Rearin

Rearin
Saya capek, Bun


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Disaat jenuh menghampiri, dan menyerah menjadi pilihan terakhir, maka lihat lah ke dalam dirimu, ada Tuhan yang tengah memeluk mu.......


...###...


Rea membuka pintu kamar mandi dengan gerakan pelan. Ia masih merasa canggung kala mengingat kalau di dalam kamar itu bukan hanya ada dirinya seorang. Ada seorang cowok asing yang juga berada dalam ruangan tersebut.


Seperti singa yang selalu siap siaga dalam menerkam mangsanya.


Rea mengangkat pandangannya. Hingga netra hitam itu jatuh tepat ke arah cowok berpakaian serba hitam yang juga tengah menatapnya. Pandangan mereka beradu tanpa ekspresi yang terlihat. Sama-sama datar dan dingin tak tersentuh. Berusaha untuk saling menyelami pikiran masing-masing. Namun tetap saja, benteng tak kasat yang mereka bangun sepertinya sangat tinggi dan besar.


Sedetik kemudian Rea membuang pandangannya. Cewek yang memakai sweater rajut model turtle neck berwarna maroon itu lantas berjalan ke arah sisi kiri ranjang. Mengabaikan Levi yang duduk di sofa samping ranjang. Cowok itu pun kembali fokus pada ponsel di tangannya.


Rea duduk di tepi kasur. Memungut gaun nya yang telah robek, serta pakaian dalamnya yang sudah tak berbentuk. Memasukkan semua benda itu ke dalam paper bag bekas bungkusan kotak baju nya tadi. Entah akan kemana Rea buang semua bukti itu.


Setelah semuanya selesai. Lalu Rea bangkit dengan menyandang tas nya di bahu. Dan tangannya yang menjinjing paper bag tadi.


Rea menghela nafasnya seraya memejamkan mata. Mencoba untuk kuat menjalani hari-hari setelah ini yang tentunya tak lagi sama. Sebab ada trauma dan rasa sakit yang pastinya akan membayangi hidupnya kini.


Ingin menuntut?, Rea tak punya bukti. Cctv yang ada pun sudah di lenyapkan oleh Levi. Rea mendengar cowok itu yang menelpon seseorang saat ia di kamar mandi tadi. Walau sayup, tapi ucapan Levi yang menyuruh orang untuk menghilangkan rekaman yang ada di cctv bisa di dengar jelas oleh Rea. Bukti yang ada di tubuhnya pun sudah luruh bersama air.


Sekarang yang berlalu biarlah berlalu. Jika Rea dendam dengan masa lalunya, maka Tuhan akan mempersulit masa depannya.


Bukannya menyepelekan hal yang sudah terjadi padanya. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Sekuat apapun Rea berusaha, bubur itu tidak akan bisa kembali menjadi nasi. Semuanya sudah ada jalannya. Dan mungkin, ini jalan yang diberikan Tuhan padanya. Sekarang Rea pasrahkan hidupnya pada sang pencipta. Nafasnya hanya milik Tuhan dan terserah pada Tuhan kapan ingin menghentikan nafasnya itu.


Lalu Rea membuka matanya dan berjalan menuju pintu keluar. Rea berjanji, ini adalah yang terakhir kalinya ia mengunjungi hotel tersebut.


"Tunggu", ujar Levi saat Rea berjalan melewatinya begitu saja.


Rea menghela nafasnya lalu berbalik. Menatap cowok yang berdiri dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam celana jeans nya.


"Gue antar?", tanya Levi menawari.


"Enggak perlu", jawab Rea singkat tanpa memandang kearah wajah datar tersebut.


Untuk beberapa saat keduanya hening tak bersuara. Levi yang memandang intens wajah perempuan yang ada dihadapannya. Dan Rea menunduk menatap lantai marmer yang ada dibawahnya.


Levi menggigit kecil pipi kanan bagian dalamnya. Menatap gemas cewek yang sok tegar di depannya. Ia sempat mendengar suara tangis Rea yang berderu dengan suara air tadi. Dan mata yang bengkak itu adalah bukti nyatanya. Ingin sekali Levi menarik Rea ke dalan pelukannya. Dan menyuruh cewek itu menangis dalam dekapannya. Daripada menutupi semua air mata dengan wajah yang datar itu. Membuat Levi semakin dirundung rasa bersalah yang amat terdalam.

