Rearin

Rearin
Cinta atau obsesi?


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Walau tak berada dekat, tapi merasa sudah sangat terikat......


...###...


Tin tin tin


Levi menekan klakson mobilnya berulang kali hingga menimbulkan suara yang berisik. Namun gerbang berwarna hitam bergradasi emas itu tetap menjulang tinggi didepannya. Tertutup dengan sangat rapat.


"Sialan", umpat Levi geram saat melihat satpam tersebut tak bergeming. Hanya duduk di depan pos jaga seraya bermain ponsel. Tak mempedulikan suara klakson mobilnya sama sekali. Apakah telinganya bermasalah?.


Lalu Levi membuka kaca jendela samping mobilnya dengan tak sabaran. Mengeluarkan sebagian badannya. Dan berteriak kesal, "Woi!, bukain."


Tin tin tin


"Buka atau hidup lo-"


Levi menggantungkan ucapannya yang ingin mengancam satpam kediaman Allandra tersebut. Jika saja satpam itu mengadu kepada Reagan kalau dirinya sudah bertindak rusuh. Maka alamat kesempatannya untuk mendapatkan Rea tidak akan pernah ada.


Dengan helaan nafas panjangnya Levi keluar dari dalam mobil dan berjalan ke arah gerbang.


"Pak", panggil Levi. Pria berbadan besar itu menoleh tapi langsung kembali membuang pandangannya. Membuat Levi menarik napas dalam-dalam. Sabar, ini ujian.


Namun sedetik kemudian, senyuman miring itu terbit di wajah dingin Levi ketika sebuah ide terlintas di benaknya.


Cowok itu langsung merogoh saku celananya. Mengeluarkan dompet kulit miliknya dan mengambil uang kertas berwarna merah sebanyak sepuluh lembar.


Lantas Levi memasukkan tangannya ke celah-celah gerbang. Dan menggoyang sedikit uang yang dipegangnya. Mencoba untuk menguji apakah orang-orangnya Reagan setia atau tidak.


"Pak", panggilnya sekali lagi.


Pria berkulit eksotis itu menoleh dan sedikit terkejut saat melihat uang ratusan ribu yang di pegang oleh Levi.


"Pak, sini sebentar, tolong", ujar Levi yang terdengar memohon namun dengan ekspresi yang sangat datar.


Untuk beberapa saat satpam tersebut hanya diam tak bergeming menatap Levi. Namun di detik kemudian pria itu terlihat berjalan ke arahnya. Membuat Levi tersenyum miring.


Uang memang bukan segalanya. Tapi segalanya adalah uang.


"Kenapa kamu?, pulang sana!", majikannya memang memberinya ultimatum untuk tidak membiarkan pemuda gila itu memasuki kawasan kediaman Allandra. Tapi ia sedikit kasihan melihat Levi yang sedari tadi berdiri diam di luar gerbang. Mana matahari sedang terik-teriknya di atas sana.


Levi mendengus pelan saat satpam tersebut mengusirnya seraya melihat uang yang ada ditangannya.


Dasar.


"Bukain nih gerbang, ini duit buat Bapak", balas Levi tak menggubris ucapan pria tersebut.


"Mau ketemu siapa kamu?", tanyanya seraya melirik dari ujung matanya uang yang seperti memanggil-manggilnya itu.


"Rea", jawab Levi singkat.


"Duh sorry. Non Rea lagi gak ada di rumah."


Levi melihat mata satpam itu. Mencoba untuk mencari kebohongan. Namun nihil, sepertinya pria itu memang berkata jujur.

__ADS_1


Ck, jujur doang tapi gak setia, apa gunanya.


"Kemana?", tanya Levi sembari melirik name tage satpam tersebut yang menunjukkan namanya.


Alfred.


Sepertinya orang-orang yang ada di rumah Reagan memang sangat luar biasa. Tak terkecuali satpamnya.


Melihat pria yang bernama Alfred itu diam tak bergeming. Levi langsung memasukkan uang satu juta itu ke dalam saku seragamnya. Membuat pak Alfred sedikit melotot namun langsung memasukkan uang itu lebih dalam. Mumpung gak ada yang lihat.


"Tadi pergi sama Bunda nya, enggak tau kemana", jawab pak Alfred membuat Levi mendengus.


Wow, sama sekali sangat tidak membantu.


"Ya udah, makasih", ujar Levi datar dan kembali berjalan ke arah mobilnya.


