Rearin

Rearin
Sensitif


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Terkadang luka tidak bisa hilang hanya karena sebuah kata maaf......


...###...


Tak terasa waktu terlalu cepat dalam memainkan perannya. Membuat hari terasa sangat pendek. Entah waktu yang sangat singkat atau memang kita saja yang menyia-nyiakan nya.


Begitu pula dalam kehidupan rumah tangga dua pengantin baru tersebut. Dari malam pernikahan yang penuh kehebohan hingga hari ini, usia pernikahan mereka sudah terhitung seminggu lebih.


Tentu saja semuanya tak lagi sama. Rea yang masih berusaha untuk melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri dengan sebaik mungkin. Dan Levi yang mencoba untuk memaksimalkan diri sebagai seorang suami yang baik.


Tapi tetap saja proses itu membutuhkan waktu. Dan waktu seminggu itu belum cukup untuk menyatukan dua kepala yang berbeda.


Terkadang ego masing-masing masih bertahta


begitu tinggi di dalam diri. Membuat mereka kembali dibentang oleh jarak yang memisahkan.


Seperti saat ini, mereka berperang dingin dari kemarin malam. Disaat Levi pulang begitu larut. Rea yang khawatir karena Levi tak pernah pulang selarut itu pun lantas bertanya apa yang dilakukan oleh suaminya tersebut sepanjang hari ini. Namun bukan jawaban yang Rea dapatkan, justru Levi langsung tidur tanpa memberikannya penjelasan apapun.


Membuat Rea kesal setengah mati. Percuma saja ia menunggu cowok itu semalaman suntuk.


"Ih, kenapa sih?", Rea kesal bukan main saat ia tak berhasil mencoba untuk mengaitkan pakaian dalamnya. Entah apa masalahnya benda yang menutupi dua aset berharganya itu tiba-tiba saja terasa mengecil. Padahal Minggu kemarin masih bisa digunakan.


Tak pantang menyerah Rea lantas mencoba untuk mengaitkan kembali pakaian dalamnya. Namun lagi-lagi gagal. Membuat kekesalan cewek itu semakin memuncak.


"Sial-"


"Jangan ngumpat."


Rea kaget dan refleks menoleh kebelakang. Mendapati Levi yang berdiri di belakangnya dengan wajah datarnya yang menyebalkan itu.


Karena kesal, Rea pun lantas ingin berjalan memasuki kamar mandi. Namun Levi yang menarik tali pakaian dalamnya membuat cewek itu seketika membelalakkan matanya lebar-lebar. Sial, Rea lupa kalau ia belum memakai baju sama sekali.


Mati lah.

__ADS_1


"Udah sempit, ganti yang baru. Nanti dadanya sakit", bisik Levi di telinga Rea yang membuatnya menggelinjang kegelian.


"Hm", sahut Rea singkat seraya menatap dirinya di pantulan cermin yang menampilkan bagian tubuh atasnya dengan Levi yang masih setia berdiri dibelakangnya.


Mengapa, mengapa cowok itu harus perhatian seperti ini kepadanya, setelah mengacuhkan nya tadi malam.


"Good morning boy", Levi menyentuh permukaan perut Rea seraya melayangkan satu kecupan di leher istrinya. Membuat Rea mengalihkan wajahnya ke samping. Ia tak ingin jika Levi melihat pipinya yang merah merona karena tindakan cowok tersebut.


Dan entah dari mana Levi mengetahui kalau anak yang Rea kandung adalah cowok. Sebab setiap Levi menyapa anaknya pasti akan menambahkan kata boy ataupun jagoan. Padahal Rea sendiri belum pernah mengecek kandungannya sama sekali. Lagipula di usia kandungannya yang masih sebulan dua minggu belum bisa untuk melihat jenis kelamin.


Tapi Levi, cowok itu sudah memiliki prediksi nya terlebih dahulu.


"Kenapa gak sarapan?", tanya Levi dengan tangan yang terus mengelus perut Rea yang masih terlihat datar.


"Enggak lapar", jawaban Rea yang kontan membuat Levi berdecak. Ia tau kalau istrinya itu sedang kesal terhadapnya sekarang. Tapi Levi tidak memiliki pengalaman untuk membujuk cewek.


"Cepat pakai baju, habis itu sarapan. Hari ini gue temenin belanja", ujar Levi lalu mencium sekilas pundak Rea sebelum beranjak pergi dari dalam kamar.


