Rearin

Rearin
I'll take care of you


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Senja itu hadir setiap hari, menghiasi langit dengan kilauan jingga nya. Namun sayang, waktunya untuk menyapa bumi hanya sebentar......


...###...


"Huek."


Rea mendongakkan kepalanya ke atas dengan tangan yang menutupi hidung dan mulutnya. Mencoba menghalau rasa mual nya itu. Entah mengapa sesudah Rea menjalankan ibadah shubuh nya ia tiba-tiba merasa sangat mual. Jika dihitung mungkin sudah lima kali sejak tadi Rea bolak-balik kamar mandi. Dan ia sangat lemah saat ini, untuk turun dari ranjang pun rasanya sudah tak sanggup.


Rea menghela nafas lega saat rasa mual nya hilang. Lalu cewek itu mengambil botol kecil berisi minyak kayu putih yang ada di atas nakas samping ranjang. Membuka tutupnya dan mendekatkan botol tersebut kearah hidungnya. Menghirup aroma yang dapat membuat hidungnya terasa hangat dan lega.


Tapi sedetik kemudian, rasa mual itu kembali datang dengan lebih kuat. Membuat Rea tak dapat lagi untuk menahannya. Lalu dengan tubuh yang lemas Rea berusaha berlari mencapai kamar mandinya. Memuntahkan cairan bening itu di wastafel.


Tak banyak, namun mampu membuat perutnya terasa bergejolak hebat. Dan tenaganya seperti terkuras habis.


Setelah selesai, Rea berjalan keluar dari dalam kamar mandi. Kakinya terasa berat untuk dibawa melangkah. Kepalanya pun ikut terasa berdenyut. Sangat merepotkan. Entah apa masalahnya hingga tubuhnya bisa meriang seperti ini.


Lalu Rea mendudukkan tubuhnya di atas ranjang. Menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang dengan mata yang terfokus kearah perutnya.


Dengan tangan yang sedikit gemetar, Rea menyentuh perutnya yang terbalut piyama tidur itu. Menggerakkan pelan tangannya pada permukaan datar tersebut. Ucapan Bunda nya perihal pembalut kemarin kembali berputar di benaknya. Membuat pikirannya penuh dengan hal yang tidak-tidak.


Rea tidak lah bodoh. Selama sebelas tahun bersekolah, ia sudah mempelajari tentang bagian-bagian reproduksi wanita dan bagaimana proses perkembang-biakkan manusia. Dan Rea bukan lah orang dungu yang tak paham dengan kondisi tubuhnya saat ini.


Tapi sekali saja, Rea ingin menjadi orang yang tak tau apa-apa. Sehingga kepalanya tidak menjadi sakit karena berpikir tentang hal yang tidak-tidak. Semoga saja ini hanya karena masuk angin biasa. Ya, semoga saja.


Lalu Rea menoleh kearah pintu kaca balkon kamarnya. Menatap langit yang sudah mulai terang diluar sana. Kemudian cewek itu bergumam lirih sembari mengelus perutnya, "Jangan hadirkan dia disaat yang tidak tepat ya Tuhan."


...###...

__ADS_1


"Kenapa?."


Rea berujar lirih dengan menatap sendu hamparan bunga mawar yang berada dihadapannya.


"Kenapa harus saya?", ujar cewek itu dengan mata yang terpejam. Merasakan hembusan angin yang membelai lembut wajahnya.


Matahari sudah mulai terbenam di ufuk barat sana. Meninggalkan kilauan jingga di langit senja yang indah. Burung-burung beterbangan kembali ke sarangnya. Semuanya memilih untuk bersembunyi di dalam rumah sebelum malam datang menjemput.


Padahal senja itu indah, namun sayang penikmatnya terlalu sedikit. Entah karena keindahan senja hanya sementara atau karena kesepian yang ada pada senja.


Rea layaknya senja yang hening. Hadir setiap hari, namun hanya sebentar menyapa bumi. Ia akan dipuja-puja pada masanya, namun saat malam melingkupi langit. Maka ia hanya akan berada sendirian di sudut paling kecil yang ada di semesta.


🎶I wonder if you're thinkin', "Is she alright all alone?"


I wonder if you tried to call but couldn't find your phone


Have I ever crossed your thoughts because your name's all over mine?


A moment in time, don't watch me cry


A moment in time, don't watch me cry


I'm not crying 'cause you left me with no warning


I'm just crying 'cause I can't escape what could've been


Are you aware when you set me free?


All I can do is let my heart bleed

__ADS_1


Rea membuka matanya saat mendengar lirik lagu yang berasal dari dalam kamarnya itu. Rea memang sengaja menghidupkan musik dengan suara yang cukup keras, agar keluarganya tidak dapat mendengar suara teriakannya. Lalu Rea duduk bersandar pada pintu balkon yang ia kunci dari luar. Sendirian menikmati senja.