Menutup dengan keras pintu mobilnya hingga menimbulkan suara. Cowok itu memukul setir seraya mengumpat pelan, "Sial."


Sepertinya Reagan benar-benar ingin menjauhkannya dari Rea. Sekarang harus bagaimana?, dimana Levi bisa menemui Rea?. Sementara informan-nya alias Romi sedang pulang kampung untuk berliburan. Teman-temannya yang lain memang ada, tapi tidak se-cekatan Romi dalam menyelidiki dan memata-matai sesuatu.


Hanya ada satu jalan kini, yaitu mendatangi satu-persatu tempat yang mungkin dikunjungi Rea.


Lantas dengan semangat yang tak pernah padam Levi menjalankan mobilnya. Meninggalkan pekarangan kediaman Allandra. Yang Levi janjikan jika suatu hari nanti ia akan dengan mudah berlalu-lalang sebagai menantu.


...###...


Empat jam lebih telah berlalu. Semua tempat yang mungkin di datangi oleh Rea sudah Levi hampiri. Tapi nihil, cewek yang sedang mengandung anaknya itu tidak ada dimana pun. Membuat Levi frustasi. Sebab tidak pernah sekalipun ia kehilangan Rea seperti ini.


Walau Levi mengawasi Rea dari kejauhan, tapi setiap jam nya ia pasti akan selalu dapat laporan mengenai cewek tersebut. Walau tak berada dekat, tapi merasa sudah sangat terikat.


Dan karena kebodohannya itu lah yang membuat Levi termakan api cemburu buta.


Lalu Levi menghela nafas panjang sebelum membuka pintu mobilnya. Membuka dengan pelan pagar rumah yang hanya sebatas pinggangnya itu. Berjalan di atas batu-batu kerikil yang dibentuk seperti jalan setapak. Menyusuri tanaman-tanaman yang ada di samping kiri-kanannya.


Saat Levi mengangkat wajahnya, matanya tak sengaja menangkap seorang pria paruh baya yang duduk di teras rumah sambil membaca koran. Menikmati hari tua dengan tenang seraya ditemani secangkir kopi hangat. Menatap damai langit senja yang ada di atas sana. Serta didampingi oleh seseorang yang kita cintai. Benar-benar impian semua orang, bukan.


"Assalamualaikum, misi Pak", ujar Levi ramah.


Pria paruh baya yang ada dihadapannya itu lantas menurunkan sedikit korannya. Dan memandang Levi dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya.


"Waallaikumussalam. Cari siapa?."


Sebagai seorang manusia Levi cukup iri melihat pria yang duduk dihadapannya itu. Walau sudah tak lagi muda, tapi wajahnya masih tetap terlihat menawan. Bahkan keriput pun hanya tampak sedikit.


"Saya cari Rea, ada?", Levi coba bertanya dengan hati-hati. Seharusnya ia tidak pernah bolos saat jam mata pelajaran bahasa Indonesia berlangsung. Sekarang, Levi sangat menyesali kebodohannya yang sering terbujuk oleh ajakan teman-teman laknatnya itu.


"Kenapa?, saya kakeknya, ada perlu apa kamu mencari cucu saya?", mendengar cowok itu sedang mencari cucu nya. Deri pun sontak bangkit dari duduknya. Menatap penuh nilai ke arah pemuda yang berdiri dengan wajah datarnya. Seperti tidak ada yang ia takuti.


Deri memang sudah mengetahui perihal kehamilannya Rea tiga hari yang lalu. Marah, sedih dan kecewa, semuanya campur aduk. Entah siapa yang sudah mengutuk keluarganya sampai tidak melepaskan cucu nya.


Dan Deri berharap semoga cowok yang ada didepannya sekarang ini bukanlah laki-laki bejat itu. Jika benar, maka cerita Arinta dan Reagan memang sungguh-sungguh terulang kembali.


Levi diam tak menjawab. Ia sendiri pun bingung ingin berucap apa. Sebenarnya Levi siapa untuk Rea?, teman bukan, pacar pun bukan, saudara apa lagi. Ia hanya seseorang yang sudah berhasil membuat malaikat kecil berada di dalam perut Rea.


Melihat Levi tak bergeming, Deri pun lantas menyerukan kecurigaannya, "Kamu Ayah dari anak yang dikandung Rea?", to the point nya dengan minim ekspresi.

__ADS_1


Levi tersentak dan sontak langsung menatap kearah Deri.