Mendengar itu Rea lantas mendengus. Selalu saja begitu, suka memerintah dan dominan.


...###...


"Sial", Rea mengumpat dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi saat matanya tiba-tiba saja berembun.


Entah apa yang membuatnya ingin sekali menangis. Mengapa ia sangat sensitif sekali.


"Hiks", Rea menangis dengan tersedu-sedu membuat Bik Mirna keluar dari dalam dapur dan menghampiri majikannya tersebut.


"Duh kenapa mbak?, kok nangis?, ada yang sakit?", Bik Mirna menyentuh pundak Rea yang bergetar hebat seiring dengan isakan tangisnya yang kuat.


Rea mendongak menatap Bik Mirna dan langsung memeluk perut wanita paruh baya itu, "Bik, hiks, Bibik...."


"Iya mbak kenapa?, bilang aja sama Bibik", dengan sifat keibuannya, Bik Mirna mengelus lembut rambut panjang Rea. Ia paham dengan kondisi Rea yang sekarang, dimana perasaan yang mudah sekali naik-turun. Sebentar-sebentar nangis, terus sebentar-sebentar marah. Goncangan emosi seperti itu wajar untuk ibu hamil pada trimester pertama.


"Bibik.... hiks."

__ADS_1


"Udah mbak, jangan nangis entar dedek nya ikutan sedih loh. Ingat sekarang mbak hidup enggak untuk diri sendiri. Udah ada si kecil yang juga butuh perhatian. Apapun yang mbak lakukan itu sangat berpengaruh untuk dedek nya", ujar Bik Mirna dengan penuh kelembutan.


Mendengar itu Rea lantas berusaha menghentikan tangisannya walau itu susah. Benar kata Bik Mirna, kini di hidupnya bukan hanya ada dirinya sendiri. Sudah ada malaikat kecil yang bersemayam nyaman di dalam perutnya. Sebagai calon ibu, Rea harus menjadikan anaknya sebagai prioritas utama. Dan mengesampingkan ego serta masalah pribadinya.


"Kenapa nangis?."


Rea tersentak saat mendengar suara familiar itu dari belakang tubuhnya. Lalu cewek itu melepaskan pelukannya dari tubuh Bik Mirna dan menundukkan kepalanya.


Bik Mirna yang melihat kondisi kurang kondusif pun lantas mengundurkan diri dan kembali ke dapur. Memberikan waktu kepada dua remaja labil tersebut untuk menyelesaikan masalah yang ada.


"Kenapa nangis, hm?", tanya Levi lagi setelah Bik Mirna benar-benar pergi.


Rea menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Lalu sedetik kemudian suara tangis cewek itu kembali terdengar.


Mendengar itu Levi lantas menghela nafas panjang.


"Kalau lo enggak ngomong, gue gak tau apa masalah yang lagi lo hadapi. Gue bukan cenayang Rea", ujar Levi yang semakin membuat Rea terisak.


Tak tahan, Rea lantas bangkit dari duduknya dan berniat untuk kembali ke dalam kamarnya. Namun Levi lebih dulu menarik lengannya. Membalikkan badannya menghadap cowok tersebut.


"Cengeng banget sih lo", ejek Levi melihat pipi Rea yang basah karena air mata. Levi merasa melihat orang yang berbeda. Rea yang dulu menolaknya dengan wajah datarnya sekarang sangat mudah sekali untuk menumpahkan air matanya.


Ice Queen kini sudah berubah menjadi crybaby queen.


"Karena kamu", lirih Rea yang membuat Levi seketika bungkam.


"Maaf", gumam Levi yang dapat didengar oleh Rea. Sontak saja cewek itu menatap ke arah manik abu-abu yang menampilkan sarat kesedihan yang mendalam. Membuat Rea terhenyak. Apa yang sedang dialami oleh suaminya itu, sampai membuatnya terlihat sangat sibuk.


"Kata maaf aja enggak ampuh untuk menyembuhkan sebuah luka", ujar Rea.


Levi menatap lamat wajah cantik istrinya itu sebelum memeluk tubuh mungil Rea dengan erat. Menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Rea. Menghirup dengan rakus aroma yang menyeruak ke dalam hidungnya. Seraya menggumamkan kata maaf.


...~Rilansun🖤....


__ADS_1


__ADS_2