__ADS_1


"Jangan minum gituan lagi", ujar Levi kemudian. Memecahkan keheningan yang ada.


"Minum apa?", Rea bertanya balik dengan bingung. Masih enggak untuk menatap Levi.


"Pil sialan itu", desis Levi tajam saat mengingat Rea yang mengonsumsi pil tersebut di depan apotik.


Rea tersenyum miring dengan kepala yang tertunduk. Ia paham apa yang dimaksud pil sialan oleh Levi. Berarti cowok itu melihatnya saat di apotik tempo hari yang lalu.


"Enggak ada hak kamu buat larang-larang saya", sinis Rea.


Levi menggertakkan giginya seraya mengepalkan tangannya, "Enggak peduli. Sampai aja gue tau kalau lo minum begituan lagi. Gue bakal-"


"Bakal apa?", Rea mendongakkan kepalanya sambil mengangkat dagunya dan menatap Levi dengan menantang, "Kamu bakal apain saya?, bunuh saya?, atau perkosa saya sekali lagi?", tambah Rea dengan amarah yang menggebu-gebu. Mata yang memerah dengan air mata yang sudah siap untuk kembali turun. Tubuhnya yang bergetar tak karuan. Dan jantungnya yang berpacu dengan cepat.


Rea tidak pernah berteriak kepada siapapun dengan suara yang lantang sebelumnya. Ini adalah yang pertama kalinya. Sehingga membuat tubuhnya refleks bereaksi seperti itu.


"Kamu mau perkosa saya Levi?, ayo silahkan. Saya dengan sukarela membuka kaki saya lebar-lebar untuk kamu. Ayo", Rea menarik tangan Levi ke arah ranjang. Namun cowok itu tidak bergerak sama sekali dari tempatnya. Seolah memaku kan kakinya pada lantai yang dipijaknya.


"Ayo, kenapa diam?. Kali ini saya yang gerak. Bukannya semua cowok itu suka cewek yang agresif kan?. Ayo, saya siap."


"Rea!", Levi membentak Rea sambil menyentak tangan cewek itu dari tangannya. Selama enam tahun Levi mengenal Rea. Ia tidak pernah melihat cewek itu yang lost control seperti ini. Rea seperti berubah menjadi orang lain. Seolah yang berdiri dihadapannya sekarang bukanlah Rearin kalyca Allandra. Cewek yang mendiami hatinya selama ini.


"Berjalan di atas gunungan dosa. Bahkan untuk bercermin aja saya malu. Saya malu menatap diri saya yang kotor. Diri saya yang udah enggak suci lagi. Banyak dosa yang memenuhi tubuh saya. Disini, disini, dan disini. Semuanya penuh dosa", tambah Rea sambil menunjuk lehernya, dadanya serta tangannya yang terdapat bekas tanda kecupan Levi.


Rea menghapus kasar air matanya, "Ayo, kita ulangi sekali lagi. Lagian harga diri saya juga udah habis sama kamu. Maka habiskan aja sisa harapan hidup saya. Buat saya mati dalam pelukan dosa itu. Daripada tanggung, lebih baik saya menjadi jalang sekalian. Pelac*r, cewek rendahan, enggak ada harga dirinya, bit*h. Apapun sebutannya", teriaknya dengan menggebu-gebu.


Levi tak membalas, cowok itu hanya diam berdiri menyaksikan Rea yang mengeluarkan segala uneg-unegnya.


"Kenapa kamu milih saya Levi?, kenapa harus saya yang kamu hancurkan?, kenapa saya yang lemah ini?, kenapa-"


"Karena gue suka lo", sela Levi cepat yang membuat Rea berhenti berbicara. Cewek itu menatap Levi datar dengan air mata yang masih setia turun.