Lalu tanpa menunggu lagi, Levi lantas mengangguk tanpa ragu. Ia pun sudah siap jika pria yang ada dihadapannya itu ingin memukulinya. Menambah mahakarya Reagan pada wajahnya.


Deri menghela nafas. Instingnya memang tidak pernah salah. Dirinya merasa dejavu. Dulu Reagan yang berdiri dihadapannya seperti saat ini. Namun bedanya, Reagan dulu tak mampu untuk menatap langsung matanya. Sementara pemuda itu berdiri dengan tegak dan menatapnya tanpa gentar.


"Push-up."


Levi mengangkat sebelah alisnya saat mendengar ucapan Deri, "Untuk?", tanyanya.


"Hukuman", sahut Deri datar.


Levi kontan mengangguk dan mengambil posisi untuk siap-siap melakukan push-up. Ia tak pernah menduga jika hukuman dari kakeknya Rea adalah seperti ini. Padahal pria itu terlihat masih sangat kuat di usianya. Levi mengira jika ia akan mendapatkan sekali lagi bogeman di wajahnya.


"Cukup", ujar Deri saat Levi menyelesaikan push-up nya sebanyak dua ratus kali dalam waktu lima menit. Tanpa jeda sedikitpun.


Sebenarnya Deri bisa melakukan hal lebih dari ini kepada Levi. Bila mengingat jika cowok itu sudah melecehkan cucu nya. Tapi mau dibuat mati pun, tak ada gunanya. Nasi sudah menjadi bubur.


Levi bangkit dan membersihkan tangan serta celananya yang koyak di bagian lutut.


"Duduk", suruh Deri kepada Levi yang berdiri diam menatapnya.


Levi menuruti dan duduk di kursi di samping Deri.


"Apa alasan kamu menodai cucu saya?, mabuk?, gak sengaja?, taruhan?, atau-"


"Cinta. Saya mencintai Rea", ujar Levi memotong ucapan Deri.


Membuat pria paruh baya itu terkekeh kecil, "Cinta apa namanya jika menyakiti orang yang kita cintai?."


"Saya akui kalau cara saya salah. Tapi semua yang saya lakuin, semata-mata cuma takut kehilangan Rea. Saya takut kalau dia dimiliki oleh cowok lain. Saya takut kalau bukan saya yang menjadi masa depannya", sahut Levi panjang lebar. Entah mengapa Levi merasa jika ia se-fruekensi dengan Deri. Sehingga membuatnya nyaman untuk mencurahkan segala keluh-kesahnya.


"Kamu pernah dengar jika mencintai tak harus memiliki."


"Bagi saya ketika saya sudah mencintai orang lain, saya harus memilikinya, apapun caranya dan berapa lama pun waktunya. Tapi kalau saya tak bisa memilikinya, maka hanya kematian lah yang bisa saya raih."


"Kamu yakin kalau itu bukan cinta melainkan hanya sebatas obsesi?", tanya Deri lagi setelah mendengar penuturan Levi. Cowok itu terlihat menyimpan banyak rahasia.


Levi tersenyum miring, "Banyak yang berkata seperti itu. Tapi hanya Tuhan dan saya lah yang tau, kalau cinta saya bukan lah obsesi. Jika ini adalah obsesi, maka sudah lama Rea saya culik dan mengurungnya di suatu tempat. Tidak memberikannya sebuah kebebasan. Memaksanya untuk menerima cinta saya", sahutnya dan menoleh ke arah Deri yang duduk disampingnya, "Lagian di dalam cinta pasti ada sebuah obsesi. Obsesi untuk selalu di cintai, right?", lanjutnya.


Deri diam-diam mengulum senyumnya. Kegigihan dari ucapan dan pendar mata Levi membuat Deri sedikit merasa takjub. Setidaknya Levi tidak bertele-tele seperti Reagan.


Entah apa yang sudah dialami oleh cowok itu sampai membuatnya takut untuk kehilangan orang yang dicintainya.


"Jadi sekarang apa?."


"Saya ingin memperjuangkan Rea."


"Sampai?."


"Sampai semuanya setuju."


"Jangan kecewakan saya", Deri menepuk sekilas pundak Levi sebelum berlalu masuk ke dalam rumahnya.


...~Rilansun🖤....

__ADS_1


Sorry telat, ada kemalangan di rumah, my grandma udh pergi. Empat hr ini bnr" gk ada waktu utk up. Sekali lagi sorry🙃.


__ADS_2