Kemudian netra hitam itu bergulir menatap benda panjang yang jatuh dari pangkuannya saat Rea mencoba menselonjorkan kakinya. Yang kontan membuat Rea tersenyum miris sebelum terkekeh pelan. Dengan air mata yang mengalir begitu saja. Seperti bendungan yang pecah.


Tadi saat makan siang Rea sempat bingung dengan kondisi tubuhnya. Sebab ketika Rea hendak menyuapkan satu sendok nasi beserta lauk, perutnya tiba-tiba merasa bergejolak hebat. Membuatnya mual tak tertahan. Entah apa penyebabnya sampai Rea tak tahan bila mencium bau nasi. Padahal sehari-hari Rea tidak masalah dengan makanan pokok tersebut. Membuatnya dicecar berbagai pertanyaan dari sang Bunda. Namun Rea mengatakan jika dirinya sedang masuk angin.


Lalu setelah itu dengan memberanikan diri, sore nya Rea pergi ke apotik untuk membeli testpack.


Dari kelima buah testpack yang Rea beli. Semuanya sama. Benda panjang berukuran kecil itu sama-sama menunjukkan dua garis merah yang berarti positif.


Positif, dirinya positif hamil di usia yang begitu muda. Ya Tuhan, mengapa Rea harus mengulang kembali kisah Reagan dan Arinta.


"Kenapa harus saya Tuhan?", Rea menunjuk dirinya sendiri sembari berteriak pada langit jingga di atas sana.


"Apa dosa saya, sampai harus saya yang menerima semua ini. Saya gak pernah mengeluh, tapi kali ini saya mengeluh untuk keadilan yang ada. Untuk saya dan anak saya", ujar Rea sambil menyentuh perutnya, "Kasihan dia yang masih kecil. Dia gak salah. Dia itu anugerah. Tapi sayang, anugerah itu datang di saat yang kurang tepat. Saya takut, saya takut gak mampu menjadi Ibu yang baik buat dia. Saya takut gak bisa buat dia bangga mempunyai Ibu seperti saya. Bahkan sekolah aja belum tamat, apa yang bisa saya berikan kepada anak saya nanti", lanjutnya panjang lebar.


Saat Rea mengetahui jika dirinya hamil, ia sangat marah. Rea marah kepada dirinya yang tak mampu menjaga kehormatannya sampai harus melibatkan sebuah nyawa kecil yang tak bersalah.


Rea tak ingin menjadi seperti Arinta yang nekat dan hampir membunuh anaknya hanya demi sebuah cita-cita. Seorang anak itu lebih berharga daripada karir. Pekerjaan masih dapat dicari, tapi jika sebuah nyawa yang melayang, kemana dapat dicari penggantinya. Itu prinsip Rea.


Dan Rea juga tak ingin Levi menjadi seperti Reagan. Lelaki yang banyak melukai hati para perempuan di sekitarnya. Cukup dirinya saja, jangan ada korban lain.


"Ka-kamu tenang aja, saya akan menjaga kamu sekuat yang saya bisa. Saya akan memberikan seluruh dunia ini kepada kamu. Jangan takut, kamu gak akan sendirian. Saya akan menemani kamu untuk melihat dunia. Tetap sehat dan tetap ada untuk saya", monolog Rea. Seolah tengah berbicara kepada janin yang ada dalam perutnya. Untuk pertama kalinya Rea merasa hidupnya sangat berarti. Seolah bebannya yang selama ini menumpuk di pundak, seakan menghilang saat Rea menyentuh perutnya. Anaknya, darah dagingnya.


Sekarang hanya tinggal bagaimana Rea menjelaskan pada kedua orang tua dan keluarga besarnya. Bayangkan saja, seorang gadis berusia tujuh belas tahun hamil tanpa seorang suami. Entah apa penilaian dunia terhadap dirinya.


Intinya, apapun yang terjadi, Rea ingin mempertahankan anaknya. Jika dirinya mmlemang harus diusir dan dibuang dari keluarga. Maka Rea siap.


Satu lagi, sampai kapanpun Rea tak akan memberi tahukan Levi perihal kehamilannya. Dua malam kelam itu hanya lah sebuah kecelakaan yang tak ingin Rea ingat-ingat kembali dalam hidupnya.

__ADS_1


Jika saja tidak ada laki-laki yang ingin menikahinya suatu hari kelak. Maka anaknya saja sudah cukup untuk menemani Rea menghabiskan masa tua nya nanti.


...~Rilansun🖤....


__ADS_2