"Rasa suka kamu bukan alasan buat nyakitin saya. Enggak ada cowok yang ngerusak cewek yang disukainya. Bahkan bajing*n sekalipun. Cowok sejati pasti tau gimana caranya menghargai perempuan. Dan kamu harusnya malu dengan kaum kamu sendiri. Saya enggak mau sama kamu. Cowok yang udah ngerusak saya gak mungkin saya biarkan dia buat memperbaikinya."


"I hate you", ujar Rea lalu cewek itu bergegas membuka pintu. Membanting benda itu dengan sangat keras. Tak mempedulikan jika orang yang berada di sebelah merasa terganggu. Meninggalkan Levi yang terpaku dengan trauma yang kembali menganga lebar. Di tolak. Ia kembali di tolak. Bahkan lebih menyakitkan daripada yang sudah-sudah. Sangat dramatis, tragis dan penuh emosi.


Levi terkekeh pelan. Menertawai dirinya yang konyol. Sudah berulang kali ditolak, tapi hatinya tetap saja mencintai Rea. Bisakah Levi mengganti hatinya dengan yang baru?. Atau adakah alat yang mampu menghapuskan nama Rea dari dalam hatinya.


Sungguh ini sangat menyiksanya. Dan Levi tidak ingin lagi menyakiti Rea dengan alasan tersebut.

__ADS_1


"Lo benci gue?, dan gue dengan bodohnya masih suka sama lo", gumam Levi. Lalu cowok itu mengusap dengan frustasi wajahnya seraya berteriak lantang.


...###...


Ting tong


Arinta yang sedang menegak air mineral mengernyit heran saat mendengar suara bel rumahnya yang berbunyi. Lalu mata wanita paruh baya tersebut bergulir menatap jam yang ada di ruang makan.


01:55


"Siapa ya?", monolog Arinta dan berjalan menuju pintu utama rumahnya dengan segala pertanyaan yang memenuhi otaknya. Sebab tidak pernah ada yang bertamu ke rumahnya selarut itu.


Kreakk


Saat pintu terbuka Arinta langsung membelalakkan matanya saat mendapati putri nya yang berdiri dihadapannya.


"Astaga Rea, kamu kenapa pulang semalam ini?, kalau kamu diculik gimana?", omel Arinta sambil menarik Rea untuk masuk.


Rea tersenyum getir saat melihat ke khawatiran yang terlihat jelas di wajah Arinta. Ia yang pulang malam saja sudah membuat Arinta khawatir bukan main. Apalagi kalau wanita itu tau jika tuan putrinya ini sudah tak suci lagi. Mungkin Bunda nya akan langsung pingsan ditempat.


"Gimana Dita?, udah sembuh?", Arinta bertanya seraya menuntun Rea ke ruang makan. Ia yakin jika putrinya itu belum makan sama sekali.


Rea sontak berhenti melangkah saat mendengar pertanyaan Arinta. Ia semakin bersalah dengan kebohongan itu.


"Kenapa?", tanya Arinta menatap bingung Rea.


Tanpa menjawab apa-apa, Rea langsung memeluk tubuh Arinta. Membuat Bunda nya semakin dilanda kebingungan. Ada apa dengan Rea?. Cewek itu tidak terlihat baik-baik saja.


"Ada apa sayang?", Arinta mengusap lembut surai panjang putri kesayangannya itu.


Rea menggelengkan kepalanya dalam dekapan Arinta, "Saya capek, Bun", lirihnya sendu sambil menenggelamkan wajahnya di pundak sang Bunda. Menghirup aroma keibuan Arinta yang membuatnya tenang. Sakit di kepalanya pun terasa menghilang.


Setelah keluar dari hotel, Rea tidak langsung pulang. Cewek itu pergi ke taman kota terlebih dahulu. Demi mendukung kebohongannya. Lalu setelah larut, baru Rea beranjak pulang.


"Istirahat lah", sahut Arinta dengan sesekali menepuk pelan punggung Rea. Ia tidak pernah lagi melihat Rea yang manja seperti ini kepadanya setelah cewek itu beranjak remaja. Dan Arinta merasa masa-masa indah itu terulang kembali.


...~Rilansun🖤....


Sorry smlm telat up, krna darting kambuh🤧. Double up itung-itung sbgai kompensasi 😂. Semoga suka😘💞💞

__ADS_1


__ADS_2