saya David", Andreas kembali dan memberikan ultimatumnya kepada David.


"Oke, kalau gitu kirim salam untuk orang di rumah", David bangkit dari duduknya dan memberikan pelukan ala jantan pada calon besannya tersebut.


Lalu Andreas menoleh ke arah Levi, "Lebih baik jangan di tunda-tunda, kamu sendiri tau kan bagaimana kondisi putri saya sekarang."

__ADS_1


Levi hanya mengangguk singkat. Setelah itu tak berapa lama kemudian Andreas benar-benar pergi dari dalam ruangan yang terasa sesak tersebut.


"Gue enggak mau nikah sama dia", Levi bangkit dari duduknya dan hendak berjalan keluar, namun David lebih dulu menahan pundaknya. Membuat Levi kembali menghadap ke arah Papa nya itu.


"Kamu enggak punya pilihan", desis David tajam.


"Dan lo enggak berhak ngatur hidup gue", balas Levi seraya menepis tangan David yang bertengger di pundaknya.


"Kamu mau saya bilang ke Mama kamu kalau tangan putranya yang bersih dan suci ini sudah banyak dilumuri oleh darah orang yang tak berdosa. Sudah berapa banyak uang yang saya keluarkan untuk menutupi kesalahan kamu itu. Kira-kira, setelah mendengar semuanya bagaimana reaksi dari Ayla. Apa dia akan kembali koma atau langsung pergi ke alam baka."


"Sialan lo David", Levi menggertakkan giginya dan mendorong David dengan kuat.


David terkekeh meremehkan, "Siapa suruh kamu menentang ucapan saya. Menikah dengan pelacur yang tak tau malu itu. Entah benih siapa yang sudah ditampungnya di dalam perutnya yang kotor itu. Benar-benar jalang."


Levi mengepalkan tangannya erat membuat urat-urat tangannya terlihat jelas. Garis rahangnya yang mengeras. Serta matanya yang memerah tajam.


Lalu tanpa aba-aba, sebuah pukulan yang keras sudah mendarat telak di wajah David. Membuat pria itu jatuh tersungkur ke lantai.


"Pelacur yang lo bilang itu adalah istri gue, bajing*n", sarkas Levi seraya menatap David dengan matanya yang menyalang bak elang.


"Setidaknya dia lebih baik daripada cewek yang lo jodohin ke gue itu", tambah Levi. Memungut tas nya yang tadi terjatuh karena tindakannya yang mendadak barusan. Amarahnya seketika memuncak saat mendengar kata-kata pelecehan yang keluar dari mulut David untuk Rea.


Tak ingin terjadi yang tidak-tidak, Levi lantas melangkahkan kakinya menuju pintu. Sebab ia adalah orang yang tak mudah mengendalikan emosi. Dan Levi takut kalau ia melakukan hal yang lebih terhadap David. Sebenarnya itu yang Levi ingin lakukan, tapi ia masih teringat kepada Mama nya.


"Apapun yang terjadi kamu harus menceraikan pelacur itu. Kalau tidak, saya tidak akan segan-segan terhadap dia dan Ayla."


Levi sontak menghentikan langkahnya dan menolehkan kepalanya ke samping. Tanpa melirik sedikitpun David yang berada di belakangnya.


"Up to you", ujar Levi dan kembali melanjutkan langkahnya. Menarik pintu kaca itu dengan kuat lalu menutupnya dengan keras. Tak peduli kalau kaca itu akan pecah atau apa.


Kemudian Levi melirik sekilas ke arah sekretaris Papa nya yang hanya menundukkan kepalanya dalam. Dan melangkahkan kakinya tanpa menghiraukan para karyawan yang menatap ke arahnya.


Sambil menunggu pintu lift terbuka. Levi membuka ponselnya dan menekan nomor seseorang. Mendekatkan benda panjang pipih itu ke telinganya setelah sambungan berhasil terhubung.


"Morgan, lawan gue di ring. Gue tunggu sepuluh menit lagi", ujar Levi to the point. Dan langsung mematikan panggilan itu secara sepihak. Melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan itu. Menatap dirinya dalam pantulan. Seorang pecundang dan pengecut. Bahkan tidak bisa untuk menentukan kebahagiannya sendiri.

__ADS_1


"Maafin gue Rea."


...~Rilansun🖤....


__ADS_2